
Zeyn duduk di kursi kerjanya, sedikit memijat kepalanya yang berdenyut. "Apakah aku bereaksi berlebihan?"
"Aku akui jika aku terbawa emosi dan tak bisa mengendalikannya lagi." lanjut Zeyn membuka lembar demi lembar kertas yang ada di atas meja kerjanya.
Zeyn tak marah saat mengetahui Vania tak ada di sampingnya, saat investor menanyakan keberadaannya karena Zeyn dan sang investor sudah menandatangani kontraknya sebelumnya.
Namun yang membuatnya kesal, bukan saat Vania meninggalkannya tanpa izin, tetapi saat Zeyn menemukan Vania dan seorang pria yang sangat ia kenal, Dery.
Vania yang tersenyum saat bersama Dery, itu sungguh membuat Zeyn marah, walau itu semua bukan kesalahan Vania tapi Zeyn menumpahkan amarahnya pada istrinya.
Tindakan Zeyn sudah sangat berlebihan. Jika ia kesal dengan Dery seharusnya ia marah saat bertemu dengan Dery saat itu, bukannya menyalahkan Vania yang tak tahu menahu masalah yang sedang terjadi antara Zeyn dan Dery.
Zeyn menghamburkan map yang tersusun rapi itu, lalu mengerang tertahan. Ingatan saat Dery merebut cinta pertamanya kembali terngiang dan mengganggu konsentrasi Zeyn.
***
Hari demi hari telah berlalu dan hati Zeyn seakan memaksanya untuk meminta maaf, tetapi berbanding terbalik dengan otaknya yang masih enggan untuk melakukannya.
'Sebisa mungkin, aku harus menghindarinya, satu-satunya cara terbaik yang bisa kulakukan untuknya.' batin Zeyn
Ditengah kesibukannya, Zeyn bahkan tidak menyadari kehadiran ibunya yang masuk ke ruangannya.
"Zeynan,' panggil ibunya lembut.
Zeyn terperanjat kaget melihat sosok ibunya yang berdiri di depannya. Ini adalah pertama kali sang ibu mengunjungi kantornya semenjak Zeyn menikah.
"Ibu."
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, apa yang ibu lakukan di sini? tidak biasanya ibu datang berkunjung."
"Ada sesuatu hal yang perlu kubicarakan denganmu, untuk itu ibu datang memastikannya langsung," Zeyn terdiam lalu meletakkan pulpennya.
"Apa itu?"
"Beberapa hari yang lalu, ibu melihat istrimu," katanya dan membuat Zeyn cemas. 'Apakah dia mengatakan sesuatu pada ibuku?' batin Zeyn.
"Ibu melihatnya duduk di bangku taman, Vania hanya duduk dan mengamati orang-orang yang berlalu-lalang," lanjutnya dan Zeyn dapat memastikan jika sekarang ibunya sedang mengamati ekspresinya.
Tapi Zeyn masih bingung dengan apa yang dibicarakan ibunya, keningnya berkerut tanda tak paham.
"Vania terlihat sangat sedih, apa sekarang kau sudah tahu apa maksud pertanyaan ibu?"
"Maafkan aku ibu, tapi aku tidak meng ...! Dia ada di taman?"
"Hmm," gumam ibu Zeyn membenarkan.
"Hanya duduk dan mengamati orang lain? dia sendirian, tidak dengan pria lain, kan?"
"Iya."
"Benarkah? tapi aku tidak melihat ada hal aneh pada dirinya."
"Zeyn, apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua? Apakah hubunganmu dengan Vania baik-baik saja? Apa kalian bertengkar?"
__ADS_1
Mulutnya terkatup tak mampu menyangkal, 'Bagaimana bisa ibu mengetahui hal ini?' Zeyn kembali membatin.
"T-tidak ibu. Tidak ada yang terjadi, kami baik-baik saja dan jangan khawatir tentang itu," bohong Zeyn.
"Zeynan, ibu seorang wanita dan sangat tahu wanita yang terlihat baik-baik itu seperti apa. Jika kalian sedang bertengkar dan kau tak ingin memberi tahu ibu, tidak apa-apa dan ibu mengerti. Tapi jangan membuatnya menunggu dengan permintaan maafmu, walaupun dia yang salah," ucap sang ibu menasihati anak semata wayangnya itu.
"Kenapa aku yang harus meminta maaf padahal dia yang berbuat salah?" lirih Zeyn tapi masih dapat didengar oleh ibunya.
