Suami Egois

Suami Egois
Ganti Peran


__ADS_3

Vania sangat sadar dengan setiap kata yang terucap dari mulut Zeyn yang membuatnya lebih sakit. Rasa sakit yang hampir tak tertahankan, seperti ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya. Tubuhnya merasa lemah dan air mata yang mulai bercucuran dari pelupuknya.


"Lagipula, kita sudah menandatangani surat cerai itu," ucap Zeyn dengan seringai. Vania tercengang.


"Apa?"


"Jangan pura-pura bodoh. Surat yang sudah kau tandatangani, kontrak pernikahan kita. Di sana sudah jelas di katakan jika kita akan bercerai."


"A-aku ... aku tidak ... tidak pernah melakukannya."


"Apa? Jangan bertingkah bodoh," ujar Zeyn membuka laci dan mengeluarkan selembar kertas. "Aku punya buktinya dan di sini ada tanda tanganmu." Zeyn menunjuk kertas itu dan Vania dengan jelas melihat nama dan tanda tangannya. "Jangan membodohi dirimu, semuanya akan segera berakhir."


Vania tak berpikir panjang, tubuhnya bergerak tanpa dikomando oleh otaknya. Mengambil alih kertas yang di pegang Zeyn dan mulai merobeknya menjadi beberapa bagian.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Zeyn. Secara tak sadar tangannya menampar pipi kiri Vania. Perlakuan yang tiba-tiba membuat Vania sempoyongan tak bisa mengimbangi sebelum akhirnya terjatuh kelantai. Tangannya tak punya tenaga untuk sekedar menyibak rambutnya, deraian air mata mulai membanjiri pipinya. Zeyn mencoba mengulurkan tangannya dan tak di tanggapi oleh Vania karena lebih nemilih pergi.


***


Vania mendapati dirinya tengah membunyikan bel pintu rumah orang tuanya. "Kenapa aku datang ke sini?" jika di tanya alasannya, Vania pasti tidak akan tahu karena langkah kakinya yang bekerja dengan sendirinya.


Akhirnya pintu terbuka dan Vania melihat ayahnya. Beliau tidak terlihat senang tapi Vania tetap menerobos untuk masuk. Bisa di pastikan jika wajahnya sedikit marah melihat kedatangan putrinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada yang tidak menyiratkan kebahagiaan. "Apa kau punya masalah dan melarikan diri dari suamimu?" cibirnya.


"Aku tidak ingin tinggal bersamanya lagi" ucap Vania terdengar sangat menyedihkan.


"Apa? kau sudah gila?"


"Aku hanya ingin pulang ke rumah! apakah itu tidak bisa?" mohon Vania.


"Kau bercanda! cepat pergi ... rumahmu bukan di sini. Keluar." dia menarik paksa tangan Vania untuk berbalik lalu mendorong Vania keluar. "Pergi, dasar tidak berguna! semua sifat wanita sama saja, pergi seenaknya."


Vania mencoba menarik kaki sang ayah tetapi tenaganya tidak cukup kuat, malah di tendang kasar agar segera keluar. "Kamu tidak ada bedanya dengan ibumu! Pergi dari rumahku!" dia mendorong Vania sekali lagi dan Vania terdiam tak melakukan perlawanan karena sudah jatuh tersungkur, wajahnya terbentur cukup keras di sisi pintu dan tangannya yang memerah karena berulang kali terjatuh ke tanah.


Vania merosot, lututnya gemetar dan air matanya bercucuran deras dari matanya sesaat setelah pintu tertutup.


"Zeynan kau sudah menghancurkan hatiku."


***


Zeyn bahkan tidak mengira semua itu akan terjadi, tangannya spontan bereaksi dan menampar istrinya. Setidaknya itulah hal pertama yang di ingat Zeyn karena tingkah Vania yang begitu menuntut. Pukulan yang sangat kuat membuat Zeyn akhirnya tersadar dalam beberapa detik. Segala sesuatu yang terjadi setelahnya menjadi kelam.


"Argh," geram Zeyn mengusap kasar rambutnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tak melakukannya," Zeyn masih kecewa dengan masalah Yudha, itu benar. Rasa cemburu lebih menguasai dirinya dan juga bertemu dengan Divya menambah luka di hatinya.


Tidak ada niatan Zeyn sehingga mengucapkan kata-kata itu. Meski tuduhan Vania tidak benar, tetapi Zeyn juga ingin membuat Vania cemburu tapi tidak sampai sejauh itu. Zeyn tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Vania secara fisik.


Perasaan sangat menyesali perbuatannya itu hingga membuat Zeyn tak bisa bernapas dengan tenang dan membuat jantungnya sedikit kram setiap kali mengingatnya, pancaran ketakutan di mata Vania terlihat jelas saat Zeyn memcoba mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya bangun. Di mata itu, Zeyn melihat dirinya bagaikan monster.


Zeyn melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Setelah sadar akan segalanya, Zeyn ikut berlari mengejar Vania tapi tak bisa ia temukan. Zeyn sangat frustasi tidak tahu harus mencarinya ke mana.


