
Vania tidak menangis karena keributan yang disebabkan ayahnya, bukan pula air mata emosional. Itu disebabkan rasa sakit fisik yang dialaminya. Tapi Zeyn tidak menyadari itu dan sekarang Vania tidak berniat untuk memberitahunya, Vania hanya larut dalam dekapan hangat sang suami.
Perasaan berbeda dan baru di rasakan Vania, ada rasa menyenangkan muncul dari dalam hatinya, kata-kata Zeyn yang membuat hatinya tersentuh. Menyalurkan perasaan jika Zeyn sangat peduli padanya dan tetap berada di sisi Vania sehingga membuatnya ingin percaya dan meyakinkan dirinya untuk percaya sekali lagi dengan Zeyn.
Setelah lama berdiam diri, Vania akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Zeyn dan detik berikutnya Zeyn merasakan bajunya basah. Zeyn mengeratkan pelukannya, meletakkan pipinya di kepala Vania dengan lembut dan mengusap punggung bergetar istrinya. Membuat Vania leluasa meluapkan isi hati yang selama ini di pendamnya.
Perlahan Vania meregangkan pelukannya agar memberi jarak, tapi mata Zeyn tek terlepas pada luka yang masih terbungkus perban di tangan dan bekas memar di lengan istrinya yang mulai memudar.
Jika dilihat dari bekas luka di lengannya, pasti sudah agak lama dan Zeyn baru menyadari itu.
Zeyn menangkupkan wajah istrinya memperhatikan setiap inci wajah pucat nan pasih itu, ingin bertanya tapi Zeyn urungkan saat netranya melihat ada luka lain di pipinya, tepat di sudut matanya.
Tatapan dalam tak lepas Zeyn berikan, hatinya ikut remuk, gumpalan besar menjanggal di lehernya. 'Apa aku orang yang melakukannya? saat itu, ketika aku tak sengaja menamparnya hingga terjatuh?'
Perasaan bersalah dan menyesal kini menggerayangi otak Zeyn. Titik dimana ia baru menyadari bahwasanya ia tak jauh berbeda dengan ayah mertuanya. Pikiran Zeyn yang merasa sudah melindungi istrinya, nyatanya malah sebaliknya. Melakukan hal yang sama pada Vania.
Fakta jika Vania menyembunyikan rasa sakitnya, menyamarkan lukanya di bawah riasan yang membuat Zeyn malah semakin merasa buruk. 'Mengapa? mengapa dia tidak ingin aku menyadarinya? mengapa dia lebih suka menderita sendiri? mengapa dia tidak pernah menuntut permintaan maaf dariku? Kenapa?'
Air mata mulai mengaburkan manik milik Zeyn, dia mengecup pelan kening Vania dan memeluknya sekali lagi. membuat beberapa tetes air mata meninggalkan pelupuknya.
Zeyn menangis, menyesali semua perbuatan kasarnya terhadap istrinya.
"Tidurlah denganku malam ini," kata Zeyn.
Vania terkesiap dan mendorong lengan Zeyn pelan yang membuat Zeyn terkejut.
Zeyn sangat yakin Vania akan melontarkan kalimat penolakan, jadi sebelum itu terjadi Zeyn dengan cepat menyela ucapannya. Untuk saat seperti itu, Zeyn hanya butuh Vania tetap berada di sampingnya, agar pikiran-pikiran jika ia tidak bisa lagi melihat wajah istrinya jika melepaskan Vania dari dekapannya.
"Tolong, tidurlah denganku, aku berjanji tidak melakukan apapun yang tidak kamu inginkan. Aku janji, hmm?"
***
Untuk pertama kalinya, Vania berada di tempat tidur suaminya, rasa gugup mungkin dirasakan Vania tapi rasa aman juga ikut dirasakan dalam waktu bersamaan.
Zeyn dengan lembut membaringkan tubuhnya di samping Vania, matanya seketika membelalak menenangkan irama jantungnya. Mungkin karena pertama kalinya jadi wajar jika merasa gugup.
Vania bangun ingin menyibakkan selimut, tapi pergerakannya di cegat oleh Zeyn yang memegang tangannya. "Ada apa?" tanya Zeyn lembut.
