
“Aku ingin mengakhiri semuanya, aku lelah dan aku ingin bercerai,” Vania akhirnya berujar.
Posisi mereka sedang duduk di ruang tamu, hanya ada suara dari TV yang bergema di seluruh ruangan.
Vania menarik napas dalam-dalam hanya untuk menenangkan diri, jantungnya berdegup tak karuan karena gugup serta perut yang mulai terasa sesak.
Zeyn sudah memprediksi momen seperti ini pasti akan datang. Setiap hari, hubungan keduanya kian memburuk dan yang Zeyn tahu dia-lah penyebabnya. Merasa sudah menghancurkannya, mengembalikan kepribadian istrinya menjadi seperti semula. Tapi pertanyaan mengapa tetap keluar dari mulutnya.
“Aku ... aku sudah tidak sanggup hidup denganmu. Itu terlalu sulit bagiku.”
Zeyn menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Zeyn bukannya tidak peka. Hanya dengan melihat wajahnya yang tak berekspresi, tidak bahagia saat Zeyn menyentuhnya. Zeyn sudah menganggap dirinya sebagai pria brengsek yang masih di izinkan hidup setelah semua perlakuannya terhadap Vania.
Zeyn mencoba menghilangkan perasaan bersalahnya, berjanji tidak akan mengulanginya lagi tapi masih saja ia lakukan. Karena Zeyn tidak bisa menahannya, menahan hasratnya karena ia sudah menganggap Vania sebagai obatnya.
Setelah menyingkirkan alkohol sebagai cara bersantai untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja dan Zeyn butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang dapat menenangkan emosinya yang sedang hancur.
Bekerja di bidang bisnis sudah cukup membuatnya frustrasi, karena masih belum terlalu berpengalaman tetapi ia perlu mempertahankan perusahaan dan memikul seluruh nyawa karyawan di pundaknya. Terasa sangat berat jika ia melakukan kesalahan sekecil apapun karena akan berdampak besar bagi perusahaan.
Sekarang ini semua perhatian hanya tertuju pada Zeyn, ada banyak rival bisnis yang menunggu kegagalan Zeyn. Hanya butuh secuil kesalahan sudah mampu membuat seorang Zeyn terjatuh.
Entah mengapa menyentuhnya, melihatnya bahagia saat berada di bawah sudah menjadi kebutuhan Zeyn. Tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu.
“Aku mengerti,” Zeyn merasakan tangannya gemetar, hatinya seakan dicabik-cabik. “aku juga berpikir seperti itu, kita harusnya bercerai,” gumpalan besar tersangkut di tenggorokan Zeyn, setiap detik semakin membesar membuatnya susah untuk sekedar bernapas normal.
“Tapi ... mungkin ... kita ... maksudku... Jangan sekarang ... aku tidak bisa sekarang... “ lanjut Zeyn terbata-bata.
Zeyn mencoba kartu bantuan terakhirnya, mengatakan sesuatu yang akan menunda hal-hal seperti itu terjadi. Dia bahkan tidak tahu mengapa, sedalam apa ia menyakiti dan melukai hati Vania. Keinginan terakhir Zeyn agar semuanya tidak berakhir dengan kekecewaan dan dia hanya perlu menebus kesalahan.
Kemudian, jika itu kemauan istrinya agar segera melepasnya Zeyn akan melepasnya dengan harapan suatu keajaiban berada di pihaknya dan Vania dengan senang hati memilihnya kembali.
Namun itu hanya sebuah angan-angan yang sebatas terwujud di pikiran Zeyn. Tapi jika itu tak terjadi Zeyn hanya berharap Vania bisa menemukan kebahagiaannya bersama sosok pria yang lebih pantas dan bisa membuat Vania bahagia lahir dan batin.
“Apa kamu sudah lupa?”
“tentang apa?”
“Kontrak, kontrak yang sudah kita sepakati. Kamu sendiri yang bilang jika aku-lah yang harus melakukannya, menggugatmu ke pengadilan. Seperti yang kamu inginkan dan rencanakan. Aku akan mewujudkannya untukmu.”
Zeyn tak bergerak dari kursinya, hanya mampu memijat pelipisnya yang berdenyut.
__ADS_1
“Tapi kamu sudah merobeknya,” elak Zeyn.
“Aku hanya merobek satu, kamu pasti punya salinannya.”
“Tapi??? Bukannya kamu ingin selalu bersamaku? Aku pikir...” nada suara Zeyn bergetar. Tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan, apa yang Zeyn ucapkan dan alasan mengapa ia mengatakannya.
Bukankah Zeyn hanya perlu mengizinkannya pergi, bukan malah menahan Vania agar tak pergi, lebih tepatnya meninggalkan Zeyn. Vania sudah sangat menderita dan dia pantas untuk melakukan apa yang dia sukai dan Zeyn seharusnya tidak mempersulit jalannya.
“Tidak Zeyn ... kamu salah,” ucap Vania dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca yang sudah menjadi langit dan samudera bagi Zeyn tapi sekarang malah berubah menjadi sedingin es.
Zeynan menghancurkannya. Vania sudah terlanjur membenci Zeyn dan Zeyn dapat dengan mudah merasakannya. Itu jelas terpancar dari mata indah milik Vania.
Tidak ada kemungkinan Vania akan tetap memperlakukan Zeyn dengan baik setelah semua omong kosong yang terjadi.
Zeyn pasrah dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
Vania meletakkan beberapa lembar kertas dan sebuah pulpen di atas meja sebelum berdiri.
