
Tok tok tok, Maya mengetuk pintu kamar Lesan. Tidak ingin main nyelonong seperti tempo hari, Maya tetap berada di luar sampai ada sahutan langsung dari Lesan.
" San, buka pintunya. Mbak bawa sandwich nih,"
Tak lama pintu pun dibuka. Lesan keluar dengan penampilan lusuh. Sepertinya laki-laki itu baru bangun tidur.
" Kamu baru bangun? Mau sandwich?" tawar Maya.
" Maafin aku ya mbak," ucap Lesan tiba-tiba. Maya mengernyitkan dahi saat Lesan berkata demikian dan lebih anehnya Lesan juga memeluk Maya. Tidak ada modus kalau menurut Maya, karena sepertinya perasaan Lesan benar-benar sedang kacau.
" Stttttt hei, kamu kenapa San?" tanya Maya mengurai pelukannya.
" Aku bersikap kekanak-kanakan di depan Mbak Maya tadi siang," jelas Lesan.
" Oh itu, sudahlah lupakan saja. Aku tahu kamu sedang masanya puber, jadi ya wajarlah"
" Mbak Maya tenang aja, aku akan bersikap dewasa seperti yang Mbak Maya mau. Jadi Mbak Maya nantinya bisa suka sama aku deh,"
" Ck Lesan! Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak bisa menerima perasaan tulus kamu. Aku sangat menghargai perasaan kamu, itu perasaan wajar. Tapi tolong, kamu lihat status ku. Aku ini janda tapi masih belum resmi. Apa kamu tidak malu nantinya kalau harus memiliki hubungan khusus dengan seorang janda?"
" Aku suka Mbak Maya tulus kok. Aku bisa nunggu masa Iddah Mbak Maya selesai baru kita menjalin hubungan,"
" Tetap aja aku enggak mau. Apa kata orang nanti kalau aku sudah punya pacar disaat status ku baru saja bercerai,"
" Itu bukanlah masalah mbak. Aku yang akan melindungi Mbak Maya nanti,"
" Urusi saja dulu ingus mu yang keluar itu. Kamu ini, masih bocah tapi berlagak mau lindungin anak orang," ucap Maya.
" Biar bocah begini, tapi aku sudah jago bikin bocah lo mbak. Mbak Maya mau bukti? Ayo sini biar aku buktiin," ucap Lesan serius.
" Jangan bercanda mulu lah San. Sudahlah ayo kita makan malam. Kamu pasti lapar kan?
" Aaaaaa Mbak Maya jangan tolak cintaku lah mbak," rengek Lesan dan Maya yang tertawa keras mendengarnya.
*********
Hari ini Maya bekerja di cafe Lesan seperti biasa. Lesan masih sibuk dengan tugas kuliahnya. Yang Maya dengar jika kampus Lesan sebentar lagi akan mengadakan seminar. Pastilah anak itu akan sangat sibuk mengingat jika Lesan adalah ketua BEM.
__ADS_1
" Capek banget ya Mbak May. Hari ini pelanggan banyak banget. Cafe rame sejak pagi," ucap Farah teman kerja Maya.
" Kerja, capek itu hal yang biasa Far. Oh ya anak-anak yang lain udah pada makan siang belum?"
" Tinggal aku sama Mbak Maya doang yang belum makan siang," jawab Farah.
" Loh kenapa kamu belum makan?"
" Sengaja, aku mau makan siang bareng Mbak Maya soalnya"
" Ya sudah kita makan siang dulu. Kamu panggil Nilam buat gantiin aku sebentar jaga kasir ya,"
" Siap mbak,"
Dan sekarang di sinilah Maya dan Farah berada. Di teras belakang cafe yang memang sengaja dikosongkan untuk tempat bersantai pegawai. Pegawai cafe Lesan memang terbiasa beristirahat di sini dan tentunya secara bergantian.
" Mbak," tanya Farah sembari memakan makanannya.
" Hm, kenapa?"
" Mbak Maya beneran bukan pacarnya Mas Lesan?"
" Tapi kalian serasi loh mbak. Serius aku, enggak bohong. Kalian itu cocok banget satu sama lain,,"
" Kamu sering tanya beginian, jangan-jangan kamu naksir ya sama si Lesan? Hayo ngaku kamu?"
" Amit-amit mbak. Orang Mas Lesan galak kayak begitu. Mana mau aku sama dia. Justru aku kasihan sama Mas Lesan, masih muda tapi udah galak nantikan cepat penyakitan. Sayang, hidupnya cuma tentang kuliah sama cafe," jelas Farah yang tentunya baru Maya tahu.
