Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
25. Bertengkar lagi


__ADS_3

" Jawab Maya! Apa maksud kamu barusan? Benar kamu berniat mau mencelakai istri ku?"


" Maksud kamu apa sih mas? Aku ke sini cuma mau ketemu sama Bayu tapi istri kamu malah melarang aku ketemu anakku sendiri. Ini tidak bisa dibenarkan karena bagaimanapun juga aku ini ibu kandungnya Bayu," jelas Maya berusaha agar dirinya tidak tersulut emosi.


" Aku tidak percaya May. Bisa saja kamu ke sini ingin mengacaukan pernikahan ku bersama Asti. Dengar Maya! Aku sudah tidak mencintai kamu lagi dan wanita satu-satunya yang aku cintai saat ini ya cuma Asti seorang. Kamu tidak memiliki kedudukan lagi di sini Maya,"


" Aku juga tidak peduli tentang itu. Sekarang tolong biarkan aku ketemu sama Bayu,"


" Tidak bisa, Bayu tidak boleh ketemu sama ibu kandungnya,"


Maya memandang Pandu lama, ia menunggu alasan Pandu mengapa melarangnya untuk bertemu dengan Bayu.


" Bayu tidak boleh ketemu sama kamu karena kamu adalah ibu yang buruk. Aku tidak mungkin membiarkan Bayu meniru sifat buruk mu itu,"


" Sifat buruk? Tunggu, apa kamu sedang menasehati dirimu sendiri?" ucap Maya setengah mengejek.


Pandu mengernyitkan dahi saat mendengar jawaban Maya yang berani. Ia belum pernah mendapati Maya dengan jawaban seperti ini.


" Ck Maya Maya, kamu pikir aku tidak tahu tentang kamu? Aku tidak menyangka kamu menemukan pengganti ku secepat itu. Hahahaha bahkan kekasih mu sekarang adalah seorang berondong. Udah sampai mana tahap hubungan kalian? Kira-kira lebih jago dia atau aku?"


" Kamu gila mas?" tanya Maya terbengong. Pasalnya Pandu membicarakan hal yang Maya tidak pahami.


" Ck, sudahlah! Sebaiknya kamu pergi dari sini Maya! Aku akan mempercepat proses perceraian kita, dan hak asuh Bayu akan aku pastikan juga jatuh ke tangan aku"


" Egois kamu mas?"


" Seharusnya kamu sadar diri Maya. Seandainya Bayu ikut sama kamu, apa ia juga akan kamu ajak tinggal dengan kekasih mu. Miris sekali! Bayu punya ibu ****** seperti kamu,"


" Lesan bukan kekasihku! Aku hanya menumpang di tempatnya," Maya mengerti sekarang Pandu tengah membicarakan siapa. Tentu saja hubungan Maya dan Lesan hanyalah sebatas teman.


" Benarkah? Tidak ada perempuan dan laki-laki yang tinggal seatap tanpa hubungan khusus. Aku yakin kamu dan dia pasti memiliki hubungan lain yang melebihi batas. Makanya aku ingin segera mempercepat proses perceraian kita agar suatu saat jika kamu hamil hal itu tidak kamu gunakan untuk meminta pertanggungjawaban aku sebagai mantan suami mu ,"


" Terserah kamu mau bilang apa, sekarang izinkan aku ketemu sama Bayu "

__ADS_1


" Maaf Maya tapi kami harus segera istirahat. Aku tidak ingin Asti kelelahan,"


" Yuk sayang! Kita masuk ke dalam rumah," lanjut Pandu lagi.


********


" Mbak," panggil Lesan kepada Maya.


" Kamu kenapa mbak?"


" Mbakk," panggil Lesan untuk kesekian kalinya. Entah apa yang dilamunkan Maya, sudah berulangkali Lesan berusaha mengajak Maya berinteraksi namun Maya tetap diam.


Cup, Lesan mengecup pipi Maya sekilas. Hal tersebut sontak langsung membuat Maya merespon keberadaan Lesan yang berada di sampingnya.


" Lesan!" seru Maya tidak terima. Ia mengusap - usap pipinya seolah apa yang barusan dilakukan Lesan adalah sesuatu yang harus dimusnahkan.


" Kamu kenapa sih mbak?"


