Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
28. Kehidupan pasca perceraian


__ADS_3

Pagi yang cerah, Maya terbangun dengan si kecil Bayu yang berada di sampingnya. Sudah hampir satu bulan Bayu tinggal bersamanya dan hal itu merupakan hal yang paling membahagiakan bagi Maya.


Maya mengecup pipi sekilas Bayu tidak ingin membangunkan putra kesayangannya. Setelah memastikan anaknya masih tertidur, Maya beranjak bangun tidur. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Cukup mencuci muka saja karena setelah perceraian Maya hanya diam di rumah pamannya masih belum mendapatkan pekerjaan lagi.


Setelah mencuci muka Maya berjalan ke arah dapur. Rutinitas ibu rumah tangga itu adalah kesibukan Maya sekarang. Ia ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Sesampainya di dapur ia mendapati bibinya Ratih sudah mulai memasak terlebih dahulu.


" Bi, Tyo belum bangun?" tanya Maya menanyakan tentang adiknya.


" Sudah dari Shubuh anak itu kelayapan," jawab Bi Ratih yang sedang memotong-motong wortel.


" Kelayapan ke mana?" memang beberapa kali Tyo memanfaatkan libur kuliahnya untuk pulang pergi Jogja dan kampung. Katanya ia ingin mengenal keponakannya lebih dekat.


" Ck kayak kamu tidak tahu saja. Baru kemarin dia datang dari Jogja, paginya dia sudah joging sama Lesan. Mereka berdua udah kayak sepasang kekasih saja,"


" Oh Lesan juga di sini?" Setahu Maya setelah perceraian kelar, Lesan balik ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya. Maya tidak kembali ikut dengan Lesan ke Jakarta karena ia ingin berisitirahat meluangkan waktu untuk Bayu.


" Sepertinya mereka janjian, karena kemarin malam Lesan juga pulang ke rumah orang tuanya. Kamu tunggu saja pasti dua tuyul itu pulang sebentar lagi,"


Maya melanjutkan acara memasaknya dengan sang bibi. Menumpang di rumah bibinya tanpa imbal balik terkadang membuat Maya merasa sungkan. Meskipun bibi dan pamannya tidak keberatan tetap saja Maya kepikiran. Sepertinya Maya harus memikirkan pekerjaan baru untuk kehidupannya nanti.


Pukul tujuh pagi sarapan selesai dibuat. Ada banyak makanan yang tersaji di meja makan. Maya yang menata sarapan pagi ini karena Bi Ratih sedang membuatkan kopi untuk Pak Jamal.


" Bayu, Mbak Maya" teriak Tyo dari luar berjalan masuk ke dalam rumah.


" Mbak mana keponakan ku?" tanya Tyo dengan penampilan sehabis berolahraga.


" Masih tidur," jawab Maya kini menatap seseorang yang berdiri di samping adiknya. Siapa lagi jika bukan Lesan, bukankah Tyo memang pergi bersama Lesan.


Penampilan Lesan juga sama seperti Tyo, penuh keringat namun terlihat lebih menarik di mata Maya. Maya sempat tertegun beberapa saat, mengapa Lesan begitu tampan jika sehabis berolahraga.


" Mbak aku bangunin Bayu ya?" ucap Tyo kepada Maya. Laki-laki itu hendak pergi berlari ke kamar Maya namun sebelum itu Maya mencegahnya terlebih dahulu.


" Sampai kamu berani bangunin Bayu sekarang, kamu enggak bakal dapat jatah sarapan"

__ADS_1


" Yahhh mbak," ucap Tyo lemas.


" Mandi , ganti baju baru sarapan. Habis ini mbak yang akan bangunin Bayu," sering kali Maya dan Tyo berdebat untuk mendapatkan perhatian Bayu. Mereka seperti berebutan mainan ketika sama-sama ingin mengurus Bayu.


Tyo pun mengajak Lesan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya adiknya itu menurut, Maya tersenyum dalam hati bahagia sekali sekarang hidupnya. Cukup Bayu dan keluarganya yang menjadi prioritas utama Maya saat ini.


Selesai menata sarapan, Maya kembali ke dapur. Ia lupa membuat susu untuk putranya. Bukan susu formula lagi melainkan susu khusus yang bagus untuk pertumbuhan Bayu kedepannya.


