Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
14. Males


__ADS_3

" Nama?" tanya Maya. Ia meminum air putih karena tiba-tiba mulutnya terasa pedas. Tak lama Maya pun melanjutkan acara makanannya.


" Iya nama kamu mbak. Maya Lesan, kalau disingkat jadi Males. Serasi kan mbak?"


Uhuk uhuk,, suara Maya terbatuk oleh makanannya sendiri. Dengan sigap Lesan memberikan segelas air putih kepada Maya. Maya meminum air putih tersebut hingga tandas.


" Aku bercanda, kenapa Mbak Maya menanggapinya serius?" ucap Lesan.


" Bercanda mu enggak lucu San. Aku sampai terbatuk-batuk terkejut mendengarnya,"


Lesan tertawa sekilas kemudian menyudahi santapannya. Seperti biasa ia selesai makan terlebih dulu. Iya bangkit kemudian membereskan beberapa piring bekas makan mereka.


" Setelah selesai makan nanti Mbak Maya tunggu aku di parkiran. Aku akan mengecek beberapa urusan cafe sebentar lalu setelah itu kita pulang bersama,"


" Ok tapi aku cuci piring dulu ya,"


Lesan mengangguk kemudian keluar dari ruangannya. Ia berjalan ke arah dapur cafe, untuk sekedar informasi Lesan mempercayakan semua urusan cafe kepada pegawainya. Lesan hanya akan mengecek dan mengawasi sistem operasi jalannya cafe. Kemudian berkomentar jika dirasa ada yang kurang memenuhi kriterianya.


Maya bergegas mencuci piring bekas miliknya dan Lesan. Beberapa pegawai masih berlalu lalang bekerja sesuai dengan bidangnya. Ada beberapa pula yang menanyakan mengapa Maya belum kunjung pulang juga.


" Mbak Maya," panggil Farah yang merupakan nama salah satu teman kerja Maya.


" Hm," jawab Maya singkat. Dirinya masih sibuk mengeringkan piring yang baru selesai ia cuci.


" Mbak Maya pacar Mas Lesan ya?" tanya Farah to the point.


" Ngawur kamu! Aku bukan pacar Lesan. Aku ini kakak dari sahabatnya Lesan. Adik ku dan Lesan sudah bersahabat sejak lama," jelas Maya. Pikir Maya, ada-ada saja persepsi temannya yang satu ini.


" Tapi kalian serasi loh. Mbak Maya cantik terus Mas Lesan juga ganteng. Apalagi kalau kalian punya anak, pasti anak kalian nanti,," ucapan Farah terpotong karena Maya menyelanya.


" Sembarangan kamu kalau ngomong. Aku lebih tua dari Lesan dan aku sendiri sebenarnya juga sudah mempunyai seorang anak. Jadi mana mungkin aku cocok sama dia?,"


" Jadi Mbak Maya sudah menikah? Oh my God, Mbak Maya terlihat masih muda dan cantik. Orang lain pasti berpikir kalau Mbak Maya ini masih anak-anak muda yang baru lulus SMA," heboh Farah.

__ADS_1


" Aku sudah berumur banyak Farah," jelas Maya lagi.


" Sudah malam, aku pulang dulu ya" pamit Maya.


Maya berjalan menjauhi dapur. Sebelum pulang ia mengambil tas dan jaket tebal yang ada di loker pegawai. Setelah itu Maya berjalan keluar menuju ke parkiran.


Terlihat di parkiran sudah ada Lesan yang sedang menunggu Maya. Laki-laki itu mengenakan jaket hitam tebal, yang jika kaum hawa melihatnya pasti meleleh. Bagaimana tidak, angin malam membuat aura ketampanan Lesan bertambah.


Jaket hitam yang dipadukan dengan celana jeans, menempel sempurna di tubuh Lesan. Semilir angin membuat rambut Lesan bertebaran, menambah kesan Lesan yang kharismatik.


" Maaf ya nunggu lama," ucap Maya setelah sampai di dekat motor Lesan.


" Pasti ngobrol dulu," jawab Lesan kemudian menyerahkan helm kepada Maya.


Maya hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya yang tidak rapi. Di bagian gigi atas, ada salah satu gigi Maya yang menonjol. Meskipun demikian, hal tersebut justru membuat Maya terlihat cantik. Gingsul itulah sebutan bentuk gigi Maya.