__ADS_1
"A-aku haus."
"Tunggu di sini, aku akan mengambilnya untukmu," ucap Zeyn menekan pelan punggung tangan istrinya agar tetap di dalam kamar.
***
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Zeyn pelan dengan suara serak, di karenakan Zeyn masih dalam kondisi badan yang kurang fit.
Vania mengangguk pelan sebagian jawaban. Setelah meluapkan seluruh tangisannya, Vania tak bisa merangkai kata untuk ia ucapkan ditambah deru napasnya yang tidak stabil. Menambah rentetan bebannya.
Vania bahkan menjalani sepanjang tahun bersama Zeyn dengan menangis, setiap waktu merasakan sesak. Zeyn pasti menyadari hal itu karena bergerak lebih dekat ke samping Vania. Zeyn menyelipkan tangan kanannya di bawah leher Vania sedangkan sebelah tangannya menarik Vania agar lebih dekat dengannya, dan mencium rambut Vania sekali lagi.
Vania merasakan sebuah dorongan untuk menangis tapi ia menahannya. "Jangan menahan diri," sungguh tak ada yang bisa lepas dari perhatiannya. "Sekarang, kamu berada di satu-satunya tempat untukmu bisa menangis, lenganku. Jadi jangan menahannya."
Jika Zeyn tidak mengatakan apa-apa mungkin Vania akan baik-baik saja. Tapi ucapannya spontan membuat hatinya hancur. Air mata mulai keluar dari pelupuknya dengan tenang.
'kenapa dia bertindak layaknya seorang kekasih? kenapa sekarang? ketika dia melakukan hal yang mengerikan dan membuatku menyerah untuk mencintainya, melakukan tugas yang sempurna untuk kembali menjatuhkan perasaanku. Mengapa aku tidak bisa menahan kesan jika inilah yang ku inginkan dan butuhkan selama ini? kenapa aku ingin tangannya memukulku, padahal dia yang membuatku menderita? mengapa aku merindukan kenyamanan dari orang yang menyakitiku?"
"Aku sangat menyesal," ucap Zeyn dan Vania berbalik menatapnya, memastikan niat tulus dari dalam matanya. Tapi Zeyn tidak menipunya kali ini. "Aku tahu, aku telah menyakitimu dan tidak bisa menjadi orang yang melindungimu."
Perut Vania kram melihat wajah suaminya, Vania juga ingin memberinya sedikit kenyamanan. Sama dengan yang dilakukan Zeyn, Vania juga meletakkan tangannya di wajah Zeyn dan membelainya dengan ibu jari, tetapi Vania dengan cepat menarik tangannya karena merasa malu dengan tatapan Zeyn.
"Zeyn," panggil Vania
"Hmm ...."
"Tentang Yudha ...,"gumam Vania yang meringkuk di lekuk leher suaminya.
"Aku tahu. Jangan khawatir, aku sudah berbicara dengannya." Zeyn membelai rambut Vania. "Dan ...," Zeyn tampak ragu. "Aku ... wanita itu ...."
"Yang di foto itu?" tanya Vania.
"Hmm ... Ya ... dia Divya, tidak ada yang terjadi di antara kami. Maaf karena membuatnya melakukan hal itu padaku, karena aku orang bodoh. Tapi sumpah, tidak ada yang terjadi. Dia datang mewakili ayahnya yang sedang sakit jadi kami bertemu. Hanya sekali, kau boleh menanyakan langsung ke ayah jika keluarganya salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan. Aku bahkan tidak tahu jika dia kembali, mungkin akan menjadi terakhir kalinya karena ia akan pergi lagi. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi, aku bersumpah."
Vania sadar bahwa ia tidak sedang cemburu atau marah, tapi Divya melakukannya karena ia berani dan dia sendiri tidak.
"Ah ... bukannya aku mengizinkan dia melakukan hal itu," dan Zeyn kembali membaca pikiran Vania. "Aku juga tidak menginginkannya, aku terkejut dan tidak bisa bereaksi lebih, tidak ada lagi yang terjadi setelahnya," Zeyn terdiam. "To-tolong ... percayalah padaku," gumam Zeyn dan Vania merasakan sesuatu yang basah di pelipisnya.
