Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
10. Adek yang bijak


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam rumah, Tyo dan Lesan bersamaan duduk di sofa. Mereka membicarakan banyak hal baik itu dari masa lalu hingga masa sekarang mereka baru bertemu.


" May, kamu buatin minum untuk Lesan ya," perintah Ratih kepada Maya.


" Enggak usah bi,, biasanya dia juga nyelonong ngambil sendiri," sahut Tyo yang tak jauh dari bibinya.


" Tidak apa-apa, kalian fokus mengobrol saja. Kali ini bibi baik hati mau menjamu Lesan si anak nakal," gurau Ratih yang pasti dianggap angin lalu oleh yang lain.


Maya mengangguk kemudian pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah dari bibinya. Ia menyiapkan dua cangkir teh dan beberapa camilan yang ada di dapur. Kini wanita itu berjalan kembali ke ruang tamu sembari membawa nampan yang berisi banyak makanan dan minuman.


" Silahkan diminum," ucap Maya seraya meletakkan cangkir teh di depan Tyo dan Lesan.


" Makasih ya mbak," ucap Tyo.


" Makasih mbak cantik," ucap Lesan seraya memandang genit ke arah Maya.


" Itu kakak gue, jangan lo godain! Godain dia berarti lo berurusan sama gue," ancam Tyo.


" Protektif banget jadi adek sih lo. Lagian siapa juga yang godain kakak lo,, orang kakak lo cantik beneran," jawab Lesan.


Maya menggeleng untuk keduanya. Ia berpamitan untuk meninggalkan adeknya dan sang sahabat kembali bercanda. Di balik kepergian Maya yang mulai menghilang di balik pintu dapur, ada Lesan yang memandang dalam ke arah Maya.


Malam hari setelah makan malam, seperti biasa Maya mengurung diri di kamar. Tak lama ia kedatangan Tyo yang ingin bertemu dengannya.


" Ada apa Yo?" tanya Maya kepada Tyo.


" Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu mbak," ucap Tyo.


" Yaudah masuk sini mumpung mbak belum tidur kita bicara dulu,"

__ADS_1


Tyo duduk di sofa yang ada di kamar Maya. Kamar beraroma citrus adalah ciri khas wangi kesukaan Maya sejak dulu. Tidak ada yang berubah dari kamar kakaknya semuanya masih sama.


" Lusa, Tyo mau balik ke Jogja," ucap Tyo. Jogja adalah tempat dimana Tyo menempuh pendidikan setelah dia lulus SMA. Jarak yang tidak terlalu jauh namun tetap saja memberikan kesan hubungan yang merenggang.


" Iya enggak apa-apa. Nanti mbak mau ikut ngantar kamu," jawab Maya.


" Mbak mau ikut Tyo ke Jogja? Di sana mbak bisa memulai semuanya dari awal. Yang pasti jauh dari keberadaan Pandu dan kaumnya," ucap Tyo.


Maya tertawa kecil mendengar penuturan adeknya. Ia juga masih bingung memikirkan jalan setelah ini dia mau kemana.


" Bukannya mbak nolak tapi pasti di sana mbak cuma jadi beban buat kamu. Lagian Bayu juga ada di sini, mbak enggak bisa jauh dari anak mbak," jelas Maya.


" Hemmm sebenarnya ada kabar yang belum Tyo kasih tahu buat mbak," ucap Tyo.


" Apa Yo?"


" Sebenarnya udah dua hari ini Bayu dibawa ke Jakarta sama kakek neneknya. Di rumah itu hanya ada Pandu sama istrinya, dari informasi terakhir yang Tyo tahu kalau Pandu juga akan menyusul ke Jakarta setelah perceraian kelar,"


" Mbak tenang aja, perceraian masih proses jadi kita masih memiliki kesempatan. Tyo akan meminta bantuan kepada pengacara handal untuk memenangkan kasus ini. Namun ya begitu, Tyo tidak bisa mendampingi mbak karena Tyo harus melanjutkan pendidikan yang kurang sebentar lagi,"


" Kamu tenang aja, ada paman sama bibi yang pasti mau bantuin mbak. Kalaupun paman dan bibi tidak bisa, mbak yang akan berjuang sendiri"


" Urusan perceraian aman sama Tyo tapi kalau masalah Bayu Tyo enggak bisa bantuin secara langsung. Bayu sudah lama ikut kakek dan neneknya jadi anak itu pasti lebih memilih mereka ketimbang mbak. Menurut Tyo, sebaiknya mbak melakukan pendekatan yang lebih kepada Bayu agar Bayu bisa dekat lagi sama mbak,"


" Kamu benar Yo, sekarang mbak tahu harus berbuat apa.  Besok juga mbak akan pergi ke Jakarta. Mbak akan membawa anak mbak kembali lagi,"


Tyo kurang setuju dengan keputusan Maya. Menurutnya cara itu adalah cara yang terlalu gegabah sehingga dapat menghancurkan segalanya.


