Suami Keduaku Berondong

Suami Keduaku Berondong
8. Keluarga selalu ada


__ADS_3

" Bodoh kamu Maya!! Coba aja kamu dulu mendengarkan nasehat paman, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Jamal yang merupakan paman kandung Maya.


" Yang sabar ya nak. Mungkin ini cobaan buat kamu. Bapak jangan terlalu kasar sama Maya, bagaimana pun juga Maya saat ini lagi bersedih pak," timpal Ratih istri Jamal.


Maya masih menangis sesenggukan di pangkuan bibinya Ratih. Selepas menerima talak resmi dari Pandu, Maya memutuskan pulang kembali ke rumah pamannya. Sedikit tidaknya Maya merasa malu untuk pulang ke rumah sang paman, namun hanya di tempat pamannya lah Maya bisa menenangkan diri.


" Maafin Maya paman. Maya salah," hanya itu kata-kata yang diucapkan Maya sedari tadi. Maya tidak berhenti menangis saat dirinya baru sampai di kediaman rumah Jamal.


" Lima tahun lebih kamu enggak pernah kasih kabar ke rumah ini Maya,,, dan sekarang kamu tiba-tiba pulang dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Kamu ditalak suami mu demi selingkuhannya, kamu bekerja keras untuk suamimu sementara hasilnya dinikmati oleh selingkuhan si Pandu " ucap Jamal.


" Benar - benar kurang ajar si Pandu. Dia mengingkari janjinya sendiri. Semua harta yang kamu kumpulkan bahkan kamu tidak menikmatinya sama sekali. Kamu terlalu bodoh Maya," lanjut Jamal lagi.


" Maafin Maya paman," hanya itu kata-kata yang mampu Maya ucapkan.


Ratih pun juga ikut menangis, hatinya merasa tersakiti melihat keponakan kesayangannya diperlakukan seperti itu. Bibi mana yang tega melihat keponakannya dicerai setelah pengorbanannya bekerja keras di luar negeri.


" Maya, mulai sekarang jangan pernah kamu temui Pandu lagi. Jauhi laki-laki seperti Pandu. Buang semua rasa cinta yang pernah kamu perjuangkan untuk Pandu. Dia bukan jodoh yang baik untuk kamu nak," nasehat Ratih menenangkan keponakannya.


Sedari Maya datang wanita itu belum berhenti menangis. Hatinya benar-benar hancur meratapi nasibnya yang menyedihkan. Tidak ada lagi yang tersisa sekarang, hanya kebencian untuk Pandu yang tertanam di hatinya.


" Biar paman yang mengurus semua perceraian kamu. Masalah cucu paman Bayu biar itu juga menjadi urusan paman. Kamu harus bahagia Maya! Paman enggak bisa lihat kamu seperti ini nak. Paman merasa gagal memenuhi amanah adik paman," ucap Jamal kemudian menangis.


Hatinya menangis karena telah merasa gagal menjaga Maya. Dirinya menangisi nasib keponakannya yang malang. Jamal merengkuh istri beserta keponakannya, mereka bertiga menangis berusaha menguatkan hati masing-masing.


" Kita ambil semua harta yang Pandu punya karena itu adalah hak milik kamu. Biar laki -laki itu merasakan bagaimana penderitaan kamu selama ini," ucap Jamal.


" Paman akan menyewa pengacara handal untuk membela kamu nak," lanjut Jamal lagi.

__ADS_1


" Terima kasih paman,"


Setelah hampir dua jam Maya menangis dan menceritakan semua masalahnya kini wanita itu pergi masuk ke kamar lamanya. Ratih yang menyuruh Maya beristirahat agar wanita itu lebih tenang. Sementara Maya mulai beristirahat, Ratih berbincang-bincang dengan suaminya.


" Kita harus hubungi Tyo mas. Tyo harus tahu kalau kakaknya sekarang sudah kembali," ucap Ratih kepada Jamal.


Sudah lima hari Maya tinggal di rumah pamannya. Kerjaan wanita itu hanya melamun dan melamun. Terkadang Maya juga menangis, makan sedikit dan ke kamar mandi jika wanita itu ingin. Tidak ada yang bisa Maya lakukan karena hatinya yang telah mati. Begitu dahsyat efek patah hati yang Pandu ciptakan.


" Kenapa kamu tega sama aku mas?" gumam Maya di dalam kamar sendirian.


