
Kemarin adalah sidang pertama perceraian antara Maya dan Pandu. Maya sengaja menunda keberangkatannya ke Jakarta demi menghadiri sidang pertama tersebut. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sidang pertama karena baik Maya maupun Pandu sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai.
Pandu hadir di temani Asti sang istri sedangkan Maya bertiga bersama paman dan bibinya. Ratih terus menggenggam tangan Maya dengan erat seolah memberikan kekuatan. Jamal sendiri terus menatap tajam ke arah Pandu beserta istri barunya. Demi apapun jika di kemudian hari Pandu menyesal akan keputusannya saat ini maka Jamal adalah orang pertama yang akan menolak Pandu sepenuhnya.
Tyo tidak bisa ikut menemani Maya karena seminggu sebelumnya laki-laki itu sudah berangkat kembali ke kotanya. Ia harus menyelesaikan pendidikan ditambah pekerjaan sampingannya yang tidak bisa ditinggal lebih lama. Namun dari hari sebelum berangkat Tyo sudah berjanji kepada Maya untuk membantu memenangkan keponakannya agar menjadi hak asuh Maya kakaknya. Sidang pertama bukanlah apa-apa, Tyo yang akan bertindak sendiri untuk sidang mereka selanjutnya.
" Ngelamun aja mbak," ucap seseorang sehingga menyadarkan Maya dari lamunannya.
" Eh iya San. Maaf aku lagi kepikiran Bayu aja," jawab Maya asal. Sejujurnya ada banyak pikiran yang memenuhi otaknya saat ini.
" Aku nyalain musik ya biar Mbak Maya enggak bosan," ucap Lesan.
Setelah sidang pertama kemarin hari ini Maya resmi berangkat ke Jakarta untuk menyusul Bayu. Dengan ditemani Lesan yang merupakan tetangga sekaligus sahabat adiknya, Maya berniat mencari keberadaan Bayu yang sengaja disembunyikan oleh Pandu.
Kemarin saat Jamal sendiri yang menanyakan keberadaan Bayu kepada Pandu namun tidak membuahkan hasil. Pandu berkata jika Bayu sedang berada di tempat aman, Pandu juga menyangkal jika laki-laki itu sengaja menyembunyikan Bayu dari Maya.
Dari situ bisa diambil kesimpulan jika Pandu memang sengaja menyembunyikan Bayu. Beruntung Maya mendapatkan informasi dari mata-mata adiknya jika Bayu berada di Jakarta dan kondisinya sangat sehat. Yang membuat Maya tenang karena Desi dan Rusdi yang merupakan mantan mertuanya sangat menyayangi Bayu cucu mereka. Jadi Maya tidak terlalu khawatir karena Bayu bersama orang yang menyayanginya.
" Lagunya bagus kan mbak?" tanya Lesan yang sibuk mengemudi di sebelah Maya.
" Eh iya bagus kok lagunya," jawab Maya lagi setelah dirinya melamun cukup lama.
" Maaf ya San, aku merepotkan kamu. Seharusnya kamu tidak perlu mengantarkan aku ke Jakarta hingga sejauh ini," jawab Maya merasa tidak enak. Pasalnya Maya mendengar jika Lesan menunda keberangkatannya karena ingin menunggu Maya agar bisa berangkat bersama.
" Mbak Maya ngomong apa sih? Aku kemarin dapat informasi dari kampus kalau ada perpanjangan libur jadi ya aku memanfaatkan waktu itu. Mama ku juga masih kangen sama anaknya jadi aku ditahan di rumah lebih lama deh," jelas Lesan.
" Ohhh begitu, berarti Bi Ratih bohong nih," ucap Maya merasa sedikit malu. Ia terlalu percaya diri dengan pemikirannya jika Lesan sengaja menunggu dirinya untuk berangkat bersama ke Jakarta.
__ADS_1
" Mbak Maya beda berapa tahun sama Tyo?" tanya Lesan basa-basi.
" Aku sama Tyo beda 4 tahun. Dia sekarang lagi menyelesaikan kuliah semester akhirnya, apa kamu juga sama San?" tanya Maya balik.
" Bener banget mbak. Tinggal semester akhir dan nunggu jadwal sidang udah kelar kuliah aku,"
" Kamu di Jakarta tinggal sama siapa San?"
" Aku ngekost mbak. Terus aku juga buka usaha kecil-kecilan rumah makan gitu," jelas Lesan.
