Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Tersinggung


__ADS_3

Lima tahun berlalu....


Terlihat seorang anak kecil berusia 5 tahun berlari-lari menghindari kejaran sang papa. Dua pria beda generasi itu tampak tertawa bahagia. Lain lagi di sebuah pendopo terlihat dua orang wanita duduk memperhatikan kedua pria itu.


"Bunda senang melihat rumah tangga kamu dan Zidan semakin bahagia, Zil. Apalagi sekarang Bunda akan mendapatkan cucu lagi."


Bunda Melati mengusap-ngusap perut buncit Zila. Saat ini wanita muda itu tengah mengandung anaknya yang kedua. Yaa, walaupun ada sedikit trauma lebih tepatnya Zidan yang trauma akan kejadian lima tahun silam di mana Zila jatuh terpeleset di kamar mandi dan membuat sang istri harus menjalani operasi.


"Bunda doakan saja semoga persalinan aku nanti lancar. Sebenarnya aku ingin melahirkan normal tapi mas Zidan melarang, katanya lahirannya caesar aja," balas Zila dengan helaan napas panjang.


Semenjak kehamilan kedua Zidan semakin protektif padanya. Suaminya juga sudah mempekerjakan dua pembantu di rumah, katanya supaya ia tidak kelelahan mengerjakan pekerjaan yang biasa ia lakukan di rumah.


"Mungkin Zidan takut kamu kenapa-kenapa, Zila. Bisa saja, kan, Zidan trauma dengan kondisi kamu kemarin saat melahirkan Saga."


Lagi, Zila menghela napas pelan lalu mengangguk, membenarkan ucapan mertuanya.


"Eh, katanya Zidan mau titipin Saga ke Bunda, ya?"


"Iya, Bunda. Aku dan Mas Zidan ingin pergi ke pusat perbelanjaan sekalian mampir ke tempat kerjanya."


Bunga Melati manggut-manggut."Tapi kamu hati-hati ya, Bunda takut terjadi apa-apa dengan kandungan kamu, kemarin aja sempat kontraksi."


Zila menyentuh tangan bunda Melati lalu menatapnya."Bunga jangan terlalu khawatir, kemarin aku hanya kelelahan saja yang penting kata dokter jangan terlalu melakukan aktivitas yang berat," ucap Zila.


"Mama!"


Suara pekikan suara Saga membuat dua wanita itu kompak menatap anak berusia 5 tahun tersebut.

__ADS_1


"Mama, haus..." keluh Saga ketika sudah duduk di samping Zila.


Bunda Melati segera memberikan segelas air putih pada cucunya. Zila mengambil tissu yang ada di atas meja lalu mengusap keringat yang membasahi permukaan wajah putranya, hampir satu jam Saga bermain dengan Zidan. Yaa, dari hari senin sampai jumat suaminya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda saat awal-awal mereka menikah.


"Cucu Oma lapar, nggak?" tanya bunda Melati.


Saga mengangguk cepat."Aku lapar Oma! Mau makan ayam kecap!" Mata Saga berbinar-binar mengatakan itu. Ayam kecap menjadi salah satu makanan favorit Saga.


"Sini, sekarang ikut Oma. Bibi masak ayam kecap banyak." Bunda Melati bangkit dari tempat duduknya lalu meraih tangan cucunya.


Saga tampak kegirangan. Saat di rumah bunda Melati, bocah itu sangat di manjakan. Jadi, tidak heran Bocah berusia 5 tahun itu sangat senang bila ke rumah sang Oma.


Sekitar beberapa menit Zidan muncul dengan permukaan wajah yang tampak basah, sepertinya pria itu baru saja membasuh wajahnya.


"Mana Saga, Sayang?" tanya Zidan seraya mendudukkan dirinya di samping Zila.


Zidan menatap permukaan bajunya. Ini karna ia baru saja bermain dengan putranya di tambah tanah di taman belakang rumah sedikit becek karna baru saja hujan.


"Sudah, Sayang, nanti Mas ganti bajunya. Tapi, kamu yakin ikut ke tempat kerja Mas, hmm?" tanya Zidan.


Zila mengangguk."Kan sekalian belanja di mall, jadi aku ikut aja ke tempat kerja, Mas. Aku bosan di rumah terus."


Zila mencebikkan bibirnya. Zidan menatap sendu sang istri lalu tangannya terulur mengusap pucuk kepala Zila penuh kasih sayang."Iya, boleh. Tapi kalau capek bilang sama Mas, ya? Ingatkan kata dokter nggak boleh terlalu kecapean."


Zila mengangguk. Wanita itu menggeser tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di dada kokoh suaminya. Baginya tempat ternyaman adalah saat berada dalam dekapan suaminya, Zidan.


__ADS_1



Terlihat mall hari ini sangat padat oleh mengunjung, mengingat hari ini hari minggu. Di mana semua orang libur bekerja dan menghabiskan waktu mereka liburan atau sekadar jalan-jalan.


Zila terlihat memilah-milah baju dress yang akan ia beli. Mengingat semua pakainya sudah tak muat lagi karna perut buncit yang semakin membesar. Ia lebih suka dress dengan kain yang dingin saat di kenakan dengan lengen pendek.


"Hai Zila..."


Sapaan seseorang membuat Zila yang tengah fokus mencari dress yang cocok, kini berbalik badan. Ia sedikit terkejut kala melihat teman lamanya.


"Dina? Kamu Dina?"


Wanita dengan tinggi badan semampai dan bentuk tubuh yang indah itu mengangguk."Iya, ini aku Dina. Ya ampun sudah lama kita tidak bertemu, Zila." Dina terlihat senang ketika bertemu dengan Zila, teman SMA nya dulu.


"Kamu lagi beli baju di sini?" tanya Dina untuk memulai obrolan mereka berdua.


Zila mengangguk."Iya, aku sedang memilih dress. Biasa ibu hamil semakin besar perutnya semakin nggak muat bajunya. Jadi, mas Zidan ngajak aku ke sini."


"Eh, kabar kamu gimana, Din? Udah nikah?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Zila.


"Kabarku baik, Zila. Dan aku masih single. Aku tidak mau buru-buru nikah, ah. Aku sedang menikmati masa kesendirianku tanpa di pusingnya dengan masalah rumah tangga. Ngomong-ngomong badan kamu makin gendut ya, terus wajah kamu terlihat lebih dewasa padahal masih muda."


Zila tersenyum getir mendengar hal itu. Ia menatap pantulan badannya di cermin yang ada di toko tersebut.


_______


Jangan lupa like dan komennya ya! Terima kasih sudah mampir:)

__ADS_1


__ADS_2