Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
12. Tinggal Bersama


__ADS_3

" San, kenapa kamu bohong?" ucap Maya berdecak kagum melihat bangunan yang ada di depannya.


" Maksud Mbak Maya? Kita sudah sampai di tempat tinggal ku, sekarang kita langsung masuk aja yuk," ajak Lesan menggandeng tangan Maya.


Maya menghempas tangan Lesan yang hendak menggandengnya. Saat ini Maya dan Lesan memang berada di halaman depan sebuah apartemen. Maya terkejut karena yang dimaksud tempat tinggal Lesan bukanlah kost-kostan pada umumnya melainkan jajaran bangunan yang biasa disebut apartemen.


" Kamu bilang kamu tinggal di kost, tapi lihatlah sekarang? Kamu membawa ku ke tempat seperti ini," heran Maya.


" Kost dan apartemen bukankah sama saja mbak? Dua-duanya sama-sama menjadi tempat tinggal untuk anak kuliahan seperti aku," jawab Lesan kemudian tertawa kecil.


" Beda San. Ini lebih dari mewah untuk dikatakan sebagai kost-kostan," sangkal Maya.


" Berarti makna kata kost menurut Mbak Maya sebagai tempat tinggal yang tidak mewah? Mbak Maya belum tahu aja kalau di sekitar kampus ku banyak menyediakan kost-kostan seperti rumah Raffi Ahmad. Aku sengaja memilih kost di sini karena lokasinya yang dekat kampus ditambah harganya yang jauh lebih murah," jelas Lesan.


" Benarkah seperti itu?" tanya Maya dan diangguki oleh Lesan.


Maya pun pasrah saat Lesan mengajaknya memasuki kawasan besar tersebut. Lantai sembilan menjadi tujuan lift Maya dan Lesan. Sesampainya di depan pintu apartemen Lesan, laki-laki itu menekan pin yang Maya tahu sebagai jalan agar pintu apartemen tersebut terbuka.


" Kamar Mbak Maya ada di sebelah sana. Mbak Maya bisa bersih-bersih dan langsung istirahat, nanti barang - barang biar aku yang bawakan," ujar Lesan.


" San, jadi maksud kamu kita tinggal satu atap?"


" Kenapa mbak?"


" Kamu tahu, kita ini laki-laki dan perempuan,"


" Mbak Maya pikir aku lupa sama gender kita? Lalu kenapa kalau kita tinggal satu atap? Orang lain sekitar apartemen di sini juga tidak akan perduli dengan siapa kita tinggal," jawab Lesan.


" Tapi,,," ucap Maya ragu untuk meneruskan kata-katanya.


" Mbak Maya takut aku macam-macam?"


" Bukan begitu hanya saja, aku merasa tidak enak jika menumpang di tempat mu seperti ini. Lebih baik aku menyewa tempat lain supaya,,," ucapan Maya terpotong oleh Lesan.

__ADS_1


" Supaya aku dimarahi sama paman dan bibi karena telah menelantarkan Mbak Maya di kota orang. Dengar ya Mbak Maya, aku melakukan semua ini semata-mata karena aku ingin memenuhi janji ku kepada Tyo, paman dan bibi. Aku ingin memastikan kehidupan Mbak Maya di sini terjamin hanya itu saja," jelas Lesan.


" Baiklah terima kasih kalau begitu," selepas berucap demikian Maya pun berpamitan kepada Lesan untuk masuk ke dalam kamar miliknya.


" Kalau Mbak Maya butuh sesuatu, kamar ku ada di depan sini," ujar Lesan sebelum Maya benar-benar menutup pintu kamarnya.


Malam hari di apartemen tersebut, Lesan tengah mengetuk pintu kamar Maya. Tak lama karena mendengar suara pintu yang diketuk, Maya beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke arah pintu.


" Makan malam dulu mbak, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita," ucap Lesan setelah Maya kini berada di hadapannya.


Maya dan Lesan kemudian berjalan beriringan menuju meja makan. Lesan menyuruh Maya untuk makan malam karena memang sudah waktunya. Tadi sore mereka baru sampai di apartemen, dan Lesan yakin pasti perut Maya juga merasa lapar seperti dirinya.


" Maaf ya mbak makan malam kita hari ini seadanya dulu. Aku tidak pernah memasak jadi hanya ini yang bisa aku siapkan," ucap Lesan seraya duduk di kursi meja makan.


