
Vania berpikir jika ia salah paham dengan sikap Zeyn padanya. "Mungkin dia tidak bermaksud menyakitiku, ucapannya kemarin hanya semata-mata karena aku melakukannya dengan baik tapi aku saja yang menanggapinya berlebihan," ucap Vania menyangkal segala pikiran buruknya terhadap suaminya.
Otak Vania yang dipenuhi kata mungkin di tengah aktivitasnya menyiapkan makan malam. Vania masih berusaha untuk membangun chemistry yang baik dengan Zeyn. Vania dengan sepenuh hati membuat makanan yang ia buat agar lebih cantik dan terasa enak.
Sudah jam tujuh dan Zeyn belum juga pulang, Vania masih setia menunggu kedatangan Zeyn di sofa ruang tamu hingga tertidur.
***
Denting suara gesekan dari arah dapur membuat Vania terbangun dari tidurnya. "Suara apa itu?" gumamnya. Vania merasakan bulu kuduknya meremang karena setahunya tidak ada orang selain dirinya di rumah.
Vania mulai berdiri dari sofa dan mengendap-endap berjalan menuju dapur. Matanya membulat melihat sesuatu yang tak ia duga untuk dilihat. Dia Zeynan, sedang berdiri di depan wastafel, mencuci piring dan gelas lalu meletakkannya di dalam lemari.
Mata Vania beralih ke meja makan yang tadinya terisi beberapa menu makanan dan alhasil semuanya sudah tak ada di tempatnya. 'Apa Zeyn memakan semuanya?' sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman samar.
"Ohh, apa kegiatanku membangunkanmu?"
Jika harus berkata jujur maka Vania akan mengatakan 'Iya', tapi sebelum itu terjadi Vania bahkan tak punya waktu untuk menjawab karena Zeyn melanjutkan ucapanya.
"Tapi syukurlah kamu sudah bangun, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu."
"Tamu? siapa?" mata Vania membelalak saking terkejut dan perasaan bahagia berbaur menjadi satu.
"Aku mengundang teman-temanku untuk datang ke rumah."
***
Bel pintu berbunyi dan Zeyn membuka pintu dan dari belakang Vania mengekor untuk menyambut sang tamu, menampakkan empat pria tampan berdiri tepat di hadapan Vania yang sedang cengo disuguhkan keindahan duniawi. 'ternyata pria berparas tampan juga memiliki teman yang sama tampannya,' puji Vania dalam hati.
"Hay, kita ketemu lagi," ucap salah satu dari empat peia tampan itu.
"Yudha," kata Vania dengan senyum dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
__ADS_1
"Kalian sudah kenal?" tanya Zeyn bingung.
"Kebetulan kami pernah bertemu di jalan dan aku membantunya membawa belanjaanya," jelas Yudha.
"Temui yang lain juga," perintah Zeyn pada Vania.
"Dia Brian," tunjuk Zeyn pada pria berpostur tubuh tegap dengan dimples di kedua sisi pipinya yang membuatnya terlihat lucu dan manis. "Ini Kevin," tunjuk Zeyn pada -pria tinggi menjulang, "Dan ini Aryan." ucap Zeyn selesai memperkenalkan teman-temannya.
"Aku hampir lupa! Dery menitipkan sesuatu untuk diberikan padamu," kata Aryan dan mata Vania spontan melirik bagaiman reaksi Zeyn mendengar nama itu disebut. Zeyn mendengus tak suka saat Aryan menyodorkan sebuah gantungan anak ayam berwarna kuning. Vania tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum.
"Lucunya! Terima kasih," ucap Vania memandangi gantungan yang ada di tangannya. Tak bisa di pungkiri benda itu benar-benar menggemaskan di matanya.
"Ini untukmu Zeyn," ujar Aryan cengengesan dan menyodorkan dua kantong berisi minuman bersoda dan makanan.
***
"Apa kalian seumuran?" tanya Vania mulai penasaran dengan pria-pria tampan di depannya.
"Bagaimana denganmu." tanya Aryan.
"Aku 25." jawab Vania
"Dan aku lahir di inggris, besar di China dan sekarang tinggal di indonesia," lanjut Kevin.
