Suami Egois

Suami Egois
Honeymoon


__ADS_3

Hamparan laut biru nan luas, nampak hidup saat siang hari dan menenangkan saat malam hari. Di sanalah mereka berdua tengah menikmati deru angin malam dan gemericik ombak yang terdengar bagai musik menemani setiap langkahnya, langit gelap tapi banyak lampu kecil yang menyinari.


Pasir yang dingin dan angin malam yang menyejukkan menerpa kulit Vania yang sibuk mengelus kedua sisi lengannya.


"Ini hari terakhir kita di tempat ini, apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?"


"Hmm, tidak ada! Hanya saja aku tidak bisa melihat matahari terbenam," Vania menghentikan langkahnya dan memainkan air di kakinya.


"itu saja?"


"hmm" balas Vania menganggukkan kepalanya.


'Mintalah sesuatu dariku, karena aku sudah mengambil banyak hal dari hidupmu.' gumam Zeyn sebatas dalam hati


Zeyn ikut berdiri di sampingnya, dalam beberapa detik tangan Zeyn perlahan bergerak meraih tangan Vania dan menautkan di sela-sela jarinya.


Vania terkesiap, dia seakan lupa cara bernapas dengan benar, detak jantungnya ikut berpacu karena sentuhan lembut Zeyn.


"Tanganmu sangat dingin," ujar Zeyn.


'Aku ingin memeluknya, menciumnya atau setidaknya bergelayut manja di lengannya, seperti yang dilakukan pasangan sungguhan' Vania hanya mampu berangan-angan dalam hati.


"Itu sudah biasa."


"Jadi? tidak ada hal spesial yang harus aku lakukan untukmu?"


"Tidak, tidak ... berada di sini sudah sangat luar biasa, aku bahagia karena kita bisa datang ketempat ini."


"Aku juga," Zeyn menatap Vania dan mengembangkan senyum tampan mematikannya.


'Senyumannya, hal paling indah dan sempurna yang pernah kulihat, senyum yang membuat bola matanya berbinar dan duniaku ikut bersinar hanya dengan melihatnya. Hal yang membuat perutku kram dan berputar-putar. Hal yang membuat jantungku berdegup kencang. Aku yakin kesempurnaan memiliki nama dan itu Zeynan Shadiq Daulyn.'


Entah dorongan dari mana, Vania bergerak mencari cara untuk melingkarkan tangannya di pinggang Zeyn, wajahnya berada tepat di dada bidang Zeyn.


Karena rasa malu Vania hanya mampu menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Zeyn tanpa mengucapkan kata-kata.


"Begini ... sebentar saja, aku hanya ingin seperti ini. Ini keinginanku," Vania berucap dan membuat alasan atas tindakannya.


Dengan ragu tangan Zeyn ikut memeluk punggung Vania, merengkuh tubuh istrinya lebih erat dan sesekali menggumamkan nama Vania.

__ADS_1


mengusap lembut surai rambut bagian belakang Vania, yang rasanya tak ingin saling melepaskan satu sama lain.


'Aku tidak tahu, apakah ini saat yang tepat untuk melakukan hal ini, tapi rasanya hatiku ingin mendekapnya selama mungkin.'


Zeyn ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya keluh tak mengatakan apa-apa.


"Maafkan aku," hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulut Zeyn setelah lama diam.


Vania mendongak mencoba melihat wajah suaminya, tapi Zeyn lebih cepat memeluknya lebih erat mengalihkan perhatiannya.


"Aku minta maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu, aku minta maaf karena menjadi suami brengsek yang hanya tahu cara menyakitimu, tidak bisa melindungimu dari hal buruk tapi malah sebaliknya, yang seharusnya menjadi tempat berlindungmu malah jadi tempat terburukmu. Bahkan di saat-saat kamu membutuhkanku, aku justru menghancurkan hatimu.


Zeynan dengan lembut menangkup wajah istrinya, memandang wajah cantik itu lama sebelum mengecup pipi dimana ia untuk pertama kalinya memberi luka terhadap kulit istrinya. Kedua mata yang selalu ia buat menangis, kening yang selalu ia buat mengerut dan bibir yang tidak pernah membantah saat di perlakukan kasar. Tidak ada satu pun tempat yang dilewatkan Zeyn.


