
" San, pakai baju kamu" ucap Maya di pagi hari.
" Kenapa sih mbak? Lagian habis ini aku juga mau mandi kok," jawab Lesan yang kini sudah duduk di meja makan.
Maya sibuk membuat sarapan, dan Lesan yang baru bangun tidur. Lesan mengambil tempat duduk di meja makan dan saat ini tengah menyeruput kopi buatan Maya.
" Hari ini Mbak Maya mau bekerja ke cafe lagi kan?" tanya Lesan.
" Tergantung, kamu masih mempekerjakan aku apa enggak. Kemarin kan aku udah bolos dua hari," jawab Maya.
Sepiring nasi goreng telah tersaji di hadapan Maya. Tinggal memberikannya kepada Lesan yang saat ini tengah berada di meja makan.
" Mbak Maya bebas mau masuk kapan pun di cafe. Tapi karena Mbak Maya bolos, jadi ada pemotongan gaji " jawab Lesan tanpa beban.
" Ok, aku masuk kerja hari ini " jawab Maya dan Lesan tersenyum puas.
Sebenarnya bukan maksud Lesan untuk mengancam Maya dengan memotong gaji, namun jika Maya tahu dirinya diperlakukan spesial pasti Maya akan menolak. Lesan cukup tahu bagaimana cara membuat Maya betah di tempat kerja dan apartemennya namun tidak pandai jika harus mengungkapkan perasaannya. Nyali Lesan terlalu ciut jika harus mendapat penolakan langsung dari Maya.
" Ini nasi gorengnya sudah siap. Mari makan," ucap Maya setelah meletakkan sepiring nasi goreng untuk Lesan dan dirinya.
" Mbak, sebenarnya aku sudah suka sama kamu sejak lama" jujur Lesan akhirnya. Ia tidak tahan jika harus menunda perasannya lebih lama. Sudah tinggal satu atap dengan Maya saja seringkali membuatnya khilaf, ia takut jika nanti Maya berpikiran buruk tentang dirinya.
" Masih pagi, jangan ngelindur kamu" jawab Maya tetap tenang menyantap nasi gorengnya.
" Aku serius mbak. Aku sudah suka sama Mbak Maya sejak lama. Bahkan sebelum Mbak Maya nikah sama mantan suami mbak," ucap Lesan mengakui perasaannya.
" Hentikan perasaan mu itu Lesan. Status ku sekarang janda, dan kamu masih perjaka. Kamu masih muda, aku tahu itu hanya perasaan sesaat"
" Ck, tolong percaya sama aku mbak. Apa yang aku bicarakan itu benar adanya. Aku suka sama Mbak Maya sejak lama,"
__ADS_1
" Maaf tapi aku hanya menganggap mu sebagai adik sama seperti Tyo,"
" Ck, tapi aku enggak mau dianggap adik sama Mbak Maya"
" Habiskan saja sarapan mu. Setelah ini kamu harus kuliah, banyak-banyak in belajar supaya kamu cepat lulus"
" Teman cewek kuliah mu pasti banyak. Kenapa kamu enggak pacaran aja sama mereka?" lanjut Maya lagi.
" Aku maunya sama Mbak Maya,"
" Ck, dasar bocah " gumam Maya.
" Bocah-bocah begini juga sudah ahli kalau disuruh membuat bocah kali mbak,"
Tidak ada sahutan lagi dari Maya. Wanita itu sibuk menyantap nasi goreng sembari melihat isi ponselnya. Sebenarnya tidak ada yang penting dari isi ponsel tersebut, namun Maya tetap lebih memilih isi ponselnya. Setidaknya ia tidak harus marah dengan ungkapan perasaan Lesan barusan, ia hanya perlu bersikap dewasa agar Lesan tidak merasa sakit hati.
" Belajar yang bener dulu San! Kamu masih kuliah, perjalanan kamu masih panjang. Maaf aku tidak bisa menerima perasaan mu"
********
Sore hari setelah pulang bekerja, Maya bersiap-siap untuk pulang. Ia tidak menunggu pulangnya Lesan, Maya akan pulang ke apartemen sendiri. Menghindari gosip di cafe, sebisa mungkin Maya akan menjaga jarak dengan Lesan.
