Suami Egois

Suami Egois
SEQUEL PART 3


__ADS_3

“Kau tak bisa seenaknya menunda-nunda, Zeyn!” geram Bobby


“Aku tahu Bob, tapi untuk saat ini hanya itu yang bisa kulakukan. Aku belum menemukan cara untuk mengatasinya. Aku masih butuh waktu.”


Zeyn berjalan mondar mandir sementara Bobby membuat dirinya duduk lebih nyaman di sofa kantor Zeyn.


“Apa lagi yang kau tunggu? Surat cerai yang dia ajukan juga sangatlah menguntungkanmu. Cukup tanda tangan dan semuanya selesai.”


“Heyyy... tidak semudah itu. Aku hanya... aku tidak tahu harus berbuat apa, Bob.” Zeyn duduk di sebelah Bobby dengan mengusap wajahnya kesal.


“Jika kau meminta saranku sebagai pengacara, aku akan memintamu untuk menandatangani surat-surat itu. Tidak ada satu-pun orang di dunia ini yang mengajukan surat cerai yang lebih bagus seperti yang dia berikan padamu Zeyn. Ditambah lagi, pengacaranya sudah mendesakku untuk secepatnya membuat keputusan. Tetapi jika kau membutuhkan nasihatku sebagai seorang sahabat. Pertama, kau orang yang paling bodoh yang pernah kukenal. Kenapa kau membuatnya pergi sejak awal. Jujur aku bingung, jika memang kau tidak ada niatan untuk menceraikannya. Mengapa kau tidak mencegahnya saat dia memberimu surat cerai itu. Kau harusnya bilang tidak atau jangan,” ledek Bobby di akhir katanya.


“Ini... Ini berbeda Bob.”


“Tanda tangani saja surat-suratnya! Dan beri aku kebebasan! Kau bisa memintanya untuk menikah denganmu lagi.”


Zeyn menatap aneh Bobby yang duduk dengan santainya. Ucapan Bobby barusan apakah benar serius?


“Kau ini menganggapku apa? Dalam agama itu di larang Bobby, selain itu aku juga memiliki reputasi yang mesti ku pertahankan. Aku tidak bisa membuat diriku jadi bahan tertawaan dengan menceraikannya dan menikah lagi dengan wanita yang sama. Aku harus jadi pria yang dapat di percaya di mata orang-orang. Lagipula... Aku tidak yakin dia akan mau menikah denganku lagi.”


“Ooh... Salah satu cara untuk membuatnya tetap berada disisimu yah? Hmmm itu juga bisa jadi jalan keluarnya,” ujar Bobby. “Kau belum memberitahunya jika akan menandatangani surat-surat itu, kan? Dia juga tidak memiliki bukti bahwa kau tidak menepati janjimu. Jadi ... oh tunggu, tapi dia melakukannya!” Bobby memasang wajah datarnya.


“Ahh... Benar! Kontrak pernikahanmu, aku benar-benar lupa tentang itu dan jika dia datang ke pengadilan dengan membawa bukti itu... Maaf, Zeyn. Itu akan berdampak buruk pada kariermu dan juga kamu tidak ingin diseret ke pengadilan. Iya kan?”


“Menurutmu, selama ini aku tidak memikirkan hal ini? Aku sudah tahu ini akan terjadi. Itulah alasan mengapa aku butuh lebih banyak waktu.”


Bobby menegakkan posisi duduknya. Alisnya tertaut dan dahinya berkerut, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Aku melihat dua solusi dalam situasi ini. Entah kita akan menemukan kesalahannya dalam pernikahan kalian yang mungkin bisa menjadi bukti jika dia tidak menuntaskan bagiannya sebagaimana di sebutkan dalam kontrak, atau kita akan mencari salinan yang tersisa lalu membuangnya. Tapi kita perlu memastikan bahwa pengacaranya tidak mengetahui tentang kontrak yang kau buat.”


“Aku tidak tahu, Bobby. Di bukan tipe orang seperti itu. Aku yakin dia tidak akan menyeretku ke pengadilan. Dia menginginkan segalanya bisa diselesaikan setenang mungkin.”


