Suami Egois

Suami Egois
Pertahanan Yang Mulai Goyah


__ADS_3

Menghabiskan waktu bersama Yudha membuat Vania merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Perasaan bebas dari segala kekhawatiran, kebencian, pikiran negatif yang selalu mengganggunya. Hidup di bawah skenario yang orang tuanya mainkan lalu masuk kedalam hidup Zeyn, si penyiksa.


Vania sudah lelah untuk percaya jika ada orang yang baik hidup di dunia ini. Tapi kehadiran Yudha menepis asumsi yang selama ini Vania yakini.


***


Masih dengan mata yang belum terbuka sempurna, Vania berjalan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa menjanggal perutnya, nyatanya tak ada apa-apa di meja makan karena dia yang belum memasak, akhirnya pilihannya jatuh pada sebotol jus tomat yang ada di dalam kulkas.


"Ekhm."


Suara deheman terdengar dari arah belakang, Vania tersedak jus dan detak jantungnya berdebar. Vania berbalik dan menemukan Zeyn berdiri menghadapnya, mata Vania melirik jam yang menunjukkan pukul 9 am. Vania tidak menyangka jika Zeyn akan ada di rumah, karena biasanya Zeyn berangkat jam delapan pagi.


"Ekhm," Zeyn lagi-lagi berdehem.


Zeyn berpindah posisi menjadi duduk di depan meja makan, ia memalingkan wajahnya membuat Vania bingun sendiri.


"Hm ... Ba-bajumu," ucapnya, menaikkan kepalanya sedikit dan menatap Vania dari atas kepala hingga kaki.


Vania terkesiap menyadari sesuatu, Zeyn tak melihat Vania karena malu dengan piyama yang dikenakan istrinya, celana yang cukup pendek dan mengekspos bagian atas lututnya. Sesuatu yang belum pernah Zeyn lihat dari wanita yang menjadi istrinya itu.


Zeynan orang pertama melihat sebagian besar tubuh Vania, matanya membulat, tangannya menurunkan celana yang ia kenakan. Pipi serta sekujur tubuhnya memanas. Zeyn si pria sejati ternyata bisa menjaga pandangannya.


Vania meletakkan gelas yang masih ia pegang ke wastafel dan berlari kecil menuju kamarnya. Sedangkan Zeyn tengah menahan napasnya dan baru menghembuskannya saat melihat Vania masuk ke kamarnya.


"Ada apa dengan dadaku? aku harus ke dokter memeriksakan jantungku. Kenapa belakangan ini debarannya terasa tak normal?" gumam Zeyn dengan pikiran bodohnya.


Kemelut yang terjadi antara Zeyn dan Vania semakin lekat. Di dalam kamar, Vania tengah bergelut dengan otaknya memikirkan cara menginflementasikan tindakannya saat bertemu dengan Zeyn. Pikiran tentang bagaimana cara Zeyn memperlakukannya, menghancurkan hatinya. 'Aku harus kuat.' ujar Vania menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Masih pukul 6.15 PM dan Zeyn sudah pulang kerumah, tidak seperti biasanya pria itu akan pulang secepat ini.


"Tidak ada makan malam?" tanya Zeyn


Vania merasakan tangannya gemetar di sisi sofa, mencoba mengatur napasnya untuk menenangkan dirinya.


"Apa kau tidak ingin memasak malam ini?" tanya Zeyn lagi.


"Aku tidak akan repot-repot untuk membuatnya untukmu, karena ku tahu kau tidak memakannya," ketus Vania datar.


"Sekarang, aku ingin makan! jadi buatlah," perintah Zeyn.


Tidak ada jalan lain selain menjalankan perintah sang suami, karena Vania yang sudah berdiri di depan kompor dan memasak nasi omlet. Zeyn sudah duduk di meja makan menunggu makanannya, lalu datang-lah Vania menyajikan satu porsi nasi omlet tadi. Zeyn mendongak dengan wajah kebingungan.


"Aku tidak makan, aku sudah kenyang."


Vania ingin melangkah pergi meninggalkan meja makan dan melewati Zeyn tapi tiba-tiba Vania merasakan sesuatu yang hangat dan tekanan di pergelangan tangannya. Vania berhenti lalu melirik tangannya dan itu ulah Zeyn yang dengan lembut memegang tangan Vania.


"Makan bersamaku."


