
Cukup lama Vania diam mencerna setiap kata yang di keluarkan Selly, walau matanya tertuju pada ekspresi wajah Rania yang duduk tepat di depannya, tingkahnya yang mencurigakan, setiap ucapannya seakan-akan ia sudah memprediksi segala sesuatunya.
Akhirnya Vania tanpa ragu bertanya.
"Aku harap kamu akan jujur Ran! Apakah semua yang kau ucapkan padaku tempo hari dan hari ini hanyalah sebuah kebetulan karena kamu menganggapku sebagai teman atau ada maksud lain?"
Rania menatap Vania heran mendengar pertanyaan Vania yang mengarah ke curiga.
"Katakan dengan jujur, apakah ini semua murni hanyalah sebuah kebetulan atau kebetulan yang di sengaja?”
“Hey! Kamu bicara apa sih?”
“Katakan yang sejujurnya, aku tidak akan marah. Aku hanya ingin tahu. Sedari awal kamulah yang memulai topik tentang Zeyn dan sekarang kita bertemu di sini tak lain hanya untuk makan tapi kamu justru membahas sesuatu yang tidak ingin kudengar,” Vania mengatur napasnya yang mulai memburu.
"Kenapa mengajakku datang kemari? apa untuk melihat pertemuan suamiku dengan koleganya?" Vania jelas marah dengan rentetan ucapan Rania terhadapnya, ditambah lagi kehadiran Zeyn dengan seorang wanita.
“Aku tidak buta Ran! aku juga tak sebodoh yang kamu pikirkan. Memang benar, aku tidak berpengalaman dalam hal pertemanan. Tapi aku bisa dengan mudah mengenali saat orang tengah berpura-pura. Jadi semua ini hanya sebuah kebetulan atau kamu dengan sengaja merencanakan semua ini?”
“Ini ... a ... aku hanya ....” Rania mulai gelagapan, serasa mati kutu dengan tingkahnya sendiri yang kepergok karena kebohongannya.
“Jawab aku,” nada suara Vania meninggi seakan menuntut jawaban.
“Baiklah! ... aku tahu segalanya tentang Zeyn. Aku juga tahu dengan siapa ia nantinya bertemu. Aku juga yang merencanakan semuanya, puas?” Rania mengakui segalanya, yang juga membuat Vania sedikit merasa tenang walau hanya sesaat.
“Kenapa Ran? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?”
Awalnya Vania marah, tapi sekarang ia sudah tak berdaya dan hampir menangis. Beberapa menit yang lalu ia masih tersenyum bahagia tapi sekarang seseorang telah menghancurkannya. Sekali lagi harapan Vania hancur begitu saja, dengan satu aksi heroik yang dibuat Rania. Miris.
“Aku hanya mencoba membangunkanmu dari mimpimu itu. Kamu sangat keras kepala dalam meyakinkan dirimu sendiri. Jika setiap hal kecil yang dilakukan Zeyn terhadapmu kamu menganggapnya tanda kepedulian jadi aku ingin menunjukkan sesuatu yang berlawanan. Memberimu sesuatu yang pantas untuk kau pikirkan bukan sekedar ingin tahu,” secara tak sengaja Rania mulai meninggikan nada suaranya yang membuat sebagian pengunjung mengalihkan pandangannya menatap tiga wanita yang sedang beradu pendapat.
__ADS_1
“Aku tidak ingin kau menjadi mainan Zeyn yang mencoba menipumu, tapi tidak kah kau sadar jika Zeyn memanfaatkan keberadaanmu untuk tujuannya sendiri? Kau berhak bahagia Van. Dia tidak pantas untukmu.”
“Aku mengerti maksudmu, Ran. Tapi aku tidak akan menghabiskan waktuku hanya untuk berdebat dengannya hanya karena ia makan malam dengan investornya. Terlepas bagaimana wajah investor itu. Itu hal konyol dan ku rasa aku juga tidak punya nyali besar untuk melakukan hal itu.”
“Aku tidak menyuruhmu untuk melabraknya, kamu hanya perlu bertanya siapa wanita yang ia temui itu.”
***
Zeyn sedang menikmati makan malam dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah kolega perusahaannya. Dia sepakat untuk datang dan bertemu karena permintaan wanita yang bernama Rosi itu.