“Iya juga, tapi itu tergantung seberapa besar dia tidak mengharapkanmu lagi dalam hidupnya.”


“Coba cara lain Bob.”


“Katakan saja kau tidak setuju dengan syarat perceraian yang dia ajukan. Tapi, itu akan terlihat sangat bodoh sih. Jika kau menolak bercerai tanpa kehilangan apa pun. Kemudian dia harus datang dan kembali membicarakannya denganmu.”


“Wahh! Brilian,” Zeyn melompat dari duduknya dan memeluk Bobby semringah. “Ide yang sempurna!”


Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Zeyn untuk menggunakan alasan surat cerai sebagai umpan untuk bertemu.


...***...


Setelah lama meyakinkan Yudha agar mengabulkan permintaannya, akhirnya Zeyn dengan raut wajah merekah tengah asyik terpaku pada sebuah layar ponse.


Tak lain dan tak bukan, gambar yang disinyalir bisa membuat Zeyn bagai seorang idiot itu adalah foto milik Vania yang di kirim ke nomor Yudha. Zeyn yang awalnya setengah hati meminta karena perasaan cemburu Zeyn terhadap Yudha yang dengan leluasa bisa menjalin komunikasi dengan istrinya.


Dengan begitu, Zeyn tetap bersyukur karena dewi fortuna sedang berpihak padanya. Setelah beberapa minggu ia tidak bisa melihat Vania. Akhirnya amunisi membujuk Yudha, agar meminta Vania mengirim fotonya untuk sekedar mengetahui keadaan sosok wanita yang masih berstatus istrinya tersebut sudah terwujud.

__ADS_1


Namun ada yang berubah dari segi penampilan Vania, dia memotong rambutnya lebih pendek lagi tapi masih terlihat sama. Entah itu efek karena perpisahan mereka yang menyakitkan.


Zeyn menelusuri layar ponsel dengan jarinya, membelai pipinya. Dia tersenyum, terlihat hangat dan manis seperti biasa.


“Matamu akan keluar jika terus menatapnya.”


“Kau pasti melakukan hal yang sama jika aku tak ada.”


“Ha? Tidak... tidak,” elak Yudha


Saat ini Zeyn tidak yakin apakah ia harus marah, Vania mengirim foto kepada Yudha entah dasar apa. Zeyn sangat ingin melihatnya tetapi di sisi lain Zeyn tidak bisa menampik jika ia terus saja merasa buruk.


Perasaan Zeyn mengarah ke Yudha yang sedang menggoda istrinya, dan Zeyn yang menjadi alasan hingga mendorong mereka untuk semakin dekat setiap harinya. Zeyn juga yang memberi keleluasaan untuk bicara dengannya. Yudha yang kini sudah menjadi satu-satunya harapan sekaligus sebuah ancaman bagi Zeyn.


“Bagaimana caramu meyakinkan Vania untuk melakukannya?” tanya Zeyn yang masih memandang layar ponsel milik Yudha.


“Awalnya, dia menolak karena belum pernah melakukannya sebelumnya dan bertanya menyapa aku butuh itu. Tapi saat aku menjawab, aku perlu memastikan jika dia baik-baik saja. Dia akhirnya mengirim fotonya beberapa jam kemudian.”


“Oh! Terima kasih.”


Send!


Zeyn mengirim gambar ke ponselnya, kemudian meletakkan ponsel milik Yudha di atas meja.


Zeyn meregangkan kakinya di bawah meja, memiringkan kepalanya agar bersandar di sofa saat matanya menatap kosong Langit-langit ruang tamu rumah Yudha.


“Hari ini kau sudah menghubunginya?”


“Terus apa yang dia katakan? Bagaimana kabarnya?”


“Zeyn ...”


“Katakan saja padaku, Hm? Itu tidak akan menyakitimu, kan?” ujar Zeyn memohon.


“Dia bilang kamu membuatnya risih tentang perceraian itu.”


“Oh...,” Zeyn menunduk kecewa mendengar jawaban dari Yudha.