" Sebaiknya aku pergi saja dari apartemen kamu. Tinggal di sini hanya akan menimbulkan masalah baru saja," lanjut Maya lagi. Ia bersiap melangkah pergi namun tangan Lesan mencekalnya.


" Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini mbak," cegah Lesan. Saat ini mereka tengah berbicara serius di balkon apartemen Lesan. Pemandangan kota yang indah menjadi saksi percakapan mereka yang kemungkinan akan berujung dengan pertengkaran.


" Lalu? Lesan, apa kamu lupa kalau kita ini laki-laki dan perempuan? Apa kata orang nanti kalau melihat kita tinggal satu atap tanpa adanya status. Sebaiknya aku cari tempat tinggal yang baru saja,"


" Hahahaha, apa ini sebuah kode mbak? Mbak Maya ingin aku menikahi mbak secepatnya? Apa benar begitu?"


" Enggak nyambung kamu San. Asal kamu tahu, dengan aku tetap tinggal di apartemen kamu orang-orang pasti akan berfikiran negatif tentang aku,"


" Kita tidak boleh terus seperti ini, aku harus pindah"


" Aku tidak akan membiarkan hal itu mbak,"


Lesan berlalu dari hadapan Maya. Entah kemana perginya laki-laki itu karena Maya tidak ingin memikirkannya. Maya masih terdiam duduk di balkon. Ia memandang dua pasang baju anak-anak yang tadi ia beli.

__ADS_1


Sebenarnya Maya tidak ingin mengikutsertakan Lesan di dalam masalahnya. Ia hanya ingin masalahnya berakhir dengan caranya sendiri. Namun semua berubah menjadi rumit ketika Lesan banyak membantunya.


Saat Maya hendak memilih beranjak dari tempatnya, tiba-tiba Lesan datang kembali. Laki-laki itu membawa nampan yang berisikan makanan. Maya ingat, jika hari ini dirinya tidak memasak karena moodnya sedang tidak baik. Dan sekarang Lesan datang sembari membawakannya makanan.


" Mbak Maya jangan masuk ke dalam dulu. Aku sudah membawa makanan, kita makan di sini saja"


" Aku tidak lapar San. Aku mau masuk ke kamar aja,"


" Aku tahu Mbak Maya sedang ada masalah tetapi makanan-makanan lezat ini bukan yang jadi sumber masalah mbak kan? Sebaiknya Mbak Maya makan karena tidak baik menyia-nyiakan rezeki yang ada,"


Maya mengalah, akhirnya ia kembali duduk di kursi yang ada di balkon. Di sampingnya ada Lesan yang sedang menaruh makanan di meja. Lesan meletakkan sepiring makanan lengkap dengan lauk kepada Maya. Maya sebenarnya menatap malas makanan itu namun usaha Lesan yang memberikannya makanan ia berusaha menghargai.


" Sekarang, apa Mbak Maya ingin bercerita sesuatu kepada ku?"


" Tidak baik makan sambil berbicara,"


" Ini baju baru untuk Bayu ya mbak?" tanya Lesan tidak ingin menyerah.


" Ku bilang jangan berbicara ketika lagi makan San,"


" Mbak Maya sepertinya Bayu akan cocok dengan baj,-" Maya kemudian memotong ucapan Lesan.


" Berhenti berucap atau aku sudahi acara makan malam kita?" Maya merasa jengkel dengan Lesan. Ia tidak ingin terpancing emosi karena Lesan membahas Bayu putranya.


Lesan akhirnya bungkam, ia menyantap makanannya dengan khidmat. Begitu pula dengan Maya, akhirnya mereka makan dalam diam. Tidak ada yang bersuara kecuali suara angin yang berhembus menerpa keduanya. Cuaca malam cukup cerah namun hembusan angin malam cukup tinggi.


" Mbak Maya," panggil Lesan dan Maya diam tidak menyahuti.


" Aku sudah kenyang, aku masuk ke kamar dulu" ucap Maya tanpa melihat wajah Lesan.


" Oh ya San, malam ini aku akan berkemas. Keputusan aku sudah bulat, besok aku akan pindah dari apartemen kamu"


" Kalau itu sudah jadi keputusan Mbak Maya aku hanya bisa menghargainya,"

__ADS_1


__ADS_2