
Tak ada lagi yang bisa Vania lakukan, dia mengangguk setuju dengan kesepakatan yang di buat Zeyn, setelah cukup lama berdiam diri di tempatnya. Vania akhirnya berdiri dan berlari keluar rumah, bahkan enggan untuk melihat Zeyn, ucapan Zeyn seakan menuntunnya untuk menganggukkan kepala.
Vania berusaha keras menyeka air mata yang semakin lama membanjiri pipinya, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang menyedihkan. Vania berjalan tanpa tujuan, ia hanya mengikuti kemanapun langkah kakinya akan membawanya.
Tidak ada masalah dengan kontrak pernikahan sebelumnya, Vania hanya kecewa karena Zeyn menambah bagian baru dalam kontrak itu.
"Aku tidak masalah dengan perilaku dinginnya terhadapku, aku terima semua kebenciannya, aku tak masalah dengan intensitas pertemuanku dengannya yang kurang, aku baik-baik saja dengan semua itu karena ku tahu satu hal yang pasti, aku memilikinya. Aku memiliki setidaknya satu orang di sampingku. Meski ia tak peduli denganku, yang kubutuhkan hanya kehadirannya. Sikapnya yang tidak menentu, menganggapku tak ada lalu bersikap manis hingga membuat hatiku meleleh juga tak apa, karena yang ku tahu dia ada bersamaku. Aku berharap suatu saat sikap kasar dan dinginnya akan memudar seiring berjalannya waktu." Vania memukul pelan dadanya yang terasa sesak.
"Namun sekarang aku bahkan tak punya harapan, aku tak bisa memilikinya. Zeyn akan pergi meninggalkanku. Aku tak memiliki siapa pun, aku sendiri lagi. Tak adil, bahkan tak ada yang tersisa untukku? apa yang akan terjadi padaku? haruskah aku mati? karena ayah dan ibu pasti tidak akan mengizinkanku hidup setelah perceraian ini. Di tambah lagi saat mereka tahu jika yang mengajukan perceraian adalah aku, maka lambat laun aku akan merasakan sakitnya penyiksaan, penderitaan tiada akhir. Itulah yang akan menungguku. Bukan hanya hatiku yang sakit tapi seluruh tubuhku juga akan merasakan sakit. Aku lebih baik kehilangannya karena wanita lain, kehilangan karena kurangnya kasih sayang terhadapku. Tapi kehilangan Zeyn karena kehendaknya sendiri terlalu menyakitkan untuk ku tanggung,"
"Apa yang bisa kulakukan? aku akan kehilangan satu-satunya orang yang ku pedulikan, satu-satunya orang yang ku rindukan, apakah aku tak pantas bahagia atau sekedar berharap, Tuhan?" deraian air mata mengalir bagai hujan di tengah dinginnya angin malam.
Vania duduk di bangku taman, mengeluarkan semua amarahnya lalu menenangkan hati dan pikirannya. Untuk beberapa saat Vania sudah merasa rileks walau sesegukan di dadanya tak kunjung hilang tapi tetap diam menatap langit di malam hari membuatnya sedikit merasa tenang.
Vania menghabiskan waktunya untuk diam tapi cairan di matanya masih saja keluar tanpa izinnya. Vania beralih melihat kakinya yang berjalan tanpa alas kaki. "Aku bahkan lupa cara memakai sendal."
Sesuatu yang dingin menyentuh permukaan kulit pipinya, Vania mendongak dengan mata yang terbuka lebar. Dia Yudha dengan es krim di tangannya.
Vania tersenyum samar, hatinya yang hancur seolah-olah di hidupkan kembali hanya dengan melihat wajah tampan Yudha.
Raut wajah Yudha mengerut melihat Vania, tetapi Vania tak memberinya waktu untuk sekedar bertanya ataupun bereaksi. Untuk saat ini Vania hanya butuh kehangatan dan sandaran.
Vania berdiri menghadap Yudha dan tanpa pikir panjang Vania memeluk pria yang ia ketahui adalah sahabat suaminya itu, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Yudha.
__ADS_1
Air mata mulai membasahi baju Yudha karena Vania yang terisak. Yudha bahkan tak bergerak tapi tangannya spontan terangkat mengelus punggung Vania, menenangkan.
'Aku baru tahu jika memeluk seseorang membuatku tambah terisak dan aku berjanji tidak akan melakukannya lagi,' gumamnya dalam hati. Vania perlahan melepas dekapannya dan mundur beberapa langkah, menyeka bekas air mata di wajahnya.
"Maafkan aku, aku tak sopan melakukan apa yang ku inginkan tanpa memikirkan kenyamananmu. Sekali lagi maafkan aku."
