Suami Egois

Suami Egois
SEQUEL PART 5


__ADS_3

Zeyn bangun dan merasa lengannya sakit, sedetik kemudian matanya membelalak. “Tidak mungkin! Aku pasti masih bermimpi.”


Zeyn menoleh ke kanan dan di sana ia tepat melihat wajah cantik itu tidur dengan nyenyak di sampingnya, hampir tak mengeluarkan suara.


Bulu kuduknya meremang dan Zeyn membeku karena masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Zeyn mungkin sudah memimpikan istrinya berulang kali sehingga sulit baginya untuk membedakan sesuatu yang nyata dan tidak lagi.


Zeyn tidak bermimpi dalam mimpi,bukan?


Semua mimpinya selalu berakhir dengan kesendirian. Akan tetapi, mimpi kali ini berbeda karena bayangan istrinya masih tinggal bersamanya.


Dia bisa merasakan semua bagian tubuhnya kaku, ia perlahan berbalik ke samping, menghadap orang yang sedang tidur, dan meletakkan tangannya di sisi pipinya. Zeyn terperangah dan sesak merasakan kehangatan kulit halus di ujung jarinya.


“Dia nyata!”


Zeyn ingin menciumnya, ingin memeluknya erat. Di saat yang sama Zeyn juga ingin menangis karena bahagia dan berjanji tidak akan melepaskan tubuh Vania dari cengkramannya.


Namun, ingatan kejadian semalam di saat Zeyn berpikir semuanya hanya sebuah mimpi, memutuskan melepasnya karena dia yakin jika itu hanyalah ilusi dan Zeyn melakukannya.


Zeyn bersusah payah untuk menelan ludahnya yang terasa kering di tenggorokannya. Dia ingin menampar dirinya sendiri agar tersadar dari lamunannya.


Alasan Vania meninggalkan Zeyn sejak awal dan dia lagi-lagi melakukannya saat istrinya kembali.


“Astaga! Kenapa aku sangat bodoh??”


Setelah berjanji pada dirinya sendiri untuk meyakinkan Vania, menceritakan semuanya dan perlahan membuat istrinya percaya. Tetapi malah sebaliknya, sepertinya Zeyn memanfaatkan fakta jika kesedihan bisa melemahkannya.


“Ohh... Kesempatan ketigaku!!”


Ucapan terakhir sang istri saat meninggalkannya masih berdenging di telinga Zeyn. Sampai sekarang ini kata-kata itu masih berputar di kepalanya.


‘Habislah kau Zeyn.’


...***...


Suara terisak mengganggu indra pendengaran Vania yang perlahan membuka matanya. ‘Zeyn menangis?’ gumamnya dalam hati.


Vania memandangnya tapi wajahnya terhalang sebuah tangan.


Bahkan setelah meninggalkannya selama sebulan, setelah hatinya di remukkan, Vania tak bisa untuk sekedar menahannya selain merasa terpukul melihat suaminya sedih. Satu reaksi yang tak bisa Vania sembunyikan.


Vania berpikir bisa melarikan diri dari tekanan penderitaan untuk menjadi boneka semua orang, membebaskan diri dari mantra seorang Zeyn, tapi sekali lagi Ayahnya membuktikan jika yang Vania lakukan salah.


...Flashback*...


Berpikir Ayahnya tidak peduli dengan apa yang Vania lakukan adalah kesalahan, setelah menemukan pasien kaya raya untuk rumah sakitnya dan segala yang mereka miliki terutama uang dan koneksi dari perusahaan keluarga Daulyn sudah cukup dan Vania bisa hidup mandiri.


Bercerai dan melakukan apa yang ingin dilakukan namun anggapan Vania melenceng karena kebebasan tidak termasuk dalam kamus Ayahnya. Tidak ada hal seperti itu dan itu berlaku untuk Vania.


Vania berani bertaruh, jika salah satu staf panti asuhan-lah yang memanggil Ayahnya, karena keberadaan Vania yang mengganggu mereka setiap harinya untuk menemukan secuil informasi. Pikiran tentang hubungan antara ayahnya dan pihak panti tidak putus. Buktinya dia datang dan menjemput paksa Vania.


Sang ayah tampak tersenyum puas saat menemukan Vania, malah sebaliknya Vania ketakutan setengah mati karena pasti ada sesuatu yang sudah menunggunya. Jika Ayahnya marah, Vania dapat dengan mudah menebak penyiksaan yang tak bisa dihindari. Tapi melihat Ayahnya mencibir, Vania tak tahu harus mempersiapkan diri bagaimana lagi dan itu menakutkan, membayangkannya saja sudah membuat kaku seluruh sel di tubuhnya.


Tak lama kemudian, Ayahnya memberi informasi penting yang mungkin bisa membuatnya sedikit merasa lega.


