Suami Egois

Suami Egois
Di Luar Dugaan


__ADS_3

Saat Vania tinggal bersama orang tuanya. Meskipun tak menunjukkan rasa peduli sama sekali, tetapi Vania tak pernah merasa hampa. Mereka selalu makan bersama dan berbicara satu sama lain.


Namun semua berbeda saat di rumah Zeyn, ia bersahabat dengan keheningan dan kesunyian.


Salah satu alasan yang membuat Vania makan sembari menonton TV, agar tak merasa kesepian dan menepis pikiran jika hanya ia sendiri yang memakan masakannya sendiri.


Vania merasakan sesuatu yang menjanggal di tenggorokannya yang membuatnya tak bisa menelan makanannya. Dadanya terasa sesak, mata yang mulai memanas ingin segera meluapkan tangisnya. Jangan lupakan kodrat Vania yang hanya manusia biasa dan bisa merasakan sakit.


***


Pekerjaan berberes rumah juga sudah ia lakukan. Kini tinggallah Vania seorang diri berselimut kesunyian, tak ada hal lain lagi yang mesti ia lakukan.


Hari juga mulai gelap, pengaruh perubahan intensitas matahari terhadap bumi sudah meredup. Arah jarum jam yang menunjukkan pukul tujuh malam dan Vania sudah tahu jika Zeyn akan pulang jam delapan malam dan Vania memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman dekat rumahnya.


Suasana malam yang tak begitu berangin karena sudah memasuki fase pergantian musim hujan ke musim panas. Orang-orang tampak bahagia hanya dengan berjalan, berbicara, dan saling menggandeng tangan satu sama lain.


Vania duduk di bangku taman, matanya asyik memperhatikan pasangan yang sibuk berlalu lalang di sekitarnya. Jika ada seseorang yang menyadari tingkahnya pasti ia sudah disebut sebagai orang cabul yang tengah berburu korban.


Sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan, rasa bahagia yang ia peroleh tercipta dari kegiatan sesederhana itu.


Sepersekian detik berikutnya. Matanya membulat menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Vania terkejut bisa-bisanya ia keluyuran di malam yang mulai larut.


"Astaga, perasaan aku hanya berpelesir sebentar. Kenapa waktu berlalu secepat ini?" dumel Vania.


Vania berharap Zeyn masih bersama teman-temannya, melakukan kegiatan rutinnya di Sabtu malam.


Sesampainya di rumah dan membuka pintu, Vania merasa sedikit lega karena ruang tengah yang masih gelap tanda Zeyn belum pulang ke rumah. Vania bergegas ke dapur untuk meneguk segelas air karena haus usai berlari maraton.


"Kemana saja kau?" Vania mendengar suara berat dengan pertanyaan yang ditujukan padanya dan mampu membuat tulang punggungnya menegang.


Entah mengapa perasaan gugup melanda, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Vania kembali menaruh gelas di atas meja dan perlahan berbalik dan di sanalah Zeyn duduk di sofa dengan tangan menyilang di depan dada serta lampu di matikan. 'Dia pasti mabuk,' batin Vania mendapati keberadaan suaminya dengan pantulan cahaya dari arah jendela.

__ADS_1


Hati dan otak Vania beradu argumen, tidak biasanya seorang Zeynan Shadiq Daulyn berada di wilayah kekuasaan Vania yaitu ruang tamu.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia duduk disana? Kenapa tak ke kamarnya seperti biasa di lakukannya?" batinnya.


Masih banyak kata kenapa yang belum bisa dipecahkan Vania.


"Kenapa dia menungguku? Apakah dia mengkhawatirkanku?" pikirannya.


Hanya ada satu jawaban yang dapat menampik pikirannya yaitu kata tak mungkin dan mustahil untuk terjadi.


Jika pun terjadi itu adalah momen langka yang harus Vania abadikan atau Zeyn yang mungkin kehilangan akal sehatnya atau pria itu sudah gila.


"A-aku keluar ... jalan-jalan."


"Oh. Begitukah," ujarnya dan bangkit dari tempat duduknya. "Apa kau tak sadar jam berapa sekarang?"


"Aku tahu, aku hanya tidak ... tidak menyangka akan sampai selarut ini." Vania tak tahu lagi harus berkata apa, karena dia memang suka memandangi pejalan kaki sehingga tak sadar akan apa pun.