"T-tidak, tidak apa-apa," Yudha tertawa kikuk dan menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Keheningan mulai melanda, rasa canggung-pun mulai terasa.
"Ini ... makan ini," tukas Yudha memberi es krim. "Kuharap itu bisa menghiburmu," Vania menerima pemberian Yudha seraya mengangguk pelan.
Yudha duduk di bangku dan Vania ikut melakukan hal yang sama. Yudha berusaha mencairkan kecanggungan di antara mereka. Mulai mengeluarkan ocehan dan membuat Vania tertawa karena lelucon yang Yudha buat. Vania tak bisa menahan untuk tak tertawa, bahkan jika matanya sedang memanas karena menangis dan Vania tak terlalu peduli dengan kata-kata yang Yudha ucapkan. Tetapi wajahnya cukup membuat Vania merasa lebih baik. Matanya yang ikut melengkung saat tersenyum, suaranya yang terdengar lembut sudah membuat Vania merasakan kenyamanan yang hakiki.
"berkat usahamu yang membuatku tersenyum. Terima kasih Yud ...."
"Jika merasa aneh dengan panggilan itu, panggil kakak saja. Itu terdengar lebih akrab."
"Itu artinya sekarang kita berteman," tambah Yudha dan membuat Vania tersenyum. Baginya ini pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang mengajaknya berteman.
Yudha menunduk ingin mengikat tali sepatunya yang terlepas, tapi sorot matanya terfokus pada kaki Vania yang tak memakai alas kaki. "Tunggu di sini, aku ingin beli sesuatu dulu di toko seberang," ujar Yudha sembari menunjuk toserba di seberang jalan. Yudha pun berlari kecil meninggalkan Vania di bangku taman.
Tak butuh waktu lama, Yudha kembali dan satu kantong kresek di tangannya. Yudha berjongkok tepat di depan Vania mengeluarkan sepasang sendal dari dalam kantong lalu memakaikan ke kaki Vania.
__ADS_1
Vania tertegun saat merasakan tangan Yudha menarik kaki dan memasangkan sendal di kakinya. Apa Vania terharu? jawabannya ya, dia terharu karena bahagia setidaknya ada sosok pria yang peduli padanya.
"T-terima kasih Kak," ucap Vania terbata-bata karena menahan isakan dan matanya yang mulai memburam.
"Aku tidak akan bertanya mengapa kau menangis dan mengapa kau berada di sini dengan kondisi seperti ini," ujar Yudha bagaikan seorang kakak yang khawatir dengan keadaan adiknya. "Jika kau sudah merasa cukup tenang, aku harap kau bisa cerita segalanya nanti."
Senyum Yudha kembali muncul di wajah tampannya lalu berdiri. "Sayangnya, kakak harus pergi sekarang karena ada janji dan lagi, jangan coba-coba menangis saat aku tak ada, mengerti?" ancam Yudha dibarengi candaan dan mengelus lembut kepala Vania.
"Iya kak," kata itu seakan penuh perjuangan untuk Vania keluarkan. Detik selanjutnya Vania melambaikan tangan dan juga di balas oleh Yudha.
***
Vania tidak takut lagi, walau masih ada rasa takut kehilangan Zeyn tapi setelah mendengar kata teman keluar dari mulut Yudha, rasa takut itu perlahan menghilang.
Vania menghela napas berat tatkala melihat selembar kertas yang harusnya ia beri tanda tangan persetujuan. Vania mulai berpikir rasional, tindakan apa yang harus ia lakukan karena tak ada pilihan untuk ia pilih.
"Aku bahkan kehilangan kekuatan untuk membuatnya berubah pikiran dan membatalkan rencana ini, tapi kembali lagi aku tidak berharga di hidupnya dan ini adalah keinginannya untuk bercerai terlebih dia sudah mengakui jika ia tak bahagia dengan pernikahan ini." lirih Vania.
Vania tak punya keberanian untuk mengungkapkan jika ia menyukai Zeyn, Vania tak bisa, bahkan tak mampu mengucapkan sepatah kata-pun. Vania sadar jika perasaan suka yang ia miliki hanya berpihak padanya dan tidak berlaku untuk Zeyn.
"Aku harus menghadapinya sendiri, ini bukan masalahnya. Meskipun terkadang dia baik padaku, bersikap manis sampai membuat jantungku berdebar tak karuan, tetap saja Zeyn tidak merasakan apa-apa terhadapku dan malah ingin membuangku dari hidupnya. Apa boleh buat, ini mungkin sudah jalan takdirku, "
Hanya dengan memikirkannya sudah membuat hatinya sakit dan matanya mulai berair. Vania mengambil napas dalam dan membuangnya pelan saat ingat janjinya pada Yudha untuk tak menangis lagi.
__ADS_1
Vania meraih pena dan mulai menandatangani kontraknya.