
Sekali lagi Zeyn menekan bel dan akhirnya sang ayah mertua-lah yang membuka pintu.
“Zeyn! Ada perlu apa kemari?”
“Hmm... Apa dia ... apa dia ada di rumah?” tanya Zeyn gugup dengan jantung yang berdegup kencang.
“Siapa?” Pria paruh baya itu mengerutkan alisnya. “Putriku?” Zeyn tidak menanggapi jadi dia menganggap pertanyaannya benar. “Kenapa dia ada di sini? Apa kalian bertengkar?” nada suaranya semakin menyudutkan Zeyn. “Kamu tidak tahu di mana keberadaan istrimu?”
Zeyn sudah tahu hubungan antara Vania dan orang tuanya tidak begitu dekat dan Zeyn berusaha agar tidak menimbulkan sesuatu yang mencurigakan yang akan membuat ayah mertuanya murka.
“Tidak ... tidak,” elak Zeyn berbohong. “Tadi, dia bilang akan datang berkunjung ke sini dan aku tidak bisa menghubungi nomornya. Ada sesuatu yang yang sangat mendesak untuk kukatakan padanya. Apa ayah tahu dimana dia?” Zeyn merutuk dalam hati karena yang ia ucapkan bukanlah ide yang tepat untuk dijadikan sebuah alasan, tapi hanya itu yang bisa Zeyn lakukan, mungkin ayah mertuanya bisa memberi petunjuk. Walau tak ada jaminan jika kemungkinan itu akan terjadi.
“Yang kutahu, dia tidak berani meninggalkan rumah tanpa izin darimu.”
“Ah,” Zeyn menggaruk tengkuknya. “Baiklah, terima kasih ayah. Aku akan kembali ke kantor lagi,” pamit Zeyn sopan.
Yang Zeyn tahu Vania tidak punya banyak tempat untuk ia kunjungi. Karena Vania tinggal di inggris cukup lama, dia juga tidak punya sanak saudara atau teman selain teman-teman Zeyn.
Diperjalanan menuju kantor, Zeyn sibuk berpikir tentang orang-orang yang paling berpeluang untuk di kunjungi Vania. Pikirannya tertuju pada sosok Dery, dengan cepat Zeyn menghubungi nomor Dery.
“Dery! Hari ini Vania masuk kerja?” tanya Zeyn, tepat saat Dery mengangkatnya.
“Hah? Heyy kamu kenapa? Aku sudah lama menunggu teleponmu. Tapi aku tak mengira kau akan menelponku sekarang ini.”
“Hey, bisa langsung ke inti pembicaraan saja? Aku tak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu dan sekarang moodku tidak dalam keadaan baik, jadi tolong jawab saja pertanyaanku.”
“Aku tidak tahu ... Haruskah aku memberi tahumu atau menyiksamu untuk sementara waktu, sepertinya menyenangkan ....”
“Hey! Dery brengsek!” Zeyn dengan jelas mendengar suara gelak tawa Dery.
“Oke oke. Dia tidak ada di sini dan dia sudah lama tak masuk kerja lagi.”
“Kamu pernah bicara dengannya?”
“Iya. Saat dia memberiku surat pengunduran dirinya.”
“Apa? Dia berhenti kerja? Terus apa yang dia katakan padamu? Apa kau punya info lain? Atau kau tahu dimana dia sekarang?”
“Tidak! Aku tidak tahu.”
“Dery! Tolong. Aku sedang tak ingin bermain-main, aku serius.”
“Sumpah, aku tidak tahu dimana dia. Maaf brother.”
“Haish.”
Zeyn ingin menutup telepon, tapi suara Dery menghentikannya.
“Jika aku tidak tahu, kamu juga tidak tahu. Hanya ada satu orang yang mungkin tahu. Tanpa ku sebut-pun kau sudah dapat menebak siapa orangnya. Siapa lagi kalau bukan sang super hero.”
***
__ADS_1
“Hai,” sapa Zeyn saat pintu terbuka.
Sepanjang jalan Zeyn terus berpikir cara alami memainkan perannya. Marah dan mengambil semua yang ia butuhkan secara paksa? Atau bertingkah polos dan diam-diam memeriksa ponselnya atau bertanya jujur maksud dan tujuannya datang.
“Zeyn, kenapa tiba-tiba sekali? Aku jarang melihatmu belakangan ini,” ucap Yudha yang sepertinya baru keluar dari kamar mandi atau lebih tepatnya Zeyn yang memaksanya keluar dari sana karena terus membunyikan bel.
“Yud, aku mau bicara sesuatu.”
“Yah, silahkan,” jawab Yudha sambil memberi isyarat agar Zeyn duduk di sofa.
“Kamu sudah tahu, kan? Alasan mengapa aku datang dan hal apa yang ingin aku tanyakan kepadamu atau lebih tepatnya siapa yang ingin aku tanyakan.”
“Aku tahu, Zeyn dan aku tidak akan berbohong. Aku memiliki informasi yang kau cari, tetapi ... aku tidak bisa memberi tahu-mu.”
Zeyn terkejut, lega dan marah di saat yang bersamaan. Dari semua orang tentu saja Yudha yang selalu menghubunginya, yang tahu dimana keberadaannya dan bertukar kabar.