" Mbak Maya cantik kalau senyum," ucap Lesan tiba-tiba. Saat ini ia tengah membantu memasangkan helm kepada Maya.


Maya kesusahan mengaitkan penjepit helm, alhasil Lesan pun berinisiatif membantu. Dalam beberapa detik mereka sempat berpandangan. Lesan menatap wajah ayu Maya dalam keheningan.


" Apa ada yang aneh dari wajahku?"


" Tidak ada, naiklah mbak. Kita harus segera pulang,"


Maya menurut, ia menjangkau jok motor Lesan yang cukup tinggi dan berhasil membuatnya kesusahan.


" Sudah?" tanya Lesan memastikan Maya dalam posisi nyamannya.


" Iya sudah, ayo kita jalan "


Sepanjang perjalanan, Maya menatap lurus jalanan yang ramai. Maklum suasana di kota berbeda dengan di tempat tinggalnya yang lama.


" Dulu pas jadi TKW, Mbak Maya sering pergi jalan-jalan enggak? Kan enak tuh, bisa kerja sambil jalan-jalan di luar negeri," ucap Lesan saat dirinya sampai di lampu merah yang padat kendaraan.

__ADS_1


Sekitar 29 detik lagi mereka masih menunggu untuk lampu hijau. Maya yang berada di bonceng Lesan, ikut menimpali obrolan yang dilontarkan oleh Lesan.


" Aku enggak pernah jalan-jalan. Di sana aku cukup tinggal di sebuah rumah, dan mengerjakan tugas ku sebagai art" jawab Maya.


" Syukurlah,"


" Kok kamu bersyukur?"


" Berarti Mbak Maya masih polos alami gitu,"


" Pergaulan luar negeri sangat tidak ramah untuk Mbak Maya yang polos," lanjut Lesan lagi.


Lesan menancap gas dan melanjutkan perjalanannya. Maya tiba- tiba terkejut saat tangan Lesan terulur meraihnya. Kedua tangan Maya diletakkan di pinggang Lesan tentu atas permintaan Lesan sendiri. Maya sempat ingin melepas tangannya yang melingkar di pinggang Lesan namun dengan sigap Lesan menahannya.


" Biar Mbak Maya enggak jatuh, makanya pegangan" ucap Lesan.


Maya menurut, ia akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Lesan. Tangan Lesan yang menganggur turut memegang tangan Maya yang dingin. Lesan menyuruh Maya untuk mempererat pelukannya. Menyerah, Maya turut menyandarkan kepalanya di punggung Lesan yang kokoh. Meskipun berlapis jaket tebal, punggung Lesan yang keras dapat dirasakan oleh Maya. Ada perasaan istimewa, saat Maya menyamankan diri di dekat Lesan.


" Terima kasih ya San, kamu sudah menolong aku hingga sejauh ini" gumam Maya. Punggung Lesan sangatlah nyaman, angin malam yang berhembus seolah tidak mengenai wajahnya.


" Apapun bakal aku lakukan agar Mbak Maya bahagia,"


" Hari libur kerja nanti aku mau nyari tempat tinggal mantan mertua aku. Rasanya hati ini selalu merasa kacau karena ketidaktahuan ku tentang Bayu,"


" Itu wajar karena Mbak Maya adalah seorang ibu. Mbak Maya pasti kangen banget sama anaknya ya?"


" Banget San. Rasanya aku ingin memeluk dan menciumi Bayu. Aku merindukan putra ku San," ucap Maya sendu.


" Lebih erat lagi mbak meluk akunya. Angin malam semakin bertambah dingin,"


Maya menurut ia lebih mengeratkan pelukannya kepada Lesan. Kedua tangannya yang bertaut di depan perut Lesan kini berpindah di saku jaket Lesan. Atas permintaan Lesan tentunya Maya berani melakukan hal itu. Posisinya saat ini sangat menempel kepada Lesan dan dirinya tidak perduli akan hal itu. Lesan terlanjur membuatnya merasa nyaman dengan hal yang sederhana.


" Aku akan menemani Mbak Maya nanti cari Bayu. Kalau perlu kita bisa ambil Bayu dan membawanya ke apartemen kita,"

__ADS_1


" Terima kasih," ucap Maya kemudian memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam dan sisa perjalanan pulang mereka.


__ADS_2