
"Zeyn! kamu mabuk," gumam Vania dengan suara serak, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya menolak. Dalam hati Vania, sosok Zeyn masih tetap membencinya dan tindakan Zeyn saat ini hanya pengaruh alkohol yang masih merambat keseluruh aliran darahnya dan Vania berusaha menyadarkannya.
'Jika boleh jujur, aku akan mengizinkannya melakukan apapun yang dia inginkan, karena aku juga menginginkannya. Aku mungkin sudah gila karena merindukan kecupan, sentuhan dan pelukannya saat mendekapku. Aku sangat ingin itu terjadi tapi aku takut dia akan kembali memainkan perasaanku. Aku tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Aku tidak ingin menjadi beban di hidupnya dan mematahkan hatiku jika aku terlalu berharap."
Vania memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Zeyn, Vania mendorong pelan tubuh Zeyn lalu berjalan di bawah lengannya dan berlari meninggalkan rumah.
***
"Seharusnya kau mengatakan sesuatu Zeyn, kau seharunya menyangkal atau setidaknya bilang jika aku salah, bahwa kau juga menginginkanku. Kau bahkan tak mencoba mencegahku tapi malah diam dan membuktikan semua ucapanku benar."
Sesak di dada Vania semakin memburu hingga membuatnya sulit bernapas.
"Kau kenapa?"
Wajah Vania terangkat untuk melihat sosok pria yang baru saja bersuara, seperti seorang super hero. Pria itu datang di waktu yang tepat.
Vania duduk di bangku yang sama saat dia menghibur Vania pertama kali, juga di posisi yang sama.
"Kakak juga kenapa ada di sini?"
"Sebenarnya, ada sesuatu yang perlu kubicarakan pada Zeyn, tapi lupakan. Aku bisa melakukannya nanti," Yudha menggidikkan bahu dan ikut duduk di samping Vania. "Btw, aku ingin menanyakan pertanyaan yang sama. Apa Zeyn? apa dia berbuat ulah lagi?"
"Kak!" panggil Vania.
"Jika ada sesuatu yang membuatmu khawatir Jangan sungkan untuk cerita dengan kakakmu ini," ibu jarinya menunjuk dirinya sendiri. Vania tersenyum simpul. Yudha bisa membuat Vania tersenyum begitu mudahnya. "Ini mengenai Zeyn?" Vania menganggukkan kepala. "Terlihat jelas dari raut wajahmu."
"Aku tidak mengerti dengan semua perilakunya? tidak mengerti dengan tingkahnya. Apakah dia masih tidak sadar telah menyakitiku? apa yang harus kulakukan padanya? sejak awal bertemu dia sudah membenciku! apa ada yang salah dengan diriku? apakah aku seburuk itu? apakah aku tidak menyenangkan? apa ada yang kurang di diriku? kenapa dia sangat kejam padaku?:
"Bukan kamu," ucap Yudha mencoba menghibur Vania.
"Kumohon, jangan ucapkan bukan aku, karena itu tak akan membantu."
"Aku tidak bohong, memang bukan kamu." Vania melirik Yudha dengan tatapan serius.
"Walaupun wanita itu bukan kamu, dia masih tetap bersikap sama."
"Aku tidak mengerti. Tapi kenapa? atau dia kesal karena pernikahan ini, tapi kenapa harus sejauh ini? apakah ... apakah mungkin karena gadis di foto itu?"
"Hah! maksudmu Divya?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu namanya, yang pasti aku pernah melihat fotonya di buku Zeyn."
"Tidak, ini bukan tentang dia."
"Kakak yakin? tapi kenapa dia marah saat aku bertanya tentang dia,"
"Memang benar dulu mereka menjalin suatu hubungan, tapi sungguh ini bukan tentang dia," kening Vania mengerut masih tak mengerti.
"Jadi bisakah kakak menjelaskan mengapa di bersikap seperti itu padaku? sepertinya kakak mengetahui sesuatu. Kakak dan Zeyn sangat dekat. Jadi, tolong beritahu aku," mohon Vania.
Yudha menggaruk tengkuknya. "Karena kamu adikku, aku akan memberitahumu sesuatu. Ada sesuatu yang akan membantumu memahami keadaan Zeyn. Kau ada waktu minggu depan? sekarang sudah sangat larut."
"Aku selalu punya waktu luang."
"Tapi jangan sampai Zeyn tahu jika kamu keluar denganku, aku akan terkena masalah besar jika dia sampai tahu. Jadi kita harus merahasiakan pertemuan ini."
"Baik, setelah bertemu dengan pimpinan tempatku bekerja aku akan menemui kakak, hari Kamis pukul satu siang. Bagaimana?"
"Oke, berikan nomormu. Aku akan mengirim pesan jika sewaktu-waktu ada perubahan rencana."
'My Super Hero' nama kontak Yudha di ponsel Vania.
***
***
"Apakah aku terlambat?" suara yang terdengar akrab di telinga Vania yang spontan mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Dery?" ucap Vania terkejut.
