
" Jadi sekarang lo gimana bro?" setelah pulang mengantarkan Maya dan anaknya kini Lesan berada di kampus. Selesai mengikuti perkuliahan ia pun berkumpul bersama teman-temannya.
" Gimana apanya?" tanya balik Lesan.
" Ck, hubungan lo sama gebetan lo?" jawab teman Lesan dengan sedikit kesal.
" Ya begitu biasa aja. Belum ada perkembangan,"
Lesan menyeruput kopi yang ia pesan. Rasanya biasa, tidak lebih enak dari kopi buatan Maya di apartemen.
" Yeeee gimana mau ada perkembangan, orang lo aja juga enggak ada pergerakan" timpal teman Lesan yang bernama Bimo.
" Wuihhh pergerakan yang bagaimana nih? Maksud Lo pergerakan panas di atas ranjang?" sahut teman Lesan yang satunya. Namanya Miko, anak jurusan teknik yang memiliki otak sedikit mes*m.
Lesan menoyor kepala Miko yang selalu saja membicarakan hal begituan setiap kali mereka berkumpul. Otak Miko memang sudah tercemar, bahkan tanpa rasa malu dirinya kadang menonton film plus plus di hadapan para temannya.
" Kayaknya otak lo perlu di cuci deh Mik? Segala hal obrolan kita selalu lo sangkutin ke hal hal begituan," seloroh Bimo.
" Laki enggak bahas begituan itu namanya bukan laki. Ayolah, kalian jangan sok polos begitu! Jangan sampai kalian yang kelihatannya diam dan santun tapi tiba-tiba bunting in anak orang. Mending kayak gue, terbuka dan apa adanya "
" Serah lo dah Mik. Lo kan emang titisannya Kakek Sugiono," jawab Bimo.
" Kampret lo Bim," kesal Miko dan yang lain pun tertawa. Obrolan mereka memang tidak ada yang benar, meskipun begitu mereka tetap berteman bahkan sejak mereka awal masuk dunia perkuliahan.
Lesan melanjutkan aktivitasnya untuk meminum kopi, ada beberapa tugas menumpuk dari dosen yang harus ia selesaikan. Tidak apa-apa malam ini ia begadang, yang terpenting tugasnya kelar.
" San, tugas kelompok kita semua mau lo yang kerjain kan?" ucap Miko tidak tahu diri.
" Enak banget lo, kasihan Lesan lah kalau ngerjain sendiri. Tapi kalau Lesan tidak keberatan kita sangat berterima kasih. Ya enggak?" timpal Bimo.
" Gue mau ngerjain tugas kalian tapi ada satu syaratnya," jawab Lesan.
" Nyuci piring di cafe gue selama satu bulan," lanjut Lesan lagi.
" Ogah," jawab Bimo dan Miko secara kompak.
" Dari pada gue nyuci piring mending gue bikin tugas. Dapet pinternya dapet juga nilainya," ucap Miko.
" Nah itu lo tahu Mik,"
Mereka melanjutkan obrolan mereka hingga cukup larut. Lesan adalah anak yang paling pintar diantara mereka namun masalah perempuan dia yang paling cupu. Miko dan Bimo sering menjadi mentor Lesan untuk mendapatkan wanita. Namun seringkali Lesan menolak, karena Lesan sudah memiliki wanita sendiri yang ia incar sejak lama.
__ADS_1
Tengah malam Lesan baru menginjakkan kakinya di apartemen. Saat masuk ia mendapati Maya tengah tertidur di sofa dengan posisi meringkuk. Maya tidur dengan lelap, entah apa tujuan Maya tidur di sofa ruang tamu hingga selarut ini.
Lesan menghampiri Maya, mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah ayu Maya ketika tidur. Maya memang sudah pernah menikah namun dari segi wajah dan tubuh tidak menandakan bahwa wanita itu adalah seorang janda.
" Kamu cantik mbak," gumam Lesan meneliti setiap inci wajah Maya.
Pikirannya menerawang, ada kata-kata absurd Miko yang terlintas di pikirannya.
" Apa aku langsung bunting in kamu aja ya mbak?" gumam Lesan menirukan saran Miko saat mereka mengobrol tadi.
