
"Kalian sudah tak pergi bersama?" kaget Selly dan Rania
"Bukan itu maksudku, kadang-kadang aku juga masih menemaninya. Tapi karena kupikir, mungkin dia sudah cukup terbiasa untuk melaluinya sendiri dan sekarang aku juga sudah bekerja jadi sulit menemukan waktu untuk pergi bersama."
"Berarti kehadiranmu hanya di manfaatkan olehnya," ujar Rania lagi
Vania menegang, bukannya tidak mengerti karena dia sudah tahu itu sedari awal dan tujuan utama pernikahannya. Tapi mendengar dari mulut teman sekantornya membuat hatinya hancur dan Vania lupa akan hal itu.
"Bagaimana denganmu?" kali ini Selly yang bertanya
Vania tersentak, haruskah ia jujur dan ia melakukannya karena ingin melarikan diri dari tekanan orang tuanya.
"Mungkin ayahku yang memetik keuntungannya," jawab Vania bercanda dan dua wanita di depannya ikut tertawa.
"Zeyn juga belum mengaku, kan?" Vania mengangguk. "Kalian sudah tidur bersama. Jadi begitulah adanya, salah satu kebutuhan duniawi manusia. Zeyn adalah pria dan semua pria itu sama saja."
"Sama?"
"Sederhana, jika kamu menunjukkan sedikit bagian tubuhmu yang selama ini kamu sembunyikan dan lihat apa yang akan mereka lakukan. Kamu akan berakhir di tempat tidur melayani hasratnya tentu saja, perilakunya ini tidak didasari cinta tapi nafsu dan kamu adalah korbannya."
"Korban?" sela Vania.
"Iya, mungkin kata korban tidak layak untuk di sematkan dalam topik ini tapi kembali lagi, kamu dengan sengaja merayunya. Jika tak bisa menolak maka pasrah saja." Rania menyesap minumannya. "Aku heran, kita seumuran tapi kamu belum tahu bagaimana cara dunia ini bekerja.
"Tapi ... tapi kami sudah menikah! kurasa itu beda cerita," Vania berusaha setenang mungkin, walau nada suaranya lebih mengarah untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Itu sebabnya aku terkejut! maksudku siapa yang akan menunggu selama itu, tinggal bersama tanpa ada kepastian."
"Rania!" Selly mencoba menghentikan omong kosong Rania.
"Aku penasaran, apa yang dilakukan Zeyn selama ini?" tanya Rania lagi lebih ke dirinya sendiri.
"Sudah dong!" Selly memukul pelan lengan Rania. "Omongannya jangan dimasukkan ke hati yah?" ucap Selly lagi memegang punggung tangan Vania.
Semua yang ada di benak Vania hanyalah sebuah kehancuran, bagai tong kosong yang luarnya kokoh tapi di dalamnya tidak ada apa-apa.
"Aku harus pergi," ucap Vania seraya berdiri.
__ADS_1
"Tunggu," ucap Rania menahan langkah Vania.
"Tolong, jangan salah paham dengan ucapanku tadi. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tahu itu menyinggungmu tapi aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya tidak ingin hal yang pernah kualami terjadi padamu. Aku ingin melindungimu dan memastikan jika Zeyn benar-benar tulus dan kuharap kamu bisa lebih pintar dalam mengambil keputusan tanpa harus membuat suatu kesalahan yang sama sepertiku."
Vania menatap intens wanita yang sedang memegang tangannya itu.
"Jika kamu tidak yakin Zeyn menyukaimu, jika dia tidak menunjukkan rasa pedulinya padamu. Berjanjilah padaku, kamu akan meninggalkannya, hmm? atau begini, jangan berjanji padaku. Anggap saja ini sebagai nasihat dariku."
"Ran! aku ... aku."
"Jangan katakan apapun, dengar saja saranku. Kalau kamu sudah yakin maka tinggalkan atau kau akan terus terluka. Kau tidak akan sendiri masih ada Yudha yang selalu berada disisimu, aku pikir kamu paham maksudku. Kamu mungkin tidak akan percaya dengan ucapanku tapi aku tulus dengan nasihatku."
***
Pintu terbuka dan Vania dengan jelas melihat wajah Yudha yang tersenyum menyambut kedatangannya.
"Bukankah ini masih terlalu pagi? Ohh ... dan kamu datang sendiri?" Yudha memiringkan kepalanya mencari seseorang di balik bahu Vania.
"Hmm... Iya," jawab Vania ragu. "Bolehkah aku masuk?"
"Oh! Silahkan."
"Aku yang harusnya minta maaf, karena mengganggumu."
"Ah, tidak tidak!" sela Yudha "Kedatanganmu tidak mengganggu sama sekali, aku malah sangat bahagia kedatangan adikku."
