Suami Egois

Suami Egois
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

"Jadi, kamu fasih berbahasa inggris, cina, dan indonesia dengan baik. Hal apa lagi yang tak ku kuketahui tentangmu?" tanya Zeyn sembari menyandarkan punggungnya di bangku taman, matanya sibuk memandang langit malam.


"Tidak ada yang istimewa dengan diriku."


"Tapi, kamu tinggal di inggris kan?"


"Ya, aku lahir di jakarta dan besar di inggris. Aku terkesima karena kamu masih mengingatnya." Vania memalingkan wajahnya karena malu jika Zeyn melihat senyumnya yang merekah.


"Kenapa kamu kembali?"


"Hmm, karena pekerjaan ayahku. Setelah menyelesaikan studyku, ayahku ingin kembali ke negara asalnya," bohong Vania. Ia juga tidak tahu persis alasan mengapa ia pulang dan ayah Vania juga bukan tipe orang yang akan mengatakan alasan jika memutuskan seauatu.


"Pantas saja bahasa inggrismu sangat bagus, karena kamu lama menghabiskan waktumu tinggal di sana."


"Ada lagi yang ingin kamu ketahui tentang diriku?" tanya Vania karena Zeyn yang terdiam cukup lama. Zeyn larut dalam pikirannya yang sulit untuk Vania tebak.


Vania berharap moment bercengkerama antara dia dan Zeyn tidak berakhir secepat itu. Sudah setengah tahun berlalu tetapi mereka belum pernah berbicara seperti itu. Mereka hanya berbicara seperlunya tapi tidak sampai membahas kehidupan pribadi.


'Jika aku tahu apa yang ada di pikirannya, aku tidak akan pernah mengajukan pertanyaan tadi," batin Vania.


"Bagaimana dengan ciuman pertamamu?"


"A-apa?"


"Siapa dia?"


"A-aku t-tidak ..." mata Zeyn terbuka lebar menatap Vania saking tak percaya dan Vania tak punya pilihan lain selain tidak melanjutkan kalimatnya.


"Cinta pertamamu?"


"H-hah?" Vania melongo.


"Pria pertama yang membuatmu merasakan cinta? jangan bilang kamu tidak pernah jatuh cinta."


'Pertanyaan pertama sudah buruk tapi pertanyaan kedua malah lebih buruk lagi, Aku harus menjawab apa? saat cinta pertamaku berada tepat di sampingku. Namanya Zeynan.'


"T-tidak, maksudku ka ...," Vania mengutuk dirinya sendiri karena hampir saja keceplosan.


Sesi pertanyaan Zeyn yang tak ada habisnya membuat Vania dilanda kebingungan hingga ke titik di mana tubuhnya mulai bergetar karena stres. Tidak tahu harus menjawab apa karena Vania bukan ahli dalam hal berbohong. Menjawab jujur, juga bukanlah pilihan dan tidak menjawab akan menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


'Tuhan. Tolonglah hambamu ini, seseorang tolong bantu aku,' Vania sangat ingin berteriak sekeras-keraanya agar seseorang dapat dengan mudah menolongnya keluar dari pertanyaan jebakan Zeyn.


"Dia ...."


"Kamu bilang apa?"


"Zeck!" suara yang sangat familiar di telinga Vania, Vania berbalik begitu pula Zeyn melihat kedatangan dua pria tampan Yudha dan Aryan berjalan mendekat. 'syukurlah, akhirnya do'aku di jabah.'


"Kalian sedang apa di sini?"


"Minum bubble tea bersama, apa kalian terkejut?" jawab Zeyn sinis.


"Apa ini sudah menjadi kebiasaan kalian sekerang? Kami juga mampir untuk membeli bubble tea lalu ke Klub," ujar Yudha tak terpancing dengan ucapan sinis Zeyn. "Tapi tunggu, kenapa kalian serapi ini?"


"Kami sedang berkencan," jawab Zeyn cepat.


Hanya dalam waktu singkat, tangan hangat Zeyn sudah menyentuh dan memegang erat tangan Vania. Vania terkesiap karena kaget. Zeyn tersenyum ka arah Vania hingga Vania tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria tampan itu.


"Baiklah kalau begitu. Kami tidak akan mengganggu waktu kencan kalian."


"Atau mungkin kalian ingin ikut bersama kami ke Klub?" tanya Aryan.


"Aku belum pernah ke tempat seperti itu."


"Kalau begitu, ayo pergi." ajakan mengandung paksaan.


'aku tidak tahu kearah mana yang kami tuju. Perhatianku hanya terfokus pada genggaman tangan Zeyn yang masih setia memegang tanganku dengan sangat erat. Aku tidak peduli kemana kami akan pergi. Aku hanya menikmati lembut tangannya. Perilaku yang dia berikan padaku begitu menyenangkan hingga aku merasakan kupu-kupu bahagia beterbangan di perutku. Aku menyukai sentuhannya dan aku merindukan kehangatannya.'


