
" San, kopi mu ada di atas meja ya" teriak Maya di pagi hari.
Pagi ini Maya sengaja bangun lebih awal karena ingin memasak sarapan. Sebelumnya ia sudah berbelanja dan menyimpan stok bahan makanan di kulkas. Lesan tidak keberatan dengan ide Maya yang ingin memasak di apartemen. Justru Lesan merasa senang karena kedepannya ia akan lebih irit.
" Terima kasih mbak," jawab Lesan dengan suara berat.
Maya yang sibuk menggoreng telur di atas teflon mengalihkan pandangannya melihat wajah Lesan di pagi hari. Suara berat yang khas menandakan jika Lesan baru saja bangun dari tidurnya.
" Kok kamu enggak pakai baju San?" tanya Maya saat mendapati Lesan duduk di meja tanpa mengenakan baju atasan. Lesan hanya memakai celana pendek yang bahkan tidak sampai selutut.
" Aku baru bangun tidur mbak," jawab Lesan sekenanya. Matanya masih terasa berat, hanya setelah menyeruput kopi buatan Maya dirinya akan merasa lebih segar.
" Aku buatin nasi goreng sama telur, kamu suka kan?"
" Apapun yang Mbak Maya masak aku pasti suka," jawab Lesan kemudian menyeruput kopinya.
Setelah merasa puas dengan kopi buatan Maya, kini Lesan menatap wajah si pembuatnya. Di sisi dapur ada Maya yang heboh dengan aktivitas memasaknya. Wanita itu sibuk menuangkan nasi goreng ke dalam piring.
Wajah polos yang Lesan yakini belum menyentuh skincare sangat cantik membuat Lesan betah memandangnya. Rambut panjang Maya diikat tidak rapi namun memberikan kesan yang indah. Ada beberapa helai anak rambut yang menjuntai memenuhi dahi dan pelipis Maya, semakin menambah kecantikan alami Maya.
" Kopinya enak mbak," ucap Lesan.
" Nasi gorengnya sudah matang, sebaiknya kita sarapan sebelum berangkat kerja dan ke kampus. Kamu mau nambah kopi lagi?"
" Tidak, secangkir saja sudah cukup mbak,"
Mereka berdua makan dalam keheningan. Maya sibuk menatap nasi gorengnya, tidak sama dengan Lesan yang asyik memandangnya. Maya yang merasa terus ditatap oleh Lesan seketika memalingkan wajah ke arah Lesan. Ia ingin protes mengapa Lesan memandangnya seperti itu.
" Ada nasi di wajahku?" tanya Maya.
" Tidak ada,"
" Lalu kenapa kamu menatap ku seperti itu?"
" Kamu cantik banget mbak,"
__ADS_1
" Jangan bercanda, habiskan saja sarapan mu"
Maya melanjutkan makannya. Ia mengabaikan Lesan yang mungkin akan tersinggung dengan ucapannya barusan.
*****
Siang hari Maya melayani pembeli seperti biasa. Lesan masih berada di kampus dan Maya belum bertanya kapan bocah itu nanti akan pulang.
Selesai pembeli membayar terus berdatangan lagi pembeli yang antri untuk membayar. Pada salah satu pembeli, Maya tidak sengaja melihat Amanda istri Fahmi kakak iparnya dulu.
" Kak Amanda," panggil Maya.
" Maya?" tanya Amanda ragu. Pasalnya ia takut salah jika orang di depannya ini adalah Maya istri dari adik Fahmi dulu.
" Kak Amanda apa kabar?"
" Kabarku baik,"
" Aku mau mengobrol dengan Kak Amanda sebentar, apa Kak Amanda keberatan?" tanya Maya.
Amanda mengangguk mengiyakan permintaan Maya. Dengan senang hati Maya meminta bantuan salah satu temannya untuk menggantikan pekerjannya sebentar. Mereka berdua berjalan ke sisi pojok cafe untuk mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
" Iya kak. Kalau Kak Amanda sendiri bagaimana? Apa hubungan rumah tangga Kak Amanda dengan Mas Fahmi baik?"
" Aku juga bernasib sama dengan mu. Sebentar lagi kami akan bercerai,"
Maya menutup mulut untuk mengatasi keterkejutannya. Ia tidak menyangka jika Amanda juga bernasib sama dengannya.
