Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
19. Terciduk


__ADS_3

Malam hari Maya terbangun dari tidurnya. Sehabis pulang bermain bersama Bayu tadi, ia memutuskan untuk pulang ke apartemen. Lesan juga melarangnya untuk bekerja, alhasil Maya hanya mencari kesibukan di apartemen. Setiap sudut apartemen, sudah Maya bersihkan. Hanya kamar Lesan saja yang belum pernah ia masuki. Setidaknya Maya menghargai privasi Lesan dalam hal yang satu ini.


" Haus banget," gumam Maya ketika keluar dari kamarnya. Maya lupa menyetok air putih di dalam kamarnya sendiri dan sekarang ia terpaksa harus pergi ke dapur malam-malam untuk mengambilnya.


Saat melintasi kamar Lesan, Maya tidak sengaja menemui Lesan yang masih terjaga. Laki-laki itu sibuk menatap layar laptop sepertinya tengah begadang mengerjakan tugas kuliah. Maya mengetahui Lesan belum tidur karena memang pintu kamarnya terbuka sedikit.


Ia mengintip perlahan berniat menawarkan kopi atau teh sebagai penyemangat belajarnya. Saat mengintip, Maya mendengar suara Lesan yang terdengar aneh di telinganya.


" Sssahh,,,stttttt ahhhhhhh. Ini nikmat sekali," ucap Lesan yang dapat Maya dengar.


Maya memperjelas pendengarannya, ia sedikit masuk ke dalam kamar Lesan guna melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh Lesan. Bukankah Lesan tengah belajar, lalu mengapa laki-laki itu berteriak-teriak kecil seperti sedang melakukan hal lain.


" Mbak Maya kamu sangat cantik mbak," ucap Lesan lagi. Maya bingung, mengapa Lesan menyebut namanya. Apa sebenarnya ia tahu kalau saat ini ia tengah mengintip kamarnya tersebut.


" San," ucap Maya setelah memutuskan masuk ke dalam kamar Lesan. Ia sangat penasaran dengan aktivitas yang dilakukan Lesan saat ini.


" Astaga, kamu belum tidur mbak?" ucap Lesan terkejut.


Lesan terkejut Maya pun juga begitu. Bagaimana tidak? Saat ini yang ia temui adalah bukan Lesan yang belajar melainkan laki-laki itu yang sibuk menonton film plus plus dengan foto dirinya yang berada di samping laptop. Maya bahkan berteriak, karena Lesan hanya memakai atasan tanpa bawahan sehelai benang pun.


" Aaaaaaaaa," jerit Maya sembari menutup matanya.


" Jangan berteriak kencang-kencang mbak. Nanti pita suara Mbak Maya bisa putus," ucap Lesan dengan tenang. Bukannya merasa malu, Lesan malah terlihat biasa. Laki-laki itu berjalan melewati Maya untuk menutup pintu.


" Ck, seharusnya tadi aku tidak lupa mengunci pintu" ucap Lesan seraya mengunci pintu kamarnya.


Lesan mengunci pintu kamarnya dan menaruh kunci tersebut di saku kaos yang saat ini tengah ia pakai. Dengan masih bertelanjang bawah, ia pun mendekati Maya.

__ADS_1


" Mbak Maya kenapa belum tidur?" tanya Lesan dengan lembut. Ia bahkan bertanya seraya mengelus rambut panjang Maya yang hitam.


" San, apa maksudnya tadi? Kenapa kamu melakukan hal itu dengan fotoku?" bukan tidak tahu Maya tentang hal barusan yang dilakukan oleh Lesan. Hal seperti itu memang mungkin wajar terjadi pada anak seusia Lesan, namun yang aneh mengapa harus dengan foto dirinya.


Lesan hanya diam saja saat Maya bertanya demikian. Lesan sibuk memandangi Maya yang tengah menutup matanya rapat-rapat dan jantung Maya yang terus berdetak kencang karena ditatap seperti itu.


" Sudahlah, ini sudah malam. Kita bahas besok saja masalah ini" ucap Maya. Maya mengerti, mungkin Lesan membutuhkan waktu untuk mencari alasan tersebut.


" Tolong buka pintunya San" ucap Maya mengintip sedikit wajah Lesan. Ia harus berhati-hati karena tidak ingin melihat aset Lesan yang dengan santai pemiliknya tidak ingin menutupi.


