Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
23. Pertengkaran kecil


__ADS_3

Terhitung sudah satu bulan kini Maya tinggal di apartemen Lesan. Ada banyak perubahan hal yang Maya temui setelah Lesan mengungkapkan perasaannya. Contohnya seperti sekarang, Maya dibuat pusing dengan rengekan Lesan yang sengaja ingin mengajaknya pergi keluar.


" Mbak ayolah, aku sudah memesan dua tiket film. Sayang kalau enggak ditonton filmnya," rengek Lesan kepada Maya.


" San, kamu ajak aja teman wanita mu yang lain. Aku lagi ingin istirahat aja di apartemen," kebetulan hari ini adalah hari libur keduanya. Maya sengaja mengambil hari libur kerja di hari Selasa agar bisa menghindari Lesan.


Karena biasanya Lesan memiliki waktu libur di hari Minggu namun entah mengapa hari Selasa seperti ini laki-laki itu juga libur. Maya sedikit curiga jika Lesan membolos kuliah demi bisa mengajaknya jalan.


" Ini masih hari Selasa kenapa kamu bisa libur?" tanya Maya. Saat ini Maya tengah bersantai di meja makan sembari memakan buah strawberry yang ia beli di supermarket.


" Dosenku lagi keluar kota mbak. Lagian Mbak Maya tak suruh ngambil libur di hari Minggu enggak mau. Malah ngambil jatah libur di hari Selasa," gerutu Lesan. Memang untuk semua pegawai Lesan memiliki jatah libur dalam satu minggu. Tidak semua pegawai memiliki jatah hari libur yang sama, dan Maya sengaja mengambil jatah hari libur di hari Selasa.


" Suka-suka mbak dong pingin libur di hari apa," jawab Maya fokus dengan buah strawberry miliknya. Rasa strawberry ini tidak manis dan cenderung ke asam. Meskipun begitu, Maya tetap memakannya secara lahap.


" Ayolah mbak kita berangkat. Jam tayangnya kurang satu jam lagi,"


" Tidak mau Lesan. Mbak mau di apartemen aja,"


" Kayaknya Mbak Maya harus dipaksa dulu deh biar mau ikut,"


" Sekalipun kamu maksa mbak tetep enggak mau ikut,"


" Yakin?" ucap Lesan tersenyum smirk.


Lesan mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Posisi Lesan saat ini adalah berada di samping Maya yang tengah duduk di kursi meja makan. Lesan tidak duduk di kursi sama seperti Maya melainkan sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Maya.


" San, kamu jangan aneh-aneh deh" ucap Maya merasa was-was.

__ADS_1


Lesan mengabaikan ucapan Maya dan terus berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Tak ingin terlihat ketakutan, Maya terus berusaha tenang menyantap buah strawberry nya. Hati mungkin merasa was-was namun Maya mengindahkan hal itu.


" Enak makan strawberry?" tanya Lesan dengan suara beratnya.


" Enak. Kamu kalau mau ambil aja,"


Hap, selesai berucap demikian Lesan benar-benar mengambil buah strawberry milik Maya. Bukan mengambil langsung dari wadah melainkan mengambil strawberry langsung dari milik Maya yang sedang digigit.


Melotot, begitulah ekspresi wajah Maya saat ini. Tanpa aba-aba Lesan langsung menyambar buah strawberry yang ia gigit setengah. Bukan berhenti di situ saja, Lesan melanjutkan aksinya dengan mencium lembut bibir Maya.


Awal mula Lesan hanya menempelkan bibirnya, lambat laun laki-laki itu mulai menggerakkan bibirnya untuk mencecap seluruh isi dari bibir Maya. Karena Maya hanya diam saja, kini Lesan terus ******* bibir Maya.


Maya tidak bereaksi, hal itu digunakan Lesan untuk memperdalam ciumannya. Lesan menekan tengkuk Maya agar mempermudah aksesnya untuk mengabsen seluruh gigi Maya. Lesan terus bergerak hingga kini kesadaran Maya baru kembali.


" Mphhhhh," ucap Maya meronta dalam dekapan Lesan.