"Jadi, Va ...."
"Tidak ibu, maksudku kenapa harus aku?"
"Zeyn, ibu sangat tahu kau tidak ahli menangani hati wanita, maksud ibu dalam hal perasaan. Tapi kamu tahu kan? perasaan seorang wanita itu mudah hancur dan kau tidak ingin menghancurkan hatinya dan membuatnya sengsara, bukan?"
"Kenapa aku harus peduli dengan perasaannya? aku tidak mencintainya. Aku tidak punya perasaan padanya. Aku menikahinya demi ayah dan perusahaan," kata Zeyn. Matanya memerah dan tangannya mengepal menahan amarah.
"Ibu tahu kau melakukannya untuk ayahmu, tapi ibu dan juga ayahmu menyukai Vania. Dia sudah sangat sakit, jadi ibu mohon jangan menambah rasa sakit lagi dan membuatnya menderita."
Ucapan ibu Zeyn tepat sasaran, membuat Zeyn terpaku kalah telak. "Baiklah, ibu akan pergi sekarang karena ibu sudah mengatakan apa yang mengganggu ibu belakangan ini. Jadi istirahatlah kau mungkin lelah,"
Baru selangkah, ibu Zeyn kembali berbalik. "Kau harus melupakannya, Divya meninggalkanmu. Kau tak bisa menyimpannya lagi di hati dan pikiranmu. Sekarang kau punya istri dan dia membutuhkanmu. Lupakan dia dan buang semua kenanganmu bersama Divya," ujarnya seraya menarik gagang pintu.
Zeyn dengan jelas mendengar suara ibunya yang bergetar menahan tangisnya. Zeyn tersenyum kecut.
***
Sudah hampir dua minggu baik Vania dan Zeyn masih belum ada yang saling berbicara. Hari sabtu, sudah pasti Zeyn akan keluar bertemu dengan teman-temannya.
Vania bingung harus melakukan apa, keluar juga rasanya tak mungkin dan Vania tak tahu pasti Zeyn pulang jam berapa.
Vania duduk dan menyalakan TV tapi tak ada yang menarik, membaca buku mungkin ide yang cukup bagus. Vania penasaran dengan buku yang ada di dalam kamar Zeyn saat merapikan kamar tidur suaminya dan Vania memutuskan untuk meminjamnya sebentar.
Vania membuat secangkir coklat panas dan duduk santai di atas sofa. Vania mulai membuka buku dan menyadari ada sesuatu di dalamnya. Vania berpikir itu hanya sebuah pembatas buku tapi setelah membukanya kembali, alangkah terkejutnya Vania menemukan selembar foto seorang wanita berparas cantik yang membuat Vania ikut tersenyum karena melihatnya.
"Siapa dia? Apa dia sangat berarti bagi Zeyn? kenapa Zeyn memiliki fotonya dan di sembunyikan dalam buku." gumam Vania.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Vania tertegun mendengar suara Zeyn dan menoleh ke samping.
'Suara Zeyn, kenapa dia pulang sangat cepat? Kenapa bisa aku tak mendengarnya membuka pintu? dan kenapa dia menghampiriku alih-alih menghindariku dan masuk ke kamarnya seperti biasa? Apa aku tertangkap basah?' tanyanya dalam hati.
Vania segera berdiri dan menyembunyikan foto yang ia pegang tadi.
"K-kau pulang lebih cepat dari biasanya."
"Kenapa kau berani menyentuh barang-barangku? Siapa yang memberimu izin?"
"A-aku tidak bermak ...."
"Jangan pura-pura bodoh di hadapanku," geramnya dengan rahang yang mengeras.
Membuat Zeyn marah adalah satu hal yang selalu Vania hindari. Jadi Vania lebih memilih menyerahkan foto itu kepada Zeyn.
"Siapa dia?" Vania dibuat terkejut dengan pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya, setelah melakukannya Vania menggit bibir bawahnya takut dan merutuki mulut bodohnya.
"Kau tak perlu tahu, itu bukan urusanmu," jawab Zeyn dan dengan kasar mengambil alih buku di tangan Vania kemudian memasukkan foto tadi di sela-sela buku.
__ADS_1
'Kenapa dia sangat peduli dengan foto itu? Apa wanita yang ada dalam foto spesial di hidupnya?' lirih Vania dalam hati, merasakan ada tekanan dalam dadanya.
"Ya." balas Vania pelan dengan kepala tertunduk dan Zeyn yang awalnya ingin memasuki kamar mendadak berhenti.
