
Vania tak bisa menolak atau seenak hati membatalkan perjodohan itu, karena sudah pasti akan membuat kedua orang tuanya murka dan akan mencaci maki Vania. Sudah jelas Vania akan di cap sebagai anak yang tak tahu diri dengan begitu ia juga akan diseret keluar dari rumah atau akan merasakan hangatnya sebuah pukulan di sekujur tubuhnya.
Setelah memukul Vania, sang ayah pasti akan mencari kotak P3K, Vania tak menampik jika sikap dan perilaku ayahnya itu tak lebih keji dari seorang psikopat yang menyiksa korbannya dan tugas Ibunya adalah mengobati lukanya.
Jika hal itu tak diinginkan Vania untuk terulang. Maka Vania hanya perlu patuh dan mengikuti arus yang dimainkan kedua orang tuanya dan calon suaminya kelak.
Vania yakin jika kedua calon mertuanya lah yang akan membantu dan melindunginya. Secuil harapan yang membuat Vania merasa kehadirannya seolah di butuhkan.
***
Vania duduk dengan tangan menyilang di atas meja dan beberapa hidangan makan malam yang mulai dingin. Sudah hampir 2 jam Vania menunggu kepulangan Zeyn dari kantor.
Kini, hampir tiga bulan sejak mereka menikah dan setiap harinya masih terlihat sama. Saat Vania terbangun di pagi hari Zeyn sudah berangkat ke kantor, saat pulang ke rumah pun Zeyn akan pulang sangat larut, menuju kamarnya dan tidur.
Vania dan Zeyn bahkan tidak punya kesempatan untuk saling berbicara. Setelah semua kata-katanya yang penuh akan kebencian saat pertemuan pertama mereka. Vania tak berani memulai pembicaraan apa pun itu.
Beberapa kali Vania mencoba tapi tak ada nada lembut melainkan tatapan menyeramkanlah yang Vania dapat hingga tak melanjutkan ucapannya.
Kamar Zeyn dan kamar Vania berbeda, sangat menyedihkan tapi apa boleh buat Vania tak bisa berbuat apa-apa. Tidak saling mencintai dan mereka berada dalam mode pura-pura dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Situasi buruk saat bersama orang tuanya yang menjadikan Vania bagai boneka dan membuatnya memainkan peran sebagai gadis penurut. Hampir tak ada bedanya malah situasinya kali ini lebih mengerikan.
Vania berusaha untuk terlepas tapi malah terjerumus lebih jauh dalam peran barunya sebagai seorang istri dari pria bernama Zeynan. Menjelma menjadi seorang istri yang tak punya emosi, pura-pura tersenyum seakan dirinya sedang bahagia dengan kehidupannya yang penuh cinta dan kasih sayang. Ia juga manusia yang punya perasaan dan layak diperlakukan sebagai manusia dan bukannya boneka.
Vania ingin menangis dan meluapkan semua isi hatinya tapi adakah seseorang yang dengan senang hati ingin mendengar ceritanya. Jawabannya tidak ada.
***
__ADS_1
Srek!
Vania mendengar suara pintu yang terbuka dan membuatnya sedikit bahagia karena ia menghabiskan sepanjang hari sendiri di rumah. Vania berpikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Menyambut kedatangan sang suami.
Vania memberanikan diri untuk lebih dekat kearah pintu dan ia sadar jika itu ide buruk. Ekspresi Zeyn berbeda. Sorot mata dingin dan mencekik mendapati keberadaan Vania di depannya.
"Selamat datang di rumah," kata Vania ragu tapi tetap tidak di tanggapi Zeyn dan malah melewati Vania. "Kau ingin makan malam?"
"Aku sudah berulang kali bilang, aku tidak suka makanan yang kau masak jadi jangan repot-repot untuk membuatnya untukku lagi, mengerti?"
Belum selangkah Zeyn kembali menghentikan langkahnya. "Aku dengar kau berpendidikan tinggi, apakah itu tidak cukup untuk membuatmu mengerti dengan ucapanku?" lanjutnya dengan seringaian sinis tercetak di wajahnya. .
