Suami Egois

Suami Egois
Awal Pembalasan


__ADS_3

Pribahasa mengatakan jika hari baru adalah awal yang baru pula. Jadi Vania merealisasikannya hari ini, memulai segalanya dengan dirinya yang berbeda. Lebih kuat, kebal, terhadap rasa sakit, ancaman, kata-kata manis, senyum lembut, wajah tampan. Vania mendedikasi hidupnya dengan menghindari segalanya yang menyangkut tentang Zeyn.


Vania akan kembali ke dirinya yang dulu menjadi sebuah boneka tanpa ekspresi dan emosi. Apa itu ide yang bagus? apa akan berdampak baik untuk kedepannya? akankah itu berhasil? tapi Vania harus mencobanya, terlebih Zeyn yang tak mencintainya.


"Aku akan melakukan apa yang ia lakukan dan bertindak sama seperti yang ia lakukan padaku sebelumnya, aku hanya perlu menujukan performaku jika perlu. Tidak ada sarapan, tidak ada makan malam dan tak ada lagi orang bodoh yang menuggu kedatangannya."


Vania berusaha sebisa mingkin untuk menghindar, berpura-pura tidur saat Zeyn pulang dari kantor atau sengaja keluar rumah. Tidak melakukan rutinitas wajibnya saat pagi hari hanya untuk memeriksa kamar Zeyn, memanaskan air di bath tub, merapikan kamar Zeyn, semuanya sudah tidak dilakukan Vania beberapa hari terakhir.


Vania sudah yakin untuk menjalani hidupnya sebagai orang yang sibuk dengan aktivitas barunya, menjalani kursus menjahit setidaknya akan menjadi kewajibannya untuk kedepannya dan di sore hari ia akan bekerja paruh waktu di toserba.


***


Zeyn bertindak acuh saat pintu kamar Vania terbuka, ia berusaha mengalihkan perhatiannya tapi tetap saja tak bisa.


"Mau kemana kau?"


Langkah Vania terhenti lalu berbalik ke arah Zeyn yang sedang duduk di sofa dan beberapa kaleng minuman beralkohol bertebaran di atas meja.


"Aku ingin keluar," jawab Vania singkat


"Aku tahu itu. Aku bertanya kemana kau akan pergi?"


Vania menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya, menahan agar suaranya tak serak, tetap tegas dan tenang menghadapi manusia seperti Zeyn.


"Aku sudah bilang, kalau aku ingin keluar."


Pencahayaan di ruang tamu memang sengaja di redupkan oleh Zeyn, tapi Vania sadar hanya mendengar suara Zeyn, ia sudah tahu kalau pria itu sedang marah.


"Jangan coba membantah, kau tidak boleh kemana-mana."

__ADS_1


Entah mengapa seringaian muncul di wajah cantik Vania, ia sama sekali mengabaikan ucapan Zeyn. Vania dengan santai memasang sepatu dan cardigannya. Tetapi samar-samar suara langkah mendekat kearah Vania.


"Kamu tidak boleh keluar."


Situasi seperti ini membuat Vania gugup dan bersusah payah menelan salivanya. Vania takut jika Zeyn akan menahannya untuk tidak pergi. Padahal Vania ingin menghindari Zeyn.


'Kenapa ia harus menahanku? seharusnya ia pura-para tak melihatku saja, dengan begitu kami tak saling bicara. Kenapa harus sekarang? di saat aku ingin keluar dan bertemu dengan Yudha,' batin Vania.


"Apa pedulimu? kau tidak punya hak untuk melarangku," ketus Vania.


Zeyn terkejut dengan ucapan Vania, Zeyn tidak menyangka Vania akan marah, bahkan mulutnya terkatup dan ekspresinya berubah. Zeyn membentur kan tangannya ke dinding.


"Aku suamimu dan kau harus patuhi semua ucapanku," murka Zeyn memegang tangan Vania.


Vania merasakan cengkraman tangan Zeyn di pergelangan tangannya yang membuat dadanya terasa sesak. Vania sangat ingin menarik tangannya.


"Kau bukan suamiku. Maaf! tapi aku tak punya niatan untuk mendengarkanmu!" balas Vania mendelik tajam dan cengkraman Zeyn perlahan mengendur.


"Bukan ini yang kuharapkan, apa maksud dari ucapannya? ini mengejutkanku tapi ku akui semua yang terucap dari mulutnya, benar adanya," gumam Zeyn.


"Arghh!"


Zeyn mengusap rambutnya kasar dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Ucapan Yudha beberapa hari yang lalu membuat Zeyn menyadari sesuatu dan entah mengapa Zeyn sangat ingin meluruskan kekacauan yang ia buat sendiri. Zeyn kehilangan arah dan tujuan, maksud dari perilakunya barusan semata-mata ingin berbicara dengan Vania. Tapi tindakannya yang salah.