"Kau bilang apa?"
"Aku ingin tahu," ulang Vania. "Aku perlu tahu, aku istrimu dan aku punya hak untuk tahu." Vania memandangi wajah Zeyn yang menyeringai.
"Sekali lagi aku tekankan, kau sama sekali tidak punya hak. Hanya media yang mengatakan bahwa kau adalah istriku."
Zeyn masuk ke kamarnya, dan meletakkan buku yang ia pegang ke tempat semula. "Aku tidak ingin kau menyentuh barang-barangku lagi," ucap Zeyn dan pergi meninggalkan rumah.
Vania terdiam menikmati rasa sakit dalam dadanya.
***
Zeyn tidak ingin itu terjadi, seharusnya tidak seperti itu. Setelah berdiskusi dengan sang ibu, Zeyn memutuskan untuk melakukan segala hal yang di sarankan oleh ibunya. Zeyn bahkan sudah mengatur rencana untuk Vania malam ini. Tapi semuanya hilang saat Zeyn secara tak sengaja mendapati Vania memegang foto Divya,
Namun saat Vania mempertanyakan perihal foto tersebut, Zeyn bingung harus bereaksi seperti apa. Mengatakan yang sebenarnya? tidak mungkin, berbohong? kebohongan seperti apa yang mampu menjelaskan alasan mengapa ia masih menyimpan foto seorang wanita di dalam buku.
"Sial!" Zeyn mengusap kasar kepalanya karena merasa frustasi.
Zeyn berusaha untuk lebih akrab dengan Vania, itulah sebabnya Zeyn pulang lebih awal dan memberi tahu Vania jika ia mengundang teman-temannya untuk datang dan bertemu dengan istrinya secara langsung.
Zeyn ingin Vania juga mengenal teman-temanya, karena mereka hanya bertemu saat pesta pernikahan saja dan tak bisa berbicara banyak.
"Kami seharusnya sudah mempersiapkan segalanya dan bersenang-senang bersama. Tapi kenapa berakhir seperti ini lagi?" geram Zeyn tak habis pikir. Zeyn mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan menghubungi Yudha.
"Perubahan rencana, kita bertemu di tempat biasa," kata Zeyn dan memutuskan sambungan teleponnya.
"Divya, benar yang dikatakan ibuku. Aku harus melupakanmu. Maafkan aku."
***
"Apa terjadi sesuatu lagi? Bukankah kita seharusnya datang ke rumahmu dan bukannya di sini?" sembur Yudha.
Zeyn tak menanggapi malah memberi isyarat ke arah Yudha untuk menuangkan segelas bir.
Brian mendelik aneh menatap Zeyn. "Kau harus berhenti dengan kebiasaanmu yang selalu pulang dalam keadaan mabuk. Ini sudah berbulan-bulan. Aku mengerti jika kau kesal dengan pernikahanmu. Tapi kau harus memikirkan segalanya dengan baik. Aku hanya memberimu saran karena aku tak ingin melihat sahabatku hancur."
"Apa kalian tahu bagaimana rasanya menikahi seseorang yang di landasi unsur paksaan? tinggal bersama? Aku tak menyukainya dan aku masih terlalu muda akan hal itu. Aku mungkin tidak keberatan jika dia gadis pilihanku tapi dia ... aku sama sekali tak mengenalnya," kata Zeyn dan meneguk segelas bir.
"Tapi menurutku dia wanita yang baik," Aryan juga ikut menyampaikan pendapatnya.
"Kau harusnya berkata jujur bahwa kau masih mencintai Divya," kali ini Dery yang menimpali.
"Diam,"
"Ohh, ayolah Zeck. Kami semua tahu itu. Jika kau tak ingin bersama istrimu, jalani saja sepanjang kau masih bisa bertahan setelah itu ajukan cerai," tambah Dery memberi saran.
"Sangat mudah bagimu untuk mengatakannya."
"Bukankah itu sederhana? Jika kau sudah bercerai dengannya, aku sudah siap untuk mengambilnya. Dia termasuk wanita idamanku." ucap Dery lagi dan mengedipkan sebelah matanya. "bukankah wanita yang sedang patah hati lebih mudah untuk di taklukkan?" tambahnya.
Zeyn mendelik, ada perasaan marah saat Dery dengan terang-terangan mengagumi wanita yang masih berstatus istrinya. "Bolehkah aku memukulmu?"
__ADS_1