
" Mas kamu kok diam aja sih? Dari tadi kamu kayak enggak senang aku pulang? Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Maya.
Saat ini Maya dan Pandu tengah berada di ruang tamu rumah Rusdi ayah mertua Maya. Bayu tidak ikut karena bocah itu masih takut kepada Maya.
" Kapan kamu balik lagi May?" bukannya menjawab pertanyaan Maya, Pandu malah bertanya balik.
" Maksud kamu mas?"
" Oh aku tahu maksud kamu. Ya aku enggak balik lah mas, kan kontrak kerja aku udah selesai," jelas Maya kemudian.
" Kok bisa begitu? Kamu enggak biasanya main ambil keputusan tanpa persetujuan aku lebih dulu. Seharusnya kamu tanya aku dulu May kalau mau balik ke sini. Mana kamu udah keluar dari kerjaan lagi,"
Maya menatap suaminya dengan heran. Mengapa Pandu bersikap aneh seperti ini. Seharusnya Pandu merasa senang karena Maya telah pulang sehingga mereka dapat bersama kembali.
" Kamu enggak suka aku pulang mas?" tanya Maya.
" Bukan begitu Maya. Kan kamu tahu aku kerjanya cuma jadi kepala bagian di pabrik. Selama lima tahun tidak ada yang berubah dari aku. Aku tidak naik jabatan dan aku masih berada di posisi dan gaji yang sama. Mau dibawa kemana nasib keluarga kita kedepannya nanti?" jelas Pandu.
" Mas kita kan sudah punya rumah, terus aku juga rajin kirimin kamu uang tiap bulan dari gaji aku, jadi apa masalahnya? Uang yang aku kirim tiap bulan kamu tabungkan? Kamu sendiri yang bilang loh mas kalau uang tabungan kita sudah cukup untuk membuka usaha dan kehidupan kita beberapa tahun,"
Pandu terdiam berusaha mencerna perkataan Maya. Ia terlihat seperti mencari alasan untuk menjawab dari apa yang Maya katakan tersebut.
" Itu ucapan aku sebelum aku gagal ikut investasi bodong May. Maafin mas, uang tabungan kita raib gara-gara mas ketipu sama teman. Makanya pas mas tahu kamu pulang, mas kaget. Mas takut kamu marah sama mas. Jadi dengan sangat terpaksa mas sembunyiin fakta ini dari kamu," jelas Pandu akhirnya.
Maya terkejut mendengar penjelasan Pandu. Jadi selama ini Pandu menyembunyikan beban masalah ini di belakang Maya. Ternyata impian bahagia Maya setelah pulang dari luar negeri tidak semulus bayangannya.
__ADS_1
" Maafin mas May. Ini mas lagi berusaha keras untuk mengembalikan uang tabungan kita. Makanya Bayu, mas carikan pengasuh karena hampir setiap hari mas pulang pergi kerja sampai larut malam. Andai mas tahu kalau teman mas itu tukang tipu pasti mas enggak bakal percaya sama dia May,"
Maya memeluk suaminya berusaha memberikan ketenangan. Setelah mendengar penjelasan Pandu tentang hal ini Maya jadi merasa bersalah. Seharusnya dirinya tidak pulang dan tetap bekerja sampai uang yang ia miliki terkumpul kembali.
" Ya sudah mas namanya juga musibah. Lain kali mas harus cerita sama Maya kalau ada masalah seperti ini. Setidaknya dengan begitu beban masalah mas jadi sedikit terkurangi. Sekarang kalau kayak gini Maya enggak bisa bantu apa-apa. Semua uang gaji Maya selalu Maya transfer ke mas. Jadi untuk saat ini Maya sudah tidak memiliki uang tabungan sendiri," jelas Maya.
" Ini semua salah mas May. Mas janji setelah ini mas akan bekerja lebih giat lagi supaya perekonomian keluarga kita mencukupi,"
" Kalau diizinkan Maya bakal balik bekerja jadi TKW lagi," putus Maya akhirnya. Sepertinya ide untuk kembali bekerja jadi TKW adalah yang terbaik.
Setelah berkata demikian Maya dibuat terkejut ketika dengan tiba-tiba Pandu memeluknya. Pandu mengecup ujung kepala Maya sembari mengumamkan kata maaf dan terima kasih yang sangat banyak kepada Maya.