" Hai, apa kabar mbak?" ucap Lesan mengejutkan Maya yang berada di dapur.


" Lesan, kamu mengejutkan ku" ucap Maya tersenyum gugup pasalnya saat ini Lesan berdiri di hadapannya dengan jarak begitu dekat.


" Kamu belum menjawab pertanyaan ku mbak. Bagaimana kabar kamu sekarang mbak?"


" Aku baik. Kamu sendiri?"


" Jauh lebih baik, sangat menikmati hari-hari ku menunggu masa Iddah Mbak Maya selesai," ucap Lesan tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat Maya hampir kehilangan fokus.


" Bagaimana kabar anak kita mbak?"


" Bayu itu cuma putra ku, dia bukan anak kamu " ucap Maya sedikit ketus.


" Tapi Bayu panggil aku papanya. Mbak Maya lupa? Keluarga kita saja bahkan tidak keberatan jika Bayu memanggil aku papa,"


Maya menepuk jidatnya sekilas, ia ingat jika keluarganya dan keluarga Lesan tidak keberatan jika Bayu memanggil Lesan sebagai papa. Mereka tentu setuju karena mereka pikir Lesan adalah sosok yang baik yang mau berperan menjadi ayah untuk membantu Maya.


" Aku kangen kamu mbak," ucap Lesan kini berani memeluk Maya dari belakang.


" Aku sangat merindukan mamanya Bayu putraku," bisik Lesan di telinga Maya. Posisi mereka sangat dekat. Tubuh Maya yang kecil, muat dipeluk oleh Lesan yang tentu postur tubuhnya jauh lebih besar.


" Lesan jangan kurang ajar kamu," ucap Maya melepas paksa pelukan Lesan. Ia kembali berbalik menghadap Lesan. Ia menatap tajam wajah Lesan pertanda ia tidak suka dengan tindakan Lesan barusan.


" Mama, papa"

__ADS_1


Saat Maya dan Lesan masih sibuk saling menatap, datang Bayu memanggil keduanya. Bayu berlari menghampiri kedua orang yang menjadi tujuannya saat ini.


" Papa kapan datang?" bukannya memeluk Maya sang ibu, Bayu malah menghambur memeluk Lesan.


" Papa datang semalam. Ayo ikut papa, mama mu masih sibuk bikin susu buat kamu," Lesan menggendong Bayu untuk ia ajak pergi meninggalkan Maya di dapur.


Maya terbengong, mengapa Bayu menjadi semakin dekat dengan Lesan? Dengan Tyo saja anak itu masih sedikit takut sangat berbeda jika Lesan yang mendekatinya.


Maya melanjutkan aktivitasnya membuat susu untuk Bayu. Ia pun bergegas menuju dimana saat ini Bayu berada.


Di ruang tamu, Bayu asyik bercanda berdua dengan Lesan. Entah kemana perginya semua orang yang ada di rumah yang pasti saat ini tersisa hanya Maya, Lesan dan putranya.


" Bayu, kemari nak! Mama sudah membuatkan susu kesukaan mu," ucap Maya dan berhasil mengambil alih perhatian Bayu.


Bayu berlari kecil ke arah Maya. Ia menerima segelas kecil susu yang Maya buat. Saat Bayu asyik meminum susunya, ada dua orang dewasa yang saling berpandangan.


Maya masih kesal kepada Lesan karena laki-laki itu berani memeluknya. Berbeda dengan Lesan yang tersenyum manis melihat wajah masam Maya.


" Bayu, suka sama susunya?" tanya Lesan.


" Iya pa, Bayu suka" jawab si kecil Bayu.


" Papa boleh minta enggak?"


" Minta aja sama mama, pa" celetuk Bayu.


" Tuh dengar sendiri kan ma? Papa boleh minta susu juga ya sama seperti Bayu?" ucap Lesan dan Maya melotot mendengarnya.


" Maaf tapi susu ini khusus untuk anak-anak kecil bukan untuk anak-anak dewasa seperti anda,"


" Ya sudah kalau begitu papa minta susu yang lain saja," ucap Lesan mengerling nakal.


" Brengsek," gumam Maya sembari menutupi dadanya. Ia memandang sinis ke arah Lesan.

__ADS_1


__ADS_2