
Setelah dua hari Maya beradaptasi di tempat tinggal barunya, kini wanita itu tengah berada di sebuah cafe besar yang ramai pengunjung. Maya berada di cafe karena hari ini ia resmi menjadi pegawai cafe milik Lesan.
" San, cafe ini milik kamu?" tanya Maya merasa bingung.
" Iya seperti yang aku ceritakan kemarin mbak," jawab Lesan.
" Lesan, sepertinya hobi kamu emang bikin aku kagum deh. Kemarin kamu bilang katanya buka usaha rumah makan kecil-kecilan nah ini cafe megah punya siapa coba? Lain kali jangan begitu lagi San, rendah hati boleh tapi ya jangan kebangetan," ucap Maya.
Cafe yang digadang-gadang sebagai usaha rumah makan milik Lesan ternyata di luar ekspektasi Maya. Cafe bertema klasik yang bernuansa anak muda kekinian milik Lesan ini sangatlah ramai dikunjungi pengunjung. Maya tebak jika dihitung untung dari hasil pendapatan cafe ini mampu mencapai ratusan juta.
" Jangan bilang kalau sebenarnya kamu ini adalah milyader muda ya San?" selidik Maya.
" Mbak Maya ngomong apa sih? Dulu cafe ini kecil dan sekarang memang masih dalam tahap perkembangan. Mbak Maya doakan saja semoga cafe semakin ramai dan aku bisa buka cabang,"
" Kamu benar-benar hebat San! Aku tidak menyangka, ada pemuda cerdas seperti kamu. Kamu bisa loh membuka usaha sendiri dari nol hingga sebesar ini," puji Maya.
" Semua berkat doa orang tua mbak, aku juga tidak bisa melakukan semua ini sendiri tanpa bantuan papa dan mama aku di rumah,"
" Langsung masuk aja yuk mbak. Aku akan memberitahukan di bagian mana Mbak Maya akan bekerja nanti," ajak Lesan.
Lesan membawa Maya ke ke kasir tempat yang berada di dalam cafe tersebut. Kemudian laki-laki itu menyuruh salah satu pegawainya untuk mengambilkan Maya sebuah seragam agar serasi dengan pegawainya yang lain. Maya dengan seksama mendengarkan penjelasan bagaimana dirinya agar bekerja nanti. Ternyata Lesan menjadikan Maya sebagai kasir di cafe miliknya.
" San, apa tidak apa-apa jika aku bekerja di bagian kasir? Memangnya kamu tidak takut rugi kalau aku yang pegang bagian ini?" tanya Maya setelah Lesan selesai menjelaskan tugas apa yang harus dikerjakan Maya nanti.
" Jangan bilang begitu mbak, hitung - hitung Mbak Maya belajar cara mengelola keuangan suami. Aku percayakan urusan keuangan cafe ini sama Mbak Maya pokoknya," jawab Lesan.
" Mengelola keuangan suami sama cafe beda Lesan, bagaimana bisa kamu membandingkannya seperti itu?"
" Dulu kan Mbak Maya sibuk bekerja banting tulang jadi kepala rumah tangga, Mbak Maya mana tahu cara mengelola keuangan suami?" celetuk Lesan.
Maya terdiam, benar juga perkataan Lesan barusan. Seingatnya selama menikah dengan Pandu dulu, ia tidak pernah mengelola keuangan rumah tangganya. Selalu saja Pandu yang memegang peranan penting dalam memegang uang, termasuk uang hasil kerja keras Maya selama jadi TKW.
" Maaf mbak, bukan maksud aku untuk mengingatkan mbak sama mantan suami mbak lagi" ucap Lesan merasa tidak enak. Ia menyadari jika Maya menjadi diam setelah dirinya berkata seperti itu.
" Tidak apa-apa, apa yang kamu ucapkan barusan itu memang benar. Aku tidak bisa mengelola keuangan rumah tangga karena Mas Pandu sendiri yang mengaturnya," jawab Maya seraya memalingkan wajah ke arah lain.
__ADS_1
Lesan yang menyadari ucapannya itu mengingatkan Maya kepada Pandu langsung merasa tidak enak. Sepertinya ucapannya barusan adalah sebuah kesalahan.
" Aku ada jadwal mata kuliah satu jam lagi, sebaiknya aku pamit berangkat ke kampus sekarang ya mbak. Nanti sore aku jemput Mbak Maya biar pulangnya bisa bareng," ucap Lesan.
" Iya kamu hati-hati ya di jalan," jawab Maya.
Lesan melangkah meninggalkan cafe miliknya. Laki-laki itu pergi menuju kampus dengan mengendarai motor gede untuk membelah jalanan. Maya tadi sempat ketar - ketir sewaktu dibonceng motor Lesan untuk pertama kalinya. Beruntung Lesan mengerti tentang Maya, jadi ia mengendarai motor gede tersebut dengan kecepatan sedang.
Selepas Lesan pergi, Maya berganti pakaian dengan seragam ala cafe di tempat kerjanya. Ada banyak pegawai lain yang menyapa Maya dengan ramah, Maya berharap semoga kedepannya ia akan betah bekerja di cafe Lesan.
" Terima kasih atas kunjungan Anda di cafe Males. Semoga layanan kami dapat memberikan kepuasan kepada anda," ucap Maya selepas memberikan kembalian uang kepada salah satu pengunjung. Pengunjung barusan adalah pelanggan setia cafe Males milik Lesan. Dengan ramah Maya berusaha memberikan jasa terbaik agar cafe Males milik Lesan semakin berkembang.
