Suami Egois

Suami Egois
Kehadiran Yang Tak Di Inginkan


__ADS_3

"Apa kau berani berpikir untuk selingkuh? Aku menikahimu agar aku terlihat lebih baik dimata orang lain dan aku tidak akan pernah membebaskanmu melakukannya. Aku tak bisa membuatmu merusak nama baik keluargaku. Mengerti?" Vania hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


Saat Zeyn berbalik dan masuk ke kamarnya, tubuh Vania merosot, lututnya menyerah untuk menopang tubuhnya.


Air mata kini membanjiri pipi Vania, bisa-bisanya ia berpikir jika Zeyn peduli padanya! berharap jika Zeyn cemburu!


Kembali lagi jika Vania tak lebih dari sekedar pelengkap dikehidupan seorang Zeyn.


***


Disisi lain, Zeyn terbangun di tengah malam. Kepalanya berdenyut dan merasakan pusing setelah minum beberapa gelas wine saat bersama teman-temannya.


Dia tak sekuat Kevin yang bisa meminum beberapa botol wine. Zeyn tidak menjadikan alkohol sebagai minuman rutin dikala bertemu dengan temannya, melainkan dia hanya minum saat dirinya merasa berada dalam tekanan seperti sekarang ini.


Zeyn memijat pelan pelipisnya dengan maksud meredam rasa sakit di kepalanya.


Zeyn meraih gelas yang ada diatas nakas, tenggorokannya kering dan ingin meminum beberapa teguk air. Dilihatnya gelas yang tak berisi air sama sekali.


Zeyn menghela napas kasar lalu menyibakkan selimutnya dan bangkit menuju dapur untuk mengisi kekosongan gelas yang ia pegang.


Zeyn dengan langkah pelan menyeret kakinya dengan mata setengah tertutup. Karena faktor malas, Zeyn bahkan tak repot-repot untuk menyalakan lampu.


Kakinya tersandung sesuatu dan Zeyn terdiam memikirkan jika ia tak pernah meletakkan sesuatu di pintu dapur.


Zeyn kembali ke ruang tamu untuk menekan sekelar lampu, sesekali mengusap wajahnya. Matanya tak sengaja menemukan objek yang tak asing, Zeyn mendekat dan berjongkok hanya untuk melihatnya. Dia Vania, sedang tertidur di lantai dengan kedua tangan memeluk lututnya.


"Kau kenapa disini?" tanya Zeyn seperti bisikan. Walau ia tahu jika Vania tak akan mendengarnya.


Zeyn ragu dengan inisiatif yang terngiang di kepalanya, apakah harus ia lakukakan.


"Haruskah aku melakukan sesuatu?" tanya Zeyn lebih ke dirinya sendiri.

__ADS_1


Zeyn bangkit dan berjalan menuju dapur, meminum segelas air yang sempat tertunda. Cukup lama Zeyn termenung, kilasan kejadian semalam kembali teringat dan membuatnya merasa tak enak hati.


Zeyn tidak melakukan sesuatu yang salah atau mengatakan sesuatu yang salah. Tetapi melihat Vania terbaring di lantai membuatnya tampak begitu menyedihkan sehingga Zeyn mulai bersimpati.


Zeyn kembali ke ruang tamu dan menatapnya sebentar, sebelum menggendong Vania ala bridal style menuju sofa ruang tamu dan perlahan-lahan membaringkan Vania agar tak mengganggu tidur istrinya.


Zeyn berlari kecil memasuki kamar Vania untuk yang pertama kali, menyambar selimut dan ingin menutupi tubuh istrinya agar tak kedinginan.


Apa Zeyn terbentur sesuatu? Kenapa bisa sepeduli itu dengan Vania? Apa ada sentilan keajaiban yang mungkin sudah menumbuhkan rasa sayang, suka, atau mungkin cinta?


Sayangnya itu hanya sebatas persepsi.


"Tapi dia akan kedinginan! Jika kulakukan dia pasti akan menyadari kalau itu aku dan mungkin dia akan salah paham." Zeyn memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan selimut yang ia pegang di kamar Vania lalu kembali ke kamarnya melanjutkan tidur.


***


Pagi hari menyambut, Vania perlahan membuka matanya sejalan dengan terbitnya sinar matahari yang memamerkan cahayanya dari ufuk timur.