" Justru aku merasa sangat berterimakasih atas kebaikanmu sampai saat ini. Bahkan makan malam pun kamu yang menyiapkan. Ngomong - ngomong nasi Padang ini kamu beli kapan?" tanya Maya yang sibuk membuka bungkusan nasi Padang yang tersaji di meja makan.


" Barusan mbak, makanya aku langsung samperin Mbak Maya di kamar. Takut nggak enak rasanya kalau nasi Padang ditunda makannya,"


Dalam keheningan Maya dan Lesan sibuk menyantap makanan mereka masing-masing. Beberapa saat berlalu kini mereka telah selesai makan. Lesan selesai makan lebih cepat karena memang laki-laki itu sangat merasa lapar. Ia meminum air putih di sampingnya hingga tandas. Maya yang menyaksikan itu hanya tersenyum kecil.


" Hehehe iya mbak, laki-laki memang cenderung makan lebih cepat daripada perempuan," jawab Lesan.


" Masa sih? Emang bukan karena kamu merasa lapar ya?"


" Itu jadi alasan keduanya mbak," jawab Lesan seraya menunjukkan deretan gigi serinya yang putih bersih.


" Sini biar aku saja yang mencuci gelas dan sendok mu," ucap Maya kemudian berdiri dan membereskan peralatan bekas makan mereka.


" Terima kasih ya mbak," ucap Lesan kemudian.


" Oh ya mbak, aku boleh minta tolong nggak?" tanya Lesan basa-basi.


" Kamu ini kayak sama siapa aja. Aku sudah menganggap mu sama seperti adikku Tyo jadi kalau kamu mau minta tolong jangan sungkan-sungkan," ucap Maya mencuci gelas air miliknya dan Lesan.

__ADS_1


" Kalau aku minta tolong Mbak Maya untuk membuatkan aku segelas kopi, apa Mbak Maya mau?" tanya Lesan.


Maya tertawa mendengar pertanyaan Lesan. Pikirnya ada-ada saja ucapan bocah laki-laki yang lebih muda empat tahun darinya ini. Maya pun mengelap tangannya yang basah dengan lap yang berada di dekat wastafel milik Lesan.


" Akan aku buatkan yang spesial untuk kamu. Jadi kamu suka kopi pahit atau manis?" tawar Maya.


" Yang pas mbak. Aku tidak suka yang terlalu pahit dan yang terlalu manis, Mbak Maya kira-kira saja nanti aku minum terus aku kasih komentar " jawab Lesan masih senantiasa duduk di kursi meja makan. Letak meja makan dan dapur di apartemen Lesan memang dekat jadi dengan leluasa Lesan dapat melihat aktivitas Maya yang kini mulai memasak air.


" Kamu sering minum kopi?" tanya Maya kemudian menyiapkan gelas kecil di atas meja.


" Lumayan sering, tapi lebih sering kopi beli dari luar. Kopi bisa bikin candu mbak, makannya aku sering ngopi,"


" Pantas, segel bubuk kopi ini masih utuh ternyata kamu seringnya beli kopi di luar ya?"


" Hehehe iya mbak. Habis kalau aku bikin sendiri rasanya malah aneh. Kopi itu lebih enak kalau bikinan tangan orang lain daripada bikinan tangan sendiri,"


Setelah beberapa menit akhirnya kopi keinginan Lesan tersaji di hadapannya. Asap kecil mengepul di atas kopi panas buatan Maya. Setelah selesai meletakkan segelas kopi di hadapan Lesan, Maya pun kembali duduk di kursi awal miliknya tadi.


" Hati-hati masih panas banget kopinya," ucap Maya mengingatkan Lesan yang hendak menyeruput kopi tersebut.


Glekk,,, bunyi tegukan terdengar dari tenggorokan Lesan. Laki-laki itu begitu meresapi kenikmatan kopi hasil seduhan Maya. Ada rasa lain yang menguar ketika Lesan meneguk minuman hitam di hadapannya ini.


" Rasanya pas mbak. Beda sama bikinan aku," ucap Lesan berkomentar.


" Yakin?"


" Buatin aku kopi setiap hari ya mbak? Nanti aku bakal stok bubuk kopi banyak di dapur. Kalau setiap hari begini, nanti aku bisa hemat karena udah berhenti jajan kopi di luar," ucap Lesan bersungguh-sungguh.


" Emang beneran enak ya?" tanya Maya dan Lesan pun mengangguk.


" Pantas dulu Mas Pandu bilang kalau dia suka kopi buatan aku,"


" Berarti kopi memang bikin candu semua orang mbak," ucap Lesan.

__ADS_1


" Apalagi si pembuatnya," lanjut Lesan lagi.


__ADS_2