Zeyn mengerang dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya menyalurkan semua emosinya.


Langit-pun ikut menangis. Hujan menjadi saksi kekejaman seorang Zeynan terhadap istrinya.


***


Tak ada tempat yang bisa di kunjungi Vania, semua harapannya telah sirna, tidak ada yang peduli dengannya. Semuanya hilang, kakinya hanya berjalan tanpa tujuan, tidak ada semangat dan harapan lagi dalam hidupnya.


Vania berhenti di taman, matanya mengamati sekitar taman bermain lalu perlahan menatap langit malam. Sesuatu yang masih setia menemani kesendiriannya di saat seperti itu hanyalah bulan yang memantulkan sinar redupnya ke jiwanya yang tak bernyawa.


Sejenak memejamkan matanya menikmati deru angin yang menerpa peemukaan kulitnya, air matanya tak sengaja menetes sangat lambat seolah-olah air matanya sebuah berlian.


Malam itu jadi malam terakhir, saat terakhir yang pernah Vania rasakan dan terakhir kalinya menunjukkan emosinya. Tanpa air mata, tanpa emosi, tanpa perasaan, tanpa simpati layaknya boneka tak bernyawa. Janji Vania pada dirinya sendiri.


***


Sepulang dari kantor, Zeyn mendapati istrinya sudah ada di dalam kamar. Zeyn sangat ingin bicara dengan Vania, menjelaskan semuanya, meminta maaf tapi untuk saat ini Zeyn tak ingin membangunkannya.


"Dia menangis hingga tertidur."


Entah dorongan dari mana, tangan Zeyn terulur untuk menyentuh Vania. Sedikit menghiburnya meskipun istrinya tertidur bahkan jika Vania tahu, Zeyn akan tetap melakukannya agar hatinya merasa sedikit lebih lega. Tangan Zeyn beralih menyentuh lembut kulit pipi Vania dan membelainya sayang.


***


"Aku hanya ******** brengsek yang tidak bisa mengungkapkan perlakuan baik. Aku tahu, bahkan jika aku ingin mengatakan atau melakukan sesuatu, aku tak bisa. Aku tidak tahu bagaimana memulainya. Itu sebabnya semua ini bisa terjadi. Semua kesalahpahaman mulai menumpuk. Sejak bekerja di perusahaan Dery, kau jarang berada di rumah seperti dulu lagi. Jadi aku berinisiatif membawa pekerjaan ke rumah. Ada banyak kesempatan untuk bicara tetapi setiap kali aku mencoba untuk bicara tapi Vania menghindar."


Zeyn kehilangan kata-kata, melihat wajahnya yang datar tanpa emosi mengurungkan niatnya untuk melakukannya. Setiap hari Zeyn mencoba bersikap tenang seperti tak terjadi apa-apa. Sama seperti yang dia lakukan sebelumnya. Apapun yang Zeyn minta, Vania akan lakukan. Membuat sarapan, memasak makan malam, ke apotek saat Zeyn tidak enak badan dan dia membeli obat. Vania sudah bertingkah layaknya robot yang hanya memperburuk keadaan bagi Zeyn. Karena ia tahu penyebab istrinya seperti itu adalah dirinya.


Zeyn meraih tangannya, saat Vania mencoba berbalik setelah memberi Zeyn obat.


"Terima kasih," ucap Zeyn dengan suara serak, tangannya masih tak bisa lepas dari tangan Vania.


Dengan sekali hentakan, Vania berhasil melepas tangannya dari cengkraman Zeyn dan mulai pergi. Tidak tahu mengapa dan apa yang ingin Zeyn lakukan karena instingnya mendorong tubuhnya untuk berdiri dan kembali memegang tangan Vania berusaha mencegahnya untuk pergi.


"Tolong, jangan sentuh aku," katanya dingin, tanpa melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


Zeyn sangat terkejut dengan ucapan Vania, sehingga tangannya secara naluri melepaskan dan Vania meninggalkan ruang kerja Zeyn. Zeyn duduk di kursi kerjanya masih tercengang dengan ribuan pikiran-pikiran buruk melintas di kepalanya.


Pikiran Zeyn membuatnya merasa tidak nyaman saat memikirkan Vania bekerja di tempat Dery.


***


Vania tidak bisa bertindak seolah-olah Zeyn tidak ada di sana, dia juga tidak bisa meninggalkan rumah terlalu lama, karena mereka sudah menikah dan ada banyak orang yang menyadarinya. Vania berharap tidak ada yang boleh mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangganya karena tidak ada untungnya bagi mereka.


Entah mengapa, Vania sangat menyayangi mertuanya yang sangat baik terhadapnya, Vania tidak ingin membuat mereka sedih. Vania kembali ke dirinya yang dulu, setidaknya bertahan dalam diam untuk beberapa bulan ke depan sebelum akhirnya bercerai, pindah dan tidak pernah melihat sosok Zeyn lagi.


