
Sesuai janji Lesan kemarin, hari ini ia mengajak Maya beserta anaknya bermain di Ancol daerah Jakarta Utara. Bayu memilih berjalan sendiri dan digandeng Maya karena bocah itu sangat aktif.
" Mbak, Bayu biar aku gendong aja. Takut hilang nanti,"
" Enggak usah San. Bayu udah gede kok. Sekarang dia udah enggak takut lagi sama aku. Jadi dia udah berani nunjukin kemauannya,"
Setelah membeli tiket, mereka bertiga masuk ke dalam lokasi permainan. Ada banyak destinasi wisata yang ditampilkan. Lesan mengajak Maya dan Bayu pergi ke SeaWorld. Menurutnya tempat ini sesuai untuk Bayu yang masih berusia 5 tahun.
" Wah, banyak sekali ikan" gumam Bayu.
" Kamu suka nak?" tanya Maya.
" Suka ma," jawab Bayu.
" Mama?" tanya Lesan.
" Bayu sudah lebih dulu memanggil Asti dengan sebutan ibu. Lagian kan aku juga sudah bukan istri Mas Pandu lagi. Jadi lebih baik Bayu memanggil ku dengan sebutan mama," jelas Maya.
Bayu berlari menghampiri dinding kaca yang berisi banyak ikan. Maya dibuat terkejut karena tiba-tiba anaknya berlari. Dengan sigap Lesan mengejar Bayu agar tidak kehilangan jejak anak tersebut.
" Anak papa jangan lari-lari begitu ya. Kasihan mama, kalau harus ngejar kamu" ucap Lesan.
Maya terbengong, saat Lesan berkata demikian. Bayu yang belum mengerti sepenuhnya hanya tertawa ala khas anak kecil.
" San, kamu jangan ngomong sembarangan deh. Nanti kalau Bayu panggil kamu papa beneran bagaimana?"
" Tidak masalah. Aku kan memang mau jadi papanya Bayu,"
" Maksud kamu?"
" Lihat ikan yang sebelah sana yuk mbak,"
Lesan menggendong Bayu melihat ikan-ikan di sisi SeaWorld yang lain. Maya mengekor di belakangnya. Ia masih memikirkan ucapan aneh Lesan barusan.
Tak terasa sudah setengah hari mereka berjalan-jalan. Bayu sudah mulai mengakrabkan diri dengan Lesan dan juga Maya. Tidak ada kecanggungan diantara mereka. Justru mereka malah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
" Seneng kamu jalan-jalan Bay?" tanya Lesan kepada Bayu. Saat ini mereka bertiga tengah beristirahat makan siang di sebuah restoran makanan dekat Ancol.
__ADS_1
" Seneng banget pa," jawab Bayu.
" Bayu, jangan panggil papa ke Kak Lesan ya. Panggil saja dia kakak atau enggak om. Ok?" sahut Maya.
" Papa sama Mama," ucap Bayu seraya menggeleng yang berarti menolak nasehat Maya.
" Tuh kan San. Kamu mengajari anak ku yang aneh-aneh. Sekarang dia jadi panggil kamu dengan sebutan papa kan. Apa kata orang nanti kalau dengar kamu dipanggil papa sama Bayu?" cerocos Maya.
" Sudahlah mbak, tidak apa-apa. Aku suka dengan panggilan itu kok,"
Tak lama pesanan mereka bertiga datang. Maya menyiapkan makanan Bayu terlebih dahulu.
" Mama, Bayu mau pipis" ucap Bayu saat Maya berniat menyuapinya.
" Ooo ya sudah ayo Mama antar ke toilet ya"
" Biar aku saja mbak. Susah kalau bantuin Bayu pipis di toilet cewek, dan enggak mungkin juga Mbak Maya bawa Bayu ke toilet cowok"
" Benar juga," batin Maya. Saat akan pergi tadi Bayu menolak memakai pampers.
Lesan menggendong Bayu dan mengajaknya ke toilet. Mereka sangat cepat sekali akrab. Maya sendiri heran, bagaimana bisa Lesan mengambil hati Bayu secepat ini. Dia saja membutuhkan waktu ekstra demi membuat hati Bayu luluh sementara Lesan malah meluluhkannya dengan waktu belum genap 24 jam.
" Santi, ngapain lo di sini?" tanya balik Lesan setelah keluar dari toilet bersama Bayu.
" Gue baru selesai makan sama keluarga kakak gue. Ini anak siapa yang lo bawa?" tanya Santi.