Karena tidak kunjung dilepaskan oleh Lesan, akhirnya Maya menggigit bibir Lesan. Maya tersenyum puas saat Lesan melepaskan ciumannya. Sepertinya sudut bibir laki-laki itu berdarah akibat gigitan Maya namun Maya tidak perduli. Toh, salah sendiri kenapa Lesan bertindak kurang ajar sampai menciumnya segala.


" Salah sendiri kamu kurang ajar sama aku. Ingat ya San, aku ini kakak dari sahabat kamu. Tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu," ucap Maya sedikit meninggi.


" Jangan begitu dong mbak. Orang tadi Mbak Maya juga menikmatinya kan?"


" Sembarangan. Siapa juga yang menikmatinya? Yang ada aku tuh syok karena kamu mencium ku secara tiba-tiba," elak Maya. Setengah mati ia berusaha menyadarkan diri kalau perbuatan Lesan itu adalah salah.


Lesan merasa kesal dengan ucapan Maya. Laki-laki itu menjadi cemberut, setelah mendengar ucapan Maya barusan.


" Aku cuma mau mengajak Mbak Maya menonton, apa itu salah?"

__ADS_1


" Lesan, kamu belum dewasa. Kamu harus bisa belajar menerima kenyataan. Aku tidak bisa menerima perasaan kamu dan pergi menonton berdua itu hanya dilakukan oleh kedua pasangan. Kamu tahu kan? Kalau aku hanya menganggap mu sebagai adik," jelas Maya. Sebisa mungkin Maya harus bisa memberikan pengertian kepada Lesan, ia tidak ingin menyakiti perasaan Lesan lebih dalam.


" Mbak Maya masih cinta sama mantan suami mbak yang itu?" tebak Lesan semakin melenceng.


Maya menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi. Ia bingung harus dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kepada Lesan.


" Sudahlah aku mau masuk kamar dulu," putus Maya akhirnya. Ia tidak ingin menambah kerumitan obrolannya bersama Lesan.


" Ck, mantan suami seperti itu kenapa juga harus dipertahankan? Sadar mbak, lima tahun Mbak Maya bekerja laki -laki pengecut itu yang menghabiskan uang mbak,"


" San, sudahlah kamu tidak mengerti. Berhenti berucap dan kembalilah ke kamar mu,"


Maya berdiri dari kursinya. Ia mengabaikan Lesan yang saat ini masih terus memandanginya.


" Aku kecewa sama kamu mbak," setelah berucap demikian Lesan juga meninggalkan meja makan.


Maya tidak perduli, biarkan saja Lesan merasa marah. Nanti juga akan baik sendiri. Lesan harus berpikir dewasa, begitulah pikir Maya saat ini.


*********


Malam hari di apartemen Lesan, Maya tidak menemukan keberadaan Lesan. Setelah perdebatan mereka tadi siang sampai malam hari Maya belum juga bertemu dengan Lesan. Entah Lesan pergi atau ada di kamarnya Maya sendiri pun tidak tahu.


Maya memutuskan untuk pergi ke dapur. Perutnya terasa lapar karena ia belum makan sejak tadi siang. Sesampainya di dapur Maya berencana membuat sandwich sebagai menu makan malamnya. Maya tidak ingin memasak ribet karena dirinya memang sedang malas.


" Ngelamun apa sih aku? Kenapa bikin sandwich bisa sebanyak ini?" gumam Maya setelah selesai membuat sandwich tetapi sepertinya kebanyakan. Maya tidak akan sanggup menghabiskan sandwich sebanyak itu.


Tanpa pikir panjang, Maya meletakkan sandwich nya di piring yang terpisah. Sepertinya memberikan sandwich lebih ini kepada Lesan bukanlah suatu masalah. Ia yakin jika Lesan tidak mungkin menolak sandwich buatannya sekalipun laki-laki itu merasa kenyang. Pernah suatu hari Lesan bilang jika sandwich adalah makanan kesukaannya.

__ADS_1


Tok tok tok, Maya mengetuk pintu kamar Lesan. Tidak ingin main nyelonong seperti tempo hari, Maya tetap berada di luar sampai ada sahutan langsung dari Lesan.


" San, buka pintunya. Mbak bawa sandwich nih,"


__ADS_2