
Zeyn mungkin sudah tidak memiliki harapan lagi. Segala jenis pemikiran dan perasaan bercampur di dalam diri Zeyn dan akan memulai peran batin antara keinginannya dan yang terbaik untuk Vania.
Zeyn bahkan tidak memiliki kepercayaan diri untuk membujuk Vania agar tetap bersamanya, tetap berada di sisinya. Setelah melakukan banyak hal buruk terhadap Vania, Zeyn tidak pantas.
Pria itu meletakkan surat cerai dalam laci meja dan mulai membaringkan diri dengan nyaman di tempat tidur. Zeyn melihat ponsel dan mulai menatap foto Vania lagi dan untuk ke sekian kalinya Zeyn memejamkan mata membayangkan sosok Vania berbaring di sampingnya. Zeyn mengulurkan tangan dan memeluk bantal, tempat di mana Vania biasa tidur.
Namun setelah beberapa menit, bunyi bel pintu membuatnya tersadar. Zeyn tidak mengharapkan siapa pun untuk datang dan Zeyn juga tidak berharap apa yang ia lihat sesaat setelah membuka pintu rumahnya.
“Sepertinya kau kehilangan sesuatu,” ucap pria paruh baya itu tersenyum mencibir. “jadi aku memutuskan untuk mengembalikannya padamu, karena aku menemukannya.”
Zeyn kehilangan kata, matanya mengerjap berulang kali dan Zeyn bersumpah bisa melihat wajah yang menyeringai kemenangan sebelum menutup pintu. Yang pasti, ayah mertua Zeyn memang orang yang sangat mengerikan.
Zeyn memandang tak percaya orang yang ada di di hadapannya. Ia sangat takut dengan yang ia saksikan hanyalah sebuah delusi.
Perasaan senang serta hati yang terasa tertusuk ribuan jarum di rasakan Zeyn. Bahkan jika itu mimpi, Zeyn masih bisa memanfaatkan kesempatan. Melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Jadi tanpa berpikir panjang, Zeyn menarik Vania dalam pelukannya, mendekapnya erat dan membelai rambutnya.
“Aku merindukanmu,” ucap Zeyn pelan dan Vania tidak menanggapi. Vania mencoba meletakkan tangannya di sisi pinggang Zeyn seolah olah dia ingin mendorong Zeyn agar menjauh, jadi Zeyn sedikit mengencangkan dekapannya.
“Apa dia menyakitimu?” masih tidak ada respons tapi tubuh Vania mulai sedikit gemetar. Zeyn berusaha untuk tidak melihat wajahnya, rasa menyesal sehingga Zeyn tidak bisa untuk menghadapinya.
Zeyn tidak yakin jika ia mau, hatinya mungkin akan hancur berkeping-keping. Mata Zeyn mulai mengabur karena genangan air matanya.
“Maafkan aku... Maafkan aku tidak bisa melindungimu,” air mata mulai membasahi kulit Zeyn tapi tidak berhenti berbicara. Untuk kali ini, meskipun itu tidak nyata dan hanya sebuah mimpi, Zeyn ingin memberitahu Vania semua yang ia rasakan karena sebelumnya tidak bisa.
Zeyn merasakan tangan Vania perlahan menjelajah di sekitar punggungnya dan beberapa detik kemudian dia juga membalas pelukan Zeyn, menyembunyikan wajahnya di dada Zeyn dan mulai terisak pelan.
Terlalu menyakitkan bagi Zeyn melihatnya menangis pelan. Yang Zeyn pikirkan, seharusnya ia berlutut dan meminta maaf di kaki istrinya.
Zeyn memutuskan untuk mengangkat Vania menuju kamar tidur, membaringkannya dengan hati-hati lalu Zeyn ikut berbaring di sampingnya, sambil tetap memeluk tubuh Vania.
Zeyn hanya tak ingin menunjukkan wajahnya dan jelas Vania juga mungkin tidak ingin melihat itu. Zeyn membelai sayang belakang kepala Vania dengan satu tangan dan mengusap punggung dengan tangan sebelahnya.
“Aku sangat merindukanmu,” Zeyn mencoba menghirup wangi sampo di rambut istrinya dan diam-diam menyeka air mata di wajahnya dengan ujung jarinya. “Tolong, jangan tinggalkan aku lagi... Aku tak bisa hidup tanpanmu,” Zeyn mundur dan mencium singkat kening Vania. “Aku membutuhkanmu. .. Aku membutuhkanmu dalam hidupku,” Zeyn menangkup dagu Vania, agar membuatnya menatap Zeyn. “Cepatlah kembali padaku, Hm? Aku rindu...”
__ADS_1
Vania mencoba membuka mulutnya tapi tidak mengatakan apa-apa, Zeyn perlahan mendekatkan wajahnya, menyentuh hidungnya tapi Vania menjauh dan menunduk. Sangat menyakitkan ditolak.
“Kumohon... “ bisik Zeyn. “Kumohon... biarkan aku... aku hanya ingin menciummu... Aku janji, tidak meminta yang lain.”
Zeyn perlahan mengangkat dagu Vania dan sekali lagi mengecup kening istrinya, Zeyn memberi kecupan lembut, terbesit di dalam darahnya merasakan setiap kesedihan dan Zeyn menahan untuk tak menangis dan mencoba tersenyum dalam kecupannya yang terbilang cukup lama itu.
