
Pagi ini Lesan terbangun dengan keadaan yang lebih segar. Semalam sebenarnya ia tidak berniat untuk memaksa Maya melakukan hal itu namun kodrat dirinya sebagai laki-laki begitu menguasai.
Lesan keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk menyeruput kopi buatan Maya seperti biasa. Namun saat berada di dapur, Lesan tidak menemukan secangkir kopi bahkan jejak Maya sehabis menggunakan dapur sekalipun.
Lesan memutuskan untuk menemui Maya di kamarnya. Sudah tiga kali Lesan mengetuk pintu Maya namun tidak terdengar suara sahutan. Tanpa membuang waktu, Lesan menerobos masuk ke kamar Maya.
Sepi, bersih begitu lah kondisi kamar Maya saat ini. Seluruh isi kamar Maya kembali seperti dulu sebelum ditempati oleh Maya. Lesan kemudian membuka almari pakaian Maya, bersih tidak ada pakaian yang tersisa sekalipun.
" Ck, rupanya kamu telah kabur mbak" Lesan menggeram kesal karena Maya meninggalkan apartemen tanpa seizin darinya.
***********
Di tempat lain, saat ini Maya masih berada di Jakarta. Ia tidak mungkin kembali ke rumah pamannya karena itu akan menimbulkan pertanyaan dan masalah baru. Maya tidak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin lama antara Tyo dan juga Lesan.
Meskipun Lesan telah berbuat tidak baik kepadanya, Maya tetap menghargai Lesan sebagai sahabat adiknya. Memutuskan pergi dari apartemen Lesan adalah jalan keluar yang terbaik. Ia masih harus menetap di Jakarta karena tidak ingin jauh dengan Bayu.
Memilih kontrakan baru, itu adalah keinginan Maya saat ini. Ia memang tidak memiliki uang cukup banyak namun jika untuk mengontrak tempat tinggal itu uangnya sudah lebih dari cukup.
" Semoga aku betah di sini," gumam Maya kini berada di tempat tinggal barunya.
Lokasinya dekat dengan jalan raya dan ukuran yang tidak terlalu besar setidaknya mampu menampung hidup Maya selama beberapa hari ke depan. Maya mengambil kontrakan tidak jauh dari rumah Fahmi, setidaknya ia bisa dekat dengan Bayu sekalipun ia tidak satu rumah.
Maya tidak memberitahu siapapun atas kepergiannya kali ini. Baik keluarga pamannya maupun keluarga mantan suaminya sendiri. Terlebih Lesan, ia bahkan tidak ingin menemui laki-laki itu lagi. Maya juga sudah memutuskan untuk keluar dari pekerjaan di cafe, ia tidak ingin memiliki urusan dengan Lesan lagi. Cukup semalam ia diperlakukan seperti itu oleh Lesan, kedepannya ia tidak ingin terulang kembali.
Maya sebenarnya tidak marah dengan Lesan hanya saja ia takut jika hal semalam akan terulang kembali. Bukan tidak perduli Maya memikirkan alasan Lesan, namun sepertinya cara menghindar adalah yang terbaik.
" Aku akan mulai mencari pekerjaan, semoga kehidupan ku kedepannya berjalan dengan baik" ucap Maya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sedikit keras. Tidak masalah sementara seperti ini, yang terpenting ia memiliki tempat bernaung.
__ADS_1
Malam hari, di kontrakan Maya tiba-tiba ada yang mengetuk. Maya yang sehabis mandi bergegas keluar untuk membukakan pintu.
" Eh ibu," sapa Maya ketika melihat tamu yang datang. Ternyata yang datang adalah ibu kontrakan yang memberikan sewanya kepada Maya tadi siang.
" Maaf menganggu malam-malam begini nak Maya," ucap ibu kontrakan merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa Bu. Mari masuk dulu, kita bicara di dalam saja" ucap Maya mempersilahkan masuk.
