Suami Egois

Suami Egois
Parade Sandiwara 2


__ADS_3

"Masalah apa lagi kali ini?" tanya Yudha sekali lagi.


"Dia menemukan foto Divya."


"Jadi dia marah?"


"Hmm ... dia tidak marah ... tapi aku yang besikap kasar padanya. "


Kevin tertawa licik mendengar pengakuan Zeyn yang menurutnya bagai seorang pecundang. "Bodoh kenapa di pelihara sih?" tanya Kevin Masih menyeringai. "Kenapa masih menyimpan foto mantan, di saat kau sudah menikah? bukankah Divya yang pergi meninggalkanmu? Itu artinya Divya sudah melepasmu dan tugasmu mencari penggantinya. Jadi, Divya bukan lagi penghalang untukmu membuka kehidupan baru bersama Vania."


"Lihatlah sisi baiknya, Vania wanita yang baik, cantik dan menuruti semua ucapanmu. Dia bahkan rela tinggal di rumah sendirian dan kesepian sedangkan suaminya hanya tahu bersenang-senang. Jangan sampai kata menyesal menusukmu di kemudian hari," sahut Aryan menepuk pelan pundak Zeyn di sampingnya.


"Kau harus belajar membuang hal-hal buruk yang bisa membuatmu emosi, terutama pernikahanmu. Mungkin dia juga tidak menginginkan pernikahan ini terjadi," pungkas Yudha.


"Aku tidak bisa menahannya! hanya melihatnya sudah membuatku marah."


"Apakah kau ingin aku melindunginya?" tanya Dery yang membuat Zeyn kembali mendelik ke arahnya.


"Sebaiknya kau buang jauh-jauh niatmu itu Ry, mungkin aku tidak memiliki perasaan padanya tapi tetap saja dia istriku, dia milikku dan aku tidak akan membiarkan Vania berpaling!" pekik Zeyn karena sangat marah.


"Zeck, aku tahu Vania istrimu. Tapi pernahkah kau memperlakukannya layaknya seorang istri? Vania juga manusia dan tak seharusnya kau egois dan menganggapnya seakan-akan dia milikmu," Aryan masih sempat berujar dengan santainya.


"Kau curang, karena hanya peduli dengan keadaanmu saja," lagi-lagi Dery memberi anggapan menohok.


"karena aku sangat mengenalmu Dery."


"Relakan dia dan aku akan menjadi teman yang baik untuknya," lanjut Dery mengabaikan ucapan Zeyn.


"Kalau begitu buat dia tersenyum, Vania sangat cantik saat tersenyum. Tercetak jelas di wajahnya jika Vania sedang merindukan sesuatu. Sesuatu yang ku yakini tak bisa kau berikan padanya dan mungkin aku bisa. Dia akan bahagia bersamaku, aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia," tutup Dery di akhir pidatonya.


"Sekali lagi aku tekankan, jangan berani mendekatinya," ancam Zeyn dan ditanggapi gelak tawa oleh Dery.


"Sudah berbulan-bulan tapi kau masih belum tahu banyak tentangnya, kan?" Zeyn mengangguk, ucapan Yudha mungkin ada benarnya. "cobalah mengenalnya, dia mungkin tak seburuk yang kau pikirkan." lanjut Yudha.


"Atau mungkin kau bisa melakukan apa yang dikatakan Dery. Cobalah semampumu jika tak berhasil, tak ada pilihan lain selain bercerai," ucap Kevin memberi saran.

__ADS_1


***


Pukul sembilan pagi dan Vania baru bangun, hal pertama yang dia lakukan ialah ke kamar mandi, memeriksa kamar Zeyn, sarapan di depan TV, ke pasar lalu duduk di taman mengamati pasangan bahagia menjadi rutinitasnya akhir-akhir ini sebelum kembali ke rumah, berbenah dan menyiapkan makan malam.


Menghabiskan sebagian besar waktunya dengan aktivitas sederhana sudah membuat Vania bahagia. Vania melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua siang. Vania menghela napas,


"Beberapa camilan mungkin bisa menemani kesendirian ini saat nonton film."


Vania memutuskan belanja beberapa makanan ringan, minuman bersoda, coklat dan dua cup ice cream rasa coklat mint. Vania melangkahkan kakinya keluar toko dengan senyum sumringah, hanya menonton film komedi romantis menjadi pilihannya saat ini, karena hidupnya sudah cukup sengsara untuk menonton film bergenre sedih alias melow.


Di tengah jalan, Vania agak jengkel karena menemukan barang belanjaanya berserakan di jalan. Salah satu kantong yang ia bawa pasti sobek, mungkin karena kantongnya yang tipis atau belanjaanya yang terlalu berat.


"Ini." Vania mendengar suara seorang pria.


Vania mendongak dan silau karena cahaya matahari. Vania mencari asahan untuk menajamkan indra penglihatannya karena tak bisa melihat dengan jelas wajahnya.


Matanya berbinar saat melihat wajah pria itu tersenyum, sedikit menyaingi sinar matahari, auranya tampak seperti malaikat. Vania beralih melihat tangannya dan menerima coklat yang jatuh.