"Aku memainkan peranku sebagai istri yang sempurna, walau sulit saat Zeyn menyentuhku. Aku harus membayar mahal untuk membalasnya dengan nada dingin, padahal tangannya yang hangat membuatku lemah."


Awalnya Vania masih bisa lolos, melakukan pekerjaan tepat waktu, setidaknya seperti itu bisa mengalihkan pikirannya dari Zeyn walau menguras waktu dan tenaganya. Tapi sungguh malang nasib Vania saat melupakan dokumen yang sempat ia baca sebelumnya.


Selesai dengan mencuci piring, Vania mecoba untuk mencarinya, Vania menepuk pelan jidatnya karena tidak tahu menyimpannya di mana. Seingat Vania setelah memberikan obat untuk Zeyn dia hanya melongos pergi begitu saja tanpa peduli keberadaan dokumen tersebut.


Vania tidak bisa melanjutkan pekerjaannya tanpa dokumen itu. Selain itu, hanya ada satu komputer yang bisa dia gunakan untuk mencari file yang Vania perlukan. Menunggu 5 menit, 20 menit dan 1 jam sudah berlalu menunggu Zeyn keluar untuk sekedar ke kamar mandi tapi itu tidak dilakukan Zeyn.


Menghela napas berat untuk membangun keberanian, menyusun taktik bagaimana cara memegang dan memutar gagang pintu tanpa bersuara. Setelah masuk, Vania mengedarkan pandangannya ke printer dan tidak ingin memperhatikan Zeyn, tapi sekuat apapun Vania mencoba. Tetap saja, karena Zeyn yang duduk di kursi kerjanya dan berdampingan dengan printer itu berada.


Vania mencoba tidak peduli, bahkan jika otaknya tidak menginginkan hal itu tetap saja hatinya tak bisa berbohong. Mengamati wajah yang tertidur di atas meja. Vania merasa lega dan berjalan mendekat. Dengan semua pertunjukan sempurna yang ia lakukan beberapa hari terakhir, Vania tetap tidak bisa menahan diri untuk tak mengagumi wajah tampan itu.


Vania sudah menaruh perasaan padanya dan Vania tidak akan menyangkal hal itu. Matanya menelisik pipi Zeyn yang memerah dengan napas yang berembus tak normal. Bisikan kecil dari kepalanya yang memintanya pergi dan tak peduli, tidak melakukan apapun dan akan membuat segalanya lebih mudah. Tapi tangan Vania tetap terulur menyentuh dahi Zeyn yang panas.


"Dia tak berbohong. Dia memang sakit."


"Zeyn! Zeynan!"


Mata Zeyn masih terpejam saat seseorang memanggil dan mengguncang pelan lengannya. "Bangun dan pergi tidur." Zeyn membuka matanya. "Kamu demam dan aku harus memindahkanmu ke tempat tidur." Zeyn sedikit pusing, jadi Zeyn hanya melakukan apa yang Vania katakan. Tangan Zeyn memegang sisi dinding untuk membantunya berjalan dan Zeyn tidak punya banyak tenaga jadi hanya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


***


Keesokan harinya, Zeyn merasakan sesuatu yang dingin dan basah di dahinya, perlahan membuka matanya walau masih sedikit buram tapi Zeyn mencoba mengangkat tangannya untuk mengucek matanya tetapi sebuah tangan menggagalkan niatnya.


"Tidur," sebuah suara lembut yang memberi Zeyn perintah untuk tetap tidur.


Mata Zeyn mengerjap beberapa kali dan melihat ke arah sumber suara dan merasakan hatinya keram.


'Aku selalu menyakitinya tapi dia tetap berada di sisiku, merawatku, menghiburku saat ayah sakit, melakukan segala yang ku inginkan, dia menunjukkan perhatiannya padaku, tak pernah menyimpan dendam,' gumam Zeyn dalam hati memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


'Senyuman yang membuat wajahnya terlihat cantik, cerah dan mampu meluluhkan sikap dinginku. Tapi sekarang, aku kehilangan itu semua, hanya mata redup penuh kesedihan yang terpancar.''


'Aku kehilangan sosok istriku setiap harinya, aku baru menyadari betapa bodohnya tingkahku karena tidak cepat menyadari perasaanku terhadapnya. Sekarang aku sadar bahwa cepat atau lambat dia akan meninggalkanku, cara berpisah dengan perceraian sungguh aku tak ingin hal itu terjadi. Menghabiskan waktu bersama dan sekarang aku tidak bisa membayangkan hidupku jika tanpa Vania.'

__ADS_1


Zeyn sangat ingin mengungkapkan hal-hal yang ada di kepalanya tapi suaranya tercekat. Sebaliknya, ketika tangan Vania terulur untuk mengganti kompres, Zeyn dengan cepat memegang dan menangkupkan ke pipinya.


"Tolong, maafkan aku," gumam Zeyn dengan isakan tertahan seraya menutup matanya.


__ADS_2