
Zeyn dan Vania menyapa kedua orang tua Zeyn kemudian ikut menyapa para kolega dan rekan bisnis yang hadir di pesta. Ayah Zeyn memaksa Vania untuk ikut bersamanya, mengenalkan Vania kepada semua orang yang hadir sebagai bentuk formalitas karena Vania pertama kali menghadiri acara keluarga Daulyn.
Zeyn sedang berbincang dengan seseorang dan Vania yang masih mengekori Ayah mertuanya, suasana dalam ball room semakin sesak dipenuhi para tamu undangan yang hadir.
Vania benar-benar butuh udara untuk bernapas jadi ia berinisiatif untuk mencari udara segar. Vania keluar dari kerumunan, matanya sibuk mencari sosok Zeyn, tapi tidak ia temukan. Vania ingin ke buffet tapi melihat banyaknya orang Vania mengurungkan niat dan mengambil segelas wine.
Vania duduk dan melihat sekeliling, tidak ada orang yang ia kenal. Vania menghela napas jengah. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya merasa bosan. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan, Vania akhirnya keluar menuju balkon.
Pemandangan malam di Jakarta sangatlah indah, kota yang penuh dengan hiruk pikuk kehidupan dan perasaan tenang dan damai yang ia rasakan dalam satu waktu. Cuacanya yang bagus, hangat dan tak berangin. Vania menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata kemudian tersenyum.
"Ku harap kau tak akan melompat," Vania mendengar suara seorang pria. Ia menoleh ke belakang untuk melihat sosok pria yang baru saja berseru. "Tampan," satu kata yang ada di otak Vania saat melihat pria yang mengenakan setelan jas yang mirip dengan Zeyn.
Pria itu tersenyum, matanya juga indah hampir sama dengan milik Zeyn, kedua tangan didalam saku celananya. So Perfect.
"T-tidak. Aku hanya mengagumi pemandangan di malam hari."
"Aku juga menyukai pemandangan kota saat malam hari, sangat menenangkan," ujarnya dan berdiri di sebelah Vania sambil mengeluarkan tangannya dan memegang pagar pengaman.
"Tapi kenapa kau berdiri di sini melihat pemandangan? seharusnya kau berada di dalam bersama yang lainnya. Bukankah itu adalah alasan mereka datang ke pesta ini?"
"Aku hanya ingin di sini, dan alasan kenapa aku berada di sini? karena aku datang sebagai teman," jawab Vania berbohong. Ia juga tak yakin jika ia harus berkata jujur kalau dia adalah istri Zeyn.
"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak tertarik membuat kontrak bisnis?" tanya Vania mulai berani melihat sosok disebelahnya.
"Aku rasa akan lebih indah jika menikmati pemandangan malam di sini bersamamu," Vania merona dan mengulum bibir untuk menyembunyikan senyumannya.
"Di dalam sangat membosankan, mereka hanya tau uang. Seharusnya pekerjaan dilakukan di tempat kerja, tujuan di adakannya pesta yah, untuk bersenang-senang, benar kan? Pesta seperti ini tidak bisa menghibur sama sekali, aku lebih suka berada di sini bersamamu karena aku yakin kau bisa menghiburku," ucap pria itu melihat ke arah Vania seraya tersenyum.
Matanya membuat Vania terhipnotis, mata indah yang memancarkan kebahagiaan membuat Vania hanya bisa tertegun dan tersipu, tak tahu harus berkata apa.
"Apa kau tidak tahu bahwa mendekati istri orang adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan seseorang?" Vania mendengar suara yang sangat familiar dari arah belakang.
__ADS_1
Vania menelan ludah sebelum berbalik dan melihat Zeyn, Vania ingin mengucapkan sesuatu agar Zeyn tak salah paham dengan apa yang ia lihat, tetapi pria di sebelah Vania sudah lebih dulu berujar.
"Zeck," panggilnya.
"Zeck? Siapa Zeck?" gumam Vania.
"Dery!" sebut Zeyn balik.
Vania dibuat bingung dengan keberadaan dua pria dihadapannya kini, Vania mengutuk dirinya karena lupa menanyakan nama si pria tadi dan berkat Zeyn, Vania akhirnya tahu siapa namanya.
"Aku hanya menemani istrimu dan sedikit menghiburnya dengan obrolan yang jelas tak bisa kau lakukan, dan kau seharunya bersyukur karena berkat diriku istrimu tidak merasa bosan berada di sini," lanjutnya dan menaikkan sebelah alisnya mengompori Zeyn yang mungkin sedang terbakar emosi.
Vania melirik Dery, perasaan gelisah mulai muncul tapi dengan tenang ia menyembunyikannya.
"Dan satu lagi, aku tahu tidak ada yang terikat di antara kalian berdua dan pernikahan kalian hanyalah sesuatu yang tertulis di atas selembar kertas, tak lebih," ucap Dery melanjutkan kalimatnya lalu kembali menatap Vania. "Aku harap bisa bertemu denganmu lagi," ucapnya dan melambaikan tangan.
Vania tersenyum canggung dan mengangguk samar. Dery berjalan lalu berhenti tepat di samping Zeyn dan menepuk lengannya.
Vania kembali memandang Zeyn karena khawatir jikalau pria tadi sudah membuatnya kesal.
