Suami Egois

Suami Egois
Rollercoaster


__ADS_3

Setelah menandatangani kontrak, tak lantas membuat pikirannya lega justru malah sebaliknya. Bagi Vania memiliki perasaan terhadap Zeyn bagaikan berada di dalam sebuah labirin. Setiap langkah yang ingin ia tempuh dipenuhi keraguan, kalau-pun bisa pasti Vania akan kembali ketitik semula.


Sebelum menikah, Vania sudah belajar bagaimana menyembunyikan emosinya dengan baik, Vania tidak punya pilihan lain karena semuanya di bawah kendali orang tuanya. Jika ada kesalahan sekecil apapun itu, ayah Vania akan menegur dibarengi sebuah pukulan. Bagi sang ayah, itulah salah satu cara mendidik Vania dalam berperilaku.


Setelah bertahun-tahun berada dalam tekanan fisik dan mental, memendam segala kesakitan yang ia alami, Vania akhirnya berada dalam titik terendah dirinya, ia sudah lelah. Lelah dengan segalanya. Tubuhnya seakan kehilangan perasaan yang dimiliki manusia. Vania adalah boneka tak bernyawa hanya di anggap sebatas pajangan oleh kedua orang tuanya.


"Aku tidak ingin bertingkah seperti orang bodoh lagi, aku bosan menjadi aktris dalam drama yang memiliki kemampuan menunjukkan senyum bahagia, membuat semua orang memujiku, berpikir jika aku wanita cerdas dan memiliki segalanya, nyatanya aku tidak pernah merasakan apa-apa di sini," ujarnya dengan tangan yang memukul dadanya, berusaha untuk membangunkan perasaan yang terjebak di dalam sana.


Semenjak bersama Zeyn seakan membuktikan jika persepsinya selama ini ternyata salah. Laksana figur perasaan tak pernah meninggalkan Vania, mereka tersembunyi dengan baik di suatu tempat dan entah mengapa bertemu dengan Zeyn seolah-olah membangunkannya. Membawa mereka kembali ke kehidupan Vania. Figur itu menghidupkan sosok manusia dalam diri Vania.


Harapan, kebahagiaan terasa menyatu dalam diri Vania saat bersama Zeyn, layaknya menaiki rollercoaster dengan penuh semangat dan disaat bersamaan perasaan takut juga muncul. Bahkan saat sikap Zeyn membuatnya terluka, Vania masih tetap sabar dan sekarang segalanya sudah terjawab, bahwasanya Zeyn yang awalnya ia anggap sebagai penyelamat yang akan membawanya keluar dari lingkaran kesengsaraan. Lagi-lagi itu hanyalah sebuah angan-angan belaka.


Vania sangat berterima kasih kepada Zeyn yang telah hadir dan membuat Vania sadar jika jauh di lubuk hatinya yang terdalam ternyata raganya juga di bekali kata perasaan.


"Yang terjadi saat ini, tidak sepenuhnya salah Zeyn. Aku terluka, mungkin karena aku yang menanggapinya berlebihan, karena sikapku yang terlalu emosional."


***


Club


Pukul 23,15 pm


"Jadi, bagaimana kabar Vania?" tanya Dery yang muncul entah dari mana, datang-datang dan melayangkan pertanyaan.


"Baik, dia baik-baik saja dan aku sudah melakukan semua yang pernah kau katakan," ujar Zeyn membuat Dery terkesiap.

__ADS_1


"M-maksudnya?" Yudha yang awalnya duduk memunggungi Zeyn dan Dery, kini berbalik seakan tertarik dengan topik pembicaraan yang Dery angkat.


"Maksudku kontrak," terlihat dari semua wajah yang ada di dalam ruang itu memiliki ekspresi mempertanyakan, semuanya fokus menatap Zeyn.


"Perceraian!"


"Apa?" ujar mereka serempak.


"Kontrak pernikahan apa?"


"Perceraian?" Dery tampaknya orang yang paling terkejut di antara orang-orang itu.


"Ekspresimu kenapa begitu Der? bukankah kau yang memberiku saran itu?"


