Suami Egois

Suami Egois
My Super Hero - Yudha


__ADS_3

Suara dering ponsel terus saja bergema di ruang tamu. Zeyn mendelik mengapa istrinya begitu ceroboh meninggalkan ponselnya di rumah saat Zeyn sedang sibuk berkutat dengan setumpuk kertas yang harus ia selesaikam.


Zeyn beranjak ingin mematikan ponsel itu, matanya kian menyipit saat layar ponsel itu tiba-tiba menyala. Sesuatu menarik perhatiannya, ada lebih dari 10 kali panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal dan pesan teks dari My Super Hero. Bahkan sampai puluhan tahun berlalu, Zeyn masih akan ingat nama dan nomor sahabatnya.


"Yudha!" seru Zeyn melihat nomor yang tertera di layar ponsel.


Vania tidak hanya bertukar pesan dengan Yudha tapi dia juga menyimpan nomernya dengan nama yang mengisyaratkan jika Yudha adalah pahlawannya.


Tangan Zeyn mengepal, kepalanya menolak untuk tahu isi pesan tersebut tapi tangannya tak bisa berbohong buktinya pesan itu sudah terbuka. Waktu dan tempat terpampang jelas di depan wajah Zeyn.


"********! Jal*ng satu ini!" geram Zeyn meremas ponsel milik Vania.


Amarah kini menguasai kepala Zeyn dan tanpa ia sadari kakinya membawanya ke tempat di mana istrinya bertemu dengan sahabatnya dengan upaya memisahkan mereka dan membawa Vania pulang.


"Aku harus memastikannya sendiri, mungkin saja Yudha salah mengirim pesan."


Zeyn sangat berharap untuk itu, dia hanya ingin percaya dengan semua ucapan Yudha. Zeyn berusaha menampik semua pikiran-pikiran buruknya. Tetapi detik kemudian, Zeyn dengan jelas melihat Vania duduk dan Yudha mengelus pelan lengan istrinya dan membuat wanita itu tersenyum.


Zeyn merasakan kepalanya berdenyut bak seseorang tengah memukul kepalanya. Matanya memerah menahan amarah yang sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Perasaan di khianati oleh seorang teman yang sudah ia anggap sebagai saudara kini berselingkuh dengan istrinya tepat di depan matanya.


***


Vania kembali ke rumah saat hari sudah semakin gelap, Vania berpikir jika Zeyn tidak sedang di rumah atau Zeyn sudah tidur karena tidak ada satupun lampu yang menyala. Vania berjalan mencari sakelar lampu terdekat sebelum suara berat menggema.


"Aku melihatmu bersama Yudha."


Hawa dingin yang menakutkan merasuki tubuh Vania, raut wajahnya juga mulai panik.


"Dari semua orang di dunia ini kamu boleh memilih siapa saja ... asal bukan Yudha."

__ADS_1


Zeyn berdiri, tatapannya tak pernah lepas pada sosok Vania. Hanya satu yang dapat menjabarkan raut wajah Zeyn saat ini adalah amarah. Vania benar-benar tak berkutik karena dia dalam situasi yang salah dan Zeyn memergokinya. Vania ketakutan, tangannya dingin dan keringat membasahi telapak tangannya dan tubuhnya ikut bergetar.


'Dia tidak boleh mendekat, tidak dengan keadaan seperti itu, tidak dengan amarah dan benci karena aku yakin dia dalam pengaruh alkohol. Hal terbaik yang bisa kulakukan hanya berlari ke kamar dan mengunci diri," gumam Vania dalam hati memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Vania berlari sekuat tenaga hingga kakinya tersandung ujung karpet, akhirnya dia sudah berada di balik pintu kamarnya dan berhasil menguncinya tapi tekanan yang sangat kuat karena Zeyn yang memegang gagang pintu. Zeyn tanpa ragu memukul pintu dengan bogemnya yang membuat Vania terlonjak kaget dan spontan melepas tangannya dari gagang pintu.


"Kau mencoba lari dariku?"


Zeyn menggedor pintu kamar Vania kasar, Vania menyembunyikan dirinya di sudut terjauh kamarnya. Vania tidak pernah merasa setakut itu dalam hidupnya. Membayangkan Zeyn yang mendobrak pintu dan memukulnya.


"Baiklah, jangan pernah keluar dari sana!" teriak Zeyn menyalurkan amarahnya di pintu kamar Vania.