" Aneh, kenapa Lesan memberikan nama cafe miliknya Males. Seperti tidak ada nama yang lebih baik saja," gumam Maya memikirkan nama cafe Lesan yang terdengar aneh. Males adalah nama cafe yang disematkan Lesan di depan bangunan ini. Lokasi cafe Males tidak jauh dari apartemen Lesan namun cukup melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Cafe Males buka dari jam delapan hingga jam sebelas malam hari. Maya sebenarnya mendapatkan jam kerja delapan jam seperti pegawai yang lain, namun dirinya lebih memilih pulang sesuai jam kuliah Lesan. Jadi jam kerja Maya di cafe jauh lebih banyak karena Lesan selalu pulang malam.
Malam hari sekitar pukul tujuh, terdengar suara Lesan yang sedang bercakap-cakap dengan temannya. Maya yang sibuk melayani pembeli, tidak sadar jika sekarang Lesan sudah berdiri di sampingnya.
" San, kamu sudah pulang? Gimana kuliah hari ini?" tanya Maya.
" Mbak Maya, seharusnya kan udah pulang dari tadi sore. Kenapa masih kerja aja sih?" tanya Lesan balik.
Farah mengiyakan perintah dari Lesan. Maya pun menyerahkan sisa pekerjanya kepada Farah yang merupakan teman kerjanya juga.
" Ayo istirahat dulu mbak. Kata temen-temen ku Mbak Maya belum sempat makan malam juga," ajak Lesan.
Lesan mengajak Maya berjalan masuk ke dalam ruangannya. Ruangan kecil yang ada di sudut cafe sengaja Lesan buat untuk dirinya berisitirahat. Sekarang ada Maya yang mengikutinya untuk masuk ke dalam ruangan.
" Duduk dulu di sini mbak, aku akan panggil anak lain untuk bawakan makan malam kita," ucap Lesan menunjuk salah satu sofa yang berada di ruangan pribadinya.
" San, kita nggak makan bareng yang lain aja? Aku nggak enak makan di ruangan kamu," ucap Maya kemudian duduk di sofa yang ditunjuk oleh Lesan.
" Lebih nyaman makan di sini mbak. Ini ruangan serba guna kok, cuman yang lebih sering masuk sini hanya aku aja," jawab Lesan.
Setelah menyuruh salah satu pegawai untuk mengambilkan makan malam, Lesan berjalan menghampiri Maya. Lesan duduk di sofa tepat di samping Maya, ia pun menyandarkan punggungnya di sisi sofa yang empuk.
__ADS_1
" Mbak Maya jangan terlalu bersemangat bekerja. Lagian kalau jam kerja Mbak Maya nambah, aku juga enggak bakal ngasih bonus gaji tambahan. Itu sama aja aku pilih kasih sama pegawai yang lain,"
" Kamu ngajak aku makan di sini apa itu juga bukan namanya pilih kasih sama pegawai lain? Aku nggak enak sama teman satu kerjaku kalau kita makan cuma berdua," balas Maya.
" Ruangan ini sempit, cuma muat untuk makan berdua. Lagian apa Mbak Maya tidak tahu kalau di sini cuma Mbak Maya aja yang belum makan?"
" Benarkah?" tanya Maya dan Lesan menjawabnya dengan anggukan.
" Aku semangat bekerja karena tempat kerjanya nyaman dan juga aku ingin membalas perlakuan baikmu. Kamu sudah melakukan banyak hal buatku San"
" Baiklah, aku mengijinkan Mbak Maya bekerja melebihi jam kerja di sini tapi dengan satu syarat Mbak Maya tidak boleh kecapekan. Kalau capek ya langsung istirahat. Kalau bosan nunggu di apartemen, Mbak Maya bisa jalan-jalan di sekitar kota. Telpon aku jika Mbak Maya membutuhkan bantuan lain. Dan satu hal lagi, aku menggaji Mbak Maya sesuai perjanjian. Jadi jangan berharap dapat bonus lebih ya mbak," ucap Lesan panjang kali lebar.
" Iya iya,, ternyata kamu sangat cerewet seperti perempuan ya. Aku senang bekerja di luar jam kerja ku, nanti kalau aku lelah aku pasti istirahat kok," jawab Maya.
Mereka berdua pun melanjutkan obrolan mereka hingga beberapa saat kemudian makan malam mereka datang. Ada banyak hidangan tersaji di meja ruangan tersebut. Maya menatap minat di setiap piring yang berisikan lauk pauk dan sayuran.
" Mari makan mbak," ucap Lesan setelah pegawai yang mengantarkan makanan pergi.
" Sepertinya makanannya sangat lezat, kamu beli di luar ya?"
" Iya, coba dulu mbak. Aku jamin pasti Mbak Maya bakal ketagihan,"
Maya mengambil sebuah piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk. Dengan mulut yang penuh makanan, Maya bergumam jika perkataan Lesan benar. Makanan yang disajikan sangat lah lezat.
" San," panggil Maya.
" Kenapa mbak? Mau nambah lagi nasinya?"
" Bukan. Mau tanya, kamu dapat inspirasi dari mana ngasih nama cafe Males di cafe mu ini?" tanya Maya.
" Oh itu. Males sebenarnya kalau dalam bahasa Jawa itu artinya malas mbak. Tapi bukan dari situ aku dapat inspirasi nama cafe ini," jelas Lesan.
" Terus kamu dapat inspirasi dari mana?"
" Inspirasi dari nama seseorang mbak. Jadi kata Males itu sebenarnya adalah singkatan nama mbak,"
__ADS_1
" Nama?" tanya Maya. Ia meminum air putih karena tiba-tiba mulutnya terasa pedas. Tak lama Maya pun melanjutkan acara makanannya.
" Iya nama kamu mbak. Maya Lesan, kalau disingkat jadi Males. Serasi kan mbak?"