"Hey, apa yang kau bicarakan? aku tidak pernah mengatakan apapun terlebih itu mengenai kontrak."


"Woah, sejak kapan seorang Zeynan mendengarkan ucapanku?" Dery tersenyum dan Zeyn memukul lengannya.


Di dalam hati seorang Zeyn, mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya melakukan apa yang Dery ucapkan.


"Aku sudah meminta pendapat Bobby tentang ini, karena Bobby sudah banyak menangani hal-hal seperti ini, semuanya akan berjalan sesuai hukum yang berlaku, aku akan membiayai hidupnya, memberikan apapun yang dia inginkan dengan syarat Vania harus melakukan tugasnya sebagai istri yang baik di depan keluarga dan kolega perusahaan. Mengesampingkan urusan perasaan, semuanya murni karena bisnis."


Ucapan Zeyn membuat semua pasang mata memandangnya dengan tatapan heran, tak menyangka menyatu menjadi satu dan menimbulkan gelengan sinkron dari para teman-temannya.


"Aku kira Zeyn tidak punya perasaan, ternyata tak punya hati juga rupanya," cibir Aryan.

__ADS_1


"Kau mempermalukannya," Dery ikut menimpali, Aryan dan Dery memang sama brengseknya dengan Zeyn tapi setidaknya mereka berdua masih punya hati dan mereka sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Zeyn.


"Dery benar," Kevin akhirnya berujar.


"Aku juga tidak tahu dari mana kau dapat ide bodoh seperti itu, hal yang kutakutkan sudah terjadi. Kurasa seorang Zeynan belum tahu banyak tentang wanita, meski kau sudah sering tidur dengan wanita ****** di luar sana, tapi sikapmu ini pantas di beri predikat brengsek," entah mengapa Kevin ikut terbeluk emosi.


Dery berdecak dan menertawakan Zeyn. "Zeyn, kamu sudah kehilangan arah," tambah Dery.


Kedua tangannya memegang kepalanya yang berdenyut hebat, ada sesuatu yang tak bisa ia pecahkan dan Zeyn masih bingun dan sibuk mencari hal itu.


"Jadi? Bagaimana reaksi Vania?" tanya aryan lagi.


"Vania meninggalkanku."


"Itu pantas kau dapatkan brother!"


"Bagaiman bisa menyakiti hati wanita sangat mudah bagimu Zeyn?" kali ini Yudha yang ikut menimpali, raut wajahnya tampak frustasi. raut wajah yang harusnya lebih cocok berada di wajah Zeyn.


"Kau sudah tidak waras, Zeyn! ini keterlaluan. Vania istrimu, dia wanita dan dia punya perasaan. Tak tahu kah kau jika dialah orang yang paling terluka menerima perlakuan buruk dari suami yang seharusnya melindungi dan menjaganya," geram Aryan


"Itu bukan salahku. Aku juga tidak melakukan hal yang salah! kenapa aku harus peduli dengannya?" balas Zeyn tak kalah ketus.


Yudha mendorong meja lalu berdiri dengan kepalan tangan yang mengepal sempurna siap menonjok Zeyn yang sedang minum segelas bir tapi niatnya digagalkan oleh Aryan yang menarik tangan Yudha agar duduk kembali.


"Ucapanmu tidak salah, tapi setidaknya kau harus menghormatinya dan memperlakukannya dengan baik brengsek," teriak Yudha emosi.

__ADS_1


Zeyn tidak akan menyangkal, tapi jauh di lubuk hatinya ia juga membenarkan ucapan Yudha. 'Kuakui, aku tak seharusnya berbuat seperti itu tapi aku tak bisa menahannya saat melihat Vania. Terlebih saat memikirkan aku terikat dengannya sudah membuatku berada dalam kandang sempit. Terjebak dengan orang yang tidak kukenal dan harus hidup bersamanya dan aku salah karena menyalahkan semua yang terjadi, padahal itu bukan salahnya,' gumam Zeyn dalam hati.


"Cobalah minta maaf pada Vania," setelah cukup lama diam, Brian akhirnya berujar memberi saran dan menjadi penengah dalam suasana yang kian memanas. Zeyn mengangguk menanggapi.


__ADS_2