Vania hanya menutup mata dan telinganya, berdo'a agar mimpi buruk itu segera berakhir.


***


Bukan kemarahan tapi sebuah kebencian karena merasa di khianati oleh sahabatnya, Vania ingin meluruskan segalanya tapi Zeyn sama sekali tidak pernah pulang ke rumah.


***


Vania baru turun dari taksi tepat di depan sebuah gedung menjulang tinggi yang ia ketahui DAULYN GROUP. Matanya menangkap siluet pria berjalan keluar dari dalam gedung denah sudut bibir tertarik membentuk senyuman. Sepertinya Vania datang di waktu yang tepat, mungkin Yudha menjelaskan segalanya tapi pikiran itu seketika melebur saat Vania tak sengaja melihat sosok wanita berjalan di sebelah Zeyn. Sosok yang tidak asing di matanya dan sedetik berikutnya Vania mulai mengenalinya.


Wanita yang ada di dalam foto yang Vania temukan di buku Zeyn. Ingatannya kembali saat Zeyn sangat marah akan hal itu. Wanita itu terlihat cantik di foto, tapi lebih cantik saat melihatnya langsung. Vania memuji paras itu tanpa ia sadari.


Mereka bergandengan tangan, gerakan kecil yang tak pernah Vania lakukan bahkan tak berani Vania lakukan, dia membuatnya cukup bahagia untuk tersenyum sangat manis.


"Hatiku hancur, bagaimana Zeyn bisa menunjukkan sisi yang begitu menyenangkan dari dirinya kepada wanita lain, sementara dia punya istri?"


Zeyn berjalan lebih dekat ke jalan dan membuka pintu taksi untuknya. "Hati-hati di jalan,"

__ADS_1


"Jangan khawatir sayang," jawab Divya singkat dan berjinjit mengecup pipi Zeyn sebelum masuk ke dalam mobil.


Bagai tertusuk pedang goblin, Vania mulai merasa sesak. Dia tidak percaya dengan apa yang baru ia saksikan. Divya tak hanya memanggil suaminya sayang tapi juga menciumnya. Wajah Zeyn jelas sangat bahagia.


"Jika aku bukan siapa-siapa! jika aku tidak mengenalnya, aku pasti akan berpikir betapa romantisnya pasangan itu tapi nyatanya beda. Itu hanya sesaat tapi cukup lama bagiku untuk mencerna bahwa ada sesuatu yang terjalin di antara mereka."


"Ini tidak pernah terjadi, pasti aku salah."


***


"Siapa dia?" tanya Vania saat Zeyn kembali.


"Apa? Siapa?" alis Zeyn tertaut dan dahinya berkerut. Vania tidak tahu apa Zeyn terkejut dengan pertanyaannya atau nada bicara yang terdengar menuntut.


"Wanita yang kamu temui hari ini, aku tanya dia siapa?" Vania merasakan darahnya mendidih karena Zeyn yang tak kunjung menjawab. "Siapa dia bagimu dan saling bergandengan tangan? siapa dia bagimu yang leluasa menciummu?" tuntut Vania.


"Apa kau sedang menjadi penguntitku?" tanya Zeyn balik dan Vania merasakan ketegangan meningkat di antara mereka. Ekspresinya berubah dari yang sebelumnya terkejut menjadi jengkel.


"Tentu saja tidak! aku datang saat jam makan siang dan aku melihat kalian berdua. Jadi jangan mengganti topik pembicaraan, jawab saja aku."


"Itu bukan urusanmu dan mengapa aku harus memberitahumu?"


"Karena aku istrimu! Aku berhak tahu!" pekik Vania. Tanpa sadar menggunakan alasan yang sama dan terus menerus ia gunakan. "Aku berhak tahu mengapa suamiku memberi ke leluasaan wanita lain untuk menciumnya!"


Dia bukan orang lain!" Zeyn ikut memekik dan aura yang sangat Vania takuti kini hadir di dalam diri Zeyn seakan siap menuangkan racun ke dalam hati Vania.


"Jangan terlalu berharap karena sebelumnya aku sudah memberitahumu jika kau bukan siapa-siapa di hidupku," ujar Zeyn penuh penekanan di setiap katanya.


"Apa kau tidak pernah mengerti? Aku tidak pernah mencintaimu atau menaruh perasaan terhadapmu dan tidak akan pernah. Aku tidak peduli denganmu, apa yang kau lakukan, jadi itu terserah padamu."

__ADS_1


__ADS_2