
Zila sedikit meringis kala Zidan menempelkan handuk kecil yang di celupkan air hangat ke pipinya, katanya agar memar di pipinya tidak membengkak. Tapi Zila akui tamparan Kayla sangat keras sekali di pipinya.
"Setelah ini saya akan ke sekolah untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Zidan tegas seraya menekan pelan pipi Zila dengan handuk.
Zila menggeleng."Nggak usah, Om. Besok aja ke sananya. Tapi Om yakin bisa menyelesaikan ini? Nanti guru makin marah kalau Om ngajuin banding," ucap Zila tak yakin cara penyelesaian suaminya akan berhasil. Apalagi ia memang salah karna hamil saat menjalankan pendidikannya dan setiap sekolah sudah menerapkan peraturan itu.
Zidan mengusap lembut tangan Zila, membuat wanita yang tengah menunduk itu menatap suaminya.
"Kamu tenang saja, masalah ini akan segera selesai dan kamu masih bisa sekolah walaupun sedang hamil."
Ucapan Zidan sedikit membangkitkan harapan Zila. Bagaimana tidak, setelah mengadukan semua masalahnya dengan sang suami Zila menangis meraung-raung karna tak ingin putus sekolah. Dan sekarang Zidan berjanji akan membuat ia tidak akan keluar dari sekolah itu.
"Sekarang istirahat, tapi harus ganti baju dulu. Atau mau saya bantu lepaskan?" tanya Zidan dengan tatapan jailnya seolah menggoda istri kecilnya itu. Setidaknya Zila tidak terlalu terpaku dengan masalah ini.
Entah kerasukan apa tiba-tiba Zila mengangguk lalu berkata."Boleh kalau Om nggak keberatan ngelepasin nya. Aku lagi malas bergerak." Zidan sedikit kaget mendengarnya namun sedetik kemudian tatapannya menjadi sendu.
Wanita itu menyandarkan tubuh di bahu ranjang. Entah mengapa tubuhnya menjadi cepat lelah rasanya ingin berbaring di kasur saja seharian.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Zidan bangkit dari sisi kasur. Ia membuka lemari pakaian lalu mencari pakaian rumahan milik Zila. Pilihan Zidan jatuh pada piyama hitam polos dengan celana pendek di atas lutut dan lengan pendek.
"Kok yang itu," protes Zila tampak tak suka dengan pilihan suaminya.
"Tadi kamu yang minta digantikan pakaiannya jadi terserah saya milih yang mana," balas Zidan.
Sebelum melepaskan pakaian Zila, Zidan menatap penuh binar pada istri kecilnya itu."Saya benar-benar bahagia karna kamu sekarang hamil. Tapi kenapa harus merahasiakan ini semua, hmm?"
Zila tertunduk sambil memainkan tangannya."Sebenarnya aku masih belum siap hamil, Om. Aku masih ingin menikmati kebebasan ku sebagai anak remaja lainnya walaupun setelah menikah kebebasan ku sedikit terantai, kan Om sekarang melarang aku pergi ke manapun kecuali izin. Padahal aku sudah minum pil KB tapi tetap ke bobolan," cicit Zila pelan di akhir ucapannya namun masih bisa di dengar Zidan.
Raut wajah pria itu sedikit berubah namun sedetik kemudian mengukir senyuman lebarnya.
"Mungkin memang sudah rezekinya. Hamil di usia muda juga tidak terlalu buruk, Zila. Walaupun kamu hamil, kamu masih memiliki kebebasan melakukan apapun yang kamu mau dan saya tidak akan melarang kecuali sesuatu yang membahayakan kamu."
Zidan mengusap pipi kiri Zila dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya pada sang istri dan menyatukan bibir keduanya. Awalnya hanya sebuah ciuman kini berubah menjadi ******* lembut. Zila tampak pasrah dan menerima ciuman suaminya, kedua tangannya meremas sprei seolah menyalurkan rasa gugup yang mendera. Pria itu melepaskan tautan bibir keduanya, ia menatap lekat istri kecilnya. Sementara pipi Zila memerah seperti tomat.
"Sini, saya buka seragamnya," ucap Zidan.
__ADS_1
"Ti-tidak jadi aku bisa sendiri." Zila merampas piyama miliknya di tangan Zidan. Ia mengusap bibirnya yang menyisakan saliva keduanya. Dadanya bergemuruh dan juga gugup setelah Zidan menciumnya.
Malam semakin ralut, Zidan masih terjaga seraya mengusap-ngusap punggung Zila yang memeluk dirinya. Beberapa menit yang lalu wanita itu mengeluh tidak bisa tidur dan sekarang lihatlah ia sudah tertidur nyenyak dalam pelukannya.