Zeyn mengutuk dirinya yang selalu terbeluk emosi saat terlibat pembicaraan dengan Vania, Zeyn bahkan sudah mengesampingkan egonya dengan berusaha menemui Vania saat mereka tak sengaja berpapasan. Tapi Vania-lah yang menghindar.


"Apa karena aku di bawah pengaruh alkohol hingga membuatku se agresif ini saat bertindak?" keluh Zeyn.

__ADS_1


"Sial! Aku harus berhenti mendengarkan ocehan Yudha. Dia hanya membuatku tambah bersalah sementara aku tak melakukan kesalahan apa pun. Aku tidak bertindak kasar padanya jadi mengapa aku harus repot-repot? Kontrak pernikahan juga tidak ada masalah bagi kami berdua, seharusnya dia yang berterima kasih padaku karena bisa terbebas dari ikatan ini. Bukankah saat bercerai nanti dia akan bebas? Hidupnya juga akan lebih baik tanpaku. Aku tidak bisa merubah perjanjian yang sudah kami buat dan aku juga tak punya perasaan padanya. Jadi caraku memperlakukannya tidak akan merubah segalanya."


"Karena paksaan orang tuaku yang membuatku tambah membenci Vania sebelumnya. Bukannya aku juga masih membencinya sekarang? kami berada di posisi yang sama dan di pertemukan dalam sebuah ikatan perjodohan," ocehan panjang lebar dari mulut pria bernama Zeyn yang sedang dilanda kebingungan tingkat akut. Makanya jangan menyulut api jika tak mau terbakar.


***


Di sana-lah Vania sedang duduk di sebuah kursi cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya, dia sedang menunggu Yudha. Vania berulang kali memastikan matanya yang tak sembab dan tak mencurigakan. Karena akan menjadi masalah jika Yudha mempertanyakan matanya yang tiba-tiba memerah.


Yudha layaknya malaikat yang menjadi penolong hidup Vania, membuatnya tersenyum, memberinya kekuatan. Saat bersama Yudha, Vania hanya ingin merasakan kebahagiaan dan itulah sebabnya Vania tidak ingin Yudha sampai memperhatikan, Vania tidak ingin Yudha khawatir dengan keadaannya. Hanya satu yang tak bisa Yudha lakukan, membuat Zeyn menyukai Vania.


"Kak!" panggil Vania melihat sosok Yudha yang baru saja melewati pintu masuk cafe. Penampilan yang berkarisma itu tak pernah gagal membuat Vania tersenyum saat melihatnya.


"Aku tak datang sendiri, aku datang bersama Brian dan Aryan," ujar Yudha di barengi dua orang tampan lain di sampingnya ikut menyapa Vania.


Vania merasakan hatinya bagai di hantam benda tumpul. Kenapa orang jahat seperti Zeyn memiliki teman yang baik layaknya seorang malaikat.


'Mengapa aku berakhir di pertemukan dengan Zeyn dan bukan dengan salah satu dari mereka? Tuhan pasti tidak mencintaiku,' batin Vania.


Meja berukuran satu kali satu meter itu sudah di keliling tiga pria tampan dan satu orang wanita yang sedang merana, mereka hanya duduk sembari mengobrol untuk saling mengenal lebih jauh. Tiba-tiba perasaan aneh menggerayangi benak Vania, sesuatu yang dia lakukan saat ini salah karena tiga orang di depannya kini adalah teman sekaligus sahabat dekat Zeyn, tapi mereka bertemu dengan Vania dan tak ada sosok Zeynan di antara mereka.


'Apakah aku sedang mencoba mendekati teman-temannya? tapi ini bukan hal yang kulakukan dengan sengaja.'


Pandangan Vania teralihkan menilik mata Yudha yang berbinar saat tersenyum. Vania begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri bahkan mwnghiraukan suara riuh di sekitarnya karena dengan melihat wajah tersenyum milik Yudha, juga membuatnya ikut tersenyum.


Bagaikan Virus yang menular dengan sangat cepat, Vania bahkan tak bisa menahannya tapi sangat bahagia melakukannya.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Yudha mendapati Vania sedang melihat ke arahnya.


Vania tertegun matanya berulang kali mengerjap karena tertangkap basah. Dia kemudian mengalihkan arah pandangnya ke luar jendela.

__ADS_1


"T-tidak, tidak ada Kak," jawab Vania tergagap karena debaran jantungnya yang berdegup kencang. Membuat semua orang tertawa.


__ADS_2