"Ayo," ucap Zeyn. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Yang mengejutkan tidak ada nada amarah dalam suaranya, Vania terkesan karena Zeyn benar-benar ahli dalam mengendalikan emosinya.
***
Sepasang suami istri itu sudah duduk di dalam mobil untuk pulang dan Vania tidak bisa berhenti memikirkan perubahan perilaku Zeyn, tindakannya, kata-katanya. Vania terus saja memutar kembali ingatan yang terjadi tadi.
Bagaiman tangan Zeyn yang memeluknya, cara memanggil Vania dengan sebutan istri saat mengenalkan Vania dengan koleganya.
Vania merasa menemukan sesuatu yang baru di diri Zeyn, Vania sangat bahagia dalam waktu yang sesingkat itu membuatnya berpikir bahwa ia merasakan peningkatan harapan, untuk segala sesuatunya mungkin bisa atau akan berbeda mulai sekarang.
__ADS_1
Vania tersenyum dan melirik Zeyn yang berjalan masuk ke dalam rumah. Vania melepas sepatnya dan saat ingin berdiri dan ingin melangkah, Vania terkesiap melihat Zeyn yang menatapnya dalam.
Vania merasakan ada sesuatu yang aneh, wajah Zeyn memancarkan aura kemarahan, Zeyn menghampiri Vania yang membuatnya spontan mundur. Otaknya sudah menerka jika hal buruk pasti akan terjadi.
Beberapa menit yang lalu Zeyn masih bersikap baik padanya dan tidak masuk akal rasanya jika ia akan marah, padahal Vania tidak melakukan kesalahan apapun yang memicu kemarahan Zeyn.
Punggung Vania membentur pintu dan jarak diantara mereka semakin dekat, Zeyn dengan sengaja menghantam pintu dan kedua tangannya menumpuh di kedua sisi kepala Vania. Zeyn membuat Vania terkejut hingga mulutnya terkatup sempurna.
Vania terkejut dengan tindakan Zeyn yang tak terduga, Vania memejamkan mata dan menoleh ke samping. Tidak ada yang terjadi, Vania perlahan membuka matanya dan beradu pandang dengan Zeyn.
"Kau hampir mengacaukan segalanya," ucap Zeyn. "Menurutmu mengapa aku mau menikahimu? Menurutmu kenapa kamu ikut hadir di pesta itu, hah? Itu semua semata-mata untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa aku bertanggung jawab atas istriku dan berusaha agar dapat dipercaya. Dan di sanalah dia, kolega penting yang uangnya sangat kami butuhkan."
Vania di buat melongo dengan apa yang diucapkan Zeyn. "Kami bisa kehilangannya, dia sudah tua sehingga mudah lelah dan kau menghilang entah kemana dan saat dia bertanya tentang istriku, coba tebak? kau tak berada di sana. Kau tak ada saat aku membutuhkanmu. Apakah kau tahu betapa bodohnya aku saat itu?"
"Aku sangat Men ...."
Vania ingin meminta maaf tetapi Zeyn kembali memukul pintu dengan tangannya sekali lagi untuk membuat Vania tetap diam.
"Dan bukan itu saja hal yang terburuk, karena saat aku pergi mencari istriku yang seharusnya ada di sampingku. Coba tebak apa yang dia lakukan? menggoda seorang pria tanpa rasa malu!" nada suara Zeyn meninggi.
"Tapi aku tid ...."
"Kamu tidak apa? kau ingin bilang tidak menggodanya?" Zeyn menundukkan kepalanya mensejajarkan matanya dengan milik Vania. Saat itu pula Vania menyadari betapa sangat dekat wajah mereka.
"kenapa wajahnmu seperti itu? kau tersipu? atau kau sangat menyukai semua bualannya? apakah kau semudah itu? andaikan sedari awal aku tahu bahwa kau hanya jala*ng murahan, aku tidak akan menikahimu."
Ucapan Zeyn kali ini benar-benar menusuk, Vania merasa Zeyn sedang menyuntikkan racun tepat di pembuluh darahnya dan itu menyebar sangat cepat memepengaruhi semua organ tubuh Vania terutama jantung.
Vania bisa merasakan sakitnya. "Tapi ini bukanlah seauatu yang bisa ku batalkan sekarang, aku sangat terkejut karena aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak menjadi wanita murahan. Tapi kau masih melakukannya, bahkan saat aku berada disampingmu. Wah, kau benar sesuatu yang tak bisa ditebak," lanjut Zeyn tersenyum licik.
Vania merasakan kepalanya berdenyut. Ucapan Zeyn sangat menyakitkan, bagaimana bisa Vania melupakan jika Zeyn menikahinya hanya untuk keuntungannya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa bahwasanya Zeyn tidak menaruh perasaan terhadapnya. Bagaimana bisa Vania melupakan semua hal itu dan membebaskan hatinya berdebar saat bersama Zeyn.
__ADS_1
'Dia menipuku, aku lupa jika semua ini hanyalah sebuah kebohongan dan aku sungguh tertipu. Dia memainkan perannya dengan sangat baik sehingga aku merasa segalanya terasa nyata. Saat dia memegang lembut tanganku aku pikir itu tulus dari dalam hatinya tapi aku salah menanggapinya karena semuanya hanya sandiwara dan aku juga bagian yang turut andil dalam sebuah pertunjukan.'