
Sudah dua hari ini akhirnya Maya kembali tinggal di apartemen Lesan. Ia menempati kamarnya yang dulu. Beruntung sekarang ia tidak tinggal berdua bersama Lesan karena ada Bayu yang menemaninya.
Meskipun sudah dua hari Maya tinggal di apartemen Lesan tetapi ia sangat jarang bertemu dengan Lesan. Maya bersyukur akan hal itu sehingga jantungnya kembali terasa aman. Entahlah Maya sendiri juga bingung mengapa ia begitu merasa berdebar jika berada di dekat Lesan. Bukankah Lesan hanyalah sahabat adiknya?
Lesan jarang berada di apartemen karena setelah kedatangannya dari kampung ia disibukkan dengan kegiatan kampus. Persiapan KKN sangat menyita waktu Lesan. Ia berangkat pagi dan pulang malam, itupun ia harus begadang karena beberapa proposal menjadi bebannya.
Lesan ditunjuk menjadi ketua, tak ayal kesibukannya menjadi dua kali lipat ketimbang mahasiswa yang lain. Mengenai urusan cafe, sepenuhnya Lesan percayakan kepada Maya.
Untuk malam setelah pulang dari cafe, Bayu merengek ingin pergi ke luar jalan-jalan. Memang sebelum pulang dari cafe Maya menjanjikan Bayu akan mengajaknya jalan-jalan namun karena dirinya merasa lelah akhirnya Maya berubah pikiran.
" Bayu sayang, mama capek banget. Besok saja ya kalau mama libur kerja kita jalan-jalan. Lagian kan ini sudah malam, tidak baik nak kalau keluar malam-malam begini" bujuk Maya kepada anaknya.
" Endak mama. Pokoknya Bayu mau jalan-jalan. Kalau minta sama papa pasti papa mau," ucap Bayu khas anak kecil.
" Sayang, sudah berapa kali mama bilang? Berhenti panggil Om Lesan dengan sebutan papa. Dia bukan papa kamu nak," peringat Maya kepada putra kecilnya.
" Papa Lesan Mama Maya," kekeh Bayu keras kepala.
Maya menepuk jidatnya, keras kepala Bayu persis seperti dirinya. Ia banyak bersabar jika menghadapi anaknya yang dalam mode seperti ini.
" Mama capek banget. Kita tidur yuk, ini sudah malam" ajak Maya berusaha mengalihkan perhatian Bayu.
" Kita tunggu papa ya ma?"
" Sayang tapi ini sudah malam. Tidak baik anak kecil begadang seperti ini,"
" Papa sibuk terus, Bayu kangen papa" ucap Bayu sendu.
" Berapa kali mama bilang, Om Lesan itu bukan papa kamu Bayu" ucap Maya sedikit meninggi.
" Jangan terlalu keras sama anak," sahut salah seorang datang.
Di depan pintu apartemen, ada Lesan yang berdiri sembari membawa tentengan. Ia baru pulang dari kampus dan langsung bergegas pulang ke apartemennya.
" Papa," teriak Bayu. Maya dan Bayu yang sedang berada di ruang tamu, terkejut akan kedatangan Lesan yang lebih awal.
" Papa bawa ayam goreng kesukaan kamu nih. Kita makan bareng ya?"
Bayu menghambur memeluk Lesan. Dengan sigap Lesan pun menggendongnya. Ia memutar memutar-mutar Bayu tak lupa mencium pipi gembulnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Lesan sangat merindukan putra dari wanita spesialnya.
__ADS_1
" Bayu jangan begitu nak. Ayo turun, kasihan Om Lesan"
" Mbak Maya jangan terlalu keras sama Bayu. Coba lihat, dia kangen banget sama aku mbak" ucap Lesan.
" Jangan ajari aku tentang anak. Kamu ini masih kecil, tahu apa kamu? Toh Bayu itu anak aku bukan anak kamu,"
" Bayu ayo kita serbu ayam goreng nya," ucap Lesan menghiraukan ucapan Maya.
" Ayo pa," jawab Bayu mengikuti apa yang Lesan ajak.
