
Namun Vania tersenyum cerah. "Dia baik padaku dan dia sangat menyayangiku ayah."
"Aku ikut bahagia mendengarnya, tapi sebenarnya aku khawatir karena pernikahan kalian dilandasi sebuah perjodohan dan aku mengenal bagaimana watak putraku. Karena aku membesarkannya dan aku tahu jika sikap dan kepribadiannya tak baik. Tapi jika dia melakukan sesuatu yang buruk padamu segera beri tahu dan aku memastikan dia akan menerima ganjarannya," celetuk ayah Zeyn di akhir kalimatnya.
Vania ikut tertawa. "Menurutku itu tidak perlu ayah."
Di tengah obrolan itu tangan Zeyn masih setia menggenggam tangan Vania. Vania merasakan suhu tubuhnya naik setiap menitnya dan membuat pipinya terasa panas.
Perasaan lega dirasakan Vania saat mereka berpindah ke meja makan. Membuat Zeyn tak bisa duduk sangat dekat di samping Vania dan ada perasaan sedih karena Vania sudah mulai menyukai sentuhan Zeyn kulitnya.
Vania mulai menaruh beberapa potong daging ke piringnya tapi aktivitasnya terhenti saat Zeyn mengambil alih piring di tangannya. Vania duduk di kursinya fokus memandangi Zeyn yang sedang sibuk memotong daging. Vania terkejut bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan benar.
'Bagaimana dia tahu cara bertindak manis seperti ini? sikapnya jauh berbeda dengan sebelumnya. Apa itu benar Zeyn? mungkin inilah Zeyn yang asli? yang kemarin itu imitasi? ataukah dia sedang memakai topeng dan sekarang sudah ia lepaskan?' deretan pertanyaan-pertanyaan yang tengah berputar di kepala Vania.
Vania merasakan jantungnya kembali berpacu, debaran dan sensasi aneh di perutnya kembali menyerang.
Mata Vania sibuk mengamati wajah, rambut hitam, rahang tegas, kulit putih pucatnya serta tangan kekar milik Zeyn.
Tawa ayah Zeyn berhasil membuyarkan lamunan Vania lalu beralih memandang mertuanya yang sedang terlibat perbincangan dengan Zeyn.
Namun nurani Vania berkata lain dan tak bisa menahan diri untuk tidak memandangnya. Rambut, dahi, mata, bibir, rahang tegas, hidung. Semua yang ada pada diri Zeyn, semuanya sempurna di mata Vania. Seakan tak ingin melewatkan momont berharga itu dan Zeyn tiba-tiba menoleh ke arah Vania.
"Ini sayang," ujar Zeyn tersenyum dan meletakkan piring Vania kembali. Ucapan itu sukses membuat gemuruh hebat dalam tubuhnya.
__ADS_1
Zeyn tersenyum, tak ada emosi, wajah dingin seperti biasa. Kalimat yang di ucapkan Zeyn terdengar sangat manis dan sarat akan perhatian di telinga Vania. 'Aku yakin, jika berdiri sekarang aku akan jatuh karena lututku yang terasa seperti jelly dan membuat detang jantungku berdetak tak normal karena dirimu, Zeynan Shadiq Daulyn.' gumam Vania dalam hati.
***
"Malam ini sangat menyenangkan," tutur Vania saat memasuki pintu rumahnya. "Aku menikmatinya, ayah dan ibu juga tampak bahagia. A ...." Vania tak melanjutkan kalimatnya saat Zeyn memotongnya.
"Ya, kau melakukannya dengan baik," ucap Zeyn kembali datar. "Mereka percaya kita bahagia dan terima kasih atas kerja samanya," setelah mengucapkan itu, Zeyn masuk ke kamarnya.
Vania terpaku di tempatnya, lidahnya kaku, untuk kesekian kalinya Vania terperdaya. Dadanya sesak, detak jantungnya melambat dan sekali lagi Vania lupa bahwa semuanya hanya kebohongan belaka. Perasaan marah pada dirinya sendiri kian membuncah, merutuki kebodohannya karena terjerumus dalam jurang yang sama.
"Kehangatan yang membuatku percaya jika ia tulus, senyuman yang membuatku percaya jika ini nyata, kata-kata manisnya dan perhatiannya membuatku percaya jika ia sudah berubah ... dan kepercayaan bahwa dia orang lain. Tapi semuanya jelas tak ada yang berubah. Saat tak ada lagi yang menyaksikan drama kami, dia kembali ke wujud aslinya, Zeyn yang dingin dan kasar. Dia memanfaatkanku dan aku tertipu."