Pertemuan keduanya, murni hanya membahas soal pekerjaan, berbeda jauh dengan apa yang di tudingkan Rania terhadap Vania tentang Zeyn.
Zeyn sudah berusaha untuk mengundang Rosi untuk datang ke rumahnya dan bertemu istrinya. Tapi Rosi menolak karena setelah pertemuannya dengan Zeyn, ia harus berangkat ke singapura.
Jadi semua yang Rania rencanakan sejauh ini berhasil, yakni menghasut Vania yang kini tengah di landa kebimbangan. Vania hanya mampu memandang wajah suaminya dari sudut restoran. Entah ia harus percaya dengan siapa.
***
Yang ada di pikiran Vania tak lain hanya perasaan iri dengan cara Zeyn berbicara akrab, tertawa dan tersenyum dengan wanita bernama Rosi. Hal yang sangat jarang Vania lakukan, hanya dengan melihatnya seperti itu sudah membuat Vania merasakan sakit yang artinya Zeyn lebih bahagia dengan wanita lain. Apakah ada harapan di antara Zeyn dan Vania suatu hari nanti?
Jika bukan karena Rania, apakah Vania akan mempunyai pemikiran seperti itu terhadap Zeyn? Akankah Vania bahagia jika memiliki banyak waktu intim bersama suaminya? satu yang pasti, Vania hanya berharap sisi romantis dari sosok Zeynan.
Harapan yang di impikan Vania sudah jelas tampak bodoh di mata Rania.
“Apakah aku harus hidup seperti ini? Hanya terus berharap akan hal-hal yang belum tentu terjadi?” lirih Vania yang menaruh gelas di atas nekas yang belum sempat ia minum.
Faktanya, setelah semua ucapan Rania saat di restoran adalah racun, yang membunuhnya perlahan dari dalam.
“Aku merindukanmu,” bisik Zeyn seketika di telinga Vania, sebelum memeluk lalu mencium pundak dan pipi istrinya.
__ADS_1
Rasa menggigil menjalar hingga ke tulang-tulang punggung Vania karena deru napas hangat Zeyn yang menerpa permukaan kulitnya.
Sekali lagi Vania tenggelam, tenggelam di lautan pikiran gelapnya sendiri, menyisakan ekspresi kosong di wajahnya. Disaat Zeyn sudah melangkah lebih jauh dengan tindakan dan aksinya tanpa memperhatikan apapun.
Satu yang Vania sadari, betapa anehnya sebuah kata Cinta, saat kau memberi keleluasaan terhadap orang lain agar bersenang-senang bersamamu, saat kau tidak menginginkannya sebanyak ia menginginkanmu.
Vania terlalu lemah untuk mendorong tubuh Zeyn agar menjauh, atau terlalu pasrah dan membiarkan segalanya terjadi.
***
Zeyn tersenyum dan mengecup singkat bibir istrinya sebelum berlalu ke kamar mandi, menyisakan Vania dengan tumpukan pikiran-pikiran anehnya.
'Kenapa kau lakukan ini padaku, Zeyn?'
Apakah mencintai seseorang yang tidak membalas cintamu sangatlah menyakitkan? Bagaikan seseorang sedang meremukkan hatimu di tangannya sembari menancapkan paku ke dalamnya.
Vania tahu mengapa dia masih membiarkan Zeyn melakukannya. Karena jauh di lubuk hati seorang Vania, ia hanya berharap sekejap saja Zeyn memeluknya dengan penuh kasih bukan dengan nafsu.
Dan momentum ini-pun datang, disaat semuanya menjadi lebih buruk dan rumit ketika Vania hanya bisa berbaring bagaikan sepotong kayu yang rapuh, menunggu semuanya terjadi dan berakhir secepat mungkin, hanya bisa menatap langit-langit kamar sepanjang waktu, ketika Zeyn mencium keningnya setelah selesai dan bulir air mata keluar dari pelupuknya.
Tanpa merasakan apapun, Vania hanya bisa menangis. Mengerang dan meneriakkan sesuatu di dalam gumpalan keputusasaan.
Vania yakin itu adalah akhir dari segalanya. Vania sudah tidak tahan lagi dan kembali menjadi sebuah boneka.
......###......
......jika tetap berdiri dan merasakan sakit, alangkah baiknya berjalan pergi meninggalkan sesuatu yang tak pasti.......
...BERCERAI adalah pilihan terbaik 😭...
__ADS_1