“Semuanya sudah beres, kamu hanya perlu menandatanganinya,” dia berjalan menuju pintu keluar tapi berhenti tepat sebelum membuka pintu. “Selamat tinggal, Zeynan Shadiq Daulyn,” ucapnya begitu pelan hingga Zeyn hampir tak bisa mendengarnya. Kemudian menutup pintu, sementara Zeyn hanya duduk terpaku di kursi seperti orang idiot yang tengah di sandera dengan tangan dan kaki terikat.
Setelah lama mematung, Zeyn baru menyadari bahwa yang terjadi beberapa menit yang lalu akan menjadi keputusan terbaik bagi mereka berdua. Bahkan jika Zeyn tidak ingin menyakitinya lagi, Zeyn tampaknya masih melakukannya tanpa ia sadari.
Zeyn meraih pulpen dan kertas yang ditinggalkan Vania. Memang Zeyn adalah orang yang membuat Vania agar mengajukan cerai ke pengadilan, karena Zeyn tidak bisa melakukannya karena orang tuanya. Zeyn yang memulai dan membuat kesepakatan pernikahan bodoh ini. Tapi sekarang, Zeyn mengutuk dirinya sendiri karena melakukannya.
Yang perlu Zeyn lakukan hanyalah menandatangani surat-surat dan akta cerai yang sebentar lagi akan lenyap, terhapus, seperti tidak pernah ada dan tak ada yang tahu.
...***...
Zeyn POV
Sejak hari itu kepalaku terasa berat, badanku terasa lemas, hatiku terasa hampa dan semuanya terasa tak berguna.
Aku terkadang mendapati diriku menatap kosong entah dimana, aku tak bisa berpikir normal lagi dan hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Sudah hampir sebulan berlalu dan aku merasa hidup seperti zombie. Tidak tersenyum atau sekedar berpura-pura untuk tertawa. Aku merasa senyumku hilang begitu dia memutuskan untuk pergi dari hidupku.
Semuanya sama. Aku bangun, ke kantor, melakukan apa yang mesti kulakukan. Kembali ke rumah dan tidur. Semuanya sama setiap harinya tak ada yang menarik dan semuanya terasa tak berarti lagi.
Rumah kosong dan dingin. Setelah seminggu, aku kembali ke rumah dan membuka pintu berharap bisa melihatnya berdiri di sana.
Tapi itu tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Aku berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di rumahku mengenang apa yang pernah ia lakukan, bagaimana penampilannya, bagaimana ia memandangku berbinar saat melihat kedatanganku.
Aku menyentuh wastafel, kenangan saat pertama kali aku menyentuhnya, betapa lembut kulitnya, harum aroma tubuhnya dan betapa hangat nan menenangkan pelukannya.
Kenapa aku sangat bodoh dan tidak pernah mengucapkan sesuatu yang indah? Kenapa aku tidak pernah sekalipun memujinya?
Setelah satu minggu aku berusaha menghubunginya, aku hanya tampak bodoh karena melakukannyanya hanya untuk memberi alasan jika aku sangat sibuk dan belum sempat menandatangani surat-surat itu dan melakukannya nanti. Sekedar untuk mengulur waktu.
Untuk kali kedua, suara operator dalam telepon memberitahuku jika ponselnya dimatikan.
Aku tidak berdaya, hanya nomor ponselnya yang tersisa dan sekarang sudah tidak ada gunanya.
Aku berbaring dan tidur agak menyamping. Tanganku menyentuh tempat dimana dia biasa tidur, sambil memejamkan mata aku membayangkan kehadirannya di sana. Aku hampir bisa dengan jelas merasakan kehadirannya, membelai pipinya saat ia tertidur dan melihatnya tidur dengan pulas saat pagi hari.
Saat aku membuka mataku aku bisa dengan jelas melihat sosok istriku dengan wajah yang tampak cerah seolah-olah dia benar-benar ada di sana.
“Zeyn,” ucapnya dengan lembut. “Apa terjadi sesuatu? Kamu terlihat sedih.”
“Kamu dimana?”
“Maksudnya? Apa kamu sakit?” tangannya menyentuh keningku. “Aku disini, bersamamu.”
“Tidak! Kamu meninggalkanku. Kemana saja kamu?”
“Apa kamu bermimpi buruk? Aku tidak kemana-mana,” dia meletakkan tangannya di pipiku dan aku menyentuh sudut matanya, dan aku mencoba menutup mata merasakan sentuhannya dengan segenap indra yang kumiliki.
“Aku sangat merindukanmu,” ucapku dan bulir air mata keluar dari mataku.
Aku menariknya mendekat, merasakan kehangatan tubuhnya, mencium aroma manis di kulitnya, rambutnya yang lembut saat aku membelainya.
“Aku disini sayang, jangan sedih. Itu membuat hatiku sakit, “ katanya sembari meringkuk dalam dekapanku dan aku merasakan perutku kram.
“Maafkan aku ... dan tolong jangan tinggalkan aku.”
“Tidak akan, aku tidak akan kemana-mana,” dia berusaha meyakinkanku.
“Jangan pernah tinggalkan aku lagi,” aku menatap matanya dalam-dalam dan menangkup pipinya.
“”Hmmm... Aku janji.”
Aku mencium keningnya dan merasakan sesuatu yang asin.
__ADS_1
Mataku terbuka dan semuanya hanyalah sebuah MIMPI .
...*and*...