Tidak terlalu memikirkan hal itu, Vania melanjutkan aktivitasnya ke kamar mandi dan melanjutkan memeriksa kamar tidur Zeyn yang tentu saja tidak berpenghuni seperti biasa.


Vania menuju dapur, mengeluarkan mangkuk kemudian menuangkan sereal dan susu cair yang ia keluarkan dari dalam kulkas. Mancampurnya lalu duduk di ruang tamu sembari menyetel chanel TV favoritnya.


"Apakah hidupku akan selalu berjalan seperti ini setiap harinya? Tidur sendiri, bangun sendiri, dan menjalani sepanjang hari seorang diri hanya untuk dilecehkan oleh suamiku? Menunggunya pulang dari kantor dan menumpahkan semua air mataku lalu tertidur hanya untuk bangun dan merasakan kesepian ke esokan harinya?"


***


Seminggu telah berlalu dan Zeyn masih tidak mengatakan apa pun setelah kejadian tempo hari. Situasi semakin mencekik sukma seorang Vania dan membuatnya tidak tahan dengan tekanan yang ia rasakan.


Hari Sabtu adalah hari dimana Zeyn yang akan pulang terlambat dan Vania memutuskan untuk keluar, sekedar berjalan-jalan.


Vania sadar betul dengan kegiatan mencari udara segar atau sekedar melihat para pejalan kaki yang sibuk berlalu-lalang di taman.

__ADS_1


Pemandangan yang sangat menyita perhatian Vania ialah saat ada pasangan tengah bermain dengan anaknya. Vania sangat bahagia melihatnya, bagaimana jika hal itu juga terjadi padanya? Jangan lupakan semua yang di inginkan Vania hanyalah sebatas angan-angan yang entah sampai kapan akan terjadi.


Vania juga sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan di taman kanak kanak sebagai guru. Mungkin karena kecintaan Vania terhadap anak kecil. Dengan kualifikasinya, Vania bisa diterima dengan mudah.


Dalam hatinya, ia sangat berterima kasih kepada orang tuanya karena menginginkan anak yang sempurna dan membuat Vania menjalani semua kursus tambahan.


Sinar matahari semakin terik dan Vania yang tidak ingin kembali ke rumah dan duduk di depan TV tanpa melakukan apa-apa. Dengan begitu, Vania sekali lagi mengunjungi TK tempatnya nanti akan bekerja, sekadar melihat suasana dan berpelesir mencari jalan tercepat untuk sampai disana.


Hanya butuh 15 menit berjalan kaki dan melewati tiga belokan. Sesampainya di sekolah, Vania disambut ramah oleh sang Kepala sekolah dan menanyakan beberapa hal terkait kalkulasi keahlian untuk menjadi seorang guru.


***


Di perjalanan pulang, Vania menyempatkan diri untuk mampir ke kafe untuk bersantai melepas penat dan memesan bubble tea favoritnya. Vania duduk memandang keluar jendela, mengamati hiruk pikuk kota di sore menjelang malam hari.


Pukul delapan malam dan di luar semakin gelap, Vania akhirnya pulang dengan ritme langkah kaki yang tidak terburu-buru.


"Malam ini malam Minggu, Zeyn sudah pasti keluar dengan teman-temannya dan tidak mungkin pulang cepat," ujarnya sembari memainkan sedotan bubble tea di tangannya.


Setidaknya itulah yang Vania pikirkan selama di perjalanan menuju rumahnya, tapi itu sungguh berbanding terbalik dengan dugaannya.


"Keluyuran di mana saja kau?"


Entah mengapa kalimat itu sangat dibenci Vania untuk keluar dari mulu Zeyn. Bagai tak punya apa-apa, bagai tak punya tempat untuk Vania singgahi. Vania sangat benci setiap kata-kata yang diucapkan Zeyn belakangan ini.


Vania berjalan melewati Zeyn, tapi di cegat oleh tangan kekar Zeyn yang menarik Vania kembali ke tempat awalnya berdiri.


"Aku tidak keluyuran dan apa pedulimu? Urus urusanmu sendiri. Aku juga tidak pernah bertanya kemana saja kau pergi selama ini dan selalu pulang terlambat dalam keadaan mabuk!" Vania sedikit meninggikan suaranya, dia benar-benar terselut emosi dan muak akan segalanya.


"Mungkin, kau sedang berseng-senang dengan banyak wanita! Ta ... "


Plak!

__ADS_1


__ADS_2