__ADS_1
Vania mendongak melihat Zeyn yang menutup matanya. Hanya setetes air mata tapi mampu membuat Vania sesak. Tangan Vania terulur menyeka bekas air mata Zeyn.
"Aku tidak marah," jawab Vania seraya tersenyum. "Aku percaya padamu."
Zeyn membuka matanya, berkedip beberapa kali dan menatap Vania dengan ekspresi misterius. Vania yakin itu hanya sepersekian detik tapi tatapannya membuat Vania tersipu.
"Untuk yang terakhir kali ... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi ku mohon jangan menangis lagi," pinta Zeyn.
Vania bingung dengan frasa terakhir dalam kalimatnya tapi saat itu juga Zeyn memperhatikan bibir ranum milik istrinya sebelum menciumnya dengan sangat manis. Ini pertama kali bagi Vania, membuat hatinya bergemuruh. Vania juga mendambakan perlakuan manis seperti ini.
Vania juga membalas ciuman itu dan membuat Zeyn melepaskan tautanya, sejenak menatap manik istrinya lalu kembali mengecapnya berulang kali.
Suasana panas dan bersemangat menyatu membuat Vania ingin menangis dengan air mata kebahagiaan.
Keduanya memperlambat tempo ciumannya, dengan gerakan pelan melepaskan sentuhan di permukaan bibir masing-masing.
"Kuharap kali ini aku memberimu ciuman pertama yang tepat," Zeyn tersenyum kecil dan Vania membalasnya dengan senyum malu. Sebelum membenamkan wajahnya di lekuk leher Zeyn.
Vania meletakkan tangannya di dadanya, sementara Zeyn yang memeluknya dalam keheningan untuk sepenuhnya menikmati momen berharga itu. Vania merasa setiap sel yang ada dalam dirinya meletup-letup kegirangan. Vania meringkuk lebih dalam di tubuh hangat milik Zeyn. Mencium aroma maskulin di leher suaminya yang begitu menenangkan.
***
Zeyn membuka mata dan malam masih gelap gulita. Hanya lampu di atas nekas yang di setel redup untuk menerangi seisi ruangan. Zeyn melirik Vania karena merasakan sakit di bagian lengannya tapi tercetak senyum di wajahnya. Bisa mendekap wanita rapuh tak berdaya membuatnya sangat bahagia. Zeyn menganggap dirinya bak pahlawan, melindungi istrinya dari bahaya dan membuat Vania tidur nyenyak di sisinya. Zeyn akui tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.
Senyum kembali terpancar di wajah Zeyn saat mendapati wajah sang istri yang cemberut. Betapa bodohnya Zeyn yang tidak menyadari kecantikan Vania.
Tangannya dengan lembut membelai kulit lembutnya, dahi, mata, hidung. Zeyn menelan salivanya beralih melihat memar di lengan istrinya. Zeyn tidak pernah mendapati sudut bibir Vania tertarik membentuk senyum sehingga membuatnya tak bisa membayangkan senyuman itu.
Brengseknya Zeyn yang tidak menghargai Vania, malah sebaliknya lebih sering membuatnya terluka, memberi rasa sakit, membuat kerusakan di dalam hati Vania bahkan Zeyn sudah melenyapkan senyumannya. Gambaran terburuk yang dipikirkan oleh setiap pria yang menyayangi pujaan hatinya.
Dengan gerakan pelan Zeyn mengecup bibir Vania dan untuk sesaat memejamkan mata menikmati indahnya sebuah ketulusan.
'Akan tiba saatnya aku akan menceritakan segalanya, apa arti dia bagiku, betapa berharganya dia, bagaimana dia mengubahku, dia adalah hidupku, napasku, duniaku, cintaku, segalanya bagiku dan aku tak bisa hidup tanpanya. Aku akan mengaku jika aku mencintainya dan membuatnya membalas cintaku. Aku akan menceritakan kisah hidupku padanya.'
"I LOVE YOU."
Zeyn mengakhiri dengan kecupan di kening seorang Vania Valeanifa.
__ADS_1