Lesan tidak keberatan, laki-laki itu bahkan sudah menunjukkan password apartemen yang baru. Katanya setiap sebulan password apartemen harus diganti agar tidak mudah dilacak orang iseng. Maya bukan mempermasalahkan password apartemen tapi isi password tersebut adalah tanggal lahir Maya. Maya tidak habis pikir, apakah Lesan benar-benar menyukainya atau hanya penasaran saja.
" Aku yakin omongan Lesan tadi pagi cuma candaan. Tidak mungkin Lesan menyukai ku, dia pasti cuma penasaran saja sama aku. Setelah dia tidak penasaran pasti dia akan menghilang. Ck, anak jaman sekarang memang aneh" batin Maya dalam hati.
Ia sudah selesai berganti seragam dengan pakaian biasa. Maya bersiap-siap untuk pulang dan berpamitan dengan pegawai yang lain. Saat berada di luar cafe, tidak sengaja Maya bertemu dengan mantan suaminya.
" May, jadi benar kamu bekerja di cafe ini sekarang?" tanya Pandu. Pandu tidak sengaja lewat dan bertemu dengan Maya. Tidak ada salahnya jika ia menyapa mantan istrinya yang ini.
__ADS_1
" Kamu sudah pulang dari acara bulan madu mu mas?" tanya Maya balik.
" Oh kamu sudah tahu kalau aku pulang dari acara bulan madu. Pasti Kak Fahmi yang cerita ya? Soalnya aku tahu kamu kerja di sini dari Kak Fahmi juga,"
Maya mengangguk, rasanya ia ingin segera pergi dari hadapan Pandu. Ada perasaan jengkel yang menggerogoti hatinya jika melihat wajah Pandu.
" Bayu, apa kabar?" tanya Maya basa-basi.
" Dia baik. Sekarang dia tambah lengket sama Asti. Asti pintar ngambil hati Bayu soalnya,"
" Kamu boleh mendekatkan Bayu sama ibu sambungnya tapi satu hal kamu enggak bisa misahin Bayu dari ibu kandungnya," ucap Maya agak nyolot. Pasalnya Pandu seperti tengah mengejek Maya saat ini.
" Enggak ada maksud buat aku misahin kamu sama Bayu. Tapi kamu tahu sendiri kan, kalau sejak kecil aku yang merawat Bayu. Jadi kalau Bayu lebih dekat sama aku itu wajar"
" Ck, jangan munafik kamu deh mas. Bukannya selama ini yang merawat Bayu itu Ibu Desi. Kamu tuh enggak becus jadi ayah, kerjaan mu cuma jadi pengangguran yang sibuk mendekati wanita menggunakan uang hasil kerja keras mantan istrimu"
Pandu merasa tertohok atas ucapan Maya barusan. Ia tidak terima dikatakan seperti itu oleh mantan istrinya. Maya yang ia kenal dulu tidak pernah berkata kasar seperti ini. Maya adalah sosok yang lemah lembut dan berhati lapang.
" Kalau begitu aku pulang dulu May. Asti pasti sudah menunggu aku di rumah. Tadinya aku cuma mau beli mangga ini untuk Asti yang lagi ngidam tapi enggak tahunya malah ketemu kamu di sini. Kamu enggak mau kasih aku selamat karena sebentar lagi Bayu mau punya adik?,"
Maya tertawa kecil mendengar ucapan tidak tahu malu dari Pandu. Benar-benar mantan suaminya ini sudah berubah. Lima tahun yang lalu Pandu masih sangat bucin kepadanya tetapi sekarang semua berbeda. Pandu sangat menjengkelkan di mata Maya saat ini.
" Baiklah selamat atas kehamilan untuk istri kamu yang sekarang. Sebaiknya kamu segera mencari pekerjaan yang lebih karena biaya persalinan itu tidak murah," ucap Maya dengan nada setengah mengejek. Ia ingat jika dulu biaya persalinannya dibayari oleh Pak Rusdi mantan mertuanya.
" Hahahaha kamu pasti cemburu ya May? Kamu masih cinta kan sama aku?"
Maya berlalu meninggalkan Pandu terlebih dahulu. Ia malas mendengar ucapan Pandu lagi. Semakin ia meladeni Pandu maka emosinya semakin meningkat. Lebih baik ia menghindar dari pada harus kemakan omongan Pandu yang tidak penting itu lagi.
" Kenapa juga aku harus ketemu Mas Pandu di depan cafe?" gumam Maya mencari angkot yang sedang lewat.
__ADS_1