"T-terima kasih," ucap Vania tergagap karena malu, lalu ikut berdiri dan tersenyum kikuk.


Pria itu masih berdiri di tempatnya mengeluarkan barang dari tas belanjaanya. "Ini, ambil penyaku. " katanya dan memberi Vania tas miliknya.


Tapi kata-kata Vania tidak ada gunanya saat pria itu mengambil alih kantong yang di pegang Vania dan menaruhnya di dalam tas. Setelah selesai dia menyodorkannya ke Vania.


Senyumannya meluluh lantahkan hati dan pikiran Vania. Vania masih belum mengembalikan kesadarannya dia masih setia memandangi wajah tampan nan menggemaskan di depannya kini.


"Boleh aku membantumu membawanya?" tanyanya.


"T-tidak perlu. Kamu sudah banyak membantuku. Terima kasih."


"Bagaimana aku bisa melihatmu kesusahan? kau tidak mengingatku?"


Saat dia mengatakan itu dan Vania menatapnya sekali lagi, wajahnya benar-benar terlihat familiar di mata Vania.


"Aku datang di pernikahanmu. Aku Yudha, teman Zeck." kening Vania berkerut.

__ADS_1


"Ahh, maksudku Zeyn," lanjutnya dengan tersenyum.


***


Vania merasa bahagia bisa mengenal jika Zeyn memiliki teman berhati baik.


'Tapi kenapa mereka berteman? maksudku, mereka sangat sangat berbeda. Yudha sepertinya pria yang menyenangkan sementara Zeyn pria brengsek, pemarah, jutek tak punya hati.' keluh Vania dalam hati.


Vania tiba di rumah dan tak punya banyak waktu untuk menyiapkan makan malam, tapi perhatiannya teralihkan mendengar telepon rumah berdering. Awalnya Vania tak yakin untuk menerimanya karena selama ia tinggal bersama Zeyn, ia tak pernah mendengar adanya telepon berdering. 'Haruskah aku mengangkatnya?' tanyanya dalam hati.


"Halo?"


"Kita akan mengunjungi orang tuaku." Vania mendengar suara Zeyn. "Jadi bersiaplah karena kita akan berangkat begitu aku kembali ke rumah nanti," ucapnya dan menutup telepon.


***


Zeyn kembali tepat waktu sesuai janjinya dan sekarang mereka sedang di perjalanan menuju rumah orang tua Zeyn. Vania merasa aneh karena ini pertama kalinya ia mengunjungi rumah mertuanya.


Mereka berdiri di ambang pintu setelah Zeyn mengetuk pintu bercat putih itu, Vania merasakan sesuatu yang menyentuh permukaan kulitnya. Vania terkesiap, matanya melebar dan melihat ke bawah. Tangan mereka benar-benar saling bertaut. Jantung Vania berdebar tak karuan.


'Apakah dia sudah memikirkan tindakannya ini dan membuat hubungan kami menjadi lebih baik?' ujarnya dalam hati.


Kedua orang tua Zeyn menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lalu mempersilakan Zeyn dan Vania duduk di sofa.


Yang membuat Vania terkejut saat Zeyn duduk tepat di sebelah Vania dan jarak yang sangat dekat karena permukaan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit Vania. Vania merona, darahnya berdesir hebat.


"Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Ayah Zeyn


"Seperti yang Ayah lihat," Zeyn berusaha meyakinkan ayahnya. Zeyn menarik dan menggenggam tangan Vania. Memandangi Vania seraya tersenyum. Vania mengulum bibirnya tak kuasa menahan sensasi aneh di perutnya. "Ayah tak perlu khawatir," lanjut Zeyn.


Kedua orang tua Zeyn tersenyum, Ini pertama kalinya Vania melihat senyuman tercetak di wajah tampan itu dan tak ada seringaian jahat. Vania yakin akan hal itu. Bahkan senyuman lebar yang di berikan Yudha tak mampu menghangatkan hati Vania. Berbeda dengan senyuman Zeyn ini.


Senyuman terindah yang membuat Zeyn semakin tampan dan berkarisma. Genggaman Zeyn semakin erat, mengirimkan sensasi hangat ke seluruh tubuh Vania. Vania masih belum terbiasa dengan sentuhan hangat kulit Zeyn.


Vania tercengang mendapati orang tua Zeyn melihatnya, mungkin mengharapkan Vania untuk ikut mengatakan sesuatu. Dia menganggukkan kepalanya. "Kami baik-baik saja ayah," jawab Vania seadanya.

__ADS_1


"Kau yakin? Zeyn memperlakukanmu dengan baik?"


Vania menelan susah payah gumpalan di lehernya, memikirkan bagaiman perilaku Zeyn terhadapnya selama ini. 'apa yang harus aku katakan? haruskah aku jujur bagaiman putranya memandang rendah diriku sampai menangis hingga tertidur? menyebutku ******? Zeyn yang tidak peduli denganku? bahkan dia sudah memukulku?' matanya tak fokus karena hatinya yang sedang bergejolak untuk mengatakan segala kebenaran yang ada.


__ADS_2