Tidak banyak yang bisa Zeyn katakan. Yudha mengatakannya dengan kata-kata yang mampu membuat Zeyn merasa malu dengan kelakuannya. Jika di bandingkan dengan Yudha, Zeyn Mumgkin tidak ada apa-apanya. Tetapi kenyataan itu sudah membuat Zeyn merasa tidak enak karena seseorang yang mereka bahas sekarang, orang yang masih berstatus istri sah Zeyn.


“Aku hanya... pengacaranya sudah mendesakku... dan kau tahu aku tidak ingin bercerai, jadi... aku tidak tahu harus berbuat apa... dan ternyata begini.”


Yudha datang dan mengusap pundak Zeyn. “Kenapa aku harus berurusan dengan orang sepertimu? Aku tidak bisa marah ketika kau terlihat sangat tak berdaya seperti ini.”


“Aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang, saat dia tak ada di sampingku. Aku berpikir jika aku bisa membuatnya kembali, aku akan bicara dan menjelaskan segalanya.”


“Tapi dia tidak ingin bertemu denganmu, Zeyn. Maksudku tidak sekarang. Dia belum siap.”


“Aku tahu,” Zeyn menyesap minumannya. “Bobby bilang, hari ini pengacaranya menelpon dan dia menyetujui setiap syarat yang kubuat. Jadi... rencanaku gagal.”

__ADS_1


“Kamu gegabah dan tidak sabaran. Kau tidak bisa semudah itu membuatnya kembali, kau tahu?”


“Ya...”


“Saat dia sudah siap, dia akan membuat keputusannya sendiri.”


“Jadi bagaimana pencariannya?”


“Masih sama. Tidak ada info baru. Walau akhirnya dia menemukan panti asuhan yang dia cari tapi mereka tidak memberitahu apa pun karena itu adopsi rahasia. Mereka bahkan menyangkalnya tapi Vania bisa membujuk salah satu staf, hanya itu yang bisa ia dengar. Aku pikir orang tuanya pasti membayar mereka dengan sangat baik sehingga menutup mulut mereka rapat-rapat.”


“Apa ada cara lain untuk membantunya? Bukankah dia akan kecewa jika dia kembali tanpa apa-apa?”


“Kita tidak bisa membantu banyak. Jika kau bertanya padaku, ini bukan hanya masalah menemukan orang tua. Ini bukan tentang mereka. Dia tidak mencari mereka, dia mencari cinta. Lebih ke siapa yang mencintaimu tanpa syarat melebihi orang tuamu sendiri.”


Hati Zeyn bagai tertusuk jarum. Awalnya Zeyn tidak begitu bahagia, tetapi sekarang kesedihannya semakin dalam. Bagaimana ia bisa bersaing dengan Yudha? Dia sangat mengenalnya. Yudha bahkan tahu niat Vania yang sesungguhnya, lebih dari yang Zeyn duga selama ini. Sementara Zeyn hanya duduk dan merebut segalanya tanpa memikirkannya.


Mungkin melepas adalah cara terbaik yang bisa di lakukan Zeyn untuk Vania


“Yudha... Kamu akan menjaganya, kan?”


Yudha menatap Zeyn dengan tatapan seperti Zeyn baru saja melakukan kejahatan besar. Dia terkejut dan takut dengan apa yang baru saja Zeyn ucapkan.


“Kamu kenapa, Zeyn?”


“Aku hanya berpikir...”


“Coba pikirkan lagi,” suara Yudha menegas. “Dia akan kembali dan jika kau mengizinkanku untuk membawanya, pastikan aku akan melakukannya.”


Wajah Yudha menegang dan sorot matanya mengatakan itu semua. Zeyn sangat tahu Yudha serius dengan ucapannya sampai menekankan setiap kata-katanya karena Zeyn semudah itu mengucapkannya.


“Asal kamu tahu, jika kau membiarkan dia pergi tanpa memperjuangkannya, aku jamin tidak akan membuatmu berada d dekatnya lagi.”


“Yudha...”


Zeyn mulai ketakutan.


.


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak vote dan koment


terima kasih 💕


__ADS_1


...VANIA VALEANIFA 💕...


__ADS_2