"Karena aku menikmati udara segar dan pemandangan di malam hari," lanjutnya.


"M-maaf.... "


"Jangan membohongiku!"


Vania membeku, pupil matanya bergetar mendengar Zeyn memekik murka serta suara dingin nan jutek, Sindiran dan seringaian Zeyn sudah jelas terbaca jika pria itu sedang marah.


Perasaan de javu menggerayangi otak Vania, kilasan saat sang ayah memukulnya karena pulang larut malam kini menekannya.


Vania memundurkan tubuhnya saat Zeyn memangkas jarak diantara mereka. Vania mencoba mengatakan seauatu tapi tak bisa. Vania takut, sangat takut dengan orang yang ada di depannya kini.


Sisi lain dari Zeyn satu ini tak pernah ia sadari. Vania tak yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Kau pikir kau ini siapa, ha?"


Zeyn sangat dekat dan punggung Vania sudah mentok bertubruk dengan sisi dinding.


"Kamu itu istriku dan kamu harus patuh dengan ucapanku, terutama saat aku menyuruhmu berdiam diri di sini! Di rumah! Menungguku kembali! Dan menyiapkan makan malam untukku! Tidak berkeliaran di tengah keramaian saat malam hari begini," Zeyn menjeda kalimatnya.


'Memang benar, aku sekarang memakai tank top, tetapi aku juga mengenakan cardigan, yang kulepas saat merasa panas tadi karena berlari untuk kembali ke rumah.' Vania ingin mengatakan itu tapi tercekat dalam hatinya.


"Apa kau keluar untuk menemui seseorang? Kau bergurau? Atau kau ingin mempermalukanku? Kau lupa siapa aku? Apakah kau sengaja ingin menghancurkanku? Hei? Jawab aku!" bentak Zeyn.


"T-tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan ... "


"Ooh, atau mungkin kau sudah punya kekasih? Mungkin kau sudah selingkuh, dasar j*l*ng sialan!"


Ucapan Zeyn sudah sangat keterlaluan. Ciuman saat pernikahan adalah ciuman pertama yang dirasakan Vania seumur hidupnya, dan Zeyn menciumnya di kening dan sekarang Zeyn berani melabelnya sebagai seorang j*l*ng.


Vania tak melakukan sesuatu yang memalukan tapi kata j*l*ng sukses merobohkan tembok pertahanannya, pelupuknya sudah tak mampu menahan air mata yang selalu memaksa untuk keluar.


Vania bahkan tidak tahu, mengapa Zeyn bisa semarah itu terhadapnya. Vania berpikir jika Zeyn tidak peduli dengan ada tidaknya Vania di rumah.


'Apakah dia khawatir? Mungkinkah dia ... cemburu?' sederet pertanyaan konyol yang selalu muncul di otak Vania.


'Jangan! Tolong jangan sekarang!' Vania terkesiap, saat kedua tangan kekar Zeyn membentur dinding, mengunci pergerakan Vania.


Vania hanya memejamkan mata karena kaget melihat tindakan Zeyn dan satu hal yang muncul di benak Vania yaitu pipinya yang akan memerah padam, berharap Zeyn akan menampar pipinya. Tapi itu tak terjadi.


'Mengapa aku mengharapkan dia memukulku? Apa karena ayah yang selalu melakukan itu padaku?' Dan untungnya Zeyn bukanlah ayahnya.


Vania perlahan membuka matanya untuk melihat wajah yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Zeyn tidak mengatakan apa-apa dan Vania hanya terpaku menatap mata indah milik Zeyn.


Secara naluri Vania sibuk menelisik wajah tampan sang suami mulai dari bola mata coklat, hidung mancungnya, rahang tajamnya, kulit wajahnya, serta rambut yang sengaja ia buat berantakan. Zeyn tampan dan berkarisma membuat jantung Vania berdebar dengan ritme sangat cepat.

__ADS_1


Mata Vania mengerjap beberapa kali menyadari jarak antara dirinya dan Zeyn yang terbilang sangatlah dekat.


Vania dan Zeyn tak pernah sedekat ini, sejak terakhir kali Zeyn mengecup keningnya saat menikah. Jantung Vania kembali berdegup kencang karena kaget mendengar suara berat milik Zeyn. Tak ada intonasi marah tapi lebih seperti mengancam.


__ADS_2