"Apa kamu ada masalah?" tanya Yudha menyadari tingkah Vania yang wajahnya terlihat murung tak bersemangat..
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Silahkan! aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu," ucap Yudha antusias. Membuat Vania tersenyum simpul.
Vania tak lantas bertanya tapi malah asyik memainkan jemarinya karena ragu dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan. "B-bagaimana pendapat kakak mengenai hubunganku dengan Zeyn? tidak tidak, maksudku ... tentang pernikahanku sekarang ini?"
Yudha menarik kursinya dan menegakkan posisi duduknya. "Aku juga tidak tahu cara menjawabnya, tapi kalau boleh tahu bagian mana yang sangat ingin kamu ketahui?"
"Tapi kakak-kan sahabatnya?" Yudha menganggukkan kepalanya. "dan kalian saling mengenal sudah cukup lama, jadi aku hanya ingin meminta pendapat kakak dan kemungkinan apa yang akan terjadi dalam rumah tanggaku kedepannya?"
__ADS_1
"Ohh!" Yudha terkesiap tak tahu harus menjawab apa.
"Begini ... Zeyn itu, dia tipikal pria yang tak bisa mengekspresikan perasaannya. Dia lebih suka diam dalam menangani sesuatu yang terjadi padanya. Aku tahu itu sulit bagimu, melihat perlakuan Zeyn terhadapmu. Tapi sebagai temannya, akan lebih baik jika kamu lebih percaya padanya. Cukup sabar menghadapinya dan lihat bagaiman segalanya akan berjalan dengan sendirinya."
"Tapi kak ... aku bahkan tak tahu cara membedakannya! aku hanya tak ingin menghabiskan waktu seperti ini. Aku sudah sangat tahu seperti apa pernikahan tanpa cinta, aku sudah tinggal bersama orang tuaku lebih dari 20 tahun. Aku tahu bagaimana perasaan seorang anak dalam keluarga seperti itu dan aku tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada diriku sendiri. Selama ini aku mendambakan sebuah hubungan harmonis dalam sebuah keluarga dan sekarang aku terjebak di dalamnya."
Diam. Baik Vania ataupun Yudha lebih memilih diam setelah rentetan kata-kata keluar dari mulut Vania.
Tak berselang lama, Zeyn datang membuka pintu. Sorot matanya menangkap sosok istrinya yang tengah serius membicarakan sesuatu. Dia tak menyapa atau sekedar mendekat melainkan hanya duduk di kursi lain memperhatikan.
***
Setiap ucapan Rania membuat Vania semakin kebingungan, di saat hatinya berusaha ingin percaya dengan sikap Zeyn. Tetapi semuanya berjalan tidak seperti yang ia bayangkan karena Rania kembali menanamkan benih keraguan dalam dirinya.
"Zeyn mungkin sudah selingkuh di belakangmu," ujar Rania membuat Vania cengo di tempat duduknya.
"Hah?"
"Jika kamu ragu dengan ucapanku, alangkah baiknya jika kamu datang ke kantornya sesekali. Memastikannya langsung."
"Aku tidak bisa melakukannya," Vania sebisa mungkin tidak ingin menaruh curiga terhadap Zeyn.
"Jadi? Apa kau punya rencana lain?"
"Aku tidak akan melakukan hal semacam itu. Terlebih aku belum sejauh itu memikirkannya dan a-aku...."
"kenapa?"
"Ran, tindakan mu sudah berlebihan. Kita sebagai teman juga tidak perlu terlalu larut dalam masalah rumah tangga Vania dan Zeyn. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Kita hanya perlu mendukung setiap keputusan Vania. Bukan malah menghasut dan kau sudah keterlaluan dengan setiap ucapanmu," tegur Selly yang mungkin sudah geram mendapati tingkah temannya yang lebih menghasut Vania untuk segera bercerai.
Vania diam begitupun Rania yang seketika bungkam di beri teguran oleh Selly. Gadis berkacamata yang setiap kali mereka bertemu hanya diam itu tak sekedar diam tapi juga memperhatikan dan sekarang ia akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
"Aku tahu tapi aku masih diam dan berusaha untuk tidak ingin menanggapi ucapanmu Ran. Jadi tolong berhenti menghasutnya."
Cukup lama Vania diam mencerna setiap kata yang di keluarkan Selly, walau matanya tertuju pada ekspresi wajah Rania yang duduk tepat di depannya, tingkahnya yang mencurigakan, setiap ucapannya seakan-akan ia sudah memprediksi segala sesuatunya.
Akhirnya Vania tanpa ragu bertanya.
__ADS_1
"Aku harap kamu akan jujur Ran! Apakah semua yang kau ucapkan padaku tempo hari hanyalah sebuah kebetulan karena kamu menganggapku sebagai teman atau ada maksud lain?"