‘Mimpi yang sangat menyakitkan.’
Zeyn menarik sehelai rambut ke belakang telinga Vania dan mulai membelai lembut pipi Vania dengan ibu jarinya.
“Kamu kapan kembali? Banyak yang ingin kukatakan padamu.”
Vania hanya menatap Zeyn tanpa mengucapkan sepatah kata pun saat Zeyn menelusuri tiap fitur wajahnya, mengingat dan menelisik tiap detail kecilnya.
“Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan... Jadi... Tolong cepat kembali, Hm?”
Vania menatap Zeyn dalam.
“Kenapa?”
“Apa hanya itu alasan ...”
“Tidak,” Zeyn memotong ucapan Vania. “Itu bukan alasan mengapa aku membutuhkanmu. Kamu istriku dan aku akan tetap membutuhkanmu. Aku akan selalu merindukanmu, maafkan aku karena sangat bodoh tidak bisa memberitahumu ... saat itu. Aku hanya berpikir kamu akan mengerti... berharap kau akan tahu tanpa ku katakan ... tapi kamu tidak... “
“Zeyn... aku ...”
“Aku tahu aku tidak bisa membuatmu melakukan hal-hal yang ingin kau lakukan. Aku sadar itu salah, aku memanfaatkan kehadiranmu untuk kesenanganku semata. Aku...aku akui setiap perbuatanku, aku orang yang paling brengsek dan aku bersumpah aku menyesal pernah melakukannya.”
Zeyn terdiam, dia mengatur napasnya dan menahan air matanya. Mungkin ini penyesalan yang tak bisa Zeyn lupakan hanya dengan kata maaf.
“Awalnya tak seperti itu tapi seiring berjalannya waktu...saat aku stres karena pekerjaan dan kau selalu menjadi orang yang mampu membuatku merasa nyaman... tubuhmu... semua yang kita lakukan ...aku sangat menikmatinya sampai-sampai aku lupa dengan semua yang sering membuatku khawatir ... akhirnya semuanya menjadi kacau seperti ini...”
“Zeyn, aku tidak bisa...”
__ADS_1
“Semua yang kukatakan bukanlah sebuah kebohongan. Aku pikir kau akan tahu... Ketulusanku. Aku sangat merindukanmu, sungguh. Aku menginginkanmu dan hanya kamu. Aku ingin jujur mengatakan jika kau sangat cantik, saat aku bilang...”
“Tapi itu hanya sebatas ucapanmu saat...”
“Aku tidak ahli mengungkapkan hal-hal seperti itu ... dan aku... Aku takut... aku hanya seorang pecundang yang takut ditolak... Kamu juga tidak pernah melakukan sesuatu untuk meyakinkanku tentang perasaanmu. Kamu juga tidak pernah bicara soal itu... jadi aku pikir kamu tidak punya perasaan terhadapku... kamu memberiku keleluasaan untuk melakukan sesuatu sesuai keinginanku, dan aku pikir mungkin karena kita sudah menikah dan melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku berasumsi jika tindakanku bisa mewakili perasaanku dan berharap kau akan peka... caraku menyentuhmu, melihatmu, aku tersenyum padamu, mendeskripsikan jika kamu penting di hidupku...aku peduli tentangmu, aku menyayangimu... itu sebabnya kamu harus kembali secepatnya dengan begitu aku bisa memberitahumu semuanya, meluruskan semua kesalahpahaman ... kamu bisa memaafkanku... dan aku akan membayar semua kesalahanku lalu membuatmu jatuh cinta padaku...”
Matanya hanya terfokus melihat Zeyn, Zeyn menyentuh hidung istrinya lembut dan menutup matanya merasakan kelegaan bisa melepaskan semua yang ada dalam dadanya, bahkan dalam mimpi.
Zeyn menarik kepalanya agar lebih dekat untuk mengecup bibir ranum itu dan terus menciumnya dengan perasaan yang luar biasa membuat jantung Zeyn berdebar tak karuan.
Awalnya Zeyn hanya mengecupnya singkat takut jika orang yang ada di depannya tidak menyukainya. Tetapi dia menanggapinya dan Zeyn memanfaatkan kesempatan yang mulanya sebuah kecupan kini jadi ******* mesra.
Zeyn berharap sosok istrinya bisa kembali, mendambakan yang terjadi saat ini menjadi kenyataan, Zeyn ingin bahagia dan berhenti merasakan sakit.
Zeyn membalik tubuh istrinya dan mulai merangkak di atasnya.
“Aku merindukanmu,” ucap Zeyn seraya menciumnya.
Mereka menghabiskan waktu intim bersama lagi setelah sekian lama tidak melakukannya.
Zeyn meringkuk tepat di sebelah istrinya setelah memberinya kecupan manis di bibirnya. Zeyn meletakkan bahunya di bawah kepalanya, sebagai bantal dan memeluknya erat, bentuk ungkapan perpisahan.
‘Sayang sekali itu hanya mimpi dan saat aku membuka mata. Dia tidak akan berada di sini lagi...bersamaku.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tbc......