
Segala jenis perasaan yang berbeda bercampur aduk dalam diri Zeyn.
Sakit. Zeyn tahu Yudha menyimpan rasa terhadap istrinya, namun ia terus saja menyangkalnya dan Zeyn mencoba untuk mempercayainya.
Sekarang Zeyn merasa di khianati, jadi pada akhirnya, hal berikutnya yang Zeyn lakukan adalah bogemnya yang melayang ke arah Yudha.
Kepala Yudha menoleh paksa ke samping karena benturan. Dia pasti tidak menduga itu akan terjadi.
Namun segera, Yudha membalas pukulan Zeyn dengan melakukan hal yang sama.
Zeyn jelas melihat raut wajah Yudha yang penuh amarah. Zeyn menarik kerahnya dan meninju wajahnya sekali lagi sebelum Yudha sempat mendorong Zeyn menjauh.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Zeyn beradu jotos dengan teman yang sudah ia anggap sebagai Kakak sendiri. Seseorang yang Zeyn percaya tapi jelas Zeyn tak bisa berbuat apa-apa karena semua emosi, kesedihan, kerinduan, penyesalan terakumulasi dalam satu bentuk kemarahan yang meminta untuk segera keluar dari dalam diri Zeyn.
Zeyn tidak lagi berpikir dengan benar selain cara mengalahkan Yudha.
Mereka saling menghancurkan wajah tanpa ampun hingga punggung Zeyn menyentuh dinding. Detik berikutnya giliran Zeyn yang mendorong Yudha sampai mebentur sudut meja, tapi Yudha tak berhenti dan melakukan serangan balik.
Keduanya mulai kehilangan kekuatan sehingga sesaat setelah Yudha jatuh, Zeyn mengambil kesempatan untuk duduk di atasnya untuk menyerang setiap sisi wajah Yudha dengan buku jari-jari Zeyn. Tetapi dengan cepat Yudha mendorong Zeyn ke samping, hanya untuk bangun dan melayangkan pukulan kerasnya ke pipi Zeyn.
Sudut pipi Yudha juga berdarah dan Zeyn merasa tidak enak hati untuk sesaat, berpikir itu sudah cukup, sampai tinju Yudha mendarat di wajah Zeyn untuk yang terakhir kalinya dan Zeyn mulai kehilangan keseimbangan dan mendarat dengan naas di atas lantai.
“Argh!”
Rasa sakit yang menusuk dirasakan Zeyn di punggungnya. “Kau baik-baik saja?” Yudha terengah-engah di atas Zeyn.
“Pinggangku sakit ... Brengsek!”
Yudha mulai menjauh dan ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Zeyn, kepalanya ikut menyentuh kepala Zeyn.
“Ingin pergi ke rumah sakit?”
“Tidak ... tidak ... aku baik-baik saja.”
Begitulah adegan pukul memukul itu berakhir. Keduanya sedang berbaring di atas lantai dengan napas memburu, tidak mengucapkan kalimat apapun sebelum keduanya mulai merasa tenang.
Entah mengapa Zeyn merasa puas. Bagai semua kesalahpahaman dan perasaan menyakiti di antara mereka telah di perbaiki.
“Apa dia tahu?”
“tentang apa?”
“Bahwa kamu memanggilnya seperti itu?”
__ADS_1
“entahlah, aku hanya ingin memanggilnya dengan sebutan itu.”
Tanpa sadar Zeyn tersenyum. “Mmh... Aku juga menyukai nama itu, sangat cocok untuknya.”
“Iya! Aku tahu.”
Hening sekali lagi.
“Yudha ... tidak bisakah kau memberitahuku sesuatu?”
“Hari ini kamu sering merengek seperti anak kecil, apa kau mencoba untuk meluluhkan hatiku?”
“Kenapa? Apa itu akan membantu?”
“Aku tidak tahu. Mungkin, jika aku mengatakan ya. Apa kau akan melakukan pertunjukan lucu untukku dengan imbalan beberapa informasi?”
Zeyn meletakkan tangannya di wajahnya dan segera tertawa. Yudha jelas tahu Zeyn tidak suka hal-hal berbau seperti itu.
“Aku akan melakukannya, selama kau bersedia memberitahuku di mana dia, aku akan melakukan apapun yang kau minta.”
“ Tapi Zeyn... Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa memberitahumu. Aku sudah berjanji padanya jika aku tidak akan mengatakan apa-apa.”
“Jadi! Apa yang harus aku lakukan Yud?”
“Tapi dimana dia? Dia tidak punya tempat untuk pergi. Dia tidak punya tempat tinggal, kecuali rumah orang tuanya dan aku sudah pernah ke sana. Mereka juga tidak tahu keberadaannya.”
“Jangan khawatir. Dia pasti akan kembali.”
“Jadi dia pergi? Kemana?”