Wajah yang sama menariknya saat pertama kali bertemu, setelan jas, kemeja dan dasi. Rambut hitam yang mengkilap serta tatapan tajam membuat Vania terbuai.
Dery ikut duduk dan mengeluarkan CV Vania, semuanya sudah jelas. Vania melamar pekerjaan di perusahaan Dery.
"Bagaimana kabar anak ayamku?"
"Baik. Dia tidur di sampingku. Aku belum sempat berterima kasih untuk hadiahmu. Terima kasih."
"Aku senang mendengarnya. Aku tidak punya banyak waktu, jadi bisakah kita memulainya sekarang?"
__ADS_1
Meskipun Dery tahu Vania istri temannya. Dery sangat profesional dan mendetail dalam hal pekerjaan Vania dan konsekuensi dari setiap kegagalan proyek. Gaji juga akan dia bayar tepat waktu, sama seperti karyawan lainnya. Tidak ada pengecualian.
"Bukankah itu Yudha?" ujar Dery melihat Yudha dari balik jendela.
"Aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini karena aku akan ke suatu tempat. Sampai ketemu di kantor," pamit Dery dan berlalu membayar tagihan.
Sepeninggal Dery, Vania sibuk mencari ponselnya untuk melihat jam sekaligus untuk memastikan apakah ia tidak terlambat tapi Vania tidak dapat menemukannya.
***
"Maaf! karena membuatmu menunggu. "
Yudha dan Vania sudah duduk di cafe yang cukup sederhana, tenang dan dipilih oleh Yudha tentunya.
"Oh. Tidak tidak. Apa kamu tidak melihat pesan yang kukirim? ada pekerjaan yang harus aku selesaikan setelah ini jadi aku datang lebih cepat."
"Maaf. Tapi aku lupa membawa ponselku."
Pertama kali Vania melihat Yudha memakai setelan formal. Tidak heran jika dia di gilai banyak wanita. Semua teman Zeyn yang pernah di lihat Vania semuanya memiliki visual luar biasa mengagumkan.
"Jadi, bagaimana ceritanya?" tanya Vania.
"Apa kamu tahu impian terbesar Zeyn?" Vania menggelengkan kepalanya pelan. "Apa yang dia lakukan sebelum menjadi direktur perusahaan keluarga Daulyn?"
"T-tidak ... kami tidak sedekat itu. Saling bicara saja jarang karena Zeyn yang menghindariku."
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Masalahnya adalah ... Pernikahan ini membuat Zeyn terpaksa mengubur mimpinya. Sejak sekolah, Zeyn sudah bercita-cita menjadi pemain basket profesional. Dia sangat giat dalam setiap kejuaraan nasional. Ibarat menjadi pemain basket adalah hidupnya. Dia tak pernah lelah untuk berlatih demi mengejar mimpinya. Tapi kembali lagi, orang tuanya tak menyukai hal itu. Tidak banyak yang bisa Zeyn lakukan,"
"setengah tahun sebelum berangkat ke USA dan menandatangani kontrak dengan klub terkenal. Ayah Zeyn jatuh sakit. Orang tuanya menjadikan kesempatan itu untuk membawa Zeyn keluar dari dunia basket, menjadikannya Direktur baru dan mengatur pernikahan untuk membangun citranya. Sekarang, kamu pasti berpikir jika ini kesalahan ke dua orang tua Zeyn karena telah menghancurkan mimpi putranya. Tetapi, dia juga masih bisa menerima kontrak dan menjalankan bisnis keluarganya."
"Kembali lagi, pernikahan itu bagai paku di dalam peti mati. Zeyn sangat frustasi dan tidak bisa meredam emosinya. Dia tidak bisa menyalahkan ayahnya yang masih sakit dan juga ibunya yang mengkhawatirkan kondisi suaminya. Lalu kamu muncul, kamu hidup bersamanya, secara kebetulan kau ada di saat emosinya kian meningkat, menyimpan semua amarahnya dalam dirinya. Secara tidak sadar dia menyalahkanmu."
"Apakah itu sebabnya di mengatakan kehadiranku membuat hidupnya hancur?"
"Jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu dan itu juga akan terjadi pada siapa saja."
Vania terpaku tak mampu berkata-kata. Pandangannya terfokus pada gelas yang ada di depannya. Tapi Yudha sangat peka dan bisa membaca pikiran Vania.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kamu tidak melakukan kesalahan." Yudha mengusap lengan Vania untuk sekedar menghiburnya. "Kamu juga terpaksa menjalin hubungan dengannya, selain itu cobalah untuk memahami keadaannya. Aku yakin dia akan sadar dan mulai bersikap lunak. Kalian terlihat sangat bahagia di malam saat kita bertemu untuk ke klub. Jadi jalani dan berbahagialah."
__ADS_1
Yudha mengusap kepala Vania layaknya seorang kakak yang menenangkan adiknya. Detik berikutnya Vania tersenyum simpul.