Akhirnya mereka bertiga menyantap makanan yang dibawa oleh Lesan. Bayu makan dengan lahap karena Lesan menyuapinya. Maya hanya memandang datar kedua anak laki-laki yang menurutnya masih kecil itu.
" Bayu, setelah makan kita langsung tidur ya?" ucap Maya menyudahi makanannya.
" Bayu mau tidur sama papa, bolehkan pa?" jawab Bayu.
" Ti,-" ucapan Maya terpotong karena Lesan menyelanya.
" Tentu boleh dong,"
" Yeayyyyyy," sorak Bayu kegirangan.
Sunyi senyap di apartemen Lesan menandakan penghuninya sudah tidur. Sejujurnya Maya belum lah mengantuk karena dirinya tidak bisa tidur. Bayu bersama Lesan itulah alasan yang membawa Maya hingga berdiri menyendiri di balkon.
Angin malam berhembus tenang, cuaca sedang cerah dan udara bergerak pada suhu normal. Maya cukup menikmati pemandangan indahnya saat ini.
" Lisa aku berangkat KKN. Aku titip Bayu, cafe sama apartemen ya mbak," ucap suara dari belakang Maya siapa lagi jika bukan Lesan.
" Tanpa kamu suruh Bayu pasti aku jaga. Ingat aku ini ibunya Bayu,"
" Ya aku tahu itu," Lesan berjalan mendekati Maya. Kini posisi keduanya berdampingan dan cukup dekat.
" KKN ku sekitar 3 bulan lebih, di pelosok desa dan sinyal di sana sangat susah,"
" Lali?"
" Aku takut merindukan mu mbak. Belum berangkat saja rasanya sudah seperti ini apalagi hari hari ku kedepannya," ucap Lesan setengah lesu.
" Kamu tidak boleh seperti itu. Aku ini kakak dari sahabat mu, tidak sepantasnya kamu berlaku demikian "
__ADS_1
" I don't care because I love that,"
" Mbak enggak ngerti. Di luar banyak perempuan yang jauh lebih cantik dan muda dari mbak dan yang pastinya masih gadis bukan berstatus janda seperti mbak. Kenapa kamu malah mendekati mbak?
Apa tujuan kamu sebenarnya San?"
" Karena aku suka kamu mbak. I love you for last, now and forever "
" Mbak enggak ngerti,"
" Aku cinta sama mbak Maya sudah lama bahkan sejak aku baru berteman dengan Tyo,"
Maya terkejut mendengar pengakuan Lesan. Apakah benar selama itu Lesan mengaguminya? Selangkah ke belakang Maya sedikit menjaga jarak dengan Lesan.
" Percaya sama aku mbak. Aku memang sudah cinta sama Mbak Maya sejak lama,"
" Perempuan yang jauh lebih baik dari aku banyak. Lupakan saja perasaan mu itu,"
" Kenapa Mbak Maya tega sekali sama aku?"
" Karena aku tidak mungkin mencintai seseorang lagi San. Aku hanya akan fokus membesarkan Bayu dan tidak lagi memikirkan tentang cinta. Hidup ku sudah rumit hanya karena masalah cinta,"
" Tapi aku sungguh berbeda dengan mantan suami mu mbak. Kalau Mbak Maya tidak percaya tunggu saja pembuktian ku setelah KKN nanti,"
" Mari masuk ini sudah malam," ajak Maya.
" Selamat malam Mbak Maya,"
" Malam," jawab Maya.
" I love you mbak," ucap Lesan tiba-tiba mengecup pipi Maya sekilas. Sontak Maya terkejut, ia terbengong sementara Lesan sudah berlari masuk ke kamarnya.
" Kenapa jantung ku jadi berdebar ya?" gumam Maya.
" Jangan sampai aku jatuh cinta lagi apalagi sama bocah ingusan seperti Lesan," batin Maya.
Maya pun berjalan menutup pintu balkon. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Itu artinya besok Maya akan sedikit kesiangan.
" Tidur tinggal merem kenapa susah banget sih?" ucap Maya sembari berjalan ke kamarnya.
__ADS_1