“Inggris. Untuk mencari orang tua kandungnya.”
Zeyn terkejut, matanya membelalak saking kagetnya.
“Orang tua biologis?”
“Kau tahu? ... Dia diadopsi?.”
“T-tidak... aku... aku tidak tahu.”
Zeyn merasa sangat malu. Sejatinya sebagai seorang suami, dia harusnya tahu segalanya tentang istrinya, bukan? Zeyn menghabiskan waktu bersamanya hampir setiap hari selama setahun terakhir, tapi banyak hal yang tidak ia ketahui dan Zeyn bahkan tak pernah bertanya.
Zeyn lagi-lagi iri dengan hubungan antara Yudha dan Vania yang terbilang cukup dekat.
__ADS_1
“Zeyn... Kalau boleh jujur... Aku memang menyukainya.”
Jantung Zeyn mulai berpacu tak karuan dan bagian dalam yang terasa sesak karena pengakuan yang tiba-tiba dari Yudha.
“Maksudnya?”
“Yah. Aku menyukainya sebagai seorang wanita dan kurasa aku selalu melakukannya.”
“Tapi kenapa memberitahuku?”
“Aku tahu. Itulah yang aku pikirkan saat itu. Aku hanya ingin membuatmu cemburu. Dengan Dery, kami mengusung rencana jika ini akan menjadi cara yang paling tepat untuk membuat kalian berdua lebih dekat. Tetapi... Setiap hari, setiap kali kami berbicara, setiap kali dia bercerita tentangmu, setiap kali aku melihat betapa menyedihkanya dia, aku... Aku hanya ingin melindunginya dan saat aku melihatnya tersenyum, hatiku terpanggil untuk selalu ingin membuatnya tersenyum.”
Zeyn membisu. Rasa tidak percaya dan jika Zeyn merasa ada sesuatu yang sedang terjadi, bahkan jika jauh di lubuk hati Zeyn tahu, sampai akhirnya Zeyn tidak ingin itu menjadi kenyataan. Zeyn ingin salah, ingin cemburu tanpa alasan. Karena pada kenyataannya kata ‘apa aku cemburu’ ia rasakan saat Yudha dengan lantang mengatakannya dan Zeyn bisa mengetahuinya.
“Apa dia ... tahu? Apa kau sudah mengutarakan perasaanmu?” Zeyn dengan berat hati bertanya dan jantungnya hampir keluar tempatnya.
Rasa takut dengan apa yang ia dengar dan pada saat bersamaan Zeyn mengajukan pertanyaan dan berharap bisa memutar waktu dan tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Zeyn tidak yakin apa itu ide terbaik tapi Zeyn benar-benar ingin tahu jawabannya. Karena jika Yudha mengutarakan perasaannya itu sudah pasti akan jadi akhir bagi Zeyn. Zeyn akui jika dirinya tidak bisa bersaing dengan dengan Yudha. Tidak setelah apa yang dilakukan Zeyn terhadap Vania.
“Kamu mengenalku, aku bukan orang yang seperti itu. Ditambah lagi, dia... dulu... Istrimu. Aku tidak akan melakukan itu padamu. Aku tahu aku salah merasa seperti itu dan aku mencoba menyingkirkan perasaanku demi dirimu. Tapi... kau gagal, Zeyn. Kau punya kesempatan dan kau gagal, untuk kedua kalinya.”
“Aku sangat mengerti hal itu.”
“Jadi, jadi apa yang kau harapkan untuk aku lakukan sekarang? Memberitahumu dimana dia sekarang? Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya? Bahkan jika aku tidak berjanji tidak akan memberitahumu, aku tidak akan bisa melakukannya. Karena aku tidak mau. Karena kau tak pantas mengetahuinya. Kamu benar. Sekarang aku bahagia bisa memilikinya untuk diriku sendiri. Aku suka itu dan aku menikmatinya. Aku suka jika dia jauh darimu karena kamu Zeynan Shadiq Daulyn, tidak pantas berada di dekatnya.”
Tenggorokan Zeyn nenjadi kering yang membuatnya sulit untuk menelan air liur. Serta air mata yang mengancam untuk keluar jika Zeyn mencoba mengatakan sesuatu.
Zeyn tidak bisa marah terhadap Yudha. Semua yang dia ucapkan benar dan Zeyn berpikir hal yang sama. Itu sebabnya Zeyn merelakan Vania pergi sedari awal. Tapi entah mengapa Zeyn malah tidak tahan jika Vania tak bersamanya lagi. Pemikiran Vania mungkin bahagia dengan orang lain, dia bisa bersama Yudha sangat menusuk hati Zeyn.
“Yudha, apa lagi yang bisa aku lakukan? Tolong bantu aku... Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku... aku sangat mencintainya,” ucap Zeyn penuh harap.
.
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak vote dan koment
terima kasih 💕
__ADS_1