Zidan menatap intens wajah cantik istrinya yang terlihat polos dan damai kala tertidur. Tangan Zidan terulur mengusap pipi yang masih menampakkan bekas tamparan di sana dan mendadak dadanya memanas, seolah marah dan tak terima dengan apa yang Zila dapatkan dari orang-orang yang menyakiti istrinya.
Kini, tangan Zidan beralih mengusap perut datar Zila setelah menyingkap kain yang menutupi bagian perut wanita tersebut.
"Mungkin ini terdengar jahat, tapi saya melakukan ini agar kamu semakin terikat dengan saya. Menjadikan kamu wanita seutuhnya tidak cukup bagi saya."
Ya, Zidan menjadi pelaku yang menukarkan obat pil KB dengan pil penyubur kandungan. Entah mengapa ada rasa takut dalam benaknya bila Zila akan meninggalkannya. Apalagi perbedaan umur mereka berdua yang cukup jauh dan sifat Zila yang masih labil. Beberapa hari menjalani pernikahan dengan Zila sudah membuat ia tertarik dengan Zila. Dan itu menumbuhkan rasa ingin memiliki seutuhnya.
•
•
Zila mengucek-ngucek matanya setelah bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak tadi malam. Ia menoleh ke samping, tak mendapati sosok Zidan. Matanya beralih menatap jendela balkon yang sudah terbuka lebar tirainya dan matahari sudah mulai menampakkan dirinya.
Kedua kaki yang masih terasa lemas itu turun dari kasur, dengan langkah sempoyongan Zila keluar dari kamar. Tujuannya saat ini adalah dapur.
"Om..."
Senyuman terukir di bibir Zidan kala mendapati istrinya berdiri tidak jauh darinya.
"Kemarilah," titah Zidan.
Zila melangkah mendekati suaminya, baru beberapa langkah Zila hampir jatuh tersungkur ke lantai dan Zidan dengan cepat menangkap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Hati-hati," ucap Zidan yang terdengar lembut di telinga Zila.
"Kaki aku ke sandung," ucap Zila menatap meja kecil di sampingnya.
Zidan menarik meja kecil nan bulat itu ke sudut ruangan. Lalu kembali mendekati sang istri.
"Lain kali hati-hati, kamu sedang hamil."
__ADS_1
Cup
Zidan mengecup pipi Zila lalu menarik tangan Zila lembut. Sedangkan wanita itu mengusap pipinya.
"Saya membuatkan kamu nasi goreng," ucap Zidan. Karna hanya itu yang bisa ia buat."Setelah sarapan kamu langsung mandi, kita akan ke sekolah."
"Jadi, aku ikut juga?" ucap Zila.
Zidan mengangguk samar."Tentu, ini untuk membersihkan nama baik kamu dan menghancurkan rumor buruk orang-orang padamu."
Zila tertunduk. Tatapan matanya bergulir dengan kening yang mengkerut, seolah wanita itu tengah berpikir dengan tindakan yang akan suaminya lakukan.
Zidan menyentuh tangan Zila, membuat sang empu terkejut."Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak beban pikiran kamu sedang hamil," ucap Zidan seraya mengusap perut Zila. Sepertinya ini akan menjadi hobi baru Zidan.
•
•
Murid Bina Bangsa dibuat heboh, bagaimana tidak, setelah resmi dikeluarkan dari sekolah, Zila kembali lagi ke sekolah ini. Bukan hanya itu Zila melangkah melewati setiap kelas dengan tangan kanan yang di genggam Zidan.
"Angkat kepalamu, jangan menunduk," ucap Zidan pada Zila yang hanya menunduk saat memasuki sekolah ini.
Jujur saja, berita kehamilan Zila sudah menjadi rahasia sekolah dan sudah di sebarkan di grup chat sekolah. Rumor-rumor bermunculan bila Zila hamil di luar nikah bahkan dicap wanita nakal.
Kayla memicingkan matanya menatap sosok Zila. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Sepertinya akan ada kabar yang menghebohkan sekolah ini," ucap Eva di samping Kayla.
"Maksud kamu apa?" Kayla menoleh ke arah Eva dengan raut wajah yang suram.
Eva melipat kedua tangannya di dada."Kamu juga pasti tahu. Setelah Zila ketahuan hamil, sekarang Zila kembali lagi ke sekolah ini dengan bapak Zidan yang menggandengnya."
Kayla terdiam mendengar itu. Ia kembali menatap ke arah Zila yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
_____
__ADS_1
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa like dan komen:)