
Hari demi hari berlalu dan Vania masih belum berani menyapa atau sekedar melihat Zeyn, dia bahkan tak berani meninggalkan rumah agar tidak membuat Zeyn marah.
Vania sangat takut setelah kejadian tempo hari, impiannya untuk bekerja harus ia kubur dalam-dalam.
Seperti biasa, Vania akan membuatkan makan malam untuk Zeyn, begitupula di pagi hari saat Vania bangun, ia menemukan makanan yang tak berkurang bahkan tak di sentuh sedikit pun. Walau begitu Vania masih tetap membuat sarapan untuk Zeyn, karena Vania takut jika tidak ia lakukan akan membuat Zeyn marah lagi.
Saat siang hari Zeyn berangkat bekerja, bertemu dengan teman-temannya, pulang larut malam tidak dalam kondisi mabuk. Tak saling berbicara, tak ada pertengkaran karena sepulang kerja Zeyn akan mengunci dirinya di ruang kerjanya.
Hari ini berbeda, Zeyn pulang sangat cepat.
"Minggu depan ayah dan ibuku mengundang kita untuk datang ke pestanya, jadi cobalah untuk tidur nyenyak agar membuat dirimu terlihat lebih bersemangat karena lingkaran hitam di matamu terlihat sangat buruk. Aku tidak ingin orang lain melihatmu dengan penampilan seperti itu," ucap Zeyn lalu berjalan melewati Vania.
Vania sibuk merapikan sepatu Zeyn, matanya seketika membulat mendengar pintu kamar kembali terbuka. Vania mendongak dan melihat Zeyn menghampirinya. 'apa terjadi sesuatu lagi? Apakah ada sesuatu yang membuatnya marah lagi? Apakah ada yang salah di kamarnya? Tempat tidurnya berantakan? Karpet kotor? Apa yang akan dia lakukan lagi padaku?' batin Vania menerka-nerka.
Vania melangkah mundur takut jika hal yang buruk akan terulang kembali, Vania melihat Zeyn mengangkat tangannya dan Vania spontan menutup matanya karena takut sesuatu akan menyentuh pipinya.
"Ini! ambil ini," ucap Zeyn dan Vania perlahan membuka matanya. Netranya tertuju pada wajah Zeyn kemudian beralih ke tangan yang memegang sebuah kartu berwarna hitam. Black Card.
"Ambil dan belilah baju untuk pesta minggu depan, gaun sederhana tapi tetap terlihat cantik dan berkelas. Melihat pakaianmu, aku pikir bisa mempercayaimu dalam hal ini." lanjut Zeyn dan meraih pergelangan tangan Vania dan meletakkan kartu tadi di tangan Vania.
Hanya sedetik tapi sentuhan Zeyn di kulit Vania membuatnya merasa ada sesuatu yang bergemuruh di dalam perutnya, dan dengan santainya Zeyn kembali masuk ke kamarnya.
Vania mengejapkan matanya beberapa kali saking terkejutnya. "Apa ini nyata?"
__ADS_1
***
Disisi lain, Zeyn membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size itu, matanya sibuk memandang langit-langit kamarnya. "Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu saat ini," gumam Zeyn
Zeyn tidak seburuk yang kalian pikirkan dan Zeyn juga sangat menyesali perbuatan yang pernah ia lakukan terhadap Vania. Zeyn memukul Vania, memukul seorang wanita dan itu benar adanya. Semuanya terjadi begitu saja karena Zeyn di bawah pengaruh alkohol dan tak bisa mengendalikan dirinya.
Tapi tetap saja, Zeyn tidak seharusnya melakukan hal seperti itu. Perilakunya tidak mencerminkan seorang pria yang seharusnya melindungi wanita terlebih Vania adalah istrinya. Walau tak di landasi rasa cinta tapi itu sama saja Zeyn melukai fisik dan perasaan seorang wanita.
Zeyn ingin meminta maaf tetapi ia bahkan tidak tahu harus memulainya dari mana. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan? Zeyn tidak tahu. Jadi ia memutuskan untuk tidak melakukannya dan bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka alias gengsi.