" Mas, kangen banget sama kamu May"
" Kita istirahat yuk di kamar kita yang lama bagaimana? Hitung - hitung sambil bernostalgia juga. Untuk urusan keberangkatan kamu kita bisa bicarakan lagi nanti," ajak Pandu.
Pandu menggandeng tangan Maya untuk menaiki tangga yang berada di rumah ibunya. Saat ini mereka berdua sedang berjalan menuju kamar mereka yang lama. Kamar pertama yang mereka tempati bersama setelah pernikahan. Di dalam perjalanan Maya tak henti -hentinya tersenyum karena Pandu menggenggamnya begitu erat seolah tak ingin melepaskan.
" Mau mengulang sejarah?" tanya Pandu dengan mata berkedip sebelah.
Maya tersenyum mendengar ucapan Pandu. Yang dimaksud Pandu adalah saat masa-masa awal pernikahan mereka, Pandu menggendong Maya memasuki kamar.
" Memang kamu masih kuat?" ucap Maya setengah mengejek.
" Kamu meremehkan kekuatan ku hm?" Pandu tidak meneruskan kata-katanya lagi. Pria matang itu menggendong Maya istrinya yang baru pulang masuk ke kamar mereka. Tidak ada yang berubah dari sikap Pandu, laki-laki itu masih menjadi favorit Maya.
__ADS_1
" Aku kangen sama kamu May," ucap Pandu setelah meletakkan tubuh Maya di atas ranjang. Pandu mengecup kening Maya dan mengucapkan banyak kata manis. Maya terbuai dan ritual suami istri yang sudah lama tidak mereka lakukan akhirnya terjadi pada hari ini. Maya sangat bahagia, Pandu memperlakukannya dengan sangat baik. Maya sampai tidak bisa berkata-kata, cintanya untuk Pandu bertambah semakin besar.
*****
Maya terbangun setelah aktivitas yang tadi ia lakukan bersama Pandu. Maya melihat sekeliling kamar, tidak ada Pandu di sebelahnya. Sekarang sudah malam, terlihat dari jarum jam kamar yang menunjukkan pukul tujuh. Maya memutuskan untuk turun dari ranjang. Wanita itu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan urusannya, Maya keluar kamar. Di sekitar sisi penjuru rumah masih tampak sepi, sepertinya penghuni rumah sedang pergi. Maya menepuk jidatnya lupa jika tadi ibu mertuanya berpesan pergi ke kondangan bersama Pak Rusdi.
Akhirnya Maya memutuskan untuk menelepon Pandu. Dua sampai tiga kali panggilan tetapi Pandu tak kunjung mengangkatnya. Perut Maya terasa lapar, ia memutuskan untuk menyusul Pandu ke rumah barunya yang berada di sebelah.
" Aku susulin aja Mas Pandu ke sebelah," gumam Maya kini keluar dari rumah mertuanya.
Maya berjalan pelan, di luar rumah masih tampak sepi. Maya berpikir apakah Pandu benar-benar ada di rumah baru mereka melihat kondisi rumah yang sepi.
" Apa Mas Pandu dan Bayu ikut ayah sama ibu ke kondangan ya?" gumam Maya berpikir.
Daripada berperang dengan pikirannya sendiri, Maya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kondisi rumah sangat sepi, benar dugaan Maya jika Pandu mungkin sedang pergi ikut ke kondangan tanpa melibatkannya.
" Mas Pandu enggak mau ngajak aku mungkin takut aku kecapekan kali ya," batin Maya menerka -nerka alasan Pandu yang belum menampakkan dirinya.
" Sambil nunggu Mas Pandu pulang lebih baik aku keliling rumah ini sekalian masak kalau di dapur ada bahan makanan," gumam Maya.
Setelah berpikir demikian, Maya bukannya pergi ke dapur untuk melihat bahan makanan tetapi dirinya justru pergi ke kamar atas. Maya penasaran dengan isi dan suasana rumah barunya yang berada di lantai dua. Ia pun menyusuri sisi dari lantai dua hingga pandangannya jatuh pada salah satu kamar. Kamar dengan pintu berwarna coklat itu Maya yakini sebagai kamar Pandu di rumah ini.
" Kalau itu kamar Mas Pandu berarti itu juga kamar ku dong. Sebaiknya aku masuk untuk melihat isi kamarnya,"
__ADS_1