" Tidak usah repot-repot nak Maya. Jadi begini ibu cuma mau bilang kalau ibu berubah pikiran. Ibu tidak bisa menyewakan kontrakan ini lagi kepada nak Maya. Ibu minta maaf, malam ini nak Maya harus meninggalkan kontrakan sekarang juga"
Maya terkejut mendengar ucapan ibu kontrakan. Bukankah tadi siang Maya sudah membayar lunas biaya sewa kontrak selama satu bulan, lalu mengapa tiba-tiba ibu kontrakan mengusirnya.
" Kenapa bisa begitu bu? Bukankah saya sudah membayar lunas sewa kontrakan ini?"
" Ibu akan mengembalikan uang sewanya kepada nak Maya. Setelah ini nak Maya harus berkemas karena sebentar lagi kontrakannya akan ibu tutup,"
Maya berjalan sendirian sembari membawa koper miliknya. Ia tidak tahu tujuannya kali ini mau kemana. Tidak mungkin dirinya meminta bantuan kepada Fahmi karena itu hanya akan memperburuk keadaan. Kedua mantan mertuanya pasti berpikiran macam-macam, Maya tidak ingin mengambil resiko jika harus kehilangan Bayu lagi.
Saat melintasi sebuah gang yang sepi, perasaan Maya menjadi tidak enak. Pasalnya Maya tidak berniat untuk melewati gang tersebut namun hanya jalan ini yang menghubungkannya dengan jalan raya. Maya tidak memiliki tujuan, berjalan ke sembarang arah adalah hal yang dilakukannya saat ini.
" Mau ke mana cantik?" goda salah seorang pemuda yang sedang nongkrong di warung.
Maya menanggapinya sekilas, ia berjalan lurus setelah tersenyum singkat sebagai tanda bentuk menghargai sesama. Namun semua berkata lain, pemuda itu kembali menggoda Maya dengan siulan.
" Ayo abang anterin cantik," ucap pemuda satunya.
" Maaf saya sudah ada yang jemput," bohong Maya agar tidak diganggu sekumpulan pemuda itu.
__ADS_1
Maya berniat melanjutkan perjalanannya, namun dengan iseng salah satu pemuda itu menarik koper Maya hingga terlepas dari genggamannya. Maya melotot merasa marah karena tindakan iseng dari mereka.
" Tolong, kembalikan koper saya"
" Nanti, setelah kamu melayani kami"
" Tolong jangan kurang ajar ya! Saya bisa berteriak, kalau anda semua tidak ingin dikeroyok massa," ancam Maya.
" Langsung sikat aja! Jangan kelamaan,"
Setelah berucap seperti itu, salah satu pemuda menarik tubuh Maya hingga berada di pelukan pemuda tersebut. Maya tentu terkejut karena dirinya masih belum siap. Dan dengan kurang ajarnya, bahkan pemuda itu mengelus pipi Maya berniat mencium Maya.
" Tolong lepaskan saya!" ucap Maya selalu berusaha menghindar saat beberapa bagian tubuhnya mulai dijamah pemuda nakal tersebut.
" Bawa ke markas! Nanti kita gilir dia bergantian,"
" Makanya cantik,, kalau malam-malam begini jangan jalan sendirian! Lihatlah, di kota yang besar seperti ini banyak pemuda lapar seperti kita," ucap salah satu pemuda seperti tengah menasehati Maya.
" Bukankah perempuan cantik seperti kamu sangat dijaga oleh pasangannya di rumah? Atau kamu ini seorang janda?"
" Tolong lepaskan saya!" ucap Maya masih berusaha kuat. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan para pemuda nakal tersebut.
" Kami sebenarnya hanya bermain-main dengan mu. Kamu bisa bebas asal,-"
" Asal apa?"
" Berikan kami uang untuk bersenang-senang. Tidak banyak, kebetulan kami berlima jadi kamu bisa memberi kami uang lima belas juta"
__ADS_1
Maya melotot, mana mungkin ia memiliki uang sebanyak itu. Menelepon Tyo sepertinya bukan ide yang baik. Ia tidak ingin merepotkan adiknya yang masih kuliah. Lalu bagaimana Maya bisa mendapatkan uang secepat mungkin?