" Kalau gue bilang dia anak gue, lo percaya enggak?"
" Percaya aja, soalnya wajah kalian hampir mirip"
" Kalian sudah selesai?" tanya Maya yang menyusul Lesan dan Bayu. Maya belum mengetahui jika saat ini ada teman kuliah Lesan yang tengah berbincang-bincang dengan Lesan.
" Sudah ma," Bayu berlari ke arah Maya.
" Istri lo?" tanya Santi menunjuk Maya.
Maya yang baru datang tidak mengetahui arah pertanyaan dari Santi.
__ADS_1
" Papa, ayo katanya mau makan udang sama ikan" rengek Bayu.
" Iya," jawab Lesan ambigu, entah ia menjawab pertanyaan Santi ataupun Bayu.
" Jadi lo udah married?"
" Maaf sepertinya ada kesalahpahaman. Bayu ini anak saya, dan Lesan adalah sahabat adik saya" ucap Maya buru-buru menjelaskan. Sepertinya akan ada kesalahpahaman jika dia tidak buru-buru menjelaskan.
" Kita duluan ya San. Salam untuk keluarga lo," pamit Lesan kemudian menarik tangan Maya dan Bayu menjauhi Santi.
Akhirnya mereka bertiga kembali ke meja mereka. Bayu duduk di kursi yang berada di tengah-tengah Lesan dan Maya. Tanpa banyak kata, Maya hanya fokus menyuapi Bayu. Ia memisahkan udang dari kulitnya dan juga menyingkirkan ikan dari duri yang menempel.
Setelah beberapa saat mereka selesai makan, Maya mendapat telepon dari Fahmi. Sepertinya kebersamaannya bersama Bayu harus segera berakhir karena Ibu Desi sudah menanyakan keberadaan cucunya. Lewat Fahmi, Ibu Desi ingin mengambil Bayu lagi.
Sekarang di sinilah Maya, di parkiran Ancol. Bayu ia gendong karena sebentar lagi dirinya akan berpisah dengan putranya tersebut. Tatapan Maya kosong, ia begitu tidak merelakan kepergian Bayu untuk kembali ke rumah mantan mertuanya.
" May," panggil Fahmi ketika dirinya baru sampai.
" Kak Fahmi, apa tidak bisa sehari saja Bayu bersama ku lagi?"
Siapa pun yang melihat ekspresi Maya saat ini pasti merasa kasihan. Lesan pun begitu, ia tidak tega melihat raut wajah sedih Maya ketika harus melepaskan Bayu kembali.
" Masih ada waktu esok May," jawab Fahmi seraya mengambil Bayu.
Bayu menangis, anak itu sepertinya juga tidak ingin berpisah dengan Maya. Bagaimanapun juga Maya adalah ibunya, anak itu pasti sudah merasakan kasih sayang Maya yang tulus sebagai seorang ibu. Fahmi yang berada di posisi ini sebenarnya juga merasa tidak tega. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak keinginan sang ibu.
" Yang sabar ya mbak," ucap Lesan saat melihat Maya akhirnya menangis. Bayu sudah dibawa pergi oleh Fahmi. Bayu sempat memberontak enggan ikut dengan pamannya namun tetap saja Fahmi memaksa.
Sungguh dramatis kisah ibu anak antara Bayu dan Maya. Kisah mereka sudah seperti sinetron, dimana hubungan mereka harus terpisah karena sebuah masalah rumah tangga.
" Lesan, aku enggak mau Bayu dibawa pergi" ucap Maya seraya menangis. Sudah lama ia tidak menunjukkan kerapuhannya kepada seseorang namun kali ini berbeda. Maya bahkan menangis di pelukan Lesan.
" Kita pulang ya mbak," bujuk Lesan kepada Maya. Maya masih menangis di pelukan Lesan. Berderai air mata, Maya bahkan sampai membasahi kaos Lesan. Meskipun Maya lebih tua namun tingginya hanya sedada Lesan.
Alhasil, Lesan hanya bisa diam membiarkan Maya menangis sepuasnya. Beruntung lokasi parkiran cukup sepi, jadi tidak banyak orang yang tahu jika saat ini Maya tengah menangis.
" Aku nggak bisa jauh dari Bayu San"
__ADS_1
" Aku tahu mbak," jawab Lesan kemudian mengeratkan pelukannya. Tangan laki-laki itu juga sibuk mengelus punggung Maya untuk memberikan ketenangan.