‘Orang tuamu sudah mati,’ ujarnya dengan nada datar, kemenangan telak yang di capai atas Vania lagi.


Dia sangat bahagia bisa merampas harapan terakhir Vania untuk hidup normal.


Vania tidak merasa sedih atau sakit. Tidak secara fisik. Tapi air mata mulai meluncur bebas saat dirinya dikubur hidup-hidup di peti mati yang gelap nan mencekik.

__ADS_1


Vania juga bisa memastikan jika ayahnya tidak tahu menahu tentang pengajuan surat cerai yang sudah ia tanda tangani dan menyerahkannya kepada Zeyn.


“Sekarang, apa lagi yang ayah harapkan untuk kulalukan?” tanya Vania pada ayahnya saat mereka berada dalam pesawat untuk kembali.


“Pulang ke rumahmu.”


“Aku tidak bisa kembali padanya.”


“Bisa! dan itu sebuah keharusan. Terserah kau suka atau tidak. Aku tidak peduli.”


“Aku sudah mengajukan surat cerai padanya, jadi tak ada alasan lagi untuk kembali.”


Detik itu juga Vania sudah tahu jawabannya. Hanya dengan melihat wajah ayahnya yang membuatnya semakin menciut dan menyadari jika dirinya baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Amarah. Setelah itu keadaan semakin memburuk, karena mulai mencari titik lemah Vania. Ayahnya merebut ponsel miliknya dan mencari jejak terakhir Zeyn menghubungi Vania.


Namun nihil, tidak ada panggilan telepon, tidak ada pesan atas nama Zeyn. Malah yang ia temukan isi pesan percakapan antara Vania dan Yudha. Ayahnya juga punya keahlian dalam menguasai beberapa bahasa asing jadi Vania tak bisa mengelak atau sekedar berbohong.


Perceraian, dan sekarang bukti chat. Tidak peduli bagaiman Vania melihat Yudha sebagai teman, tapi sepertinya Vania sudah selingkuh dari suaminya. Faktanya Vania tidak menyadari jika orang lain akan punya persepsi seperti itu.


TEROR


Kemungkinan Vania akan terluka secara fisik. Tapi sekarang, Vania bukanlah satu-satunya target ayahnya. Dia juga mungkin akan mengancam Yudha dan itu sesuatu yang tak bisa Vania cegah. Karena yang Vania tahu, Yudha tidak punya siapa-siapa untuk melindunginya dari ancaman.


Memikirkan bagaimana Yudha akan menghadapi kekejaman ayahnya, itu tidak boleh terjadi. Bahkan jika Vania berusaha meyakinkan ayahnya bahwasanya Yudha adalah kakak Zeyn, itu tidak akan ada gunanya. Tidak ada yang tahu jika sewaktu-waktu Ayahnya akan mengirim preman untuk menyerang Yudha nantinya.


Vania membatu hingga ke tulang-tulang, setiap hari mengkhawatirkan Yudha dan sebisa mungkin memohon pada ayahnya, jika dirinya akan menjadi anak penurut seumur hidupnya, tidak akan menentangnya agar membebaskan Yudha sebagai gantinya.


Vania bisa menerima rasa sakit karena dipukuli, tapi dia tak akan bisa bertahan dari rasa sakit mental jika nantinya Yudha menderita karena kebodohannya,  karena melakukan apa yang dia inginkan.


Yudha sudah menjadi sosok pahlawan dalam kehidupan Vania. Walaupun perasaannya menyiratkan jika ayahnya tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya tapi jauh di lubuk hati Vania merasa tidak akan mengganggu hidup Yudha dan Vania tak bisa mengambil risiko.


Vania bahagia bisa melihatnya, berada dalam dekapannya yang hangat nan nyaman. Jujur saja Vania juga sangat rindu dan membutuhkan seseorang untuk mencegahnya untuk pergi. Setelah setahun bersama, Vania semakin lemah.


Setiap pemukulan yang Vania alami saat bersama ayahnya sudah menjadi hal lumrah, tetapi tekanan demi tekanan membuat ayahnya berpuas diri karena mampu menyakiti Vania.


Vania merindukan sosok Zeyn di sampingnya, sentuhannya, dekapannya. Bahkan jika Zeyn adalah orang yang mempermainkannya, yang melukai perasaannya, Vania tetap membutuhkannya. Karena Zeyn, satu-satunya orang yang pernah melindungi Vania, yang dengan berani menentang ayahnya.


Vania ingin hiburan setelah terlepas dari jeratan sang penyiksa.


Vania kehilangan jati dirinya lagi.


Vania menganggap dirinya sebagai seorang masokis.