" Mbak jangan begitu. Di Jakarta mbak enggak ada siapa-siapa, di sana memangnya mau tinggal sama siapa. Jakarta itu keras mbak, apalagi mbak perempuan. Sekarang aja mbak pengangguran, tidak punya skill bekerja apalagi modal yang cukup. Semua harta yang mbak kumpulkan ketika menjadi TKW semua habis diambil sama mantan suami mbak. Salahkan mbak yang terlalu bodoh sampai mau ditipu sama suami sendiri. Lihat mbak, rumah yang katanya hasil kerja keras mbak sudah dijual sama mereka.  Mereka membawa kabur uang mbak," jelas Tyo panjang kali lebar.

__ADS_1


" Kamu tahu dari mana Yo? Tidak mungkin Mas Pandu bertindak seperti itu. Kemarin surat rumah masih nama mbak, kenapa malah sekarang sudah dijual?" heran Maya.


Tyo memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Mengapa ia memiliki kakak yang baik namun kelewat bodoh ini. Maya terlalu percaya kepada Pandu sampai ia lupa dengan sifat buruk yang dimiliki Pandu.


" Aku mengorek informasi semua ini dari tetangga mereka. Kalau bukan karena mbak aku tidak mungkin mau mengeluarkan uang untuk mencari informasi tidak berguna seperti ini. Pandu dan keluarganya itu licik mbak, surat rumah dan tanah itu mereka ubah atas nama Bayu karena Bayu adalah anak mbak dan Pandu. Mereka sengaja menjauhkan Bayu dari mbak karena menginginkan harta yang mbak miliki. Sekarang semua sedang dipertaruhkan, tinggal bagaimana mbak bersikap? Mbak masih ingin diinjak - injak oleh keluarga Pandu atau membalaskan dendam," jelas Tyo.


" Sekarang mbak enggak tahu harus berbuat apa lagi Yo. Mbak cuma mau Bayu anak mbak. Kalaupun masalah harta mbak sekarang sudah tidak perduli. Biarlah mbak miskin yang penting Bayu ada buat mbak,"


Tyo memeluk kakaknya berusaha memberikan kekuatan. Ia tahu tidak mudah berjuang sendiri terlebih kakaknya itu perempuan. Maya hanya menginginkan anaknya, wanita itu tidak memperdulikan harta yang sudah dikuras habis oleh sang mantan suami.


" Yo, maafin mbak ya. Sekarang mbak cuma jadi beban kamu sama paman dan bibi. Coba aja dulu mbak mendengarkan nasehat kalian pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini. Mbak seharusnya lebih memilih pendidikan ketimbang menikah dengan Mas Pandu yang ujung-ujungnya membuat mbak menjadi janda juga," sesal Maya.


" Semua sudah terlanjur mbak. Meskipun saat ini mbak tidak memiliki apa-apa tapi mbak punya aku, paman sama bibi. Kita pasti selalu ada buat mbak," ucap Tyo berusaha menenangkan Maya.


" Mbak sampai lupa kalau punya adek kayak kamu. Kamu bahkan lebih pantas menjadi sosok kakak ketimbang mbak. Kamu baru 21 tahun tetapi pemikiran kamu sudah dewasa. Tidak seperti kakak yang berusia 25 tahun tetapi malah sudah menjadi janda muda,"


" Aku udah janji sama ayah buat menjaga mbak. Mbak adalah tanggung jawab ku sampai mbak menemukan kebahagiaan yang abadi. Jadi si brengsek Pandu bukan kebahagiaan abadi mbak. Jangan nangis lagi ya mbak,"


" Tapi Yo, mbak tetep mau ke Jakarta. Di sana mbak bisa bertemu dengan Bayu. Mbak ingin merebut Bayu secara perlahan, setidaknya kalau Bayu sudah dekat dengan ibunya pasti di pengadilan mbak yang akan memenangkan kasus ini,"


" Aku setuju sama ide mbak. Tapi mbak cuma lulusan SMA, mbak tidak mungkin bisa langsung dapat kerjaan enak kecuali,,,,," ucap Tyo kemudian memotong ucapannya sendiri. Laki -laki itu tampak berpikir memikirkan jalan keluar untuk kakaknya.


" Kecuali apa Yo?" tanya Maya balik.


" Kecuali mbak ada orang terdekat di Jakarta. Aku tahu, mbak bisa tinggal di Jakarta dan mendapat pekerjaan layak terus keamanan yang juga terjamin dengan cara ikut Lesan" jelas Tyo.


" Lesan?" tanya Maya dengan nada bingung.


" Iya, lusa Lesan balik ke Jakarta. Untuk sementara waktu mbak bisa tinggal sama Lesan terus nyari kerja sama Lesan juga. Lesan itu baik, Tyo merasa aman kalau mbak aku titipkan sama dia,"

__ADS_1


" Kamu kira mbak barang apa, main dititipkan saja,"


" Mbak adalah yang paling berharga. Tyo cuma mau yang terbaik untuk mbak,"


__ADS_2