***


"Zeyn! Kau tak ingin mengajak istrimu berdansa?" tanya Yudha.


"Yudha!"


"Baiklah jika kamu tidak mau, aku yang akan melakukannya," ujar Yudha lalu bangkit dari tempat duduknya untuk meraih tangan Vania dan menariknya ke lantai dansa. Vania menoleh ke belakang untuk melihat Zeyn dengan tangan yang menggantung di udara.


'Aku tidak suka, sama sekali tidak menyukainya. Yudha mungkin bisa mengungkit masa laluku lalu menjatuhkanku dan sekarang aku kehilangan semangat berada di sini. Tapi yang lebih menyakitkan bahwa Vania di bawa oleh Yudha. Aku terlambat memegang tangannya dan membuatnya tetap berada di sampingku.'


"Apa dia benar-benar menyukainya? Oh, ayolah. Tak apa jika itu orang lain asal jangan sahabat yang sudah ku anggap saudara," gumam Zeyn tak percaya.

__ADS_1


Zeyn mengalihkan pandangannya di mana Yudha dan Vania sedang berdansa. Ucapan Dery benar adanya karena Vania yang tertawa sangat gembira. "Aku suami yang tak berguna baginya," lirih Zeyn. Sekarang ia baru menyadari betapa cantik dan manisnya senyum Vania Valeanifa.


***


"Yudha! Aku ingin bertanya sesuatu!" Zeyn memanfaatkan waktu untuk duduk berdua bersama Yudha, karena Vania dan Aryan pergi untuk memesan minuman.


Yudha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kamu ... kamu menyukai istriku? tolong jawab jujur."


"Ya, aku menyukainya," Zeyn dengan jelas bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak. Zeyn ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya keluh, suaranya tercekat. "Dia wanita yang baik dan cantik," lanjutnya. Zeyn merasa seperti jatuh kedalam lubang gelap yang sangat dalam.


"Kamu ... kamu menyukainya?" Zeyn mengulang pwrtanyaannya karena tidak percaya. "T-tapi kan dia ...."


Terlihat jelas di wajah Yudha jika dia baru mengerti maksud dari pertanyaan Zeyn.


"Oh! Maksudku, aku menyukainya karena kepribadiannya. Tidak! tentu saja tidak, dia istri sahabatku. Aku hanya menyiratkan bahwasanya kamu sangat beruntung memilikinya. Tapi aku kecewa karena hubungan kalian terikat pada sebuah perjodohan dan menjalani kehidupan keluarga hanya sebatas bisnis, aku heran apa yang ada di pikiranmu sehingga kau punya ide seperti itu"


"Dery datang dan mengoceh tentangmu yang mengencani istriku di belakangku. Tapi aku tahu saudaraku tidak akan melakukan hal seperti itu padaku."


"Zeyn! Sebenarnya, aku ...."


"Ssht ... Mereka kembali."


***


"Zeynan!" panggil Vania sesaat setelah Zeyn membuka sepatunya. Zeyn mengalihkan arah pandangnya melihat Vania. Dia berdiri tepat di hadapan Zeyn dibalut gaun yang sempat Zeyn beli tadi. Wajahnya yang cantik ditambah rambutnya yang bersinar karena pantulan cahaya lampu.


"Terima kasih untuk hari ini," mata Zeyn hanya terfokus pada bibir ranum Vania yang tertarik membentuk senyum.


'Aku sungguh terbuai melihat bibir itu, haruskah aku menciumnya? aku belum pernah mencicipinya,' batin Zeyn dengan pikiran pervertnya.


Zeyn entah dorongan dari mana, pria itu mulai melangkah lebih dekat ke arah Vania. Matanya menyipit dan bibirnya agak terbuka. Vania tidak akan menyangkal jika pria yang ada di hadapannya kini sangatlah mempesona. Rona merah di pipinya juga tak mau ketinggalan untuk ikut muncul.


Zeyn memblokade pergerakan Vania, memojokkan wanita itu dengan tubuh maskulinnya ke sisi dinding, Zeyn meletakkan tangan kanannya di sisi telinga Vania, ibu jarinya mengelus pelan pipi mulus istrinya, menempelkan kepalanya ke kening Vania serta hidung yang ikut bersentuhan. Sorot mata yang tajam membuat jantung Vania berdegup kencang dan mungkin Zeyn bisa dengan jelas mendengarnya karena keheningan yang menyelimuti.


Zeyn menggit bibir bawahnya lalu memiringkan kepalanya mengecup kedua mata milik Vania, detik berikutnya Zeyn beralih ke benda kenyal berwarna merah ranum milik Vania. Zeyn menutup mata ingin segera meraupnya.


Kedua tangan Vania ikut menyusup memegang dada bidang Zeyn agar memberi jarak. 'Aku masih bisa berpikir jernih, aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,' batin Vania.

__ADS_1


__ADS_2