" Wah hebat kamu. Kamu sendiri yang buka atau gimana?" tanya Maya lagi.
" Dulu sebelum berangkat ke Jakarta mama ngasih uang warisan kakek ke aku terus uangnya aku buat usaha dan Alhamdulillah sampai sekarang usahanya lancar mbak,"
" Kok bisa kamu kepikiran bikin usaha padahal kalau dilihat-lihat kamu kan masih muda terus dapat uang banyak pasti pikirannya untuk senang -senang. Kenapa kamu bisa gitu?" tanya Maya merasa heran.
" Kamu hebat San. Pemikiran untuk anak seusia kamu itu bagus banget. Salut aku sama kamu," puji Maya.
" Jangan dipuji mbak, aku masih belum jadi apa-apa. Nanti kalau aku udah sukses beneran baru Mbak Maya bisa puji aku sepuasnya,"
Maya tertawa kecil mendengar ucapan Lesan. Ia pikir dirinya akan merasa canggung di mobil bersama Lesan yang sebelumnya belum ia kenal. Namun ternyata salah, Lesan mampu membuatnya nyaman saat di dalam perjalanan.
Anaknya yang sopan seringkali membuat Maya bangga. Maya jadi teringat adiknya yang juga seperti Lesan. Di kota lain, Tyo sibuk menyelesaikan kuliah dengan pekerjaan sampingan yang Maya tahu sebagai barista di sebuah cafe yang menyediakan beragam jenis kopi.
" Mbak Maya nanti bisa tinggal di kost ku karena kebetulan ada kamar yang kosong. Bi Ratih juga bilang kalau Mbak Maya juga mau cari kerja kan?" ucap Lesan.
" Iya untuk sementara aku mau ngekost di tempat kamu, di sana ada banyak kamar kan?"
__ADS_1
" Cuma ada satu mbak, dan Mbak Maya enggak perlu bayar. Menurut aku, sebelum Mbak Maya dapat kerjaan pasti lebih baik Mbak Maya tinggal sama aku dulu. Ada kamar kosong yang enggak dipakai dan keamanannya juga terjamin,"
" Jadi di sana kostnya bebas? Cewek cowok bisa campur jadi satu?" tanya Maya dan Lesan mengangguk.
Maya sebenarnya merasa tidak enak terhadap Lesan. Namun jika membayangkan dirinya hidup sendirian di kota lain tanpa teman atau sanak saudara sepertinya pilihan Lesan jadi yang terbaik.
" Mbak Maya enggak usah merasa sungkan. Aku sudah janji sama Bu Ratih untuk menjaga Mbak Maya selama di Jakarta. Lagian dulu Tyo sering ngajari aku PR sekarang gantian aku balas budi sama dia,"
" Kamu akrab banget sama Tyo ya? Aku sampai lupa kalau Tyo punya sahabat sebaik kamu,"
" Mbak Maya terlalu sibuk bucin sama Pandu jadi dulu enggak kenal sama aku," canda Lesan.
" Jadi kamu sudah kenal aku sejak aku sama Mas Pandu ya?"
" Iya, waktu itu aku masih SD kelas 6 mbak. Mbak Maya kelas satu SMA terus pulang ke rumah Bi Ratih sambil bawa tuh orang,"
" Lupain aja San, itu cuma masa lalu," ucap Maya tersenyum kecut. Ia ingat dulu saat dirinya pertama kali bertemu dengan Pandu. Ada sejuta kupu - kupu yang menghiasi hari-harinya karena Pandu. Dan beberapa kali Maya sering membawa Pandu pulang ke rumah untuk sekedar mengerjakan tugas sekolah bersama.
" Perjalanan masih jauh mbak, sebaiknya Mbak Maya tidur aja. Aku bangunin kalau kita sudah sampai nanti," ucap Lesan.
" Kamu yakin? Memangnya kamu enggak capek?" tanya Maya memastikan. Sungguh dirinya sangat mengantuk saat ini.
" Memangnya Mbak Maya mau menggantikan aku menyetir?"
" Tidak tidak,, sebaiknya aku tidur. Jangan lupa bangunkan aku saat sudah sampai nanti," ucap Maya bergerak pelan untuk mencari posisi nyaman dalam tidurnya nanti. Tidur di dalam mobil selama perjalanan adalah kebiasaan Maya untuk mengurangi kebosanan.
" Selamat tidur Mbak Maya," ucap Lesan setelah melihat mata Maya benar-benar terpejam.
__ADS_1