Jamal dan Ratih sudah lelah untuk membujuk Maya keluar kamar. Mereka kewalahan menghadapi sikap Maya yang dingin dan tidak bisa tersentuh. Maya berubah menjadi sosok yang pendiam menikmati rasa sakitnya saat ini.


Tok tok tok,,,, tak lama pintu kamar Maya diketuk. Dengan langkah malas Maya membukakan pintu tersebut. Maya tahu itu pasti paman atau tidak bibinya yang menawari makan. Setidaknya Maya harus tetap menghargai usaha paman dan bibinya yang sudah berbaik hati hingga saat ini.


" Paman, bibi, Maya makannya nanti aja" ucap Maya seperti biasa untuk menolak tawaran makan tersebut. Dengan mata yang malas, Maya membuka pintu kamarnya.


Ternyata yang datang bukan paman dan bibi Maya, melainkan Tyo adik Maya yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Tyo memang menjaga jarak dengan Maya setelah keputusan Maya menikah dengan Pandu dulu. Tyo memutuskan menempuh pendidikan di luar kota untuk menghindari Maya kakak tersayangnya.


" Tyo," ucap Maya seraya memeluk adiknya. Ia kembali menangis di pelukan adik laki-lakinya tersebut. Lega rasanya ketika sedang bersedih ada orang terdekat yang bersedia meminjamkan pundak untuk menangis.


" Apakah perlu aku mematahkan kaki Pandu atau membuat kepalanya gegar otak ?" ucap Tyo kepada kakaknya.


" Tyo,, kakak kangen banget sama kamu" ucap Maya enggan mengurai pelukannya.


Maya semakin mengeratkan pelukannya kepada Tyo. Sudah lama pundak Tyo tidak menjadi tempat ternyaman nya. Kini adiknya kembali disaat hatinya masih merasa buruk.


" Kamu apa kabar? Maafin mbak karena tidak lagi peduli sama kamu," ucap Maya.

__ADS_1


" Seperti janji Tyo buat ayah, Tyo bakal jagain Mbak Maya sampai kapanpun. Meskipun Mbak Maya pernah membuat Tyo kecewa tapi sampai kapanpun Tyo enggak akan pernah bisa marah sama mbak," jawab Tyo.


" Maafin mbak ya," ucap Maya lagi.


Tyo mengurai pelukannya. Ia membawa Maya untuk duduk di sofa yang ada di kamar Maya. Setidaknya untuk saat ini Maya hanya membutuhkan waktunya, Tyo hanya ingin yang terbaik untuk Maya.


" Tyo sudah tahu semua cerita Mbak Maya. Mbak Maya sekarang mau Tyo berbuat apa? Setidaknya tenaga Tyo sekarang sudah sepadan dengan Pandu. Jikapun kita berkelahi pasti Tyo yang akan menang,"


Maya tertawa kecil mendengar ucapan adiknya. Tyo selalu berhasil membuat hatinya membaik hanya dengan ucapan sederhananya. Seperti biasa, Tyo berhasil membuat mood Maya membaik dengan perkataan laki-laki itu.


" Kamu sekarang udah gede, pasti banyak cewek di luaran sana yang mengincar kamu," ucap Maya.


" Lima tahun kita putus hubungan, pasti Mbak Maya pangling sama aku. Sekarang Tyo sudah tampan, Tyo juga udah sukses. Mbak Maya tenang aja, kalau sekedar membalaskan dendam kepada Pandu itu adalah hal yang mudah," jawab Tyo.


" Kalau Mbak Maya minta kamu dorong Pandu masuk ke jurang, apa kamu juga mau?" tanya Maya iseng.


" Melenyapkan nyawanya sekarang juga pun, Tyo sanggup "


" Ngeri," jawab Maya bergidik.


" Jadi gimana? Mau makan sekarang atau Tyo lenyapin nyawa si Pandu?" tawar Tyo.


" Galak banget sih," ucap Maya tersenyum. Hatinya mulai membaik setelah melihat adiknya. Sikap Tyo yang dewasa terkadang sering membuat Maya berpikir siapa di sini yang memiliki posisi sebagai kakak.


" Jadi mau makan atau,,," ucap Tyo lagi.


" Iya mbak mau makan nih," ucap Maya menyerah.

__ADS_1


" Anak pinter," ucap Tyo seraya mengacak-acak rambut Maya layaknya anak kecil.


__ADS_2