"Sebaiknya jangan menjawab sebelum di tanya," ketus Yudha mendengus kesal dengan ulah temannya itu. Vania tersenyum menanggapi tingkah pria tampan yang pecicilan.
"selamat datang di rumah kami," ucap Vania dalam bahasa mandarin.
"Kamu bisa berbahasa mandarin?" tanya Kevin juga berbahasa mandarin.
"Iya, orang tuaku meminta agar aku mempelajarinya."
__ADS_1
"Tolong hentikan obrolan tak berdasar ini." keluh Zeyn.
"Zeck, kau kenapa?" ucapan Kevin membuat semua mata tertuju pada Zeyn seorang.
Nama Zeck yang tak pernah ia tahu jika nama itu adalah nama panggilan Zeyn. Vania menyeruput minuman kaleng yang ada di tangannya. Pikirannya mengembara kemana-mana karena ia tak begitu mengetahui banyak hal tentang Zeyn, suaminya. 'Apa karena kami hidup dalam ikatan pernikahan yang dipenuhi kepalsuan, aku baru sadar akan hal itu," lirih Vania dalam hati.
"Bagaimana kalau kau memanggilku kakak saja bagaimana?" ucapan Brian membuat Vania menoleh bukan ke asal suara tapi ke arah Zeyn yang memuntahkan minumannya.
"Jangan lebay," kata Zeyn mengusap cairan di sudut bibirnya, tak ada tanggapan malah di abaikan.
"Karena kami saudara tak sedarah Zeyn dan kau di haruskan memanggil kami kakak, agar terdengar akrab," tambah Brian tersenyum.
"Bai ...."
"Mau ku ambilkan minum?" ujar Zeyn menyela ucapan Vania seraya beranjak menuju dapur.
Canda tawa menyebar keseluruh sudut ruangan, Kevin memang ahli memperagakan sesuatu mungkin karena pria itu seorang model. Vania merasakan rahangnya berdenyut karena sakit efek tertawa berlebihan.
Kepribadian yang baik, terbuka dan ramah lingkungan membuat Vania kagum tapi masalahnya kenapa mereka punya teman seperti Zeyn, sosok manusia berhati dingin yang mengalahkan dinginnya kulkas 2 pintu di rumahnya.
30 menit berlalu dan suasana masih sama. Entah mengapa, di antara gelak tawa bahagia itu, ada satu suara yang menarik perhatian Vania membuatnya terheran-heran mengetahui asal suara itu dari Zeyn.
Vania tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Zeynan Shadiq Daulyn tertawa, bukan seringaian atau tawa seadanya yang biasa ia lakukan di depan orang tuanya. Kali ini dia tertawa sumringah, terdengar tulus. Pertama kali Vania melihat Zeyn tertawa kegirangan dan menjadi pemandangan indah nan langka.
Senyuman menawan, menunjukkan deretan giginya, mata berbinar dan rambut yang ikut berkilauan terpapar cahaya lampu membuatnya memanjakan setiap mata yang melihatnya. Mengharapkan sosoknya yang bisa Vania peluk saat sedang menonton drama romantis, mendambakan sosok pria sejati, yang akan menjadi ayah untuk anak-anaknya kelak, menjaga Vania dan membuat Vania merasa nyaman saat berada di sampingnya. Pria yang selalu Vania harapkan dan memenuhi semua keinginannya hanyalah Zeynan seorang.
Entah mengapa Vania juga ikut tersenyum samar. 'Aku tak punya pilihan lain, hanya dirimu yang mampu membuatku jatuh cinta Zeyn, bagaiman menurutmu? tidak akan membuatku menjadi kriminal jika aku menyukaimu kan?' gumam Vania dalam hati.
Mungkin beberapa dari mereka punya kepribadian berbeda mengetahui sikap satu sama lain, tapi Vania berbeda. Vania mengetahui apa yang teman-teman Zeyn tak ketahui.
'Tolong jangan jadi sosok Zeynan Shadiq Daulyn lagi di depanku, tapi jadilah suami yang mencintai istrinya,' harap Vania yang membuat mata Vania berkaca-kaca.
__ADS_1