Suami Egois

Suami Egois
Perhatian


__ADS_3

Vania sudah meninggalkan rumah saat Zeyn terbangun. Di tinggal sendiri dengan kesunyian yang menyelimuti seluruh penjuru rumah. membuat Zeyn beralih menyalakan TV dan berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan ala kadarnya.


Alhasil, semangkok bubur beserta sup daging sapi sudah tertata rapi di atas meja, sisa menunggu Zeyn untuk memakannya. Pria itu tersenyum memikirkan betapa perhatiannya Vania. Perasaan bahagia karena di rawat istri saat sakit, bangun di pagi hari dan mendapati makanan yang di buat untuk suami dengan penuh cinta.


'Nikmat apalagi yang kau dustakan Zeyn.'


Zeyn masih setia berdiri memegang sandaran kursi, beberapa detik kemudian perasaan bersalah mulai menyerang dan senyumnya-pun perlahan memudar saat menyadari jika dirinya bisa kehilangan sosok Vania.


Zeyn melakukan semua hal yang harusnya dilakukan, bersantai di sekitar rumah, mandi dan terakhir duduk di sofa selama berjam-jam sembari menonton acara TV membuat Zeyn bosan. Tak ada lagi pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Dia baru bekerja belum lama ini, jadi apa yang dia lakukan selama ini seorang diri? dia juga tidak bekerja dan tidak punya teman, aku juga kadang pulang terlambat dan tidak terlalu memperhatikannya," gumam Zeyn yang saat itu merasa sesuatu yang menusuk hatinya.


"Pasti sangat tertekan dan kesepiannya dia untuk tinggal bersamaku."


Sekali lagi, Zeyn mendapati dirinya memikirkan Vania, rasa bersalah mengingat apa yang di lakukan Vania setiap harinya di rumah. Sedangkan Zeyn yang nyatanya hanya sehari tak sanggup untuk ia jalani tanpa keluar rumah.


***


Vania dengan hati-hati menekan dan mendorong pintu agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Tapi ketenangan dalam rumah meyakinkan Vania bahwa Zeyn sudah tidur. Vania merasa agak sedih karena tak bisa bertemu dengan suaminya, walau sebisa mungkin mencoba cuek. Tetap saja, saat Zeyn sakit adalah ide buruk. Vania dengan senang hati merawatnya dan melihat Zeyn sakit hanya membuat hatinya semakin lemah.


Pukul 12.25 am


Sudah sangat larut saat terdengar sebuah gedoran keras dari arah pintu. Karena terkejut, Vania terbangun dan memeriksa layar intercom, matanya menyipit samar-samar menemukan siluet sang ayah. 'Apa yang dia lakukan di sini? saat larut malam begini?' awalnya Vania ingin berpura-pura tak peduli dan tidak membuka pintu, tapi sekali lagi hantaman keras terdengar dan dengan berat hati Vania membukanya karena takut mengganggu ketenangan tetangga.

__ADS_1


Keputusan yang salah di ambil Vania, karena saat ayahnya masuk, keributan-pun mulai terjadi.


"Apa hakmu melakukan hal itu, hah?" dia mendorong bahu Vania kasar, bau tajam alkohol dalam napasnya. "Apa kau sudah gila?"


"A-apa yang ayah bicarakan?" Vania melangkah mundur saat sang ayah terus menerus menghampirinya.


"Kau masih berani bertanya? dan pura-pura tidak terjadi apa-apa?"


"Ayah, tenang dulu, pelankan su ..."


"Jangan coba mengguruiku jal*ng kecil! "


"Ayah, tolong jangan berteriak, kamu ..." Vania tak sempat melanjutkan ucapannya. Jadi Vania memutuskan untuk masuk ke kamarnya karena itu tempat terjauh dari kamar Zeyn. Vania tak bisa berbuat apa-apa, tak ada yang bisa menghentikan ayahnya dan Vania tak memiliki kekuatan untuk melawan ayahnya. Vania gusar dan memainkan anak jarinya menyalurkan kegelisahannya.