" Aku dan Mas Fahmi tidak memiliki anak dan itu menjadi pokok permasalahan rumah tangga kami. Mantan mertua kita terus saja memdesakku untuk memiliki anak sementara aku sudah berusaha keras melakukannya. Hasil yang nihil membuat keretakan rumah tangga kami semakin menjadi,"
" Apa tidak ada jalan keluar yang lain?"
" Kita pisah baik-baik. Ibu Mas Fahmi sendiri yang menyuruh kami sebaiknya berpisah daripada terus bertahan dalam rumah tangga yang tidak ada anak diantaranya,"
" Apa Mas Fahmi tidak berjuang mencari jalan lain? Mengapa kalian berdua pasrah saja disuruh bercerai? Memangnya pernikahan bukan hal yang sakral?"
__ADS_1
" Entahlah May. Mas Fahmi terlalu menurut kepada ibunya. Disuruh masuk jurang sama ibunya pun pasti dia juga nurut," jawab Amanda pasrah.
Maya melihat jika raut wajah sedih masih terpancar jelas di mata Amanda. Kisah dirinya juga belum teratasi, tidak mungkin Maya memberikan nasehat - nasehat yang membantu menangani masalah rumah tangga Amanda.
" Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang kak? Mas Pandu punya istri lagi dan semua uang hasil kerja keras aku dikuasai dia. Aku mungkin tidak mempermasalahkan uang, tapi Mas Pandu bawa Bayu pergi jauh dari aku. Sekarang aku kebingungan mencari dimana keberadaan Bayu," curhat Maya dan dapat ditangkap jelas oleh Amanda.
" Mantan mertua kita sekarang lagi tinggal di rumah lama ku bersama Mas Fahmi. Bayu tinggal di sana bersama kakek dan neneknya,"
Maya mendongak melihat wajah Amanda dengan jelas. Ada secercah harapan ketika Amanda menjelaskan keberadaan Bayu. Maya berharap semoga Amanda dapat membantunya.
" Kak Amanda bisa bawa aku ketemu sama Bayu?"
" Aku sudah tidak tinggal di rumah itu tapi aku bakal kasih kamu alamatnya,"
Maya mengucapkan banyak terima kasih kepada Amanda. Beruntung ia bisa bertemu Amanda hari ini, akhirnya ia berhasil menemukan keberadaan putranya.
" Kamu yang semangat ya May. Perjuangan kamu untuk hak asuh Bayu pasti ada hasilnya. Pandu tidak berhak untuk Bayu karena dia bukan ayah yang baik,"
" Maksud Kak Amanda?"
Maya terkejut mendengar pernyataan Amanda. Apa selama ini Pandu tidak merawat putranya dengan baik.
" Selama kamu jadi TKW dulu, Pandu tidak mengurus putranya lagi. Pandu memberikan semua kebutuhan Bayu kepada Ibu Desi ibunya. Pandu seolah kembali menjadi laki-laki bujang yang tidak memiliki anak dan istri. Ia sibuk bermain dan menghabiskan setiap uang kiriman kamu,"
Bertambah satu keburukan Pandu di mata Maya lagi. Jadi selain berbohong, Pandu juga menelantarkan putra mereka.
" Aku semakin bertekad untuk merebut Bayu dari keluarga Mas Pandu,"
" Pandu mungkin tidak perduli dengan anaknya tapi Pak Rusdi dan Bu Desi sangat menyayangi Bayu cucu satu-satunya mereka. Maka dari itu, mereka sengaja membawa Bayu pindah ke Jakarta untuk menjauhkannya dari mu,"
" Kak Amanda tahu cara agar aku bisa membawa Bayu bersama ku?"
" Ambil jalur hukum saja May. Aku yakin kamu pasti menang karena Bayu masih kecil dan kamu adalah ibunya. Dimana-mana ibu lebih berhak untuk mengurus anak daripada ayah,"
Maya berpikir sejenak, ia harus bergerak cepat sebelum perceraian selesai dan Pandu semakin bertingkah sesukanya. Ia tidak ingin kehilangan Bayu untuk kedua kalinya.
__ADS_1
" Terima kasih ya kak," ucap Maya kemudian memeluk Amanda dengan erat.
" Baiklah aku pamit dulu ya," pamit Amanda dan Maya mengantarkan Amanda ke parkiran.