Tidak saling bicara membuat segalanya tambah rumit dan sulit, jika Zeyn ada niatan untuk meminta maaf, ia perlu menemukan sesuatu terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan dan kalimat itulah yang tak bisa ia temukan.
Jika dipikirkan kata maaf sangatlah sederhana untuk diucapkan, tapi kenapa itu terdengar sangat sulit bagi seorang Zeynan Shadiq Daulyn.
***
Karena peran sang ibu yang mendidik dan membuat Vania tahu cara berpakaian yang baik dan terlihat elegan, awalnya Vania bingung harus mencari gaun seperti apa karena Zeyn yang tidak memberi tahu detail acara tersebut. Dia hanya mengatakan pesta, jadi Vania memutuskan untuk membeli gaun berwarna hitam.
Namun Vania ragu melihat banyaknya pilihan gaun yang ada, tetapi setelah memakai gaun selutut berwarna hitam. Vania dibuat jatuh cinta, karena desain gaun yang sederhana tapi elegan jika di kenakan, ditambah aksen renda berwarna putih di bagian leher hingga lengannya.
Sekali lagi Vania melihat pantulan dirinya di dalam cermin kemudian tersenyum. Vania mengikuti saran Zeyn untuk istirahat yang cukup beberapa hari terakhir dan benar saja, wajah Vania terlihat lebih cerah dari biasanya. Setelah merias wajahnya dan rambut panjang bergelombang yang ia biarkan terurai.
Vania keluar dari kamar dan melihat Zeyn tengah kesulitan memasang kancing di lengan bajunya. Vania ragu untuk menawarkan bantuan kepada Zeyn.
__ADS_1
"Bolehkah aku membantumu?" Tanya Vania merasa tidak yakin bagaimana mengatakannya agar tidak terdengar aneh.
"Tidak perlu! Aku bisa memasangnya sendiri," jawab Zeyn dingin nan datar seperti biasa. Sama seperti yang dia ucapkan tadi, Zeyn berhasil memasang kancing bajunya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Zeyn ditengah-tengah aktivitasnya memakai dasi.
"Hmmm," Vania bergumam dan menganggukkan kepalanya, meskipun Zeyn tidak melihatnya karena tidak menatap Vania.
Vania tak bisa menahan diri untuk tidak memandangnya. Tidak ada yang istimewa dari apa yang dikenakan Zeyn, hanya setelan jas sederhana berwarna hitam dan kemeja putih serta dasi hitam.
Rambutnya yang sengaja ia sisir ke samping dan mengekspos dahinya. Satu-satunya hal yang ada dipikirkan Vania adalah betapa tampan seorang Zeyn. Wajah yang hampir tak berekspresi dan tatapan dinginnya hanya membuatnya terlihat lebih berkarisma.
Zeyn mendongak, entah mengapa Vania merasa ada yang aneh. Pipinya memanas dan jantungnya berdetak tak normal.
'Ada apa dengan diriku? Apakah aku sakit? Haruskah aku ke dokter?' batin Vania merasa malu sendiri karena tingkah bodohnya.
"Ayo berangkat."
Suasana di dalam mobil tidak ada pembicaraan yang tercipta. Vania ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak ada topik yang mesti didiskusikan. Saat Vania berusaha bertanya tentang kemana ia akan pergi, mobil lebih dulu berhenti tanda mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Sungguh sangat mengejutkan saat Zeyn keluar dan memutari mobil kemudian membuka pintu untuk Vania. Vania melihat Zeyn mengulurkan tangannya untuk membantunya keluar dari dalam mobil. Vania ragu tapi perlahan menerimanya dengan senang hati.
Vania dan Zeyn berjalan beriringan masuk ke dalam hotel dan menuju ke ball room. Mata Zeyn menelisik mencari seauatu dan akhirnya menemukan orang tua Zeyn menunggu anak dan menantunya. Hal berikutnya yang terjadi adalah tangan Zeyn memegang lembut tangan Vania, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Vania merasakan tangan Zeyn yang begitu lembut memegang erat tangannya. Vania lagi-lagi dibuat tersipu karena perilaku dan sentuhan Zeyn padanya.