" Loh bukannya sifat Lesan itu kekanak-kanakan banget ya?"
" Wah Mbak Maya belum tahu kalau lihat Mas Lesan marah. Behhh bulu - bulu hidung bahkan ikut merinding mbak,"
" Lebay kamu"
Usai menyantap makan siangnya bersama Farah, Maya melanjutkan pekerjaannya. Maya terus bekerja hingga tak terasa hari menjelang sore. Ia pun berpamitan kepada pegawai lain dan ada pegawai baru yang akan melanjutkan pekerjaannya.
Sore ini Maya tidak langsung pulang ke apartemen. Ia ingin menjenguk Bayu sebentar. Meskipun tanpa seizin Pandu, Maya tetap nekad untuk mengunjungi anaknya.
__ADS_1
Di perjalanan Maya melihat penjual baju anak-anak. Maya berhenti sebentar, ada beberapa baju lucu yang menarik perhatiannya. Dengan gembira Maya membeli baju tersebut. Harganya terjangkau, maka dari itu Maya membeli lebih dari satu.
" Pasti Bayu lucu kalau pakai baju ini,"
Sesampainya di rumah Fahmi, kondisi rumah masih sepi. Fahmi masih bekerja, tentu saja Maya tahu karena sebelumnya ia sudah bertanya melalui ponsel miliknya.
Tok tok tok, bunyi ketukan pintu oleh Maya. Terbuka, seseorang yang pertama Maya lihat adalah Asti istrinya Pandu.
" Oh kamu Bu Maya?" ucap Asti.
" What? Dia panggil aku Bu?" batin Maya dalam hati.
" Apa aku bisa bertemu dengan Bayu sekarang?"
" Tapi Mas Pandu lagi enggak ada di rumah, aku enggak bisa kasih ijin Bu Maya untuk ketemu langsung sama Bayu" jawab Asti.
" Heh Asti, dengar ya! Aku ini ibu kandung Bayu. Punya hak apa kamu melarang aku bertemu dengan anak ku? sewot Maya merasa tidak terima karena dirinya dilarang bertemu dengan sang putra.
" Amit-amit Bayu punya ibu galak seperti Bu Maya. Pantas saja Mas Pandu enggak betah sama mantan istrinya. Ternyata ini kelakuan Bu Maya yang sebenarnya?"
Maya dibuat mendidih atas pernyataan Asti barusan. Wanita itu belum mengenal dekat dirinya lalu mengapa Asti berani mengatainya seperti itu.
" Tolong, aku hanya ingin melihat anakku sekilas. Apa itu tidak boleh?"
" Maaf tapi Mas Pandu dan Ibu mertua sama-sama melarang Bu Maya menemui Bayu dulu. Jadi lebih baik Bu Maya pulang, besok baru bisa datang kembali,"
" Aku tidak butuh ijin dari mereka, jadi lebih baik kamu sekarang minggir. Biarkan aku melihat putraku sebentar saja," ucap Maya tetap mengotot.
Maya berusaha menerobos pintu rumah Fahmi. Di dalam masih tampak sepi, entah dimana keberadaan yang lain. Setidaknya jika ada anggota keluarga yang lain, pasti Maya tidak perlu berdebat dengan wanita muda di hadapannya ini.
" Maya, apa yang kamu lakukan?" teriak seorang laki-laki dari belakang Maya. Laki-laki itu adalah Pandu, nampaknya Pandu baru saja pulang bekerja. Mungkin sebentar lagi akan terjadi drama, mengingat posisi Maya saat ini yang tengah berusaha mendorong Asti karena tidak mau menyingkir dari pintu.
" Apa yang mau kamu perbuat sama Asti ha? Kamu mau menyelakai Asti? Kamu berniat mendorong Asti lalu membuatnya terjatuh, iya? Kamu iri kan sama Asti karena dia sedang hamil anak kami?" cerocos Pandu. Kini Pandu menghampiri Maya dan Asti yang keduanya masih berada di ambang pintu.
Maya belum berhasil masuk ke rumah Fahmi dan sialnya ia malah terjebak drama membosankan bersama Pandu dan Asti. Pandu merangkul Asti dan menjauhkannya dari Maya. Pandu masih berpikiran jika Maya berniat mencelakai Asti.
" Jawab Maya! Apa maksud kamu barusan? Benar kamu berniat mau mencelakai istri ku?"
__ADS_1
Maya benar-benar muak mendengar Pandu menyebut Asti sebagai istrinya. Entahlah, apa mungkin Maya masih tidak terima dengan pengkhianatan Pandu.