Zeyn tak hanya marah tapi juga mabuk, karena bau alkohol seketika menyeruak ke indra penciuman Vania saat Zeyn berjalan melewatinya.
"Kenapa dia sejahat itu? Padaku? Karena apa? dan jika bukan aku kenapa dia harus bersikap seperti itu?"
Vania tak mampu berkata-kata dan hanya berdiri mematung cukup lama. "Mengapa hidupku selalu saja di penuhi kesengsaraan?" ujarnya lirih.
Rasa tak berdaya dan tak bisa mengubah situasi menambah beban pikirannya. Setiap kali Vania mencoba mendekat pasti akan berakhir ia di acuhkan. Meninggalkan Vania dengan umpatan kasar, bentakan yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Bagaimana aku bisa mengatasi ini? Tak ada yang bisa memberitahuku." Vania menarik napas dalam dan membuangnya kasar.
Bahkan di sekolah dulu, saat siswa lain membully Vania. Vania selalu menutup mata dan telinganya menganggapnya tak penting berlagak tak peduli walau itu sakit.
"Haruskah aku mencari bala bantuan disuatu tempat? Tapi dimana? Orang tuaku?" Vania tertawa hambar ditengah gurauannya. "Haa. Itu tak mungkin. Teman? Tapi aku tak punya teman."
Tak ada yang ingin dekat dengannya dan itu juga membuat Vania menjadi orang yang tak ingin punya teman juga. Tak ada yang bisa ia lakukan, otaknya beku seolah ikut tak ingin membantunya menemukan solusi.
__ADS_1
Hanya Zeyn Shadiq Daulyn lah satu-satunya orang yang di miliki Vania saat ini tapi pria itu membencinya atau tepatnya tidak peduli dengan keberadaannya.
Keberadaan Vania hanya membuat Zeyn murka saat Vania mencoba bertegur sapa dengannya.
Vania si pengganggu dan Zeyn orang yang tak ingin di ganggu. Satu keajaiban di berikan tuhan karena menyatukan dua sisi manusia yang saling bertolak belakang.
Vania di kehidupan Zeyn tak lebih dari sebuah dasi yang hanya jadi pelengkap sebuah setelan mewah. Eksistensi Vania hanya membuatnya terlihat sempurna di mata orang lain. Hanya sebatas Aksesori.
***
Vania terbangun dan menyadari dirinya tertidur di sofa ruang tamu. Tangan kanannya bergerak memijat pelan lehernya yang terasa kaku karena tidur dalam posisi tak nyaman. Sebelah tangannya mengucek matanya agar segera melebar.
Tangannya tak sengaja merasakan sesuatu yang basah di area pipinya. "Apakah aku menangis?" Gumamnya, kemudian beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.
Setelah mandi ia baru menyadari jika hari ini adalah weekend. Vania memutar kepalanya berpikir jika sosok Zeyn sudah pergi. Vania berjalan menuju kamar Zeyn dan mengetuk pintunya pelan dengan tujuan untuk memastikan keberadaan suaminya.
"Zeyn ...." Panggil Vania saat tak menemukan batang hidung penghuni kamar.
Merasakan kesunyian, sudah pasti Vania harus menjalani harinya dengan kesendirian. Vania menghela napas berat, entah mengapa menghela napas menjadi kebiasaannya beberapa hari terakhir.
Vania tidak menyalahkan ucapan kasar Zeyn padanya, karena Vania sudah terbiasa akan hal itu dan Vania tidak punya perasaan khusus terhadap Zeyn jadi semua kata-katanya tidak membuat Vania sakit hati.
Hanya satu hal yang membuat Vania sesak dan merasakan sakit yang teramat dalam saat ia menyalahkan dirinya sendiri yang selalu berada di posisi yang serba salah.
Setelah menikah dan Vania mulai tinggal bersama Zeyn. Vania baru menyadari bahwa ia juga butuh seseorang. Bukan teman ataupun kekasih. Ia hanya mendambakan sosok seorang yang akan menemaninya bicara, duduk bersama, makan, atau sekedar nonton TV bersama.
"Aku sadar betapa menyedihkannya hidupku." Lirih Vania menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja makan.
__ADS_1