" Karena Mbak Maya sudah di sini jadi Mbak Maya harus bantuin aku. Kegiatan ku terpotong karena Mbak Maya main nerobos kamar ku tadi," ucap Lesan mengindahkan keterkejutan Maya lagi.


Maya bersiap berlari namun dengan sigap Lesan menahannya. Lesan mengangkat tubuh Maya dan membawanya untuk duduk di ranjang. Maya berteriak keras saat Lesan berhasil membuat Maya duduk di pangkuannya tersebut.


" Lesan, jangan keterlaluan kamu! Lepaskan aku," teriak Maya terus meronta di pangkuan Lesan.


" Brengsek kamu San! Kamu melecehkan aku. Dimana letak sopan santun mu ha?" ucap Maya kesal. Kepalanya sudah mendidih karena Lesan mencengkeram erat tubuhnya.


" Sopan santun? Mungkin ini yang Mbak Maya maksud sopan santun," ucap Lesan tersenyum smirk.


Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Tubuh Maya dipeluk erat oleh Lesan. Tidak perduli dengan gesekan dari Maya yang membuat asetnya terasa sakit, kini Lesan malah sibuk menciumi leher Maya.


" Wangi mu enak mbak," gumam Lesan tanpa tahu rasa malu.


" Kamu memang sudah gila San," teriak Maya memukuli dada bidang Lesan yang kokoh. Maya sedikit heran mengapa Lesan sudah memiliki tubuh segagah ini. Bukankah Lesan masih bocah, postur tubuhnya sudah seperti pria matang yang haus akan belaian.


" Coba tolong pegang **** ku mbak," ucap Lesan mengarahkan tangan Maya yang sibuk memukulinya ke arah aset miliknya.

__ADS_1


" Lesan, tolong hentikan ini" ucap Maya kini sudah menangis. Ia tidak menyangka Lesan mampu melecehkannya hingga seperti ini.


" Hanya memegangnya saja mbak. Dia sudah bereaksi dan cuma Mbak Maya yang bisa menidurkannya,"


" Lesan aku tidak mau,"


" Lakukan saja mbak. Asal Mbak Maya tahu, rasanya sangat tersiksa jika Mbak Maya menolak keinginan ku"


Lesan terus memaksa Maya untuk memuaskan hasratnya. Tidak perduli Maya menolak maupun menangis, tangan Lesan terus memaksa Maya untuk memegang asetnya. Entah sudah berapa lama Lesan dan Maya melakukan hal itu. Bagaimana pun Lesan adalah seorang laki-laki, tentu ia kuat menahan tenaga Maya saat memberontak.


" Tinggal sedikit lagi mbak," ucap Lesan. Maya sudah tidak perduli lagi dengan ucapan Lesan. Ia lelah menangis dan berteriak, sedangkan Lesan terus memaksanya.


Maya pikir Lesan adalah anak yang baik, tetapi ternyata semua itu salah. Lesan berani melecehkannya, yang notabene Maya jauh lebih tua darinya.


" Sssssss ahhhhhhh. Enak banget mbak," Lesan merasakan kepuasan yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia puas dengan foto Maya, sekarang ia lebih puas dengan orangnya langsung.


" Stststts jangan nangis mbak. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Lesan seraya menghapus jejak air mata Maya.


Mata Maya memerah karena terus menangis. Setelah Lesan keluar, Maya pun masih tetap menangis. Ia menyesal seharusnya ia tidak menyelonong masuk ke kamar Lesan.


" Makasih ya mbak, kamu sangat hebat" ucap Lesan kemudian mencium pipi Maya. Maya masih berada di pangkuan Lesan karena Lesan sendiri belum berniat melepaskannya.


Pakaian Maya kotor karena ulah Lesan namun begitu Lesan malah tersenyum bangga. Menurutnya untuk saat ini tidak apa-apa baju Maya yang menyimpan benihnya, lain waktu ia yakin jika benihnya akan tertanam sempurna di orangnya langsung.


" Badan kita sama-sama lengket mbak. Mbak Maya mandi di kamar mandi ku ya, biar sekalian aku bersihin"


" Aku tidak sudi,"

__ADS_1


__ADS_2