Suami Egois

Suami Egois
Pencerahan


__ADS_3

Zayn menilik mata indah milik Vania yang kini tengah berurai air mata, mata yang memancarkan kesedihan mendalam.


Jantung Zeyn berpacu saat namanya dengan lembut di gumamkan Vania. Tetapi pemandangan di depannya membuat jantung Zeyn bagai keluar dari tempatnya.


Spontan tubuh Zeyn bergerak mundur, melepaskan makhluk rapuh itu dari cengkramannya. Zeyn melihat mata indah itu lagi, tapi Vania dengan cepat memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya meninggalkan Zeyn.


"Apa yang telah kulakukan?"


"Apa ada yang salah dengan tindakanku? sehingga pantas di beri reaksi seperti itu? ini bukan pelecehan, aku tidak melucuti pakaiannya, aku tidak agresif, justru dia juga menyukai sentuhanku tanpa perlawanan, dia juga menikmatinya. Jadi dimana letak kesalahanku? mengapa dia terlihat sangat hina, membuatku merasa seperti monster?"


"Aishh! aku tidak ingin tahu dan aku tak peduli, akan lebih baik jika kita saling menjaga jarak." (social distance)


***


"Apa yang membuatmu melamun sampai tak menyadari keberadaanku di sini beberapa menit yang lalu?" suara berat membuat Zeyn tersadar dari lamunannya.


"Istriku," ujar Zeyn seraya mendongak melihat Dery. Pikiran Zeyn hanya tertuju pada Vania, sejak hari itu, wajah sedih Vania sering muncul di benak seorang Zeynan dan membuatnya seperti seseorang yang menyeramkan.


"Aku juga."


"Apa?" raut keheranan terpampang nyata di wajah Zeyn.


"Aku juga memikirkan istrimu" ulang Dery dengan gamblang, yang mebuat Zeyn semakin kesal.


"Dery, tolong jangan seperti ini!"


"Calm down brother, aku memikirkannya karena dia datang membawa CV-nya ke perusahaanku." Zeyn ingin bertanya maksud dari ucapan Dery tapi Dery lebih dulu melanjutkan. "Aku sedang berpikir untuk menerimanya bekerja."


"Terus kenapa kamu ada di sini?" ketus Zeyn enggan mendengar ocehan Dery


"Aku hanya ingin memberitahumu tentang hal ini, agar kau tak terkejut. Aku pikir dia tidak menyadari bahwa itu perusahaanku."


'Kau mungkin sudah merebut Divya dariku tapi aku tidak akan mengizinkanmu memiliki istriku!' hanya itu yang ada di pikiran Zeyn, memikirkan manusia laknat di sebelahnya kini.


'Kenapa tiba-tiba aku bersikap posesif?'

__ADS_1


"Ohh, ayolah Zeyn. Berhentilah melayangkan tatapan sinis itu. Aku tidak punya maksud apa-apa," kata Dery dibarengi seringaian licik.


"Untuk saat ini bukan aku yang harus kau khawatirkan."


Zeyn mendelik "Apa maksudmu?"


"T-tidak! Tapi belakangan ini aku sering melihatnya bersama Yudha dan hanya berdua," jawab Dery membuat kepala Zeyn terbakar amarah. "Sangat jarang melihatnya tersenyum seperti itu. Wajahnya yang cantik dan bercahaya. Kusarankan, kau harus melihatnya. Dia terlihat sangat berbeda saat bersama Yudha dibandingkan saat bersamamu," tangan Zeyn secara naluri mengepal karena omongan tuan lambe Dery.


Setelah kejadian tempo hari, Vania seakan enggan untuk bertemu dengan Zeyn


***


Campur tangan kedua orangtua membuat Vania hidup layaknya boneka, memegang kendali, memutuskan semua pilihan terutama memilih suami untuk Vania.


'Apa yang kuinginkan, yang kurasakan, yang ada di pikiranku nyatanya tak bisa mereka ambil dariku. Mereka mengekang emosiku tapi tak mampu menghapusnya. Zeyn orang pertama yang membuktikannya, bahkan dia-lah yang paling jahat. Zeyn membangunkan sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam diriku dan sekarang dia juga menghacurkan perasaanku.'


Semua hal-hal kecil yang dilakukan Zeyn membuat Vania lupa jika pria itu pernah menampar wajahnya dan tak pernah meminta maaf. Terlalu sulit menerima tindakan dan tutur kata Zeyn, perubahan suasana hatinya yang berubah sangat cepat membuat Vania terlalu berat untuk sekedar mengatasinya.