Zeyn mengusap kasar rambutnya. Namun di sisi lain, Zeyn bahagia karena Yudha setidaknya mengetahui sesuatu. Tapi Yudha tak bisa memberitahunya.
Alasan mengapa Yudha tidak bisa memberi Zeyn dimana keberadaan Vania saat ini mungkin karena Yudha menginginkan mereka bercerai dan menggantikan posisi Zeyn nantinya, entahlah.
“Itu keinginannya,” Yudha seakan menebak semua pertanyaan yang muncul di pikiran Zeyn. “Dia tidak ingin aku memberi tahu siapa-pun mengenai tempat tinggalnya.”
“Tapi Yud...”
“Zeyn! Aku sudah janji. Aku hanya bisa meyakinkanmu jika dia baik-baik saja dan ...”
“Dan??”
Siluet Yudha menghilang di balik pintu kamar saat Zeyn duduk sembari memikirkan cara agar membuat Yudha berbicara. Cara membuat Yudha mabuk mungkin bukanlah cara yang tepat malah akan memperburuk segalanya dan Yudha bukan tipe orang yang akan mudah membocorkan rahasia dengan sendirinya.
Zeyn lagi-lagi mengacak-acak rambutnya karena kesal dan mulai menyandarkannya punggungnya ke sofa. Matanya melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari petunjuk atau sekedar menemukan ide. Alhasil matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja.
Zeyn mulai mencari kontak yang disimpan Yudha setelah mendapatkan ponsel Yudha, tapi Zeyn tidak menemukan nama Vania.
Setelah tak menemukan pencerahan dalam kontak tersimpan Yudha, Zeyn beralih membuka pesan, karena kemungkinan besar mereka masih sering bertukar kabar.
Benar saja, hanya ada satu nomor baru yang beberapa jam yang lalu Yudha sempat mengirim pesan.
“Kamu dimana?” Zeyn menulis dengan cepat dan menatap layar dengan tak sabar menunggu jawaban. Berharap agar orang itu bisa membalas pesannya.
Hanya beberapa detik tapi Zeyn merasa itu sangat lama, ponsel yang ia pegang bergetar yang memberi notif pesan masuk dan Zeyn segera membukanya.
‘Kamu lupa Pin-nya,’
“Hah?” Zeyn sudah menunggu lama dan hanya itu jawaban yang ia dapatkan.
Zeyn mulai melihat-lihat isi pesan sebelumnya tapi semuanya dalam bahasa asing kecuali pesan yang di kirim pertama kali.
“Tolong simpan nomor ini, Kak. Aku akan memakainya mulai sekarang.
“Zeyn! Apa yang sedang kau lakukan?” Zeyn dengan jelas mendengar suara Yudha berjalan mendekat.
__ADS_1
“Yud, apa Pin-nya?” tanya Zeyn bahkan tidak malu ketahuan, alih-alih menjawab malah bertanya balik.
“Apa?”
“Pin-nya?” Zeyn menujukan pesan yang ia dapatkan.
Yudha membaca pesan tersebut dan hanya tersenyum simpul.
“Aku akan memberitahumu itu. Tapi itu tidak akan ada gunanya bagimu,” jawab Yudha dengan mengacak-acak rambutnya dengan handuk dan berjalan menuju dapur.
“Yudha!” Zeyn mengekorinya. “Apa yang kau bicarakan? Cepat katakan saja padaku.”
“OUL FILST,” ucap Yudha dengan raut wajah santai dan menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri.
“Ou-...”
“Oul filst, itu Pin-nya. Aku selalu menggunakannya saat aku mengirim pesan padanya. Begitulah cara ia tahu jika itu aku dan semisal aku tidak menggunakan ponselku.”
Zeyn beralih ke ponsel di tangannya dan mengetik Pin yang ia ketahui.
“bagaimana cara mengeja katanya?”
“Itulah mengapa aku mengatakan itu tidak akan membantumu bahkan jika kamu tahu kata itu. Walau aku memberitahumu cara mengejanya, dia akan tahu jika itu bukan aku. Aku juga sudah tegaskan jika aku tidak akan mengingkari janjiku.”
Yudha datang dan mengulurkan tangannya, memberi isyarat agar Zeyn menyerahkan ponselnya.
Zeyn merasa keinginannya untuk lebih besar menjangkau Vania kini telah sirna.
“Kau menikmati ini, bukan?”
“Zeyn. Bukan itu intinya...”
“Kamu pasti sangat bahagia menjadi satu-satunya orang yang bisa bicara dengannya, kamu tahu dimana ia berada dan aku tidak. Kau menyukainya, bukan? “
“Zeyn,” panggilnya pelan. “Jangan seperti ini...”
“Terus apa artinya?” Tanya Zeyn dan mata Yudha membelalak karena terkejut.
“Arti oul filst itu?”
“Yang pertama,” Yudha menelan ludahnya tapi menjawab dengan percaya diri dan menatap lurus kemata Zeyn. “Aku memanggilnya yang pertama lebih ke cinta pertama.”
.
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak vote dan koment...
__ADS_1
terima kasih 💕