"Sekarang kau berani menipuku! dasar anak tak tahu di untung! kau pikir tidak ada yang memperhatikan? kau pikir tidak ada yang akan tahu? berani-beraninya kau bertemu pria lain saat kau punya suami!" ayah Vania memekik keras saat Vania ingin mencoba mengelak.


"T-tidak se ..." Vania berupaya untuk menjelaskan tapi gagal karena sang ayah tidak mendengarnya, malah lebih parah mengeluarkan amarahnya.


"Apa kau ingin orang lain membuat rumor menjijikkan seperti ini? apa kau ingin merusak rumah tanggamu? apa kau ingin menghancurkanku?" punggung Vania membentur dinding, dengan ketakutan yang menguasai Vania hingga tak mampu bergerak untuk menghindar saat ayahnya melempar sebuah gelas ke arahnya.


Darah mengucur keluar dari tulang pipi sebelah kanan Vania. "Aku tidak akan mengizinkanmu melakukannya! aku bersumpah akan membunuhmu jika kau berani mengulanginya!" sang ayah menarik lengan Vania dan mendorongnya kasar ke lantai. Vania sangat tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya jadi Vania hanya memejamkan mata dan menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan lalu menunggu pukulan tiada ampun.


"Ya, tentu." ujar suara berat itu.

__ADS_1


Vania perlahan menurunkan tangannya dan melihat Zeyn yang memegang tangan ayahnya yang sudah mengarah ke Vania.


"Ini rumahku dan istriku, jadi aku akan mengurusnya, jadi silahkan ayah pergi dan jangan membuat keributan di sini," ucap Zeyn tenang dan tetap tegas.


Kemarahan di wajah ayah Vania berangsur menghilang, digantikan topeng tanpa emosi. Dia menatap hina Vania sekali lagi sebelum melongos pergi. Zeyn mengulurkan tangannya dan membantu Vania untuk bangun.


"Tunggu di sini, aku akan segera kembali," ucap Zeyn dengan suara serak dan masih terdengar tegas sama seperti saat ia berbicara dengan ayah mertuanya. Mungkin karena Zeyn masih sakit.


***


Vania mengambil kotak P3K dari dalam lemari dan membawanya masuk ke kamar mandi untuk melihat luka yang di tinggalkan sang ayah. Vania akui, sang ayah tidak bisa berbuat banyak karena kehadiran Zeyn yang menggagalkan aksinya.


Vania tak bisa menahan rasa sakit, tak hanya di pipi tapi telapak tangannya juga ikut terkena potongan kaca dan tertanam di dalam dagingnya. Vania dengan hati-hati mencoba mengeluarkan pecahan dengan tangannya tapi hanya membuatnya lebih merasa kesakitan.


Air matanya tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang Vania rasakan, berusaha untuk menghirup udara sebelum meraih pinset, lalu menggit bibir bawahnya dan mengeluarkan pecahan kacanya.


Pintu kamar mandi terbuka, jadi Vania segera membalut lukanya asal.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zeyn khawatir.


"A-aku baik-baik saja, jangan khawatir. Lagian tak ada yang terjadi," kata Vania dan menyeka sisa air mata dengan punggung tangannya.


"Tolong jangan lakukan itu lagi," ucap Zeyn sambil meraih tangan Vania. Vania hanya menatapnya dengan ekspresi kebingungan. "Jangan menangis sendirian di kamar mandi, jangan sembunyikan air matamu dariku. Aku suamimu, kamu hanya boleh meluapkan tangisanmu di dalam pelukanku, mengerti?"perintah Zeyn denga suara yang sangat lembut dan sarat akan perhatian.

__ADS_1


Mungkin siapa saja yang mendengarnya akan meleleh saat itu juga tak terkecuali Vania karena kata-katanya memberi sensasi aneh di perut dan matanya. Detik berikutnya Zeyn mendekap Vania dengan lembut, meletakkan kepala Vania di dadanya. "Sekarang kamu bisa menangis sepuasnya, karena aku di sini untukmu." Zeyn membelai lembut rambut istrinya.


"Kamu tak sendiri, Jangan berpura-pura kuat di depanku lagi," ucapnya dan mencium puncak kepala Vania.


__ADS_2