Namun, Zeyn bisa membuat Vania merasa nyaman, yang membuatnya merasa aman karena bagi ayahnya Zeyn adalah sebuah kartu yang tak bisa ia sentuh. Dengan begitu Vania juga tak tersentuh jika berlindung di bawah sayap seorang Zeynan.


Selama seminggu penuh melalui neraka yang tampak seperti setahun, wajah tersenyum menghangatkan hati muncul di hadapan Vania setelah memejamkan mata.


“Aku merindukannya, aku ingin berada di sampingnya lagi.”


Dan di sanalah dia, berdiri di hadapan Vania dengan mata agak memerah dan sembab. Vania meyakini jika pekerjaan yang membuatnya lelah, dan tidak adanya Vania di rumah, dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk menjaganya, mengurus dan membuatkan makanan yang layak untuk Zeyn konsumsi.


Rasa bersalah sedikit menggerayangi pikiran Vania.


Namun, saat Zeyn mendekapnya dan mengucapkan hal-hal yang membuat hati Vania melambung tinggi saking bahagianya.


AKU MERINDUKANMU


APA DIA MENYAKITIMU?

__ADS_1


MAAFKAN AKU, MAAF KARENA TAK BISA MELINDUNGIMU.


Saat itulah tubuh Vania menyerah dan tak bisa menahan untuk tak menangis, mengingat setiap kejadian di rumah ayahnya selama seminggu terakhir, kakinya juga semakin lama semakin lemah.


TOLONG KEMBALIAH PADAKU.


Awalnya Vania tidak ingin percaya, tidak ingin tertipu lagi. Tetapi pelukan Zeyn begitu hangat dan nyaman, kata-katanya yang manis, suaranya yang lembut, kecupan lembut penuh kasih. Vania tak mampu menolak dan benar-benar membutuhkannya, menunggu Zeyn yang seperti itu, jadi bagaimana mungkin Vania tolak.


Bagaimana bisa Vania menolaknya, saat Zeyn memohon dengan suara yang lembut dan penuh keputusasaan. Vania bisa merasakan ketulusan dalam setiap kalimat yang Zeyn ucapkan, melunakkan hati Vania yang sudah lemah.


Vania bahkan tak bisa mengatakan kepada Zeyn betapa menyesalnnya dirinya karena sebodoh itu tak mempercayainya, tidak yakin dengan kejujurannya, tidak berani meluruskan semua kesalahpahaman, karena Zeyn yang terus saja menyela kata-katanya.


Akhirnya Zeyn membuat pengakuan cinta termanis yang pernah Vania alami.


"I LOVE YOU."


Detak jantung Vania berhenti sejenak, hanya untuk berpacu setelahnya.


...Flashback and*...


“Ada apa?” tanya Vania pelan.


Zeyn menyeka air matanya dan menatap Vania dengan mata yang penuh kesedihan tanpa mengatakan apa-apa.


“Zeyn... apa terjadi sesuatu?” tanya Vania lagi.


Zeyn menarik Vania agar lebih dekat, menyembunyikan wajahnya dari Vania, saat Vania dipaksa meringkuk di lekuk leher milik Zeyn dan setelah beberapa detik Vania merasa sesuatu yang basah di pelipisnya.


“Kamu mimpi buruk?”


Pertanyaan Vania masih tak di jawab Zeyn yang badannya mulai bergetar.


“Tidak apa-apa...,” Vania merangkul dan mulai membelai punggung Zeyn. “Sekarang aku ada di sini... jadi... tolong ...jangan sedih lagi, hmmm?” jujur Vania masih dalam posisi berpelukan, tidak menyisakan jarak sedikit-pun.


Setelah ucapan Vania, Zeyn mulai menangis sesegukan yang membuat napasnya tidak stabil.


“Apa kamu butuh tisu?”


“Tidak,” balasnya dan mempererat pelukannya. “Jangan pergi,” Zeyn menyeka air matanya, memcoba menenangkan diri. “Jangan pernah pergi. Aku merasa jika tak ada sosok dirimu dari pandanganku, aku akan bangun dan semuanya akan berubah jadi mimpi lagi.... dan aku tidak ingin sendirian. Aku tidak bisa jika hidup tanpamu.”


Ribuan kupu-kupu mulai berpesta ria di perut Vania karena senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Vania menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tak ketahuan. Meski Zeyn tak menyadarinya karena dagunya yang bertumpu di atas kepala Vania.


“Tolong, jangan tinggalkan aku... Aku janji akan menjadi lebih baik ke depannya. Aku akan melakukan tugasku sebagai seorang suami. Aku akan melakukan apapun.... Jadi tetaplah di sisiku... jangan pergi lagi.”


“Hmmm. Aku janji.”


.


.


.


.


.


.


Tbc.....

__ADS_1


__ADS_2