Setelah melakukan itu, Zeyn membalik tubuh istrinya, memeluknya dari arah belakang, menikmati tiupan angin pinggir pantai saat malam hari membuat keduanya lupa jika sudah larut malam.


"Mau belanja sesuatu?" tanya Zeyn tepat di telinga Vania yang masih asik memandang hemparan laut yang luas.


"Belanja apa?" vania sedikit memiringkan wajahnya.


"Barang couple, bagaimana?"


***


Memang benar. mereka sudah pindah ke rumah baru. Semuanya ide Zeyn yang sangat ngotot ingin memiliki rumah baru dengan alasan,lebih dekat dengan tempat kursus Vania. Tetapi itu bohong, karena alasan yang sebenarnya adalah dia yang ingin membuang dan tak ingin mengingat masa-masa kelam saat ia dan Vania tinggal di rumah yang sebelumnya.


"Lebih memilih mengubur masa lalu dan memulai sesuatu yang baru di rumah yang baru pula."


***


22.12 pm


Keduanya akhirnya pulang, menempuh perjalanan yang sangat jauh hingga 4 jam lamanya dan Zeyn di buat tidak fokus dalam menyetir dengan benar. Memikirkan apa yang akan ia lakukan saat sampai di rumah nanti karena faktanya Vania duduk tepat di sebelahnya dengan baju yang agak pendek. rrrrr


"Kamu tidak kedinginan?" tanya Zeyn


"Tidak."


"Tapi kamu harus memakai sesuatu, aku tidak ingin kamu sakit karena masuk angin dan," Zayn menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Lain kali jika ingin keluar pakailah pakaian yang tertutup, aku tidak ingin melihat istriku jadi tontonan para pria hidung belang terutama saat bersama teman-temanku, apa lagi jika orang itu Dery," oceh Zeyn dengan dahi berkerut.


Vania hanya tertawa menanggapi dumelan suaminya. "Tapi aku sudah menyimpan semua pakaiaku di bagasi."


Zeyn menepikan mobilnya, hanya untuk membuka hoodie putih yang ia kenakan dan memberikannya pada Vania.


"Terima kasih," ucap Vania tersenyum dan menutupi bagian pahanya.


"Bolehkah aku memegang tanganmu?" tanya Zeyn ragu.


"Apa suamiku harus meminta izin dulu untuk memegang istrinya?" jawab Vania dan menarik tangan Zeyn.


"Apa kamu lapar? atau ingin makan sesuatu?" tanya Zeyn lagi yang tak ingin menyia-nyiakan waktu berduanya bersama Vania.


"Hmmm, aku ingin minum coklat panas. Sudah jam 12 malam pasti tidak ada tempat makan yang buka."


"baiklah, di depan ada mini market 24 jam. Kita mampir di sana." Zeyn tersenyum, sedari tadi tidak ada permintaan yang membuat isi dompetnya terkuras.


Terhitung saat membeli barang couple, Vania lebih memilih membeli dua gelas dan kaos berwarna kuning dan mint dan sekarang hanya meminta coklat panas.


Luar biasa! dimana lagi Zeyn dapat menemukan wanita seperti Vania, tak hanya berhati lembut tapi dia juga tahu cara menyenangkan hati seorang Zeynan.


***


"Kamu mau kemana?" tanya Zeyn pelan melihat langkah kaki Vania menuju kearah mana.


"Ke kamarku!" ucap Vania dan terus berjalan.


Zeyn meraih pergelangan tangannya, tepat sebelum Vania melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu benar-benar ingin tidur di sana?"


"Hmmm ... Aku akan tidur di kamarku."


Zeyn menutup pintu dan manangkup pipi Vania dengan sebelah tangannya sembari memojokkan Vania ke dinding dan menempelkan hidungnya ke kening Vania.


"Jangan masuk, tidurlah denganku malam ini," mohon Zeyn dengan bisikan lembut. Vania hanya menatapnya tanpa memberi jawaban, membuat Zeyn berinisiatif untuk terus mengecup pipi istrinya lagi dan lagi hingga Vania tak sempat memberi jawaban.


Vania tersenyum tak bisa menjawab karena aksi suaminya yang kekanak-kanakan. Zayn yang mengerti dengan sigap menggendong istrinya ala bridal style, membawanya masuk ke kamarnya dan membaringkan istrinya dengan gerakan pelan di atas kasur miliknya.

__ADS_1


__ADS_2