" Ck, aku memang sudah gila" gumam Lesan lagi.
Saat Lesan asyik bergumam dan terus memandangi wajah Maya tiba-tiba Maya menggeliat dalam tidurnya. Maya pun terbangun dan sedikit terkejut karena mendapati wajah Lesan yang begitu dengan dirinya.
" Kamu sudah pulang San?" ucap Maya setelah membuka mata sepenuhnya.
" Aku mau bangunin Mbak Maya tadi, tapi kayaknya tidur Mbak Maya pulas banget"
" Iya aku kecapekan main sama Bayu tadi. Kamu kok pulangnya malam banget?"
" Aku nongkrong dulu sama teman-teman terus mampir nge check cafe sebentar"
" Bayu dimana mbak?"
" Bayu lagi tidur di kamar aku. Kamu sudah makan San?"
" Aku sudah makan sama teman-teman aku mbak,"
" Besok Bayu belum pulang kan mbak? Kalau Mbak Maya mau besok kita ajak jalan-jalan Bayu. Kebetulan aku enggak ada kelas untuk besok mbak,"
Maya menimbang-nimbang tawaran Lesan. Seharian tadi ia menghabiskan waktu hanya di apartemen, sepertinya ide jalan-jalan untuk Bayu cukup bagus.
" Ok besok kita jalan-jalan. Tapi apa itu tidak merepotkan mu?". Lesan menggeleng, ia tersenyum untuk Maya.
" Ya sudah aku masuk ke kamar dulu ya San," pamit Maya.
" Tunggu dulu mbak. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dulu," ucap Lesan mencegah Maya untuk masuk ke dalam kamar.
Lesan terdiam, saat Maya menuruti permintaannya untuk tidak masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Tiba-tiba saja lidahnya menjadi kelu untuk sekedar mengucapkan uneg-uneg nya.
" Kamu mau ngomong apa San?" tanya Maya.
__ADS_1
" Sebenarnya aku,-" ucap Lesan menggantung.
" Sebenarnya apa San?" tanya Maya penasaran.
" Sebenarnya aku masih ada tugas kuliah dan aku mau mengerjakannya,"
" Lalu?" tanya Maya karena masih belum mengerti dengan omongan Lesan.
" Aku mau dibuatkan kopi supaya tidak mengantuk," jawab Lesan kemudian.
" Hanya itu, baiklah aku akan membuatkannya,"
Maya berlalu dari hadapan Lesan dan berjalan menuju dapur. Ia akan membuatkan kopi seperti biasa sesuai keinginan Lesan.
" Bego banget sih gue!" batin Lesan.
" Padahal kan seharusnya gue mau bilang kalau kamu seksi banget malam ini mbak," batin Lesan lagi.
Seperti yang berada di batin Lesan, malam ini Maya mengenakan daster selutut yang begitu pas di tubuhnya. Sangat seksi begitu lah isi pikiran Lesan saat ini. Maya mengenakan daster yang tidak ketat namun berbeda jika Lesan yang melihatnya.
" Jadi pengen nikahin kamu sekarang mbak," gumam Lesan sendirian masih di ruang tamu.
Lesan masih bergelung dengan pikirannya. Ia sampai tidak sadar jika Maya sudah menghampirinya kembali di ruang tamu. Maya datang dengan secangkir kopi di tangannya.
" Kamu belum ganti baju San?" tanya Maya.
" Gantiin dong mbak,"
" Eh?"
" Salah, maksud aku nanti mbak. Iya habis ini aku ganti baju," jawab Lesan sedikit gugup.
" Oooo ya sudah ini kopi mu. Aku kira kamu tadi sudah masuk ke kamar eh nggak tahunya malah masih bengong di ruang tamu. Emang kamu lagi mikirin apa?"
" Lagi mikirin cara supaya bisa dapetin kamu mbak," batin Lesan.
" Itu mbak, lagi mikir tugas ku ternyata udah aku kerjain tadi. Saking banyak tugas sampai bikin aku lupa ternyata," jawab Lesan.
" Berarti kamu enggak jadi begadang, terus kopinya bagaimana?"
" Kopi buatan mu tetap aku minum kok mbak,"
__ADS_1