Hanya dua kata sederhana yang mampu membuat jiwa Vania jungkir balik, tapi Vania masih setia mengawetkan ekspresi datarnya. Sepak terjang Zeyn yang begitu manis, mengambil piring dan membagi nasi omlet tadi menjadi dua porsi. Tatapan Vania masih tetap datar dan mulai makan bersamanya tanpa ada suara.


Hanya keheningan yang tercipta yang mengiringi kedua makhluk yang sedang berganti peran itu.


Zeyn juga masih tetap diam tak mengatakan apapun atau sekedar memulai topik pembicaraan. Karena Vania beberapa kali mendapati Zeyn yang mencuri-curi pandang ke arahnya.

__ADS_1


Namun keheningan yang tercipta menjadi keuntungan tersendiri bagi Vania untuk tidak terlibat percakapan antara dirinya dan Zeyn. 'Aku curiga, jika perilaku manisnya ini mengandung sebuah tujuan tapi bukan tujuan baik. Aku tidak boleh lumer begitu saja," ujarnya, berusaha menguatkan hatinya yang sepertinya sebentar lagi akan goyah.


Vania membereskan piring kotor dan membersihkan meja makan dan satu-satunya hal yang membuat Vania terheran-heran karena Zeyn masih tetep duduk tak ada niatan untuk beranjak, mengamati apa yang dilakukan Vania.


Vania tak ambil pusing malah menyibukkan diri mencuci piring kotor yang ada di wastafel, tapi ketakutan Vania sedikit meningkat, karena detik berikutnya Vania merasakan langkah kaki berjalan semakin dekat dan otak Vania terlalu lumpuh untuk menebak hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


Debaran jantungnya yang semakin lama semakin meningkat, Zeyn sangat dekat sehingga gerakan sekecil apa pun bisa Vania rasakan. Vania membeku, matanya bahkan tak berkedip.


Tangan Zeyn memegang pinggang Vania lalu mengambil alih piring dan spons yang di pegang Vania. Bak adegan drama pengantin baru yang selalu Vania impikan, adegan romantis dan penuh cinta.


Pertahanan Vania mulai goyah, berharap Zeyn akan menunjukkan perasaannya dan membuat segalanya lebih baik, tetapi raganya meronta, meminta untuk segera melepaskan diri dari dekapan Zeyn selamanya.


Wajah Zeyn semakin dekat dan deru napas di lekuk leher Vania juga semakin membuat Vania menggigil, matanya perlahan berkedip bagai slow motion saking gugupnya. Dada bidang Zeyn mentok menyentuh punggung Vania, bibir Zeyn menyentuh permukaan kulit leher Vania dan entah mengapa membuat bulu kuduk Vania seketika meremang.


Vania memejamkan mata, menggigit pelan bibir bawahnya, tangannya mencengkeram tepi wastafel. Vania benar-benar kehilangan kesadarannya. Berulang kali Zeyn mengecup Leher lalu naik ke pipi yang mulai merona milik sang istri. Rasa dingin kini menembus hingga ketulang-tulang saat merasakan bibir Zeyn tertarik membentuk senyuman.


Zeyn kembali mengecup sudut mata milik Vania dan memberi sensasi berbeda dirasakan Vania membuat Zeyn dengan gerakan lembut bersemangat untuk melakukannya lagi dan lagi.


Vania tersadar dan membuka matanya yang sudah memerah menahan air mata. 'Dia hanya memperdayaku,' batin Vania.


Vania menutup matanya dan satu butiran air mata akhirnya lolos dari pelupuknya.


Sedangkan Zeyn sangat menyukai aktivitasnya sehingga membuatnya tak bisa menahan diri, tujuan utamanya hanya ingin mengusik Vania, tapi membuatnya tidak ingin berhenti karena aroma tubuh Vania yang manis dan kulitnya yang lembut menjadi candu tersendiri.


'Aku hanya ingin memeluknya, menciumnya,' itulah anggapan yang memenuhi otak Zeyn.


'Aku hanya ingin tahu bagaimana ra ...' pikir Zeyn dan memandang wajah Vania. Tetapi apa yang di lihat Zeyn melengser jauh dari imajinasinya.

__ADS_1


"Tolong ... Zeyn ... berhenti." lirih Vania masih memejamkan matanya dan air mata yang mulai membanjiri pipinya.


__ADS_2