"Aku membencimu Zeynan."


***


"Aku akan bertemu investor singapura dan aku membutuhkan Vania, aku tidak boleh membuat kesalahan di saat-saat terpenting seperti ini," gumamnya.


***


Zeyn dan Vania berada di restoran jepang dengan sepasang pria dan wanita paruh baya sedang mengobrol santai, tetapi Vania tidak fokus dengan topik yang di bahas sang investor.


Rasa khawatir di rasakan Vania karena mereka berdua jarang bertemu di rumah dan Vania sedang sibuk mengasah otak untuk membangun kembali kekuatannya untuk melihat sosok Zeyn yang berada cukup jauh darinya, sebelum terjadinya insiden sentuhan di permukaan kulit masing-masing dengan tanpa sengaja.


Vania tak menyadari jika sorot mata Zeyn mengarah padanya yang sedang sibuk menelisik wajah tampan itu.


"Istrimu benar-benar hanya melihatmu, dia bahkan tak melirik kami yang sedang berbicara dengannya," ujar istri sang investor yang menimbulkan decak tawa, bibir Zeyn juga ikut tertarik mendengarnya.


"Oh ... Maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukannya," ucap Vania seraya membenarkan posisi duduknya. Efek samping dari rasa canggung dapat menyebabkan gemetar ke seluruh tubuh Vania. Tangannya secara tak sengaja menyenggol gelas wine dan mengenai gaunnya.

__ADS_1


"Aku permisi ke kamar kecil dulu."


Belum sempat Vania berbalik, Zeyn juga ikut berdiri dan memegang tangan istrinya. "Maaf! Aku harap anda tidak merasa tersinggung jika kita harus mengakhiri pertemuan ini sampai di sini," ujar Zeyn sopan. "Aku tidak bisa melihat istriku merasa risih dan tidak nyaman dengan pakaiannya," jelas Zeyn.


Vania mengulum bibir menahan agar tak tersenyum mendengar kata istriku keluar dari mulut Zeyn. "


"Tidak, tidak apa-apa, aku hanya perlu ke ...."


"Tentu saja kami tidak keberatan," ucap sang investor lalu ikut berdiri bersama istrinya dan berpamitan untuk lebih dulu meninggalkan restoran.


Sepeninggal investor itu, Vania merasa ada sesuatu yang menyentuh pundaknya, dia-pun menoleh dan menemukan wajah Zeyn yang sangat dekat dengannya.


"Pakai blazerku, mungkin bisa sedikit menutupi noda di bajumu."


Vania dengan wajah bingungnya masih setia menatap Zeyn. Sesungguhnya inilah hal yang paling Vania ingin hindari, di beri perlakuan manis.


"Pakai saja untuk sementara waktu, kita akan ke store langganan ibu untuk belanja."


"Tidak usah, aku hanya perlu mencucinya untuk menghilangkan nodanya."


"Kita tidak bisa pulang sekarang dan aku tidak ingin kamu berkeliling dengan pakaian kotor seperti itu."


"Baiklah," kata Vania dan memasukkan lengannya kedalam lengan blazer.


'Ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya terlihat lebih santai, apa karena wine? Apapun yang terjadi dengannya hari ini, membuatku bahagia. Aku bisa merasakan jika kami seperti pasangan yang sungguhan. Dia memilih gaun untukku dan mataku tak pernah teralihkan dari wajahnya.'


"Aku minta maaf karena mengacaukan rapatnya," ujar Vania setelah mengganti baju.


"Sejujurnya, aku senang kau melakukannya, sangat membosankan mendengar semua ocehannya yang tak ada habisnya," Vania terkikik mendengar penuturan Zeyn.


"Jadi aku tidak benar-benar merusaknya karena kau juga mengambil kesempatan untuk melarikan diri." parafrase yang di ucapkan Vania cukup menarik perhatian Zeyn.


Zeyn berhenti dan menatap Vania dalam, Vania sontak melangkah mundur. "Apa kau baru saja meledekku?" tanya Zeyn menyeringai nakal. "Ayo jalan, kita hampir sampai. Aku sangat ingin minum bubble tea," ucap Zeyn menautkan tangannya di sela-sela tangan Vania.


Vania tak bisa menahan untuk tak tersenyum, Vania tak pernah melihat dan tak pernah tahu sisi bercanda seorang Zeynan. Bahkan kelakuannya itu tak jauh berbeda dengan anak SD yang sedang meledek teman sebayanya.

__ADS_1


'Aku dengan enggan mengakui jika aku jatuh cinta dengan sisi imut suamiku.'


__ADS_2