Tubuhnya bergetar hebat, pelupuknya memanas, sesak di dadanya dan rasa sakit bagai ditikam ribuan pisau tepat di dadanya.
Vania terkulai di atas kasur dengan keadaan terjaga, Vania sudah mencoba berbagai cara untuk tidur tapi tak ada yang membantu. Vania mencoba untuk keluar kamar menuju dapur untuk meminum segelas air lalu duduk di depan TV dan yang mengejutkan, rasa kantuk yang tiba-tiba melanda. Mungkin Vania butuh TV di dalam kamarnya.
Di sisi lain, suara keras dari ruang tamu mengganggu tidur Zeyn, Zeyn melirik jam yang menunjukkan pukul tiga pagi.
Zeyn sudah sangat tahu itu pasti perbuatan istrinya yang tertidur di sofa ruang tamu dengan TV yang menyala. Zeyn selalu bertugas untuk mematikannya bahkan saat Zeyn tak ingin peduli tapi tetap saja ia akan menyeret kakinya keluar, mencari remote control dan menekan tombol off.
Zeyn berbalik ingin kembali masuk ke kamarnya tapi niatnya terhenti saat mendengar suara yang tak biasa. Zeyn mundur beberapa langkah dan menemukan Vania sedang berbaring di sofa. Suaranya yang keluar seperti isakan. Vania menangis.
"Apa dia mimpi buruk?" gumam Zeyn
__ADS_1
Zeyn mencoba memegang tangan Vania tapi terhenti dan menariknya lagi. "Haruskah aku membangunkannya atau tidak? tapi aku tak bisa meninggalkannya begitu saja," ujar Zeyn sembari menyentuh lengan Vania pelan. "Bangun," lanjut Zeyn berbisik tapi tak ada tanggapan dari Vania.
Kali ini Zeyn menepuk dan menggoyangkan lengan Vania. "Hey, bangun." masih belum ada reaksi membuat Zeyn agak jengah. Akhirnya Zeyn berjongkok di samping sofa dan menggenggam tangan Vania dan tangan sebelahnya sibuk menyingkirkan anak rambut di wajah Vania.
Zeyn merasakan hatinya bagai tergempur puluhan peluru saat melihat wajah muram Vania, 'Kau kenapa? apakah kau tak menyukai hubungan ini? ucapan Yudha dan Dery benar, jika dia tak juga tak bahagia sama sepertiku, kita harus bercerai setelah kurasa cukup kau membantuku.' kata Zeyn dalam hati.
Tangan Zeyn dengan lembut menyelipkan rambut ke belakang telinga Vania. "Bangun," entah Zeyn sadari, ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Vania perlahan membuka matanya.
Mata yang setengah terbuka, Vania melihat wajah Zeyn. Vania merasakan kehangatan yang menyentuh sisi telinganya, suara yang samar-samar terdengar lembut nan pelan yang membuat dadanya bergemuruh. Vania berpikir semuanya hanya mimpi, tangannya juga terangkat memegang tangan hangat itu dan menekannya lembut di pipinya.
Perasaan menyenangkan membuat Vania menutup matanya lagi, Vania tak ingin melewatkan momont seperti ini dan dia berharap jika yang ia rasakan sebuah mimpi maka ia tak ingin bangun dan tetap terlelap melanjutkan mimpinya.
Vania menarik napas dalam-dalam dan membuka matanya dan matanya seketika membulat karena kaget melihat sosok Zeyn di depannya. Tangannya spontan melepaskan tangan Zeyn.
Zeyn juga refleks berdiri dan menggaruk kepalanya sedangkan Vania menyembunyikan wajahnya karena malu dan tak tahu harus berkata apa.
"T-tadi kau mimpi, jadi aku ... aku hanya ... aa ....' jujur Zeyn dan berlalu ingin ke kamarnya menghindar. Detik berikutnya Zeyn berhenti dan Vania juga berbalik.
"Jangan tidur di sofa lagi," lanjut Zeyn tanpa berbalik menghadap Vania.
Bukan kalimat ancaman atau perintah yang penuh emosi. Suara Zeyn sangat lembut dan sarat akan kekhawatiran di setiap katanya.
Sekali lagi, Zeyn mampu membuat hati Vania berbunga-bunga karena perhatian sekecil itu.
__ADS_1
"Aku sudah jatuh dalam indahnya kata cinta, Zeynan Shadiq Daulyn."