Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Merasa bersalah


__ADS_3

"Sekarang kita masukkan lagi Saga ke inkubator," ucap Zidan yang hendak mengambil bayi mungil itu dari sang istri.


Zila menggeleng kuat dan memeluk putranya begitu erat. Ia tidak ingin berpisah dari Saga kecilnya, ia ingin putranya tetap disampingnya. Wanita itu mencium gemas Saga kecil seraya memejamkan matanya karna tubuh yang masih lemas membuat ia mengantuk dan ingin beristirahat.


"Sudahlah, Zidan. Kalau Zila nggak mau tidak apa-apa. Suster juga tidak mengatakan apa-apa saat memberikan Saga pada Zila," ucap bunda Melati.


Zidan menghela napas pelan lalu mengangguk, memilih mengalah dan mengikuti ucapan sang bunda.


"Zila..."


Suara keras mama Reni membuat Zila yang memejamkan matanya kini kembali terbuka. Zidan dan bunda Melati kompak menatap ke arah pintu. Mama Reni melangkah lebar ke arah putrinya lalu memeluk Zila yang belum siap mendapatkan pelukan membuat ia terkejut.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang. Mama benar-benar khawatir dengan keadaan kamu." Mama Reni semakin mengeratkan pelukannya pada Zila.


Sementara Zila tidak bisa membalas pelukan sang mama karna tengah memeluk Saga di sampingnya di tambah tangan satunya tengah di infus.


"Aku baik-baik saja, Ma."


Mama Reni menguraikan pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Ia benar-benar bahagia dan bersyukur. Zidan yang melihat itu tersenyum, ia melangkah mendekat pada Zila.


"Sini, Saga biar Mas yang pegang." Zidan mengambil putranya di samping Zila yang tampak tak ikhlas.


"Zidan, biar Bunda yang gendong. Dari kemarin Bunda pengen gendong dia."


Wanita paruh baya itu dengan cepat mengambil cucu tampannya dari Zidan.


"Hati-hati, Bun," peringat Zidan apalagi bunda Melati tampak grasak-grusuk mengambil Saga dari gendongannya.


"Aduh, aduh, gantengnya cucu Oma." Bunda Melati mencium gemas pipi Saga yang menggeliat tak nyaman dalam dekapan bunda Melati.


"Apa ada yang sakit, Nak?" tanya mama Reni.


Zila menggeleng disertai senyumannya."Aku baik-baik saja, Ma. Papa, mana?"


"Papa kamu sebentar lagi datang,"jawab mama Reni seraya mengusap kepala Zila penuh kasih sayang."Mama langsung ke rumah sakit setelah Zidan menelpon dan mengabarkan kamu sudah siuman. Mama sangat takut kamu kenapa-kenapa."

__ADS_1


Zila menarik tangan mama Reni di kepalanya lalu menggenggamnya."Sekarang aku baik-baik saja, Mama jangan khawatir, ya." ucap Zila berusaha menenangkan mama Reni.


Suara pintu terbuka membuat empat orang ada di sana kembali menatap ke arah pintu. Terlihat papa Satria berdiri di ambang pintu, pria paruh baya itu melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan rasa bahagia dalam benaknya melihat putrinya sudah sadar.


"Zila, bagaimana keadaanmu, Nak? Papa benar-benar bahagia mendengar kamu sudah sadar."


Zila tersenyum mendengar kekhawatiran sang papa.


"Aku baik-baik aja, Pa. Mungkin sebentar lagi aku akan pulih."


"Syukurlah kalau begitu. Tapi, lain kali kamu harus hati-hati lagi, Zila. Papa tidak ingin ini terulang lagi. Apalagi Zidan tidak becus menjaga kamu," ucap papa Satria yang terdengar jelas di kedua telinga Zidan.


"Pa. Mas Zidan nggak salah atas musibah yang aku alami. Justru Mas Zidan sangat menjaga dan merawatku dengan baik. Kemarin salah aku karna tidak bisa berhati-hati. Toh, sekarang aku baik-baik saja jadi tidak usah meributkan hal ini."


Bunda Melati mengangguk, setuju dengan ucapan menantunya.


Ucapan Zila berhasil membuat pria paruh baya itu terdiam. Ia melirik pada Zidan dan tak lama helaan napas panjang terdengar darinya.


"Papa terlalu mengkhawatirkan kondisi kamu sampai menyalahkan Zidan, maafkan  Papa, Nak." Papa Satria tertunduk seolah menyesal dan merasa bersalah.


Papa Satria yang mendengar itu menatap Zidan."Papa minta maaf Zidan_"


"Tidak perlu meminta maaf, aku tahu Papa sangat mengkhawatirkan kondisi Zila sampai Papa tidak bisa membedakan yang benar dan salah," ucap Zidan sehalus mungkin.


Kalimat terakhir yang Zidan cetuskan membuat papa Satria semakin tak enak hati, seolah kalimat itu sebuah tamparan untuknya.




Mobil hitam berhenti di depan pekarangan rumah minimalis tingkat dua. Seorang pria turun dari mobil lalu membuka pintu mobil di sampingnya. Zila, wanita itu turun dari mobil dengan menggendong Saga yang begitu nyenyak dalam tidurnya. Setelah hampir dua minggu di rawat di rumah sakit untuk pemulihan akhirnya Zila di perbolehkan pulang.


Zidan menggiring Zila dengan hati-hati masuk ke dalam rumah. Terlihat di depan pintu sudah berdiri asisten rumah tangga yang sudah Zidan persiapkan untuk membantu-bantu istrinya bila ia tidak ada di rumah.


"Sini, biar saya yang bawa masuk, Pak," ucap bibi Lia mengambil tas cukup besar yang Zidan tenteng.

__ADS_1


"Bi, tolong buatkan bubur sekalian teh hangatnya," ucap Zidan yang diangguki wanita berusia 30 tahunan itu.


Setelah mengatakan itu Zidan menggiring Zila menuju ke kamar.


"Sejak kapan Mas menyewa asisten rumah tangga?" tanya Zila seraya melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Empat hari kemarin. Itu asisten rumah tangga Bunda, tapi sekarang dia pindah kerja di sini untuk bantu-bantu mengerjakan urusan dapur dan bebersih rumah," balas Zidan.


Zila manggut-manggut mendengar balasan suaminya. Ia sangat bersyukur mendapatkan mertua seperti bunda Melati yang begitu memperhatikan mereka.


Oek...


Saga menangis cukup keras kala Zila meletakkan bayi mungil itu di atas kasur, sepertinya ia tidak ingin berada di sana melainkan ingin terus berada dalam gendongan Zila.


"Sstt, Sayang. Mama ganti baju dulu sebentar," ucap Zila menenangkan bayi mungil itu.


Zidan yang baru saja masuk ke dalam kamar karna mengambil beberapa barang dalam mobil termasuk barang perlengkapan milik putranya, kini melangkah mendekat pada Zila setelah meletakkan barang-barang itu di lantai.


"Biar Mas yang menjaga Saga."


Zidan mengangkat Saga dalam gendongnya. Tangisan Saga sedikit mereda kala dalam gendongan sang papa.


"Kalau begitu aku tinggal ke kamar mandi dulu sebentar sekalian ganti baju."


Zidan mengangguk.


"Jagoan Papa tidak boleh nangis." Zidan mengusap-ngusap punggung putranya penuh kasih sayang.


Sedangkan Saga terdiam dengan posisi kepala bersandar di bahu Zidan.


____


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa like dan komen. See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2